Datang Tampak Muka Pergi Tampak Punggung

| dilihat 1017

SENIN, 20 OKTOBER 2014. Pagi baru beranjak. Hari itu saya rada santai. Saya ingin sekali menengok ibu yang selalu kritis dan sejak saya belia tak pernah berhenti mengingatkan saya tentang banyak hal.

Dalam perjalanan, sahabat saya, Asro Kamal Rokan – salah seorang wartawan senior – menelepon. Dia minta saya ke salah satu kedai makan di jalan Abdul Muis.

“Tolong segera ke sini,” serunya. Saya meminta pengemudi mengantar saya ke tempat yang disebutnya. Saya telepon ibu, dan memberitahu, urung mengunjunginya pagi itu.

Lewat radio di mobil saya mengikuti prosesi upacara pelantikan dan pengambilan sumpah Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia, menggantikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Saya memang tak hirau dengan pelantikan itu. Begitu bertemu, nampak Asro agak kaget melihat saya hanya mengenakan jean dan T Shirt.

Kami ngopi. Saya menikmati kesantaian pagi itu. Sejak pagi saya memang berencana ke Puri Cikeas siang hari, memperkirakan waktu Presiden SBY akan tiba di kediamannya.

Saya berfikir begitu, lantaran sebelumnya sudah terlebih dulu melihat susunan acara penerimaan Presiden Jokowi (2014-2019) dan pelepasan Presiden SBY (2004-2014).

Asro bertanya, “Gak bawa jas?” Saya menggeleng. Asro memberi tahu, siang itu kami diminta pihak hadir dalam acara di Istana. Saya telepon anak sulung saya untuk segera mengantarkan pakaian sipil lengkap saya (jas, pantalon, dan dasi).

Supaya cepat tiba, anak sulung saya menggunakan sepeda motor.

Di toilet kedai makan itulah saya berganti pakaian, sambil mematut diri sekenanya. Lantas bergerak ke dalam lingkungan Istana Negara dan Istana Merdeka.

Tiba di jalan masuk ke arah kantor Menteri Sekretaris Negara (Sekneg), seorang staf protokol langsung mengarahkan kami menuju ruang sidang Menteri Sekneg. Ketika itu, boleh jadi Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla baru bergerak di atas bendi khusus yang mengantar mereka ke Istana Merdeka.

Rupanya Presiden SBY dan sejumlah menterinya di Kabinet Indonesia Bersatu II hold sesaat di ruang sidang yang tak sempat diubah formatnya, itu.

Presiden SBY konsisten dengan prinsip protokol negara. Meski semula disiapkan  untuk hold di Wisma Negara, ia memilih untuk menunggu di luar zona kepresidenan.

SBY yang baru saja melepas jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia didampingi Bu Ani Yudhoyono, para mantan menteri, para staf khas dan beberapa staf yang selama ini ‘melekat,’ pada Presiden masuk ke dalam ruang sidang itu.

Aneka hidangan disediakan di meja panjang, berisi aneka menu.

Sebagai warga negara biasa, SBY dan Bu Ani sangat santai siang itu. Bersama Bu Ani dan disusul para mantan menteri, serta mantan staf kepresidenan, SBY melangkah ke meja tempat hidangan disiapkan.

Kami berkelakar, hari itu SBY dan Bu Ani boleh makan apa saja yang disukainya, tanpa harus diatur-atur. Termasuk menyantap Soto Betawi.

SBY, Bu Ani, para mantan menteri dan mantan stafnya nampak bersukacita. Selepas makan, senda gurau ‘berhamburan.’

“Di antara yang hadir di sini, boleh jadi Pak Lukman akan meneruskan pengabdiannya,”cetus SBY sambil senyum. Lukman Hakim Saifuddin nampak tersipu.

“Yang lainnya siapa lagi, Pak?”cetus seorang mantan menteri. SBY hanya menjawab dengan senyuman. Seorang mantan menteri menyebut nama Chatib Basri, tapi mantan menteri Keuangan itu hanya bisa tersipu digoda rekan-rekannya. Termasuk menanggapi seloroh MS Hidayat, mantan Menteri Perindustrian yang duduk berdampingan dengan mantan Menteri Bappenas Armida Alisjahbana.

Banyak seloroh mengemuka kala itu. Ruang sidang pun ramai dengan tawa.

Beberapa saat, protokol istana memberitahu, agar SBY, Bu Ani, para mantan menteri dan mantan staf bergerak ke Istana Merdeka.

Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) sudah berbaris rapi dengan pakaian upacara di lapangan tempat upacara HUT Kemerdekaan dan pergantian tugas jaga berlangsung.

Di ruang tunggu tamu Istana Merdeka, nampak SBY dan Bu Ani menghampiri dan menyalami beberapa mantan menteri dan isteri para mantan petinggi negeri sebelumnya.

Lagi SBY berseloroh, hingga suasana di ruang tunggu tamu itu, terdengar derai tawa.

Saya dan beberapa teman sempat foto bersama di hari terakhir SBY dan Bu Ani berada di Istana Merdeka, menunggu kedatangan Presiden Jokowi, Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan para isteri masing-masing.

Seorang staf protokol mengisyaratkan agar kami masuk ke ruang credential Istana Merdeka. Tak berapa lama, nampak SBY dan Bu Ani mempersilakan Presiden Jokowi, Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan isteri masing-masing masuk ke ruang yang sama.

Lalu berlangsunglah upacara singkat ‘penyambutan dan pelepasan’ itu, dilanjutkan dengan pemeriksaan barisan oleh SBY dan Presiden Jokowi.

Ketika hendak memulai memeriksa barisan, SBY sempat mencolek lengan Jokowi untuk menyambut penghormatan pasukan paspampres dengan cara militer.

Lantas, Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla melepas SBY dan Bu Ani yang berjalan kaki sampai ke pintu gerbang di jalan Merdeka Utara, dan kemudian pulang ke Puri Cikeas mengenakan kendaraan dengan pelat nomor biasa untuk warga negara biasa.

Pepatah “Datang Tampak Muka Pergi Tampak Punggung,” sangatlah indah.

SBY menyiapkan dengan teliti rangkaian acara penyambutan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Sehari sebelumnya, di hari terakhirnya sebagai Presiden, SBY mendampingi Jokowi sebagai Presiden Terpilih melakukan tour ke segala sudut kompleks Istana Merdeka, Istana Negara, dan Kantor Kepresidenan.

Selaku Presiden, SBY juga mempersolek ruangan-ruangan dan dekorasi di kedua istana, serta Kantor Kepresidenan, termasuk tempat yang disiapkan untuk memasang potret Presiden Jokowi.

“Kita harus mulai tradisi menyambut Presiden yang dipilih rakyat dengan segala penghormatan dan kehormatan,”tukas Presiden SBY kepada saya, beberapa waktu sebelumnya.

Tradisi saling memuliakan dan menghormati.

Sayang, semua hal yang terjadi 20 Oktober 2014, itu tak terjadi di Balaikota DKI Jakarta, pada Senin, 16 Oktober 2017, ketika Anies dan Sandi mengikuti pisah sambut selepas dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Djarot Saiful Hidayat, Gubernur DKI Jakarta sebelumnya tak ada di situ. Dia pergi berlibur.

Kala itu, berlaku pepatah baru: “Datang tampak muka, pergi tak nampak punggung.” Ironis. | Bang Sem

Editor : sem haesy
 
Sporta
12 Okt 17, 09:39 WIB | Dilihat : 940
Golf Memadupadan Olah Raga dengan Olah Rasa
12 Okt 17, 06:56 WIB | Dilihat : 474
Perkumpulan UMA Gelar Unity Golf Tournament 2017
16 Jan 17, 11:59 WIB | Dilihat : 762
Tim Elit Membidik Lallana
05 Jan 17, 10:12 WIB | Dilihat : 166
Laga Pembuktian Si Rubah
Selanjutnya
Humaniora
23 Nov 17, 20:26 WIB | Dilihat : 53
Mengintip Mappasitinaja di Munas KAHMI dan FORHATI
17 Nov 17, 08:48 WIB | Dilihat : 496
DOA ISTERI
17 Nov 17, 06:31 WIB | Dilihat : 243
Ambisius
10 Nov 17, 21:21 WIB | Dilihat : 1954
Balas Dendam Deddy Mizwar Berbuah 3 Gelar Akademik
Selanjutnya