Nomophobia Menjauhkan dari Kehidupan Nyata

| dilihat 1718

AKARPADINEWS.COM | TIDAK banyak yang menyadari jika para pengguna ponsel mengidap phobia baru yang disebut Nomophobia. Istilah itu pun agaknya masih sedikit yang paham. Nomophobia merupakan akronim dari No-Mobile Phone Phobia, yaitu ketakutan seseorang ketika berjauhan dengan ponsel.

Nomophobia berkembang seiring perkembangan kehidupan manusia. Di era serba digital saat ini, manusia semakin tergantung oleh gadget dan jejaring sosial. Fenomena Nomophobia, meski terdengar asing, sebenarnya sudah muncul sejak tahun 2010, saat lembaga riset YouGov berkerjasama dengan kantor pos Inggris, melakukan penelitian. Hasil penelitian menunjukan hampir 53 persen pengguna ponsel di Inggris cenderung cemas ketika kehilangan ponsel, baterai lemah, dan minim jangkauan sinyal.

Penelitian lainnya yang dilakukan SecurEnvoy, perusahaan Teknologi Informasi asal Inggris juga menemukan dari 1.000 responden yang diteliti, sekitar 66 persen pengguna smartphone mengidap Nomophobia, meskipun tingkatnya tersebut berbeda satu dengan yang lainnya.

Penderita Nomophobia memiliki obsesi berlebihan dalam menggunakan smarthphone sehingga akan merasa ada yang kurang jika terpisah--meski hanya sementara, dengan alat komunikasinya itu. Sejumlah pakar kesehatan menyebut, Nomophobia sama halnya dengan jenis phobia lainnya, memiliki beberapa gejala yang dirasakan penderitanya. Misalnya, kecenderungan untuk mengecek smartphone berulang-ulang, bahkan saat penderita sudah mengantuk dan seharusnya mulai beranjak tidur. Gejala lainnya adalah seringnya berhalusinasi adanya dering atau getar tanda masuknya suatu pesan atau notifikasi, meski sebenarnya tidak ada.

Menurut Dr David Greenfield, asisten professor di University of Connecticut School of Medicine, kecanduan smartphone memiliki pola yang sama dengan jenis kecanduan lainnya yang melibatkan hormon dopamine. Hormon ini merupakan neurotransmitter yang fungsinya mengontrol pusat otak, khususnya dalam menghargai sesuatu hal. Menurut dia, setiap ada notifikasi dari smartphone, maka mengarahkan pada otaknya untuk berpikir ada sesuatu yang sangat menarik, apakah itu pesan teks atau email.

Kemudian, penderita sering memeriksa ponselnya hingga 34 kali dalam sehari, bahkan sampai membawa ponsel ke toilet. Tak jarang, pengidap menggunakan ponselnya saat berkendara sehingga rentan mengalami kecelakaan.

Dan, yang lebih berbahaya adalah ketika penderita kecanduan dengan sosial media yang baginya dianggap lebih menyenangkan dan hidup terasa semakin hidup. Karenanya, tak jarang penderita menghabiskan banyak waktu hanya untuk menatap layar gadget daripada menatap muka orang lain yang menjadi lawan bicaranya.

Bahkan, saat terbangun dari tidur pun hal pertama yang terpikirkan adalah apa yang terjadi pada sosial media. Tak jarang pula ada yang merasa perlu memamerkan apapun yang mereka lakukan atau dipikirkan pada khalayak di dunia maya. Singkat kata, smartphone dan sosial media telah menjadi bagian hidup seseorang.

Mirisnya, bila merujuk dari hasil penelitian Iowa State University, jumlah Nomophobia terus meningkat mengingat era masa kini hampir segalnya serba digital. Melalui serangkaian tes yang dilakukan tim peneliti, sebanyak 77 persen responden berusia 18-24 tahun tidak mampu menjauh dari ponselnya selama lebih dari beberapa menit saja. Hasil penelitian lain menunjukan, wanita 3,6 kali lebih mungkin mengalami Nomophobia dibandingkan laki-laki. 

Fenomena yang terjadi di negara-negara maju itu juga ditemukan di Indonesia sebagai negara yang penduduknya banyak menggunakan media sosial. Pengguna twitter misalnya, hasil riset Semiocast yang berbasis di Paris, Perancis menunjukkan, Jakarta merupakan kota yang paling berkicau di dunia.

Karena, jumlah pengguna twitter di Jakarta mencapai 10 juta orang, mengalahkan New York (Amerika Serikat), Tokyo (Jepang), London, Inggris dan Sao Paolo (Brazil). Sementara secara keseluruhan, CEO Twitter Dick Costolo mengungkap jumlah pengguna Twitter di Indonesia mencapai 50 juta pengguna dan kemungkinan akan terus bertambah. Demikian pula dengan Facebook.

Peter Vesterbacka, Chief Marketing Officer Rovio menyebut, Jakarta sebagai “Ibukota Facebook.” Dari data statistik yang dirilis situs socialbakers.com, pengguna Facebook di Jakarta mencapai 17,48 juta orang (Kompas, 1/2/2012). Sementara New York, AS, penggunanya hanya mencapai 4,3 juta orang.  Urutan terbesar kedua pengguna Facebook adalah Instambul (9,6 juta), Mexico City (9,3 juta), London (7,64 juta), Bangkok (7,4 juta), Buenos Aires (6,6 juta), Ankara (6,55 juta), Kuala Lumpur (6,5 juta), Bogota (6,4 juta), dan Madrid (5,95 juta).

Besarnya jumlah pengguna gadget dan media sosial tentu akan meningkatkan syndrom nomophobia, terutama di kalangan anak muda. Rasanya, setiap orang di negara ini sudah ketergantungan dengan gadgetnya. Apalagi dengan fasilitas dan keunggulan gadget saat ini, serasa semua kebutuhan dapat dipenuhi dalam satu genggaman. Dan, gadget pun seakan tak lagi sekadar alat komunikasi, namun sudah menjadi bagian dari gaya hidup.

Namun, apakah pengguna memahami efek nomophobia terhadap kesehatan mentalnya? “Ketergantungan pada smartphone bukan sesuatu yang dilarang. Tetapi, masalah muncul ketika kegelisahan terhadap smartphone mulai mengganggu kesehatan mental seseorang dan kesejahteraan psikologis,” tutur Caglar Yildirim, peneliti Iowa State University. Dia pun mengingatkan agar tidak membiasakan menggunakan perangkat elektronik untuk menenangkan anak karena bisa mengganggu perkembangan empati sosialnya dan kecakapannya dalam memecahkan masalah.

Betapa mengerikan bila Nomophobia akan membuat emosi dan pikiran seseorang tidak stabil serta tak lagi terhubung dengan dunia nyata. Lantas, apa yang harus dilakukan agar terhindar dari Nomophobia? Lebih disiplon dalam penggunaan ponsel adalah solusinya.

Seperti dilansir dari laman Techno, beberapa cara yang dapat dilakukan agar terhindar dari Nomophobia antara lain, mematikan pemberitahuan media sosial dan obrolan group chat. Itu penting karena pemberitahuan itu hampir setiap saat mengajak pemakai membuka smartphonenya.

Lalu, perlu batasan dalam menggunakan smartphone hanya untuk hal-hal penting. Seperti tidak menggunakan smartphone saat makan, saat di kamar mandi, menyetir kendaraan, saat belajar dan bekerja, mengobrol dengan teman, dan menghindari penggunaan smartphone sebelum tidur. 

Mengunci smartphone dengan password yang panjang dapat menjadi cara mengurangi kecanduan smarphone. Kebanyakan pengguna ponsel, hanya menggunakan password yang pendek untuk membuka kunci smartphone. Untuk terhindar dari Nomophobia, gunakan password yang panjang. Sehingga pemakai malas untuk membuka smartphone karena harus memasukkan password yang terlalu panjang.

Terakhir, cara yang paling ekstrem untuk terbebas dari Nomophobia adalah menghapus semua aplikasi media sosial atau menggunakan ponsel jadul yang hanya berfungsi untuk telepon dan SMS. Dengan begitu, aktivitas ponsel hanya sekedar untuk menelpon atau mengirim sms. 

Jangan biarkan gadget, sebagai fetish baru, apalagi “dewa” di era modern yang dipuja-puji. Gagdet maupun smartphone hanya sebuah alat komunikasi untuk meningkatkan produktivitas. Jangan sampai, keberadaan alat komunikasi itu mengubah manusia sebagai mahluk sosial menjadi mahluk asosial.

Ratu Selvi Agnesia

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1552
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1963
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 1099
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
Selanjutnya
Lingkungan
01 Nov 20, 23:18 WIB | Dilihat : 505
Anies Nyata Memimpin Transformasi Jakarta
01 Nov 20, 12:10 WIB | Dilihat : 174
Jakarta Jawara Dunia Tata Kelola Transportasi
04 Okt 20, 16:55 WIB | Dilihat : 189
Bangkitkan Marwah Banténois
20 Sep 20, 09:04 WIB | Dilihat : 755
Manusia Cerdas versus Manusia Pandir
Selanjutnya