PUISI

Pandemi dan Ramadan dalam Puisi Gus Nas

| dilihat 295

KH Nasruddin Anshary alias Gus Nas adalah penyair, pelukis, penulis buku, dan pemimpin Desa Kebangsaan di Yogyakarta. Buku terbarunya tentang silat, pelukis Affandi, dan pemuda millenia. Ia juga menulis monolog, termasuk monolog tentang Panca Dharma yang terpercik dari pandangan dan pemikiran Ki Hajar Dewantara, yang dibacakannya bersama artis Olivia Zalianty. Belakangan, Gus Nas rajin melukis tokoh.

Beberapa puisinya dibacakan Deddy Mizwar, antara lain ketika berkampanye. Ia juga berkolaborasi dengan Maya Hasan, pemetik harpa yang sangat piawai. Puisinya bertajuk Ibu Bangsa, digubah menjadi lagu oleh Endang Caturwati.

Berikut adalah serangkaian puisinya.

 

DI RUMAH KARTINI

 

Di Rumah Kartini hanya ada gelap gulita

Tembok hitam berdiri tegak tanpa jendela

Kamar pengap tanpa udara dan tanpa cahaya

 

Kasur dapur sumur melebur dalam ruang waktunya

Beku bisu kelu menyekap dadanya

 

Di Rumah Kartini ada pagar tradisi menjulang tinggi

Tata-tertib dan tata-krama menjadi penjara bagi kaumnya

 

Kartini tak bisa memilih cintanya

Rindu-rindunya berdebu dalam deburan ombak pantai Jepara

Secangkir madu telah direguknya dalam pahit yang begitu sempurna

 

Itulah kenapa Kartini memilih pena untuk mempuisikan takdirnya

Surat-suratnya merayap ke cakrawala menjelma cahaya

 

Dengan tatapan mesra di kedua bola matanya

Kartini mengerling pada dunia

Fajar pun tiba

Dan sinar matahari menerobos di bening kain kebayanya

 

Gus Nas Jogja, 21 April 2020

 

BUMI BERKALUNG PANDEMI

 

Bumi adalah Ibu Kandung masa kini dan masa lalu

Titipan anak-cucu yang pantang dilukai walau hanya seujung kuku

 

Bumi berkalung pandemi itu kini sedang menggali kuburnya sendiri

Sesudah ebola mencakar Afrika dan mers merenggut ribuan maut di Jazirah Saudi Arabia

Kini corona mengganyang jutaan jiwa di seluruh dunia

 

Bumi berkalung pandemi tak henti-henti menjadi saksi bagi manusia yang antri mati

 

Dalam kesendirian ini aku bertanya padamu

Apakah Tuhan sedang melempar dadu?

Lalu kenapa papan catur keserakahan manusia ini tak hanya mengorbankan bidak-bidaknya saja?

 

Rahim bumi memuncratkan duka lara dalam murka corona entah pada siapa

 

Berabad-abad lamanya bumi menggigil sendiri

Kepada gunung dam samudera ia kisahkan resahnya

Kepada hutan dan rawa-rawa ia taburkan perihnya

 

Kini virus corona merayakan pesta dengan tarian Izrail pencabut nyawa

 

Maka sebelum senja menggulung rindunya

Sebelum bumi menutup pintu bagi tamu abadi di liang lahatnya

Berilah kening dan hidungmu dalam sujud terindah bagi Tuhan yang penuh pesona

 

Gus Nas Jogja, Selamat Hari Bumi, 22 April 2020

 

AKULAH PENCURI KAIN KAFAN ITU

 

Dalam dingin cinta dan kematian yang terus mengejarku kemana saja, akulah pencuri kain kafan itu.

 

Ayat-ayat syariat telah lama sekarat, doa demi doa kian binasa, tausiyah bercipratan ludah, hanya kain kafan kusam yang sanggup membungkus takaburku.

 

Dunia yang rusak oleh hati yang koyak-moyak oleh Maha Sombong Sang Manusia, kepada siapa kupersembahkan bunga rampai dosa-dosaku yang telah lasak oleh gelak-tawa para pemuka agama di panggung dunia?

 

Kucuri kain kafan usang para Nabi, sebab selimut dunia hanya penuh basa-basi.

 

Dan agama ini, tarekat ini, makrifat ini, hakikat ini, sudah begitu lama kukafani.

 

Gus Nas Jogja, 6 Mei 2020

BERLAYAR DI LAUT ISTIGHFAR

 

Berlayar di laut lapar kuarungi ombak iatighfar

Puasa dikepung pandemi membuatku menata hati

 

Inikah pesiar terindah di musim lapar ini?

 

Merebus batu-batu yang begitu keras di kepalaku

Kedunguan yang tak pantas ditiru oleh anak-cucu

 

Akankah kutemukan merah mawar pada kelopak rinduku?

 

Waktu berlalu menajamkan pisau kasihku

Lapar dan rindu semakin bengis melinggis nafasku

 

Kemanakah pesiar istighfar ini akan membawa laparku?

 

Tuhan,

Hidangkan sepotong puisi pada cawan suci cintaku

 

Gus Nas Jogja, 7 Mei 2020

 

BETAPA TEDUH KUTEMPUH SUBUH

 

Betapa teduh kutempuh subuh

Langit lembayung menyelimuti malamku

 

Betapa jauh kurengkuh suluh

Sujud syukurku bersimbah rindu

 

Malam bertabur cahaya menerangi ramadlanku

Hening dan kudus memesrai tadarusku

 

Tuhanku

Tak akan ada keluh di sisa nafasku

Sebab nikmat rakaat dalam tahajudku telah menyatu pada permata kalbu

 

Terima kasih untuk rahmat dan ampunanMu

Keindahan yang bertabur kemesraan

Ketaatan yang menyemaikan bait-bait puasa ke dalam ibadah puisiku

 

Gus Nas Jogja, 13 Mei 2020

 

PENGANTIN RAMADLAN

 

Tuhanku

Jika mawar cinta memekar dengan sempurna

Untuk apa bicara duri dan luka

 

Tuhanku

Jika rindu terus menderu di kedalaman kalbu

Seluruh waktuku hanya denyutMu

 

Sunting aku menjadi pengantinMu

Mempelai berkalung embun

 

Tuhanku

Aku tenggelam dalam lautan madu

Aku tercebur dalam samudera susu

 

Sembah sujudku

Sajadah sembahyangku

Hanyalah Cahaya

 

Sunting aku menjadi pengantinMu

Mempelai bermahkota seribu bulan

Tepat di Malam Lailatul Qadar yang memabukkan itu

 

Gus Nas Jogja, embun ramadlan #6 2018-2020

 

LUKISAN PUASA

 

Melukis puasa telah membuatku kehabisan warna

 

Kubentangkan kanfas putih pada sisa-sisa nafasku

Pasir waktu membisu membisikkan kata-kata rindu

 

Melukis puasa membuatku berlinang cahaya

Sebab kanfas dan kafan sama-sama putihnya

 

Di penghujung ramadlan ini

Kembali kulukis lapar dengan warna-warni istighfar

 

Lukisan lapar ini akan kujadikan mahar pada cinta fitriku

Garis-garis tangis di sepertiga malam

Lengkung rindu di masa lalu

Telah menyatu dalam sapuan kuas hidupku

 

Kujadikan senja sebagai figura

Sebab hitam-putih letih di hidup ini asal-muasalnya adalah air mata

Hingga pada akhirnya menjelma goresan warna

 

Kulukis puasaku ini dengan cinta setulusnya

Antara mengadu nasib dan memanjatkan doa terus berlomba meraih pahala

 

Gus Nas Jogja, 14 Mei 2020

 

IKTIKAF

 

Duduk bersila mengarungi waktu hingga rindu membeku

Iktikafku membara mengerami telur cinta hingga menetaskan rasa syukur di kedalaman kalbu

 

Di masjid ini kutemukan diriku yang dulu

Tangis bayi dalam pelukan ibu

Tanpa dosa tanpa cela tanpa kemunafikan dalam diriku

 

Dalam iktikaf ini telah kuremukkan tengkorak kepalaku

Kucuci dengan air suci dengan iktikaf ini

Menjaga cahaya dan kebeningan dalam kolam kesucian kekanakanku

 

Tuhanku

Sayap-sayap Asmaul Husna ini telah menerbangkan kerinduan dan doa-doaku

Langit dan bumi bertemu dalam jejak iktikafku

Ijinkan kugali kuburan tua yang telah begitu lama mengubur cintaku

 

Gus Nas, Jogja, 17 Mei 2020

 

Editor : Web Administrator
 
Energi & Tambang
Seni & Hiburan
25 Jul 20, 17:36 WIB | Dilihat : 386
Butong Tak Bisa Pisah dengan Akordeon
22 Mei 20, 05:26 WIB | Dilihat : 799
Refleksi Lagu Kanyaah Indung Bapak
19 Mei 20, 09:55 WIB | Dilihat : 644
Selamat Jalan Alex Aman Chalik
18 Mei 20, 05:02 WIB | Dilihat : 296
Pandemi dan Ramadan dalam Puisi Gus Nas
Selanjutnya