Film Iran Film Humanis

| dilihat 2004

JAKARTA, AKARPADINEWS- Jendela peradaban dan kebudayaan kita kini, dalam banyak hal dipengaruhi oleh konsep logika dan pemikiran Amerika dan Barat. Hampir seluruh materi programa siaran televisi dan layar bioskop kita, nyaris seperti itu. Bila tak ada film-film Bollywood, Cina (Hong Kong), Taiwan, dan Amerika Latin, boleh jadi kita tak mengenal dimensi lain dari film dalam konteks budaya dan peradaban.

Iran merupakan negara – bangsa yang mempunyai tradisi perfilman yang unik dan karya yang unik pula. Ketika film-film Iran melenggang di pentas dunia, dan kemudian menyeruak di layar televisi kita, nyaris tak banyak yang ngeh dan bereaksi. Film-film Iran, pun sebagaimana halnya film Mesir, mengalir begitu saja dari pusat perhatian kita.

Hubungan kita dengan film Iran memang sama dengan hubungan kultural kita secara menyeluruh. Hubungan hati ‘jarak jauh’. Dan ketika film-film Iran disajikan, banyak sekali orang bertanya: Bagaimana bangsa Iran mengenal film? Seolah Iran, merupakan bangsa yang relatif baru mengenal industri perfilman.

Agaknya tak jauh beda dengan bangsa-bangsa Asia lainnya, sejarah perfilman Iran sejalan dengan perkembangan peradabannya sejak awal alaf kesembilan belas. Pada 1900, awal alaf ke 20. Sebelum terjadinya Perang Dunia (PD) II. Untuk pertama-kalinya, di Iran film hanya bisa ditonton kalangan bangsawan. Persisnya keluarga kaisar (shah). Baru tahun 1904 masyarakat boleh menonton film, di sebuah bangsal, persis di belakang pertokoan barang antik di Teheran. Mereka menonton di atas hambal, sambil duduk bersila, laksana di sebuah masjid.

 Nasib perfilman Iran, kemudian up and down.  Shahaf, didukung Mohammad Ali Shah, mengambil inisiatif: mendirikan bioskop, dan menggelar pertunjukan rutin sejak 1905. Tahun 1909 nasib sial menghadang, kala bargaining position para konstitusionalist sangat kuat. Bioskop dibinasakan, dan Shah tidak bisa berbuat apapun. Baru pada tahun 1912, bioskop dibuka kembali. Lalu, berkembang sampai 1930-an. Produksi film Iran pun dimulai.

Humanis

ADALAH Khan-baba Khan Mo’tazedi, seorang mahasiswa teknik Iran yang belajar di Paris, menukilkan namanya dalam sejarah perfilman Iran. Tahun 1926, ketika ia pulang ke negeri asalnya, lalu memulai karir sebagai sineas. Sampai tahun 1930-an, Iran memproduksi sekitar 25 film. Umumnya, film komedi bisu, dan hanya dipertontonkan di hadapan kaum perempuan.

Lama kelamaan, perkembangan ini merangsang Ovanes Oahanian, keturunan Armenia Iran, seorang mahasiswa film di Moskow, untuk merespon perkembangan itu. Ia mendirikan sekolah film, dengan spesialisasi pendidikan akting dan seni pertunjukan. Tahun 1934, untuk pertama-kalinya dibuat film bersuara, bertajuk The Lor Girl, dengan proses finishing di India.

Alhasil, film-film yang diproduksi lebih banyak menyajikan nasib buruk kaum perempuan, yang selalu cenderung menjadi korban permainan lelaki. Begitulah seterusnya, hingga tahun 1948, hanya tema-tema semacam itu yang terus diproduksi. PD II (1937-1948) menghambat laju perfilman Iran.

Yang menarik dicatat adalah: Gairah produksi film Iran mulai lagi tahun 1949. Temanya berubah. Lebih banyak film komedi dan melodrama berkualitas rendah, laiknya film-film populer Barat. Kepentingan komersial, sangat mendominasi. Tahun 1965, berkembang lebih bervariasi. Genre baru perfilman Iran, dimotori Ganje-e Qarun dan Siamak Yasami, mengangkat tema-tema ihwal ketimpangan hidup

Di tahun 1965, Ganje-e-Qarun diproduksi atas Siamak Yasami, yang mengambil inisiatif genre baru perfilman Iran. Film-film itu sukses sangat besar dan mencapai box office, dengan pendapatan kotor melebihi 70 juta Rial. Setara dengan satu juta US Dollar. Tema film mengangkat ketimpangan hidup yang kontras antara ‘the upper class’ dengan masyarakat miskin kelas bawah.  

Rintisan itu industri perfilman Iran akhirnya menemukan momentumnya pada sekitar tahun 1950 sampai pertengahan 1960-an. Pada masa inilah industri film Iran cepat tumbuh dan berkembang. Di antara tahun ini, industri film India mencapai ‘kemakmuran’-nya, dimana 324 film diproduksi, dengan lebih dari 200 bioskop.

Upaya mengembangkan perfilman dengan format libertas, seolah menggebu, saat sekularitas menjalar, dan nampak di karya film mereka. Semua itu terjadi pada masa pra Revolusi Islam Iran. Periode revolusi berlangsung satu daswarsa (1969-1979), ditandai dengan timbulnya “Iranian New Wave”.

Singkat kata, kondisi itu menandai produksi film berkualitas dan bertanggungg jawab sosial tinggi, sebagai bagian fakta rontoknya kekuasaan Shah. Apalagi realitas kehidupan sehari-hari, diikuti dengan meningkatnya dinamika sosial dan suksesi politik. Ketika itu, Dariush Mehrjui memproduksi The Cow, sebagai bagian dari ‘gelombang baru’ masyarakat Iran.

Kiprah Dariush tak sia-sia. Film ini mencapai box office, sekaligus kritik sangat luar biasa. Banyak sineas penting yang muncul di era ini, menjawab aneka tantangan. Mereka sukar membuat film yang bertentangan dengan realitas hidup di negerinya. Sensor, memaksa pembuat film kreatif mencari berbagai jalan, untuk menghadirkan issu  sosial dan politik secara simbolis.

Upaya mendorong film sebagai bagian dari revolusi, tak kesampaian. Revolusi Islam Iran mulai dianggap menghambat produksi film pada 1979. Ketika itu, film dipandang sebagai agents of moral corruptions. Pada pertengahan 1980-an, sebagian produksi film sekular surut. Produksi film diatur ketat. Tahun 1997 kalangan moderat, liberal, dan kaum sekular melakukan gerakan reformasi. Tapi, film tetap berada di bawah kendali dan pengawasan pemerintah. Lalu film dikelompokan menjadi: Film popular rongsokan, propaganda, dan film tentang anak-anak yang innocent. Meski begitu, produksi film di Iran, tetap menggeliat dengan cirinya yang khas: humanist !

Editor : Web Administrator
 
Energi & Tambang
Sporta
23 Agt 20, 12:51 WIB | Dilihat : 506
Anggur Hijau Douro untuk Bayern Munchen
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1416
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 2293
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
Selanjutnya