Delapan Tahun Konsistensi Jakarta Melayu Festival

| dilihat 370

Catatan Sèm Haesy

Gubernur Anies Baswedan tersenyum, ketika memasuki ruang rapat di sebelah ruang kerjanya. Menyalami hampir semua orang yang ada di ruangan itu, sebagian besar adalah musisi, penyanyi, dan panitia Jakarta Melayu Festival. Lalu duduk di antara Geisz Chalifah dan Ferry Mursidan Baldan.

Terlihat wajah-wajah ceria Erie Suzan, Sheina Malsiana, Maxi, Husein Alatas, Alfin Habib, Takaeda, Husin Alatas, dan Fika Fabiola, Darmansyah, Butong, Ade Firman, Tom Salmin, Nong Niken, dan yang lain. Tentu, Yaya Moektio dari lead Cockpit Band - grup musik rock yang kini menjalani hari-hari kehidupannya sebagai ustad.

Tampak juga dalam pertemuan itu Alex - koreografer tari Melayu - Sumatera Utara, Jumrana Salikki - Kasma Kasim Marewa - Ade Adam Noch - Mirza Syah - Cherry Lim - Helwa - Lisca Zafarayana yang menampakkan latar ragam budaya Melayu dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Aceh, Kalimantan Barat, Maluku, dan Betawi. Pun, terlihat Retno Purwaningsih, Cucu, Husin Noax, dan lain-lain.

Penyelenggaraan JMF 2018 yang akan berlangsung di Ancol Beach City - 27 Oktober 2018 malam, itu memang diusung para pecinta dan penggerak musik Melayu dengan beragam latar budaya.

"Melayu menyatukan kita," ungkap Geisz Chalifah yang memimpin langsung Gita Cinta Production.

Anies, Geisz, Ferry bersama beberapa teman lain adalah penggagas Jakarta Melayu Festival, sejak delapan tahun lalu. Geisz berada di depan, memikul beban berat, untuk 'menjamin' event musik Melayu berskala nasional ini, tetap ada dan akan terus ada. Tahun lalu, dia memberi peluang kepada Nong Niken Astri untuk menjadi conductor operasional pergelaran ini.

"Alhamdulillah. Tidak terasa sudah delapan tahun acara Jakarta Melayu Festival berlangsung. Setiap menjelang pergelaran JMF, saya selalu hadir dalam konferensi pers," cetus Anies.

"Sejak awal, tak ada yang menyangka, saya akan mendapat tugas di Jakarta," sambungnya.

Memang, selama delapan tahun penyelenggaraan JMF, Anies beberapa kali berganti tugas dan peran sosial - kenegaraan, baik sebagai Rektor, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan kini Gubernur DKI Jakarta.

Anies selalu menghantar pergelaran JMF dari tahun ke tahun, mulai dari pergelaran di Crown Hotel, Hilton (Sultan) Hotel, Bidakara, Taman Ismail Marzuki, dan kemudian Ancol Beach City sejak 2016.

Karena kesibukan dan jadual kerja yang padat juga, Jum'at (19/10/18), Anies menerima seluruh penyelenggara, musisi, dan artis di kantornya. Suasana pun berubah, karena kantor dan seragamnya, Anies diperlakukan sebagai Gubernur, tak seperti biasanya.

"Ini penghormatan. Kita harus tahu batas mana dan bagaimana memperlakukan teman, di mana dan kapan," cetus Geisz, yang selama audiensi dengan Gubernur Anies, bicara formal.

Anies bersyukur, JMF bisa diselenggarakan secara konsisten. Menurutnya, peristiwa budaya atau produk budaya, mesti diusung secara konsisten.

“Jakarta Melayu Festival ini sejak pertama sudah kita dukung. Hanya saja, baru sekarang ini kita dukung dari Balaikota,” ungkap Anies saat dialog dengan para pengusung JMF, itu.

Dia juga merespon baik pandangan Darmansyah - Ketua Lembaga Pengembangan Kebudayaan Melayu (LPKM) DKI Jakarta, yang mengabarkan, usai JMF 2018, beberapa musisi yang terlibat, akan terlibat juga dalam even sejenis yang digelar Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

Anies menjelaskan, impact penyelenggaraan JMF ini terasa dari tahun ke tahun. "Kita berharap trend-nya akan makin menguat," tambahnya.

Dia juga mengemukakan, bagi pengembangan kota besar, khususnya DKI Jakarta, produk budaya dan ekspresi kebudayaan menjadi penting. Karena produk budaya dan kebudayaan, itulah yang akan memberi warna kemanusiaan suatu kota.

Anies mengemukakan, produk budaya memberi aksentuasi harmoni atas kegiatan ekonomi dan pembangunan fisik di DKI Jakarta, termasuk mengharmoni dinamika sosial politik, kata Anies. Produk budaya, termasuk seni musik, dan ekspresi budaya lainnya, selalu cenderung menyatukan, tidak mencerai-beraikan.

JMF yang diselenggarakan secara mandiri sejak pertama, diharapkan Anies, kian mampu mengisi ruang insaniah ibukota. Dia mendukung upaya kreatif yang dilakukan sejumlah pendukung JMF, khasnya Takaeda dan Seroja Band, yang sempat menggelar musik Melayu dan musik-musik lainnya di pedestrian Jalan Sudirman - ketika berlangsung Asian Games.

Ruang ekspresi budaya dan atraksi kesenian harus memberi warna bagi DKI Jakarta.

Tentang JMF 2018, sendiri, akan ada sentuhan lain. Bila tahun-tahun sebelumnya diberikan ruang kolaborasi musik Melayu dengan musik Latin, kemudian ruang kolaborasi antara musik Melayu dengan musik Jazz, dengan menghadirkan Saxophonist Daniel Lerner dari Amerika Serikat, tahun ini akan ada sentuhan musik rock, dengan menghadirkan Cockpit Band. Tentu, Hendry Lamiri akan tampil dengan biolanya. Anwar Fauzy Big Band akan menghantar keindahan harmoni musik melayu pada JMF 2018 ini. (Baca juga : Melayu Menenun Cindai Keadaban Bangsa ).

Kelompok musik yang sudah malang-melintang selama empat dasawarsa di genre musik rock nasional ini, akan menghadirkan rock rasa Melayu dan Melayu rasa rock.

"Musik itu dinamis. Kita mengkolaborasi sentuhan rock pada lagu-lagu Melayu," ungkap Yaya Moektio, drummer Cockpit yang hadir di balaikota dengan busana muslim.

Dikatakannya, musik itu, 60 persen bergantung pada lagu. 40 persen lainnya bergantung pada aransemen. "Kita akan hadirkan hasil aransemen yang menunjukkan universalitas musik," ungkap Yaya.

Geisz menjelaskan, gagasan memasukkan musik rock dalam pergelaran JMF sudah lama. Sesuai dengan spirit, memperkaya khasanah musik Melayu. Termasuk kolaborasi dengan musisi muda, sekaligus memberi ruang kreativitas dan inovasi mereka.

"Senang bergabung dalam JMF, sebagai anak muda, kita diberi porsi ruang kreatif untuk menghadirkan lagu dan komposisi musikal dengan bebas, karena sebagai penyanyi kita kan juga tahu batas," ungkap Sheina, yang tahun lalu mempesona dengan sentuhan jazz yang memang menjadi bagian dari karakternya.

Pun demikian dengan Maxi yang karib dengan blues, Erie Suzan dengan tune rock - meski selama ini lebih dikenal sebagai penyanyi dangdut. Alfin Habib dan Fika Fabiola, akan unjuk karya menghadirkan lagu-lagu melayu klasik Gambus Jodoh dengan performa dan taste anak muda. Termasuk menghadirkan musik melayu dengan komposisi yang kompleks, seperti Nirmala, tetap dalam sentuhan anak muda.

Anies janji akan berjoget pada sesi lagu Seroja. Meski harus segera berangkat ke Argentina untuk menghadiri pertemuan kota-kota maju di dunia -- yang selama ini DKI Jakarta absen --, Anies merencanakan hadir, dan dari Ancol langsung ke bandara Soekarno Hatta.

Dia mengajak warga Jakarta untuk bahagia bersama dalam Jakarta Melayu Festival yang tahun ini bersentuhan dengan ruh Sumpah Pemuda, bertema utama persatuan bangsa. Seperti tahun-tahun sebelumnya, JMF juga akan dihadiri oleh berbagai tamu dari jiran, Malaysia.

 “Insya Allah kita dukung dan ke depan kita kerjakan apa yang penting bagi masyarakat. Kita ingin Jakarta itu jadi tempat ruang ekspresi budaya dan seni. Bukan hanya tempat penghidupan, tapi Jakarta sebagai kanvas seni,” kata Anies Baswedan. |

 

Editor : Web Administrator | Sumber : foto-foto fok JMF - Gita Cinta Production
 
Humaniora
06 Des 18, 12:07 WIB | Dilihat : 184
Reuni Mujahid 212 Referensi Relasi Rakyat dengan Media
05 Des 18, 00:03 WIB | Dilihat : 196
Seonggok Batik Berwiru
04 Des 18, 10:28 WIB | Dilihat : 233
Gairah dan Ghirah Mujahid Mujahidah 212
24 Nov 18, 23:10 WIB | Dilihat : 307
Qanaah dalam Berkeluarga
Selanjutnya
Polhukam
10 Des 18, 16:18 WIB | Dilihat : 40
Ihwal Gagasan Sandiaga Uno Membangun Tanpa Utang
06 Des 18, 09:43 WIB | Dilihat : 214
Anies Baswedan Pemimpin Pas di Masa Sungsang
06 Des 18, 00:08 WIB | Dilihat : 168
TNI Mesti Tumpas Pemberontak Papua Merdeka
Selanjutnya