Iran Senantiasa Siaga

Menghindari Perang Tanpa Mengabaikan Martabat Bangsa

| dilihat 368

Tak ada kabar yang menonjol, kecuali kebakaran di salah satu sudut kota Teheran (Rabu,4/2/26), dan Kamis (5/2/26) disitanya dua kapal tanker minyak tanker oleh tentara laut Iran di perairan dekat Kepulauan Faroe, Teluk Persia. 15 awak kapal tersebut, ditahan untuk pemeriksaan.

Tentara Laut Iran menyebut, dua kapal tanker tersebut ditangkap karena menyeludup bahan bakar. Dua kapal tersebut membawa lebih dari 1 juta liter bahan bakar. Belum ada informasi terverifikasi tentang bendera yang dikibarkan kapal tanker saat disita. Semua hal masih dalam proses pemeriksaan, sehingga dapat diperoleh data dan informasi yang lebih akurat.

Kapal-kapal tanker tersebut merupakan bagian dari jaringan penyeludupan terkoordinasi yang telah beroperasi selama beberapa bulan terakhir. Dan penyitaan ini tentu saja terjadi pada saat yang sangat krusial, di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.

Dalam kondisi siaga, dikabarkan, kehidupan sehari-hari berlangsung normal. Khasnya di berbagai kota besar yang di akhir dan awal tahun sempat terganggu oleh aksi besar rakyat yang memprotes situasi ekonomi yang tak kondusif, lantaran merosotnya nilai mata uang sah Iran.

Kini situasi kehidupan sudah kembali normal, sebagaimana laiknya kehidupan di berbagai belahan dunia. Kehidupan masyarakat di berbagai kota : Teheran, Mashad, Isfahan, Shiraz, Tabriz, Karaj, dan Mashad berlangsung normal. Dinamika kota-kota yang terkenal sebagai kota budaya, industri, simpul religi, tanpa kecuali Qom, Ahvaz, Kermanshah, dan Orumiyeh terasa denyutnya.

Masyarakat Iran yang mewariskan peradaban dan budaya Persia yang memadu-serasi artistika - estetika - etika, budaya yang dihidupkan oleh religi dengan nilai, norma, adat resam, tradisi, dan pola hidup yang cinta damai berpandu kosmologi yang menelangkai jagad besar (semesta) dan jagad kecil (mind and soul) di dalam diri insani.

Teheran sebagai ibu kota merupakan kota terbesar. Kota yang sohor ini selalu menjadi simpul beragam arus peradaban. Mempertemukan masa lalu, masa kini, dan mungkin masa depan. Termasuk mall terbesar di dunia yang sangat modern, tanpa meninggalkan ciri peradabannya yang khas dengan ekspresi adab yang mengemuka.  

Kota yang berpenduduk lebih dari 9 juta jiwa ini, selalu menjadi tumpuan beragam aksi unjuk rasa dan dinamika politik yang berdampak nasional, regional, dan global. Ya, sesuai dengan realitas fungsi dan posisinya sebagai etalase negara dan bangsa. Juga sebagai pusat politik, ekonomi, dan budaya.

Warisan Budaya dan Keindahan Sastra

Akan halnya Mashad yang terletak di Timur Laut, merupakan kota besar kedua. Kota ini menjadi situs ziarah utama. Ada makam Imam Reza di sini.

Sedangkan kota Isfahan (Esfahan), bekas ibu kota Iran, masih terbilang sebagai destinasi wisata dan etalase budaya penting di Iran. Di kota yang penuh cinta dan kasih sayang, ini siapa saja bisa datang untuk mengagumi atau mendalami seni bangunan (arsitektur).

Pun untuk mempelajari perkembangan seni arsitektur Persia-Islam yang sejarahnya memang khas. Termasuk menemukan sisa-sisa warisan budaya kaum penganut Zarazustra (Zoroaster) atau kaum Majus. Di kota ini juga siapa saja bisa menggali sastra yang liris dan melodius, menyatu dalam kehidupan para perempuan, dari kalangan ibu sampai gadis-gadis belia yang berangkat dewasa.

Kendati demikian, siapa saja yang hendak mendalami sastra secara lebih spesifik (puisi, prosa liris, syair-syair qasidah yang indah, pun mantra estetis, boleh berkunjung ke Shiraz sebagai kota pusat provinsi Fars.

Di Shiraz, orang berkunjung ke makam begawan sastra Khwaja Shamsu d-Din Muhammad Hafez-e Sirazi yang bertabur puisi dan do'a. Hafez adalah pujangga yang amat dihormati dan disegani tak hanya oleh warga Iran. Karya-karya Hafez bahkan disegani oleh Goethe.

Makam Hafez yang dikenal sebagai Hãfezieh merupakan kompleks ziarah yang indah. Di kompleks ini, siapa saja dapat merasakan dan menemukan hakikat puisi dalam kehidupan manusia.

Orang-orang datang dengan puisi, membacakannya di pinggir makam, lalu meninggalkan puisi mereka di makam yang tenang dan damai, itu. Makam pujangga Abad XIV, ini juga merupakan landmark budaya Bangunan makam Hafez dirancang elegan, simbol kecintaan Iran terhadap puisi dan sastra pada umumnyaq. 

Kota-kota lainnya, seperti Karaj merupakan kota industri sekaligus permukiman. Letaknya di zona aglomerat atau konurbasi Teheran. Pesona ekspresi budaya masyarakat urban, sub urban, dan masyarakat desa terasa di sini.

Media Barat Mengelirukan Keadaan di Iran

Adalah Tabriz, kota bersejarah utama di Iran yang terletak di Barat Laut, dikenal sebagai sentra industri dan perniagaan karpet Persia yang khas.: Kota bersejarah utama di barat laut, dikenal sebagai pusat perdagangan dan karpet Persia. Sedangkan Qom, merupakan kota ziarah dan pengetahuan religi Islam Syi'ah. Kota ini menjadi tujuan ziarah, karena di kota ini Ayatollah Ruhullah Khomaini tinggal dan dimakamkan.

Di kota ini, siapa saja yang berkunjung dapat mengenali bagaimana kesederhanaan hidup pemimpin, khasnya pemimpin agama dapat dipelajari.

Mereka yang hendak mengenali, mengetahui, dan mempelajari ilmu yang berhubungan dengan sumber daya alam, khasnya minyak dan gas bumi sila datang ke Ahvaz. Di wilayah Khuzestan kota ini, ladang minyak dan gas bumi dengan perkembangan industrialnya dapat dipelajari.

Bagi yang hendak mendalami dan menikmati seni musik tradisional Kurdi, antara lain yang dipopulerkan ke seluruh dunia oleh kelompok musik tradisi (dan etnomusikologi) masyarakat suku Kurdi (Rastak) dapat berkunjung ke Kermanshah. Kota ini memainkan peran sebagai kota penting di wilayah Barat. Populasi terbesar suku Kurdi  berada di kota ini.

Siapa saja juga dapat bertandang ke kota Urmia atau Orumiyeh, etalase beragam budaya di wilayah Barat Laut. Pesona keindahan Iran dan pesona persona masyarakat dengan multikulturalisma budaya, sila datang ke kota ini.

Gambaran tentang Iran yang secara sengaja dikelirukan citranya oleh media Barat dengan hanya bersumber pada diaspora Persia - Iran perlu berkunjung ke berbagai kota tersebut untuk beroleh (sekaligus merasakan) keindahan dan keramahan Iran.

Unjuk rasa besar-besaran -- sejak akhir tahun 2025 sampai akhir Januari 2026 -- yang gagal mendapat simpati rakyat, meskipun diprovokasi Donald Trump -- serta anak semangnya -- Benyamin Netanjahu - Perdana Menteri zionis Israel dan pemburu kuasa Reza Pahlevi, putera mendiang Syah Reza Pahlevi -- gagal total. Apalagi Reza Pahlevi yang hendak membalas dendam -- karena ayah dan keluarganya dilengserkan Revolusi Islam Iran pada dekade 1970-an -- gagal pula memantik dan memicu perluasan kerusuhan dan anarki melalui para  perusuh binaan Mossad.

Desakan Tujuh Negara Regional

Pemerintah Iran, mulai dari Pemimpin Tertinggi Revolusi Iran Ali Khamenei, Presiden Masoud Pezeshkian, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan seluruh elemen pemerintahan mendapat dukungan rakyat secara luas. Karenanya ancaman Trump akan menyerang Iran atas rengekan Netanjahu, dianggap angin lalu oleh rakyat.

Dengan pendekatan populis modes, Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Pezeshkian, rakyat solid mendukung sikap resmi negara, bahwa Iran bersedia merespon apapun opsi Trump - Amerika Serikat. Mau pakai jalur diplomasi atau perang, Iran siap melayani.

Trump tak menghitung, ancamannya justru memacu percepatan Iran untuk menyatakan siap tarung. Apalagi, rakyat Iran (Rabu, 4/2/26) telah setuju untuk memberikan wewenang kepada pemerintah menentukan pilihan diplomasi dengan Amerika Serikat pada suatu kesempatan. Khasnya, sejak tujuh negara regional -- yaitu : Qatar, Uni Emirat Arab, Oman, Turki, Mesir, Arab Saudi, dan Pakistan.

Kepala Negara dan pemerintahan 7 negara, itu mengungkapkan 'desakan' mereka, kala  melakukan percakapan telepon dengan Presiden Masoud Pezeshkian, untuk mengesampingkan rekam jejak Washington yang panjang dalam hal itikad buruk dan melanjutkan pembicaraan. Namun demikian, sentimen rakyat Iran kepada mereka telah luruh. Apalagi media Barat tak henti menyampaikan informasi yang mengikis dalam kepercayaan rakyat Iran yang cinta damai.

Rabu (4/2/26), kala Teheran memperingati hari libur nasional untuk memperingati kembalinya Imam Khomeini, pendiri Republik Islam, beberapa wartawan Teheran Times berdialog dengan penduduk di berbagai spot ibu kota. Hanya sedikit -- dari mereka yang diwawancarai -- yang menyatakan optimisme dengan diplomasi.

Tujuh negara regional merencanakan, pembicaraan Iran - AS akan berlangsung di Ibukota Oman, Muscat, dengan asumsi AS tidak menggagalkannya melalui langkah tak terduga dalam beberapa jam mendatang. Rakyat Iran -- karena pengalaman selama ini -- memandang, AS sulit dipercaya.

Teheran Times memuat naik berita seorang warga di kedai makan luar masjid selatan Teheran, menyatakan. “Terakhir kali ketika kita duduk di meja perundingan, kita dibom AS di tengah-tengah pembicaraan.” Namun, lelaki yang tak disebutkan namanya, itu menyatakan, “Menghadiri pembicaraan bukanlah suatu kesalahan. Ini menunjukkan kepada kawasan, Iran tak menolak diplomasi. Tetapi saya tidak percaya kesepakatan nyata dengan AS mungkin terjadi. Saya pikir Washington menginginkan perang.”

Akan Memicu Perang Regional ?

Di sebuah kafe yang ramai di utara Teheran, seorang gadis remaja mengatakan kepada wartawan Teheran Times, “Bukankah kita berada di ambang perang lagi? Saya tidak terlalu mempersoalkan." Lalu, kata gadis itu,  "Saya hanya senang, internet sudah kembali."

Iran memberlakukan pembatasan internet yang luas pada tanggal 8 Januari setelah kelompok-kelompok bersenjata turun ke jalan di kota-kota di seluruh negeri, menyerang kantor polisi, membakar properti publik dan swasta, dan membunuh warga sipil dan personel keamanan. Kerusuhan telah dimulai beberapa minggu sebelumnya sebagai protes damai atas kesulitan ekonomi yang disebabkan oleh sanksi AS selama bertahun-tahun.

Selama beberapa hari, demonstrasi tetap berlangsung tanpa kekerasan, karena pemerintah mengadakan pembicaraan dengan pemilik toko dan pedagang — kelompok inti pengunjuk rasa — dan mengemukakan langkah-langkah ekonomi darurat untuk mengatasi kekurangan mata uang asing.

Situasi berubah tajam setelah putra Shah Iran yang digulingkan, yang telah menjalin kontak erat dengan para pemimpin Israel a sejak tahun 2022, menyerukan kepada "pendukungnya" untuk turun ke jalan, menyusul pengakuan dari tokoh-tokoh yang dekat dengannya bahwa beberapa pendukung tersebut bersenjata.  Sekitar waktu yang sama, akun berbahasa Persia milik Mossad Israel memposting di X bahwa agen-agen Israel "berada di lapangan" di Iran.

Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, kemudian menggambarkan peristiwa tersebut sebagai sesuatu yang menyerupai "kudeta." Para analis mengatakan Washington dan Tel Aviv tampaknya berasumsi, bahwa kekerasan akan meningkat di luar kendali pemerintah, dan hal tersebut membuka jalan bagi serangan militer kedua terhadap Iran.

Menurut Teheran Times, meskipun jumlah korban tewas mencapai sekitar 3.100 orang — termasuk warga sipil, pasukan keamanan, dan penyerang bersenjata — pemadaman internet memungkinkan dinas keamanan Iran memutus komunikasi antara sel-sel militan mereka, terutama di Israel dan, dalam skala yang lebih kecil, di Eropa.

Pihak berwenang mengatakan sejumlah besar senjata seludupan dan peralatan pengawasan telah disita, dan para analis mencatat bahwa jaringan yang terkait dengan Mossad dan CIA yang dibongkar bulan lalu memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dibangun.

Trump kemudian menunda rencana serangannya setelah kerusuhan gagal dan setelah para pemimpin Iran, termasuk Ayatollah Khamenei, memperingatkan bahwa serangan (kepada Iran) terbatas pun akan memicu perang regional. Kehidupan damai dirindu, kefasihan membaca kehidupan dipelihara, jati diri sebagai bangsa dirawat, perang yang menghancurkan, dan dapat memorak-perandakan budaya harus dicegah. Tapi martabat bangsa harus dilindungi. Tak kan menyerang bila tak diserang... | Jeahan

Editor : delanova | Sumber : berbagai sumber + TehranTimes