Teater

Pergelaran Distraksi Menyelami Dimensi Sosial yang Luruh

| dilihat 799

pentas distraksi

renungan tengah malam

pentas puitik

 

Ada yang mengusik kehidupan sosial kita kini, ketika kabar dungu dan degil (baca: kabar wadul), kini dengan mudah masuk ke dalam ruang pribadi kita. Khasnya, ketika kemajuan teknologi informasi, memudahkan kabar wadul atawa hoax di ruang publik masuk ke ruang batin kita.

Globalisasi ( a la Soros) dan glokalisasi ( a la Kotler) akan terus menghimpit, karena terlalu banyak di antara kita yang sengaja atau tak sengaja mengambil jarak dengan realitas budaya kita sendiri.

Upaya menjadi manusia Indonesia yang sungguh Indonesia dengan beragam nilai dan platform budaya kebangsaan kian tak menampakkan hasil. Paling tidak, sejak pilihan perubahan di penghujung abad ke 20, adalah gerakan reformasi - perubahan yang melelahkan dan mudah berubah menjadi deformasi. Bukan transformasi sebagai perubahan dramatik yang tidak liar ke mana-mana, sehingga memudahkan kita kembali ke azimuth, garis lurus cita-cita perjuangan kebangsaan (sejak 1905) ke titik capai (boleh jadi ketika seabad Indonesia Merdeka).

Sejak reformasi digulirkan, jarak kita dengan dimensi nilai budaya -- sebagai induk dari aspek politik, sosial, ekonomi, hukum, dan aspek kehidupan lainnya -- tidak semakin dekat. Malah semakin jauh. Kendati Indonesia merdeka tahun 1945, tetapi jarak nilai hidup dalam realitas pertama (fakta yang kian brutal) dengan realitas kedua (tujuan bernegara yang kian samar). Kita memuja sosok yang dianggap 'berjasa' kepada bangsa dan negara dengan cara membabi-buta, dengan kultus individu yang buruk. Setarikan nafas, kita melupakan guru bangsa, pendidik para tokoh bangsa yang kemudian melahirkan gerakan dengan keyakinan dan pahamnya sendiri (nasionalisme, komunisme, dan islam). Namun, praktiknya justru menanggalkan nilai paling asasi yang kita sepakati: Pancasila.

Tak seorangpun tokoh negeri dan bangsa ini, mengulangkaji dan mendalami ajaran Haji Omar Said Tjokroaminoto, yang membentuk kepribadian Soekarno (Bung Karno), Semaun dan Kartosuwiryo. Kita lebih suka hanyut dengan urusan-urusan cabang yang dikembangkan ketiga sosok anak bangsa itu. Lantas lupa pada prinsip dasar tentang ke-Indonesia-an yang berorientasi pada pencapaian nilai manusia sejati yang merdeka. Manusia Indonesia yang dipandu untuk menjalani realitas hidup -- dari masa ke masa -- dengan sikap, "sebersih-bersih tauhid, ilmu pengetahuan dan siasah."

Inilah persoalan kita yang nyaris kehilangan kesadaran, antusiasme, simpati, empati, apresiasi, respek dan kasih sayang sesama anak bangsa dalam mengelola bangsa ini melintasi era konseptual yang dikepung oleh kekaburan nilai post truth era. Lantas terhadang oleh aneka disrupsi yang mengganggu konsistensi (istiqamah) dalam proses membangsa dengan cara berkuasa, bernegara, dan berpemerintahan yang lari dari prinsip kebangsaan itu sendiri: keadilan, keberadaban, dan kemanusiaan, berbasis sosio religius, sosio kerakyatan, dan sosio kebangsaan, yang menempatkan demokrasi sebagai cara mencapai harmoni.

Adalah Agustian, seorang seniman teater yang sibuk memanifestasikan alur gerak kembali ke azimuth kebangsaan  dengan nafas pendidikan manusia merdeka. Agaknya, Agus terusik untuk menggedor -- atau setidaknya mengetuk pintu -- kesadaran kita untuk kembali ke pangkal kesadaran berjuang untuk menjadi sungguh Indonesia. Dia menulis naskah teater dan mementaskannya dengan tajuk, Distraksi -- dengan sentuhan beat Melayu, meski secara musikal. Mengusik kesadaran tentang idiom hidup kita adalah raya -- kesukacitaan dan kegembiraan bernegara dan berbangsa. Jauh dari kemurungan yang menjebak kita dalam ketidak-adilan kala menegakkan hukum, kehilangan etika kala memoles artistika dan estetika, dan kehilangan nilai kemanusiaan kala memaknai cinta. Distraksi, menyelami dimensi sosial yang luruh.

Nilai teater itu, tak hanya pada kesungguhan Agus menempa potensi kaum belia, antara lain mahasiswa Universitas Islam (UIN) Negeri Syarief Hidayatullah dan Universitas Pamulang (Unpam) di wilayah Banten, menjadi aktor dan aktris teater. Agustian mementaskan karyanya, itu dengan memilih platform teater surealis. Berkisah tentang Negeri Tiga Matahari yang dipimpin raja Ompi Lompi. Kerajaan itu dihamik petaka, ketika Menteri Tong-tong berkhianat dan berambisi jadi raja. Antara lain, melakukan permufakatan jahat dengan Penyihir Merah. Agus ingin menyatakan: kesejatian untuk hidup yang sesungguhnya, di seluruh aspek.

Inilah pergelaran teater dengan spirit, rekonstruksi pengenalan sejarah. Sekaligus menempatkan bahasa dan musik sebagai cara distraksi sejarah. Menarik kembali kita ke relung kosong empirisma kehidupan bermasyarakat, bernegara dan berbangsa.

Tanggal 20 November 2019, Rabu malam, pergelaran ini akan dilakukan di Gedung Perfilman Usmail Ismail, Kuningan - Jakarta.

Etika dihadirkan Agus sebagai sutradara sebagai telangkai untuk menikmati nilai artistika dan estetika para pemain dalam pementasan ini.

Menyaksikan pergelaran ini, sebagaimana saya saksikan ketika mereka berlatih, seperti menemukan kembali sesuatu yang kita rindukan di tengah situasi yang kerap gaduh oleh informasi wadul, bising dan noise.  | bang sem

Editor : bungsem
 
Polhukam
20 Nov 19, 11:24 WIB | Dilihat : 678
Fokuslah Kepada Nasib Korban
02 Nov 19, 10:19 WIB | Dilihat : 699
Anies Baswedan versus Orang Separo
22 Okt 19, 12:18 WIB | Dilihat : 211
Tetty Paruntu dan Perencanaan Karir Partai Golkar
Selanjutnya
Humaniora
12 Des 19, 14:29 WIB | Dilihat : 68
Harmoni
11 Des 19, 12:45 WIB | Dilihat : 96
Cermin dari Hughes - Pak Zaenal dan Slamet Rahardjo
03 Des 19, 10:54 WIB | Dilihat : 297
Melihat Anies dari Jendela Hati
13 Nov 19, 10:15 WIB | Dilihat : 1252
Masjid Apung di Tengah Aksi Transformasi Ancol
Selanjutnya