AKARPADINEWS.COM | TARIAN yang disuguhkan Dance Heginbotham asal New York, Amerika Serikat (AS), terkesan biasa saja. Seakan, tidak ada pesan yang disampaikan para penari yang disatukan di atas panggung kala itu. Penonton pun terlihat rada bingung menginterpretasikan beragam makna yang sebenarnya ingin disampaikan para penari lewat gerakannya.
Tapi, di balik pertunjukan yang biasa itu, John Heginbotham, sang koreografer, memiliki gagasan menarik. Dia menjadikan musik sebagai inspirasi utama di pertunjukannya. Tujuh penari yang terdiri lima perempuan dan dua laki-laki, menyuguhkan aksinya di atas panggung Black Box, Salihara, Jakarta, Kamis, (7/4). Dengan kostum berwarna tua, mereka terlihat elegan dan dinamis. Para penari memainkan empat tarian dalam pertunjukan tari yang berdurasi lebih dari satu jam.
Panggung Black Box yang biasanya proscenium itu diubah menjadi bentuk arena, dengan kursi penonton di sisi kanan dan kiri. Tujuh penari saling bergantian, memasuki panggung dalam empat tarian. Terkadang, satu penari, dua penari, empat penari, dan seluruh penari berada di atas panggung sekaligus. Sesekali, gerak penari seperti tarian balet yang kental dengan kelembutan dan keindahan liukan tubuh penari.
Namun, sesekali pula geraknya lebih dinamis, dengan iringan musik kala berpesta. Para penari seakan menggiring penonton untuk menginterpretasi makna tarian yang disuguhkan. Tidak hanya dari geraknya, namun juga musiknya.

“Di setiap tarian memiliki bahasa, tarian ini terinspirasi dari musiknya,” ungkap John saat diwawancarai. Bagi John, musik menjadi titik pijak menghidupkan setiap detail gerak penari. Tidak seperti koreografer umumnya, yang menjadikan musik sebagai pengiring tarian.
Uniknya, musik yang dipilih John hanya mengandalkan alat musik piano dan akordion. Sejak awal pertunjukan, jari jemari Nathan Kochi, menari di atas piano, dan menghasilkan denting bunyi yang lembut hingga tempo yang cepat. Ketika jarinya menari, matanya tidak luput dari partitur lagu.
Sang pianis, seolah menciptakan dunianya sendiri, hanya dengan musik di tengah panggung. Sementara para penari harus mengikuti iringan musiknya, untuk membangun imajinasi penonton. “Musik ini dipilih secara khusus, harus memiliki karakter untuk piano solo, nada, dan semangatnya berbeda untuk setiap musik,” lanjut John. Sedangkan akordion, alat musik sejenis organ ini dimainkan Kochi saat pergantian adegan tari selanjutnya.
Melalui tari yang diinspirasi musik, John menawarkan keleluasaan kepada penonton dalam menafsirkan karyanya. Dia sengaja tidak menjelaskan makna tarian dalam sebuah narasi. Karena, dia ingin membebaskan imajinasi audience.

Sayang, imajinasi penonton belum terbiasa menyimak karya seni pertunjukan itu. Apalagi, ketika piano solo dijadikan petunjuk sehingga membuat mereka rada bingung saat menangkap hubungan dari satu tarian ke tarian lainnya.
Apalagi, penonton yang hadir kala gladi pertunjukan dari berbagai komunitas hingga anak-anak. Mereka meresponsnya dengan polos. “Apa sih arti menarinya, tapi cantik yah,” ungkap seorang anak kepada teman sebelahnya. Anak itu justru merespon fisik penari, dibanding memahami makna yang disampaikan dalam tarian. Setelah itu, kedua anak tersebut justru membicarakan kesehariannya. Mereka tidak fokus menonton pertunjukan.
Demikian pula para penonton yang berprofesi wartawan. Mereka terlihat mengantuk. Ada pula yang justru asyik memainkan handphone. “Aku kira, aku saja yang ngantuk. Ternyata, kamu juga ya,” tutur seorang wartawan.
Penonton memang rada susah menangkap pesan yang ingin disampaikan John. Padahal, dia bersama timnya telah melakukan pertunjukan tari di berbagai negara. Namun, artikulasi gagasannya di atas panggung kali ini, tidak mudah dipahami penonton. Tidak memancing kegelisahan dan getaran para penonton yang melihat karya seninya.
Dialog Budaya
Kedatangan Dance Heginbotham sebagai grup tari kontemporer ke Indonesia, merupakan bagian dari upaya merealisasikan misi dialog budaya. Selama tour di Indonesia, mereka melakukan pentas di Festival Budaya Jailolo, Ternate, Maluku Utara, Bagong Kussudiardja, Yogyakarta, dan Jakarta.
Tidak sekedar pentas, Dance Heginbotham yang didirikan tahun 2011 juga menjadikan tari sebagai media edukasi, dengan menggelar workshop dan kelas koreografi, lokakarya tari, kelas musik, dan pelatihan penataan panggung.
Para peserta tidak hanya dari mahasiswa dan seniman. Berbagai komunitas tari di Jakarta, Maluku, dan para difabel, turut berpartisipasi dalam pelatihan yang digelar di Universitas Negeri Yogyakarta.

Menurut John, peserta yang memiliki latar belakang pemikiran, fisik, dan budaya yang berbeda, harus ditangani pula dengan perlakukan berbeda. “Anak-anak di Indonesia antusiasmenya bagus dan sangat ingin belajar,” kata John. Dia pun mengapresiasi penonton dan peserta dari Jailolo sebagai yang terbaik selama tour.
Mereka sangat natural, memiliki spontanitas tinggi, dan bersemangat. “Keindahan alamnya juga luar biasa, meskipun kami berjuang berlatih tanpa atap dan pentas dengan hujan besar. Tapi penontonnya setia, mereka bertepuk tangan, setelah itu kami menari bersama,” kenang John yang sebelumnya melakukan tur ke Laos dan Filipina.
Bagi Dance Heginbotham, tour di Indonesia meninggalkan jejak mendalam, kebahagiaan, dan memperkaya pengalaman. Mereka berinteraksi dengan berbagai seniman dan komunitas budaya di Indonesia.
Ratu Selvi Agnesia