Jakarta Melayu Festival 2022 Kembangkan Adab Berterima Kasih

| dilihat 461

Petang di Ancol, Selasa (9/8/22). Olvah Al Hamid puteri cerdas dari Papua melangkah ke area jumpa pers di salah satu resto kawasan wisata di pantai utara Jakarta, itu. Dengan rambut keriting berkebaran, ia membuka acara.

Olvah mempersilakan Geisz Chalifah - produser Jakarta Melayu Festival (JMF) ke 10 - 2022, yang akan dihelat pada Rabu, 17 Agustus, mulai pukul 19.00 malam, itu.

Pemimpin Gita Cinta Production yang tak lelah berkhidmat mengembangkan budaya Melayu, khasnya musik Melayu, itu lantas memanggil Nong Niken Astri, penyanyi Melayu asal Aceh, itu. Juga Erie Suzan, penyanyi khas yang pawai mendendangkan tembang multi genre.

Beberapa penyanyi dan musisi pengisi acara yang hadir dalam jumpa pers, itu : Kiki Ameera, Suliz Zehra, Shena Malsiana, Sheya Maya, Alfin Habib, Takaeda, dan Darmansyah Ismail duduk di depan.

Mereka duduk di satu meja bundar, sekaligus mewakili Big Band Seroja, Mustafa Balasik, Henri Lamiri, dan Musisi Anwar Fauzi yang menjadi master arranger pergelaran, itu.

Geisz mengemukakan, Jakarta Melayu Festival 2022 yang akan dipandu Olvah Al Hamid, ini bukan pergelaran musik yang biasa semata. JMF ini, kata Geisz,  gerakan kebudayaan yang diharapkan memantik siapa saja untuk menengok budaya yang kita miliki. Tak terkecuali, adab berterima kasih.

"Melayu mempersatukan kita, bangsa Indonesia yang amat beragam ini, melalui bahasa yang kemudian menjadi bahasa Indonesia," kata Geisz. Dia menegaskan, bahasa Indonesia yang berakar pada bahasa Melayu, mengintegrasikan ragam kekayaan budaya kita melalui satu bahasa persatuan. Sesuai dengan filosofi Melayu, "bahasa menunjukkan bangsa."

Tersirat Geisz memberi isyarat tentang utamanya persatuan dalam keragaman, sehingga sesanti Bhinneka Tunggal Ika adalam satu nafas yang terpisahkan satu dengan lainnya.

Kata kunci budaya Melayu adalah adab. Perhelatan kali ini, dengan tema Terimong Geunaseh, mengembangkan adab berterima kasih kepada siapa saja yang berada di garis terdepan dalam melawan pandemi virus Covid 19.

Adab semacam inilah yang selalu mengemuka sebagai tema sejak perhelatan ini digelar 10 tahun lalu, yang pertama kali mengangkat tema "bulan berpagar bintang." Lantas bertema kesadaran hidup dalam persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara. Pun, tema tentang keadilan sosial.

Menghidupkan kesadaran bersatu dalam persatuan dan kesatuan bangsa adalah proses perjuangan panjang, termasuk perjuangan merebut, mempertahankan, dan mengisi era kemerdekaan untuk mewujudkan keadilan sosial bagi semua.

Kata Geisz, perhelatan JMF ke 10, 2022 ini khas sebagai ungkapan terima kasih kepada seluruh kalangan yang telah bersatu padu menghadapi tantangan pandemi Covid-19.

Dua tahun pandemi membuat JMF tak terselenggara, sebagai konsekuensi logis dari berbagai krisis yang ditimbulkan, khasnya krisis kesehatan dan ekonomi.

Karenanya JMF ke 10, 2022 akan secara khas memberikan apresiasi tinggi kepada Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jaya, Persatuan Perawat Indonesia DKI Jakarta, Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia DKI Jakarta, Pengemudi Ambulance, Petugas Pemulasaran Jenazah dan Petugas Pemakaman. Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan akan memberikan langsung penghargaan itu.

Pergelaran JMF, itu sendiri dihelat percuma (gratis) bagi pengunjung Ancol malam itu. Di lokasi, tepian pantai Ancol Beach City, juga akan tersedia kedai-kedai pelaku UKM (usaha kreatif mandiri) dengan beragam produk kuliner selera Melayu.

Ketika pertama digagas Geisz Chalifah dan dibiayai dari koceknya sendiri, JMF sudah melibatkan Anies Rasyid Baswedan, Ferry Mursyidan Baldan, Feisal Motik, Ichsan Thalib, Burzah Sarnubi, penulis dan beberapa kolega lainnya.

Mulanya pergelaran dilakukan dalam format indoor yang diselenggarakan di City Hotel, Hilton Hotel, Auditorium Bidakara, dan Teater Besar Taman Ismail Marzuki. Sejak 2015 dengan semangat mengembalikan musik Melayu sebagai musik khalayak yang menjadi bagian dari coral culture, pindah ke tepian pantai Ancol Beach City, sampai kini.

Geisz membuka ruang interaksi antar genre musik di pentas JMF. Mulai dengan Pop, Rock, Jazz, Blues, dan Reggae, yang membuka kanal pengembangan musik Melayu ke berbagai genre dan kalangan. Termasuk menghadirkan para penyanyi dari kalangan belia - millenial.

"JMF juga sudah berkembang laiknya keluarga, para pengisi acara berganti-ganti, dan JMF ke 10, semacam reuni bagi para pengisi acara pada perhelatan sebelum-sebelumnya," ujar Nong Niken.

Bagi Erie Suzan, yang lebih populer sebagai artist musik dangdut - yang sebenarnya pengembangan dari musik Melayu yang berinteraksi dengan musik Hindi, Pop, dan Rock - Musik Melayu memberikan ruang ekspresi yang menantang.

Hal yang sama juga dikemukakan Takaeda. "Pertama kali gabung dalam pergelaran JMF, lumayan ketar ketir.. tapi, Alhamdulillah.. ternyata jadi interaksi kreatif," ujarnya.

Di pentas JMF, musisi internasional Danny Lerman - pemain saksofon dan komposer yang memukau (murid Charlie Atkins dan Junior Walker, dosen di sekolah musik Universitas Texas Utara dan Sekolah Musik Berklee) berkolaborasi dengan Henry Lamiri, Daud Debu dan Seroja. Juga Cockpit - grup band rock Indonesia, dan Tonny Q musisi Reggae.

Pada perhelatan JMF ke 10 2022 dengan kepatuhan pada Protokol Kesehatan ini, Anies Rasyid Baswedan seperti perhelatan sebelumnya akan menyampaikan Pidato Kebangsaan.  | bang sém

 

Informasi terkait: Jakarta Melayu Festival 2022 Pesona Estetika Melayu dan Adab Kebangsaan

Editor : delanova
 
Ekonomi & Bisnis
15 Jun 22, 09:26 WIB | Dilihat : 257
Gobel : PMK Hewan Memukul Kedaulatan Pangan
14 Jun 22, 09:17 WIB | Dilihat : 300
Rachmat Gobel Kritisi Lagi Soal Impor Baju Bekas
10 Jun 22, 20:45 WIB | Dilihat : 236
Memulihkan Ekonomi Malaysia dengan Berlari
09 Apr 22, 19:08 WIB | Dilihat : 347
Menghidupkan Demokrasi Ekonomi Kita
Selanjutnya
Humaniora
10 Sep 22, 12:45 WIB | Dilihat : 160
WSI Bergerak Tanpa Lelah Menjawab Tantangan Zaman
09 Sep 22, 08:23 WIB | Dilihat : 78
Pemimpin versus Penguasa
Selanjutnya