Istana Kura-Kura

| dilihat 1485

Puisi Puisi Gus Nas (Nasruddin Anshary)

 

ISTANA KURA-KURA

 

Di negeri amnesia

Asal-muasal kisah resah ini bermula

Kusebut kabut hitam ini dengan nama badai nestapa

 

Orang-orang penting dengan senyum sempurna bergaya di layar kaca

Berlindung di balik gedung tempurung

Dalam istana kura-kura

 

Hanya engkau dan aku yang tahu

Apa itu istana kura-kura

 

Ijinkan kisah ini kulanjutkan dengan bahasa paling jujur dan apa adanya

 

Di balik gedung berbentuk tempurung itu

Para Yang Mulia khusyuk menghitung angka-angka

Berpikir untung agar pundi-pundi melimpah di lumbung

Agar saham dan deposito terus melambung

 

Tapi di atas langit sana

Senja sedang menaburkan luka

Rembulan yang indah tengah meneteskan air mata

Saat menyimak dengan seksama di dalam istana kura-kura

 

Orang-orang amnesia itu tengah bersolek dengan gincu jelaga di bibirnya

Dengan bedak lumpur becek di wajahnya

Orkestra gugur bunga bergemuruh menerjang dada

 

Hari ini istana kura-kura sedang dirundung duka dan dusta

Saat etika dan moral ditenggelamkan di rawa-rawa

Ketika ketamakan dan hedonisme dirayakan dengan gelimang pesta

 

Dalam anomali cuaca ini

Seorang pujangga menyebutnya zaman edan

Dan aku menamakannya kalabendu

 

Dulu Bung Karno menyebut istana kura-kura ini dengan nama Conefo

Dan menjadikannya benteng tangguh melawan kapitalisme

Berdiri dengan gagah di atas tanah tumpah-darah

Berdikari di bumi gemah ripah Ibu Pertiwi

 

Lalu Orde Baru menyempurnakan tugasnya

Dan menjadikannya Kantor Parlemen bagi para Yang Mulia

 

Catat dengan bahasa malaikat:

Kantor Parlemen bagi para Yang Mulia

 

Dilengkapi air mancur di halamannya

Dipagari besi kokoh di sekelilingnya

Istana kura-kura itu menjadi saksi reformasi

Menjadi saksi segala protes dan demo para mahasiswa

Yang begitu cinta pada negeri Ibu Pertiwi

 

Orde Baru telah digorok dan tumbang di gedung megah ini

Lalu Orde Reformasi dinyalakan dengan bara api

Melawan korupsi

Melawan kolusi

Dan nepotisme yang tak terpuji

 

Tapi tapi tapi tapi

Banyak tikus dan tupai di gedung megah ini

Tapi tapi tapi tapi tapi

Semua diam tiada peduli

Ketika api reformasi telah mati diludahi para mucikari

Manakala pilar reformasi telah digergaji dengan nafsu kotor para politisi

 

Di istana kura-kura

Tikus-tikus bersarang dengan bebas merdeka

Tupai-tupai melompat dalam intrik dan lobi

Daging-daging rakyat dikerat

Tulang-tulang rakyat dikerat

Ketamakan dan kebebalan merajalela

Syahwat dan ambisi meremukkan akal-budi

 

Orang-orang kecil berdiri dengan satu kaki dan bergelantungan di bus kota

Sementara di halaman parkir istana kura-kura ini

Mobil mewah berjejer dengan megahnya

Apakah ini yang namanya cinta tanah air dan peduli bangsa?

 

Di negeri amnesia

Pancasila kian tersingkir ke pinggir

Rakyat miskin tak punya bibir untuk mencibir

Para fakir tak punya ruang untuk menyingkir

Dalam suara sunyi malaikat bertakbir

 

Dan negeri amnesia selalu menjawab lupa pada semua pertanyaanku

Apakah reformasi telah mati bunuh diri?

Ataukah reformasi telah dikubur dengan nisan korupsi dan kolusi kaum berdasi?

 

Istana kura-kura telah menjarah sejarah

Dan menjelma pasar transaksi

Ketika makelar legislasi sibuk merapikan dasi untuk lobi

Manakala calo undang-undang berebut uang haram tanpa harga diri

 

Negeri amnesia selalu menjawab lupa saat nurani dan hati bertanya

Sila ke empat dan sila ke lima apa maknanya?

 

Bertanya anak-anak TK itu kepada gurunya

Apakah tikus selalu bermental rakus?

Apakah tikus bermulut kakus?

 

Dari saham Freeport, cassie Bank Bali, penyelundupan 60.000 ton beras dari Vietnam

Hingga korupsi proyek PON Riau dan mega-skandal E-KTP

Tikus tua itu selalu fokus dalam mengendus

 

Bagaimana mungkin pendidikan akan mencerdaskan anak-anak bangsa

Bagaimana bisa kebudayaan sanggup memperkokoh budi pekerti dalam diri manusia

Jika tikus tua tuna etika itu masih dibiarkan berdiri telanjang dan berdansa tanpa busana?

 

(Renungan Malam 2017 - Gus Nas Jogja)

 

HABIS GELAP

 

Kartini, kapan engkau kembali?

 

Di kegelapan engkau menghilang

Menggendong rindu

Pada zaman benderang

 

Antara Jepara dan Rembang

Jejakmu terbang

Hanya menyisakan sebutir merica

Yang pecah di dalam dada

 

Kartini, kapan engkau kembali?

 

Agar padi yang kau tanam

Tak tumbuh jadi perdu

Ia butuh kehangatanmu

 

Meski di dadamu sendiri

Telah tumbuh belukar

Aku hanya bisa menelan ludahku sendiri

 

Gelap zaman telah merantai kedua kakimu

Tapi sayap jiwamu terbang

Mengangkasa menembus mega

Dan dengan tajam pena

Kau nyalakan api cinta

Sebab menjadi manusia harus menolak diperkuda

 

Kartini, kapan engkau kembali?

 

Gus Nas Jogja, 2017

 

TERBITLAH TERANG

 

Pulanglah, Kartini

Dengan obor menyala

Kegelapan hanyalah lorong waktu

Yang telah sampai pada ujungnya

 

Pulanglah Kartini

Bukan untuk mengabdi pada Bupati

Bukan pula agar kodratmu

Telah rebah dan mati

 

Sebagai perempuan Jawa

Engkau memang sangat jelita

Dengan kain kebaya

 

Tapi tajam penamu

Telah menebas segalanya

 

Kartini, pulanglah

Terbitkan terang di dalam jiwa

Jadilah engkau cahaya

Bagi perempuan sebangsa

 

Gus Nas Jogja, 2017

 

KARTINI

 

Kartini menyalakan sumbu bagi kaum Ibu

Atas nama Tuhan, mata hati dan cita-cita, ia menggenggam api pada ujung pena emasnya yang setajam rindu

 

Bukan karena ia Raden Ajeng dan bukan pula karena terlahir dengan Trah Kusuma dan Tetesan Madu, tapi karena Kartini muda sudah membaca indahnya Kitab Suci

 

Dalam asuhan kelembutan mBah Soleh Darat

Kartini muda menggali isi Kalam Ilahi dengan tafsir Jawa

 

Di tengah deburan ombak Pantai Jepara

Dengan jiwa bermekaran bunga mawar

Kartini muda belajar tentang kilau mata langit dan detak nafas jantung bumi

 

Hidup harus memilih: Berdiam di tepi pantai, berlayar menerjang batu karang, atau terus berpura-pura.

 

Kartini memilih membelah ombak dengan tarian pena dan kalam suci

Membela kaumnya yang selalu ditempatkan sebagai alas kaki memang membutuhkan hati seharum melati

 

Kartini tak pernah takut dicaci-maki

Ia tak gentar menatap tajam wajah para penindas dengan kelembutan puisi dan tajamnya pena yang cerdas bertinta budi pekerti

 

Bersama Tjut Nyak, Dewi Sartika serta para perempuan perkasa lainnya

Kartini hanya melunasi janjinya sendiri

Bahwa kegelapan harus lenyap dari Bumi Ibu Pertiwi

 

Gus Nas Jogja, 2017

 

MELIPAT GELAP, MEMBENTANG TERANG

 

Kartini membuka fajar pagi dengan mata berkaca-kaca

Saat di pelupuk matanya ia melihat tubuh-tubuh renta dan jiwa dahaga kaumnya sendiri

 

Perempuan petani yang dihempas badai para tentenir dan dihisap darahnya oleh lintah darat

Perempuan nelayan berwajah legam yang ditenggelamkan martabatnya oleh para predator dan cukong raksasa

Perempuan buruh yang dikremus dan dilumat harga dirinya oleh mesin keserakahan dan kaum kapitalis entah dimana

 

Kartini hanya sanggup mengemas cemas dengan kilau kata-kata

Sebab tiap-tiap jelaga akan melahirkan jelaga hingga kegelapan mengepung di seluruh negeri dan seantero dunia

 

Kartini lantas menyalakan obor seorang diri

Membelah berlapis-lapis kegelapan tanpa ingin dipuji

Dengan payung hitam memekar di atas kepalanya sebagai tanda berduka, Kartini menggelar tikar untuk tempat duduk kaumnya

 

Kemerdekaan adalah jembatan emas menggapai cita-cita, sementara itu penjajahan adalah tembok angkuh untuk memenjarakan cinta dan kemanusiaan semesta

 

Kartini hanya punya seuntai senyum walau dadanya terbakar oleh cita-cita harum bagi keindahan martabat kaumnya

 

(Gus Nas Jogja, 2017)

 

KIDUNG KARTINI

 

Kartini tak pernah ingkar janji

Dengan pena setajam sembilu

Putri Jepara berkebaya biru itu tak pernah berhenti menggambar matahari buat anak-cucu

 

Bukan surga yang ia cari, apalagi bedak dan gincu.

 

Dari pantai utara kota Rembang ia berenang hingga ke Negeri Belanda

Menggenggam surat yang lusuh dan basah oleh cita-cita agar dibaca oleh Dunia

 

Masih dengan kain kebaya berwarna biru ia menari di antara karang tanpa wajah murung

Mengibaskan sayap-sayap cinta untuk menaklukkan deru gelombang dan desing peluru

 

Kartini begitu indah membaca samudera

Lalu puisi demi puisi ditulisnya hingga menjelma mantra

Menggerakkan ribuan layar cahaya hingga berpendar di cakrawala

 

Dengan akal budi dan gelora zikir bertaburan doa

Kartini memanjat langit hingga menggapai puncaknya

 

Berbekal rindu untuk merdeka

Kartini muda begitu khusyuk belajar merenda cahaya

Ia memulai sejarah nafasnya dengan membaca Juz Amma

 

Berbekal itulah ia membangun jembatan emas bagi kaumnya.

 

Kartini tak pernah patah hati

Tak ada istilah itu dalam kamus hidupnya mengucap benci

 

Berkalung tasbih ia tegak berdiri dan pantang merintih

Bibirnya tetap menyala walau tanpa lipstick dan gincu.

 

Jika Kartini adalah diri kita sendiri

Lantas kenapa bangsa ini begitu sulitnya belajar sejarah atau melukiskan cinta dalam puisi?

 

Gus Nas Jogja, 2017 |

 

Editor : sem haesy
 
Energi & Tambang
25 Nov 18, 12:33 WIB | Dilihat : 326
Nicke Widyawati di Tengah Arus Transformasi Pertamina
24 Nov 18, 08:44 WIB | Dilihat : 143
Menjaga Marwah Jurnalis Via AJP2018
01 Agt 18, 13:45 WIB | Dilihat : 2760
Mendulang Kemandirian di Blok Rokan
05 Des 17, 20:09 WIB | Dilihat : 782
Kelola Sumberdaya Alam secara Efisien
Selanjutnya
Seni & Hiburan
24 Nov 18, 19:07 WIB | Dilihat : 263
AJP2018 dan Kaus Kaki Hesti
29 Okt 18, 22:01 WIB | Dilihat : 368
Hujan dan Emak Emak Suburkan Spirit Melayu di JMF 2018
29 Okt 18, 15:57 WIB | Dilihat : 282
Ibu Ajari Aku Menangis
Selanjutnya