Remaja Rentan Terjangkit Penyakit Kejiwaan

| dilihat 2167

AKARPADINEWS.COM | OTAK manusia menyimpan berbagai misteri yang belum terpecahkan. Bertahun-tahun, peneliti berusaha mengungkap cara kerja otak dan potensi yang dimiliki organ itu.

Penelitian gabungan yang dilakukan Universitas Cambridge dan Universitas College London (UCL), mencoba melihat cara kerja otak, khususnya pada perkembangan otak usia remaja. Penelitian itu dilakukan dengan mengkaji dan membandingkan perkembangan otak pada 300 orang dengan rentang usia 14-24 tahun.

Untuk dapat melihat kinerja otak itu, para peneliti menggunakan mesin Magnetic Resonance Imaging (MRI). Dari alat itu, peneliti menemukan, bagian korteks mengalami penyusutan sejalan dengan perkembangan usia remaja. Menyusutnya bagian korteks itu dibarengi dengan meningkatnya level mielin di dalam otak.

Selain itu, peneliti menemukan, bagian korteks pada otak remaja memiliki fungsi tambahan, yakni menjadi penyambung informasi antar bagian otak. Fungsi tersebut sejatinya merupakan fungsi utama selubung mielin pada otak orang dewasa.

Dengan kata lain, penyusutan korteks tersebut memindahkan fungsi alur komunikasi antar otak milik korteks kepada selubung mielin. Mielin tersebut kemudian memiliki fungsi sebagai pusat kontrol komando dari otak ke organ tubuh lainnya.

Dr Kirstie Whitaker, peneliti dari Departemen Psikiatri Universitas Cambridge yang tergabung dalam penelitian tersebut mengatakan, otak manusia mengalami perubahan bentuk sejalan dengan pertambahan usia manusia. Perubahan otak tersebut memiliki dampak pada perkembangan mental manusia yang disebabkan oleh meningkatnya level mielin dalam otak.

Para peneliti kemudian membandingkan hasil temuan dan gambar fotografik otak melalui mesin MRI dengan data yang dimiliki Allen Brain Atlas, pusat data tentang otak. Dari hasil perbandingan tersebut, ditemukan sesuatu yang cukup menarik, yakni pada bagian pusat kontrol otak yang merupakan area yang rentan terjangkit penyakit kejiwaan.

Selain itu, disimpulkan bahwa perkembangan otak tidak terjadi secara bersamaan. Fungsi otak yang berkaitan dengan gerakan tubuh, seperti melihat, mendengar, dan fungsi organ tubuh lainnya, telah sempurna di fase remaja. Tetapi, pada bagian lain, yang berhubungan dengan pola kompleksitas berpikir, otak masih berkembang.

Professor Ed Bullmore, Kepala Departemen Psikiatri Universitas Cambridge mengatakan, fase remaja merupakan periode transisi yang sulit pada seseorang. Biasanya, menurut Bullmore, tanda-tanda penyakit mental, seperti skizofrenia dan depresi, dapat muncul pada fase tersebut.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa ada bagian otak pada fase remaja yang rentan timbulnya penyakit skizofernia karena bagian otak tersebut menjadi sentral yang menghubungkan bagian lainnya. Jadi, tidak mengherankan bila terjadi sesuatu yang salah di bagian itu, mempengaruhi cara bekerja otak secara keseluruhan,” ujarnya.

Terganggunya bagian mielin sebagai pusat kontrol di otak dapat mengganggu perkembangan mentalitas remaja pada saat dewasa. Gangguan itu bisa dari perilaku kekerasan, baik fisik maupun mental, terhadap remaja.

Gangguan pada bagian mielin juga disebabkan oleh genetik. Bagi anak yang memiliki orang tua yang memiliki riwayat penyakit mental, maka bagian mielin dalam otaknya sangat rentan terhadap gangguan mental.

Bagi Whitaker, temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Science tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami fase remaja sebagai fase pertama psikosis atau gangguan mental. “Temuan ini menunjukkan pada kita semua mengenai bagaimana manusia pada fase remaja dapat terjangkiti gejala pertama dari psikosis,” ujarnya.

Dari temuan itu, Whitaker menambahkan, fase remaja merupakan fase yang penting bagi seseorang untuk menghindari penyakit mental seperti skizofernia. “Fase remaja merupakan fase paling utama dan terpenting yang dapat membentuk seorang manusia di masa dewasanya,” ungkapnya.

Temuan ini menjadi satu langkah maju bagi ilmu pengetahuan mengenai misteri yang terkandung dalam otak manusia. Dr Raliza Stoyanova, anggota tim Neuroscience and Mental Health di Wellcome Trust, organisasi yang mendanai penelitian tersebut mengatakan, penelitian ini menjadi bukti baru bahwa fase remaja merupakan fase rentan terjangkiti penyakit psikologi.

“Penemuan ini menjadi titik terang, bagaimana otak manusia berkembang. Ada besar kemungkinan, penelitian ini akan menjadi pemicu penelitian lain yang akan mengungkap bagaimana pola terjangkitnya seseorang dari penyakit psikologi, seperti skizofernia, pada diri seseorang yang sampai saat ini masih sebuah misteri,” ungkapnya.

Saat seseorang memasuki fase remaja, maka penting peran orang tua untuk mendampingi anak atau kala anak mengalami depresi. Sebab, dari penelitian ini, fase remaja otak manusia masih berkembang, khususnya pada bagian pusat kontrolnya.

Bila pengalaman yang memunculkan depresi masih melekas diingatannya, maka dapat memicu timbulnya penyakit mental, salah satunya skizofernia. Dalam kondisi demikian, orang tua harus lebih peka mencermati kondisi psikologis anaknya. Dan, dapat lebih dini melakukan langkah antisipasi tatkala muncul gejala gangguan kejiwaan yang menjangkiti anak remajanya.

Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : BBC/Science Daily/Daily Mail
 
Budaya
26 Feb 21, 10:56 WIB | Dilihat : 107
Alor, Aku Berguru Kepadamu
11 Feb 21, 09:24 WIB | Dilihat : 154
Allah Menyapa
01 Feb 21, 00:45 WIB | Dilihat : 254
Adzan Maghrib Kali Ini
09 Jan 21, 00:30 WIB | Dilihat : 602
Berpegang Adab dan Etika Hidupkan Kolaborasi
Selanjutnya
Polhukam
01 Mar 21, 11:09 WIB | Dilihat : 156
Fenomena Politik Miras
02 Feb 21, 19:50 WIB | Dilihat : 223
Penguasa Militer Myanmar Tak Peduli Ancaman Joe Bieden
01 Feb 21, 00:29 WIB | Dilihat : 196
Hari Hijab Nasional Filipina Mulai 1 Februari 2021
Selanjutnya