Gunemcatur Televisi

Najwa Shihab Mesti Selektif Mengundang Tamu ke Panggungnya

| dilihat 870

Catatan Bang Sèm

Tak sengaja nonton gunemcatur (talkshow) Mata Najwa di satu saluran stasiun televisi, Rabu (9/10/19), tak banyak hal manfaat bisa diperoleh.

Kita tak beroleh pemikiran bernas Prof. Emiritus Dr. Emil Salim -- seorang pendidik yang dihormati di dunia internasional, yang pengabdiannya kepada Republik Indonesia, sedemikian panjang dan di dalam dirinya mengalir darah perjuang H. Agus Salim. Kita pun tak beroleh pikiran segar Feri Amsari dari Pusako - Pusat Studi dan Analisis Korupsi) Universitas Andalas.

Gunemcatur itu menghadirkan tiga anggota DPR RI dari Partai Nasdem, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), dan Partai Gerindra, serta seorang peneliti dari Lembaga Survey Indonesia.

Sepanjang gunemcatur itu berlangsung, sebagian waktu kita tersita menyaksikan sesosok politisi yang nampak pongah, ngotot, defensif -- meski tak ada yang menyerang --, misu-misu, dan terkesan tak berbudi.

Terkesan, dia datang memenuhi undangan Najwa Shihab, host talkshow itu - dengan presumsi, seolah-olah gunemcatur bertajuk Ragu-Ragu Perpu, sudah disiapkan dan di-set-up untuk  'mengadili' para wakil rakyat, pembuat undang-undang, yang telah mengesahkan UU KPK yang baru.

Pengesahan UU KPK di penghujung masa bakti anggota DPR RI 2014-2019, itu banyak diprotes massa, terutama mahasiswa dan pelajar, dan makan korban di lapangan.

Saya tidak tahu, bagaimana kategori dan kriteria yang ditetapkan Najwa Shihab dalam menentukan siapa orang yang layak dan patut tampil di 'panggung'-nya.

Pengalaman saya sebagai brodkaster dan sempat beberapa lama berkecimpun di pertelevisian, untuk acara gunemcatur, saya selalu merumuskan kategori dan kriteria narasumber layak dan patut tampil.

Tidak semua orang, meskipun menyandang status sosial sebagai pejabat publik, layak dan patut dihadirkan, bila tak memenuhi kriterium standar kepatutan dan kelayakan. Sekurang-kurangnya integritas pribadi dan kematangan akal budi.

Kategori dan kriterium itu menjadi penting. Bukan karena acara gunemcatur (di Malaysia disebut sebagai Temu Bual) menarik sebagai tontonan, melainkan juga mesti memikat sebagai medium pembelajaran bagi khalayak pemirsa (all audience).

Integritas pribadi dan kematangan akal budi menjadi syarat utama untuk menentukan kelayakan dan kepatutan, apalagi anggota parlemen, yang keberadaannya sebagai wakil rakyat (bukan wali rakyat) merupakan representasi ribuan rakyat konstituennya.

Karenanya, kelihaian bersilat lidah, kemampuan bermain-main dengan retorika, kemampuan teknis komunikasi politik aksentuatif, dan bekal bersilang pendapat, hanyalah senarai kriterium sekunder.

Pemirsa menonton acara gunemcatur televisi, tidak sekadar untuk menonton host, tak pula sekadar menonton nara sumber dengan segala aksinya di depan kamera (mimik, gestur, dan vocal).

Khalayak pemirsa lebih ingin beroleh gagasan segar, informasi anyar, dan wawasan lebar tentang sesuatu hal (tajuk yang diangkat) dan menghidupkan kesadaran serta antusias baru dalam berpartisipasi pada seluruh dinamika yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.

Khalayak pemirsa acara gunemcatur televisi, mengharapkan beroleh nilai-nilai baru dari suatu dialektika yang informatif, edukatif, sekaligus menghibur. Terutama, karena acara gunemcatur televisi atau radio merupakan salah satu katarsis sosial yang dapat mengurangi kepengapan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya yakin, banyak figur anggota DPR dari partai apa saja yang mempunyai kualifikasi yang dapat menghadirkan perdebatan di dalam acara gunemcatur, sungguh sebagai debat yang bermanfaat. Bukan debat kusir atau sentak sengor yang hanya akan 'mengeruhkan' suasana.

Tak soal menggunakan perpektif pro - kontra dalam menyikapi suatu kebijakan atau rencana kebijakan yang diangkat sebagai tajuk. Tak soal juga menggunakan perspektif 'dialektika topeng jantuk,' yang spontan dan tangkas dalam menyikapi isu mutakhir sebagai tajuk. Bahkan, tak soal menggunakan perspektif retoris, sepanjang masing-masing narasumber mempunyai integritas dan dewasa, sekaligus mempunyai kematangan secara psikologis.

Yang pasti, khalayak pemirsa tak berharap acara gunemcatur yang merupakan ajang adu argumentasi dan gagasan, itu berubah menjadi tontonan yang secara memetika, menghilangkan akal budi, sekaligus meniadakan dan menafikan sopan santun.

Boleh direnungkan pepatah Minang, "Nan Kuriak iyolah kundi/ Nan sirah iyolah sago/ Nan baiak iyolah budi / Nan indah iyolah baso" - yang kurik itu kundi, yang merah adalah saga, yang baik itu budi, yang indah itu bahasa. Jangan sampai acara gunemcatur, pinjam pepatah dari Timur, hanya menghadirkan orang, yang pandai "Bermulut kepiting, berahang katak," hanya pandai bersilat lidah, sikut kanan kiri, injak ke bawah, jilat ke atas.

Acara gunemcatur juga mesti menampilkan, pesona persona nara sumber yang dewasa, yang dalam perspektif filosofi Bugis, disebut: "Jagai lilamu riengkammu," jaga lidahmu di depan umum. Ingat, ketika proses gunemcatur berlangsung, bukan cuma penonton di studio yang menyaksikan, karena kamera di depanmu, mewakili jutaan pemirsa.

Kualitas terbaik narasumber, seperti urai filosofi Sunda, Kewes pantes tandang gandang (Layak dan Patut ditampilkan); Sinatria pilih tanding (Figur matang dan dewasa); Handap asor pamakena (Santun – beradab); Nyarita titi rintih (Komunikatif dan jelas); Ati-ati tur nastiti (cermat lagi teliti); Mun nyaur diukur-ukur (Berfikir sebelum bicara); Nyabda diunggang-unggang (tidak asal bicara); Bubuden teu ieu aing (tidak jumawa, tidak merasa hebat). Tidak pula menggampangkan masalah.

Khas untuk anggota parlemen, sebagai narasumber, meski tugas utama dia adalah bicara (menyuarakan aspirasi rakyat), untuk mampu bicara tepat dan benar, seperti kata Najwa dan Feri malam itu, dia juga harus pandai menyimak. Dengan pandai menyimak, tidak grasa-grusu dalam menyikapi pendapat orang lain, saya yakin mereka dapat menghadirkan gagasan baik, dan tentu, dapat sungguh menjadi wakil rakyat - berdimensi kemanusiaan yang adil dan beradab.

Ingat dengan baik, "manusia paling tinggi adalah yang paling rendah hatinya, dan manusia paling rendah adalah yang paling tinggi hatinya."

Najwa Shihab mesti sangat selektif mengundang tamu ke panggungnya. |

Editor : Web Administrator | Sumber : Trans7 - narasitv
 
Humaniora
13 Nov 19, 10:15 WIB | Dilihat : 992
Masjid Apung di Tengah Aksi Transformasi Ancol
11 Nov 19, 14:53 WIB | Dilihat : 1016
Mimpi Karyawan di Sebalik Pembangunan Masjid Apung Ancol
04 Nov 19, 15:57 WIB | Dilihat : 989
Amsal Ayam Jago dan Merpati dalam Pernikahan
01 Nov 19, 11:10 WIB | Dilihat : 577
Menyegarkan Komitmen di Tanakita
Selanjutnya
Sporta
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 707
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1549
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 1250
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
Selanjutnya