Ritual Agama dalam Cyber Religion

| dilihat 2046

AKARPADINEWS.COM | ANDA ingin berkurban di hari raya Idul Adha? Ada cara yang lebih cepat, praktis, dan tidak merepotkan. Tidak perlu harus mencari hewan kurban di pasar hewan dan melakukan penyembelihan.

Cukup dengan mengunjungi situs online dan badan amil zakat yang menawarkan layanan jasa penjualan dan penyembelihan kurban via online. Di dunia maya, jelang hari raya kurban, bertebaran iklan kurban yang mencantumkan harga kurban, dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Tergantung jenisnya, bisa kambing atau sapi.

Bagi yang ingin berkurban, cukup mentransfer dana ke rekening pihak yang melayani jasa tersebut. Selanjutnya, mengkonfirmasi via Whatsap dan SMS. Pihak pelayan jasa tentu memastikan proses penyembelihan dilakukan sesuai syariat Islam dan daging kurban didistribusikan ke masyarakat yang berhak.

Dengan begitu, ritual ibadah dan berbagi ini menjadi lebih mudah. Semuanya dilakukan hanya dengan sentuhan aplikasi yang terintegrasi di gagdet. Prosesi di dunia maya itu agak berbeda dengan penjelasan Yahya al-Lijaziy dalam bukunya berjudul: Qurban bersama Rasulullah SAW.

Yahya menjelaskan tentang tempat menyembelih kurban yaitu daerah di orang berkurban itu berada. Tidak ternukil dalam hadits jika Rasullulah dan para sahabatnya, mengirim hewan kurban saat di Madinah ke Makkah atau ke daerah lain untuk disembelih di sana.

Di samping itu, disunahkan menyembelih hewan kurban dengan tangan sendiri, membaca Bismillah dan takbir, ikut menyaksikan penyembelihan, dan ikut makan sebagian daging hewan kurban. Selain itu, tidak ada anjuran untuk mengirimkan hewan kurban dalam keadaan hidup maupun mengirim sejumlah uang untuk dibelikan hewan kurban dan disembelih di tempat lain.

Namun, menurut keterangan yang dikutip di laman Rumah Zakat, sah hukumnya bila seseorang tidak menyaksikan penyembelihan karena yang bersangkutan menitipkan kurbannya kepada orang lain atau lembaga yang dipercayakannya, lalu daging kurban dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Dan, yang paling penting adalah ketulusan niat dan keikhlasan berkurban.

Fenomena kurban digital, membayar zakat atau bersedekah, dan ritual agama lain yang dilakukan secara digital atau via online, tentu tidak terlepas dari perkembangan internet yang mengubah karakter kehidupan sosial. Internet tidak hanya sekedar memudahkan manusia mengakses informasi, namun juga digunakan sebagai sarana komunikasi, termasuk bertransaksi.

Dan, dalam perkembangannya, internet turut mengadaptasi bentuk-bentuk ritual religi dari spiritual tradisional ke digital yang disebut cyber religion atau online religion. Perkembangan teknologi digital dan internet membuka peluang baru bagi para praktisi agama untuk mewartakan keyakinan, pengetahuan maupun pengalaman religisnya, baik melalui website, chat rooms dan grup-grup diskusi via email. Para pencari nilai-nilai dan pengetahuan agama juga dapat dengan mudah mencari referensi, dengan hanya meng-klik mouse.

Kemajuan teknologi digital dan internet telah mendorong transformasi masyarakat religi dalam lingkungan media baru di abad 21 ini. Menurut Joshua Cooper Ramo/Chama dalam artikelnya berjudul: Finding God on the Web (1996) di Majalah Time, internet digunakan sebagai ruang spiritual. Ritual-ritual di dunia maya diyakini sama manjurnya dengan ritual-ritual yang dilakukan dalam kehidupan nyata.

Ritual tersebut memiliki kapasitas mentransformasikan keadaan mental, emosional, dan partisipasi, dengan cara-cara yang diterima sebagai pengalaman autentik. Namun, di dunia maya, tidak ada ruang suci (sacred space) seperti bangunan agama dan menjadi ruang mediasi maupun interaksi manusia dengan Tuhan, antara pemuka agama dengan jamaah, dan antar jemaah dengan jemaah lainnya dalam komunitas yang lebih besar.

Lantas, apakah praktik ritual keagamaan bisa direplikasi secara online? Beberapa kalangan berpendapat, jamaah online hanya berinteraksi dengan komunitas yang semu (a pseudo community) karena kurangnya isyarat-isyarat non-verbal. Ada juga yang berpendapat, ritual-ritual agama dalam cyber space tidak riil karena berdasarkan definisi konvensional yang menekankan perlunya kehadiran fisik seseorang.

Karenanya, fenomena agama online, memunculkan pertanyaan, sekaligus kekhawatiran mengenai kemungkinan yang bakal terjadi bagi komunitas-komunitas religi di dunia nyata ketika tak lagi eksis. Demikian pula sebaliknya di dalam realitas digita. Apa yang terjadi ketika pemuka spiritual telah digantikan oleh robot atau program komputer? Apakah hubungan di dunia maya identik dengan dunia nyata?

Semakin canggihnya perkembangan teknologi, maka tema atau isu-isu seperti ini sangat relevan untuk dikaji. Tidak hanya di dalam komunitas-komunitas agama, tetapi juga dalam diskusi yang lebih besar tentang transformasi masyarakat dan agama dalam lingkungan media baru di abad 21 ini.

Ketika para pemuka agama dan berbagai ritual keagamaan dilakukan secara online, menggunakan teknologi digital sebagai sarana komunikasi dan beribadah, atau dengan memanfaatkan program komputer sebagai sumber baru, dampaknya akan sangat berbeda. Sebab, budaya internet telah mengaburkan perbedaan antara yang publik dan privat, terutama yang spiritual. Teknologi digital dan internet yang menyentuh aktivitas ritual agama, maka keberadaannya ibarat pedang bermata dua.

Karenanya, perlu dipikirkan kemajuan teknologi digital dan internet, dapat dimanfaatkan untuk kepentingan umat, meskipun tak dapat menggantikan seluruh hubungan langsung fisikĀ  antara manusia dengan Tuhan seperti saat sholat, berdoa, berdzikir, mengaji, dan ibadah lainnya.

Hubungan manusia dengan Tuhan, tidak bisa diaplikasi dengan menggunakan teknologi digital. Namun, penyampaian pengetahuan agama bisa memanfaatkan website maupun media sosial. Karenanya, di era digital saat ini, perlu disikapi secara bijak sehingga dapat membawa manfaat.

Dengan kata lain, generasi digital saat ini, dapat memaknai agama dan segala ritualnya secara online sebagai peluang dan tantangan. Kekayaan imajinasi manusia tentang Tuhan dan berbagai nilai-nilai keagamaan akan terus tumbuh dan menemukan ruang baru bagi manusia menemukan jalan berinteraksi dan menemukan Tuhan.

Ratu Selvi Agnesia

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Ekonomi & Bisnis
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 183
Mengharap Garuda di Langit
03 Okt 20, 19:40 WIB | Dilihat : 164
KAMI Tolak Bailout Jiwasraya 22 Triliun Rupiah
18 Sep 20, 21:20 WIB | Dilihat : 217
Naik Turun Indeks Harga Saham itu Niscaya
11 Sep 20, 23:04 WIB | Dilihat : 350
Penghiburan Bank Dunia & IMF dan Tuas Rem Darurat Anies
Selanjutnya
Humaniora
22 Nov 20, 20:02 WIB | Dilihat : 135
Mentimun Bungkuk atawa Ketimun Bongkeng
22 Nov 20, 09:20 WIB | Dilihat : 154
Duri Beracun dalam Daging
20 Nov 20, 09:08 WIB | Dilihat : 104
Masih Banyak Profesor Sungguh Cendekiawan
19 Nov 20, 09:10 WIB | Dilihat : 107
Secercah Harapan kepada Muhammadiyah
Selanjutnya