Mengenang Teladan Kebaikan

Dangdut dan Betawi dalam Minda Musika Chrisye

| dilihat 679

Catatan Sém Haésy

Selepas berhenti dari Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), saya bekerja di negeri jiran, Malaysia. Ketika sedang cuti di Jakarta, lepas salat Maghrib, Gusti Surya menelepon.

"Datang ke sini Om.. Surya lagi di rumah Chrisye," ujar Surya. Tak berapa lama, Chrisye ganti bicara, "... ditunggu ya.. dah lama nikh gak ketemu," ujar Chrisye. "Ba'da Isya' deh," jawab saya.

Usai salat Isya' saya meluncur ke rumah Chrisye di Cipete. Chrisye dan Surya, seperti biasa, menyambut hangat. Yanti menjumpai. "Ngopi Om?" sapa Yanti. Saya mengangguk.

Chrisye dan Surya melangkah ke setelempap ruang di rumah itu, tempat biasa duduk lesehan.

Yanti menghidangkan kopi. Chrisye meminta Yanti mengambil sebuah buku kecil dengan tulisan pegon Arab, berisi do'a-do'a dari Habib Alatas - Condet.

"Udah lama nikh buku nungguin, Om gak nongol-nongol," ujar Yanti. "Lihat Om Sem jadi ingat Om Ie," ujar Surya seketika.

Kami membincangkan rangkaian do'a itu. Lantas kami berbincang tentang lagu karya A. Rafiq, "Pengalaman Pertama," yang ketika dinyanyikan Chrisye, sentuhannya menjadi berbeda dan khas. Saya sangat suka Chrisye menyanyikan lagu ini, nuansa dangdutnya tetap terasa, meski tanpa harus mengikuti cengkok dangdut.

Syair di setiap larik dalam bait-bait lagu itu lebih terasa manja, katimbang jenaka :

Lirikan matamu menarik hati/Oh.. senyumanmu manis sekali/ Sehingga membuat, aku tergoda/Sebenarnya aku ingin sekali/Mendekatimu memadu kasih/Namun sayang, sayang malu rasanya/Biar ku cari nanti caranya//Memang sekarang/Malam perpisahan/Namun awal lahirnya percintaan/Harapanku dapatkah kau rasakan/Meskipun aku belum menyatakan/Oh kiranya aku telah jatuh cinta//Senyumlah sayang, sekali lagi/Sebagai tanda aku tak sendiri/Percayalah baru pertama kali/Pengalaman ini aku alami..//

Saya cerita kepada Chrisye dan Surya, selain Pengalaman Pertama itu, dua lagu Chrisye lain yang bernuansa dangdut dan keroncong (termasuk ketika dia duet dengan Waljinah) menjadi obrolan kreatif di kalangan seniman musik dan media di Kuala Lumpur. Bahkan, menjadi 'telangkai rasa' bagi begitu banyak warga negara Indonesia yang mukim di jiran.

Lagu karya Titiek Puspa bertajuk Hidup untuk Cinta dengan meramu beragam genre dalam satu komposisi, juga banyak diminati dan pas dengan telinga dan selera rasa penikmat musik di jiran. Sejumlah kreator, musisi, programer radio dan televisi menyigi lagu ini dengan apik.

Komposisi musikal dalam lagu ini sangat kaya, termasuk insert-insert tabla, bongo, suling, dan Chrisye pada beberapa larik, menghadirkan cengkok kreasinya sendiri. Belakangan format komposisi musikal lagu ini, menjadi pilihan, dan menjadi aksentuasi tersendiri yang menarik.

Chrisye yang selalu antusias menyimak dalam perbincangan menempatkan lagu Pengalaman Pertama dan Hidup untuk Cinta sebagai bagian dari dialektika kreatif dirinya sebagai musisi dan penyanyi. Ini yang membedakan Chrisye dengan banyak koleganya. Sebagai seniman sosok dengan sikap yang open mind dan fokus dalam menekuni sesuatu, Chrisye mampu mengambil jarak dengan materi lagu dan komposisi musikal.

Syair dalam rangkaian larik di beberapa bait lagu Hidup untuk Cinta, diberi sentuhan khas dia. Chrisye punya cara sendiri yang tak sama dengan penyanyi dan musisi lain, dalam memberi 'ruh musikal,' atas syair ini :

Jangankan emas permata / Sesen pun aku tak punya / Tapi jangan kau sangka / Hati tak kan gembira // Walau semua itu aku tak ada / Gunung pun akan kudaki / Lautan akan kusebrangi / Asalkan kudapati / Cinta kasih abadi // Permata aku tak peduli / Hidupku untuk cinta / Tak berbalas cinta / Inginnya bahagia //

Tak hanya itu, bentang kreativitas Chrisye sangat luas. Keterbukaan sikapnya untuk menempatkan ruang-ruang inovasi sebagai tantangan kreatif. Dan, seperti malam itu, dengan sikap rendah hati, tawaddu' Chrisye selalu menempatkan diri sebagai pembelajar. Diskusi juga selalu hidup, diselang-seling ungkapan yang menjentikkan tawa.

Malam itu juga Chrisye bicara ihwal dimensi kedalaman diri sebagai anak bangsa, yang tak boleh terputus dengan tapak-tapak sejarah. Indonesia mempunyai tapak sejarah musikal yang panjang. Beragam genre musik yang hidup di Indonesia menggambarkan adanya asosiasi dan asimilasi dari beragam budaya dan sub budaya di dunia.

Daya musikal lokal di Portugis bisa berinteraksi dengan daya musikal dalam tradisi Jawa misalnya. Pun, demikian halnya dengan keragaman musikal dalam tradisi Aceh, Melayu, Batak, Minang, Banjar, Dayak, Bugis, Maluku, Minahasa, dan lainnya. Kesemuanya membuka cakrawala tentang keragaman musikal tradisional yang juga beragagam hasanahnya, mulai dari perkusi, string, alat musik tiup, brass, dan lainnya.

Dia serius ketika saya mengusik tembang Pasar Gambir & Stambul Anak Jampang yang dibuka dengan beat drumb dan backing vocal yang menggoda, sebelum mengalir irama keroncong (melalui rithm ukulele) bersama dengan vocalnya.

Gaya nyanyi Chrisye dalam lagu ini, memberi 'jiwa' artikulasi liriknya: Pasar Gambir, kota Betawi / Ai kota Betawi ai indung disayang / Sampai di Gambir nona / Sampai di Gambir nona / Membeli pala // Buah pala di pinggir kali / Yang baju merah nona manis sekali / Anak kepiting di lubang batu / Sudah di lubang, merayap lagi / Badanlah miskin tambah piatu / Sudah piatu melarat lagi / Dari jauh saya ke mari / Ai saya ke mari, ai indung disayang / Mencari makan Nona / Mencari makan Nona / Jual Suara // Buah Kedondong di pinggir kali / Ini keroncong nona enak sekali / Ini keroncong nona enak sekali //

Lewat lagu ini, Chrisye menyeret kita ke alam 'Betawi.' Sebagai 'anak pegangsaan' - anak menteng yang middle - middle upper dia bisa berinteraksi dengan sosio habitus anak-anak cikini, matraman, dan menteng tenggulun. Lewat lagu ini Betawi hidup dalam komposisi musikalnya, tidak lewat instrumen apalagi dialek dalam lirik. Keren.

Malam jelang larut. Surya dan saya pamit. Yanti dan Chrisye mengingatkan tentang do'a-do'a di dalam buku ratib yang didapatnya dari Habib Alatas Condet itu. "Yang dari Guru Sekumpul, Abah Ijay juga jangan lupa om," sambung Surya, mengingatkan untuk tak lupa, ratib "Ya ahla bitin nabi..."  

Beberapa hari lalu, saya teringat perbincangan malam itu, sambil mengenang banyak kebaikan mereka yang meninggalkan kebaikan dan kebajikan (yang terhubung dengan allahyarham Chrisye), yang semua sudah mendahului: Ida Noor, Surya, Rinny Noor, dan almarhumah istri saya.. yang getun dengan lagu Chrisye yang monumental, "Ketika Tangan dan Kaki Berkata." |

Editor : Web Administrator
 
Ekonomi & Bisnis
19 Jun 19, 10:46 WIB | Dilihat : 205
Harapan Wirausaha Kreatif Malaysia di Bahu Dzuleira
27 Mei 19, 13:43 WIB | Dilihat : 195
Sang Pemandu
16 Mei 19, 11:03 WIB | Dilihat : 335
Utang Negara dan Pembangunan Sosial
25 Mar 19, 12:00 WIB | Dilihat : 816
Lompatan Kutu Anjing
Selanjutnya
Lingkungan