Waspada Virus Zika

| dilihat 3357

AKARPADINEWS.COM | VIRUS Zika meneror negara-negara di kawasan Amerika Selatan dan Karibia. Virus itu berbahaya bagi perempuan hamil karena dapat menyebabkan bayinya lahir dalam kondisi tak normal. 

Januari 2016 lalu, Pemerintah Amerika Serikat melalui US Centers for Disease Control and prevention (CDC) mengeluarkan peringatan perjalanan (travel warning) kepada warganya yang sedang hamil, ke negara-negara yang terjangkit virus Zika. Virus itu disinyalir telah menyerang tiga wisatawan asal Inggris.

Lembaga Kesehatan Inggris mengonfirmasi, ketiga wisatawan terjangkiti virus Zika setelah pulang berlibur dari Kolombia, Guyana, dan Suriname. Atas temuan itu, 18 Januari lalu, Pemerintah Inggris juga mengeluarkan travel warning bagi warganya untuk tidak melakukan perjalanan ke negara-negara di Amerika Selatan.

Kepala Badan Kesehatan Dunia (WHO), Margaret Chan, dalam pertemuan di Jenewa, 25 Januari 2016, mengatakan, penyebaran Zika memprihatinkan. Dia menegaskan, hingga saat ini belum dipastikan penyebab infeksi virus Zika dengan kehamilan dan microcephaly.

Microcephaly merupakan kelahiran bayi yang tidak biasa, dengan ukuran kepala yang lebih kecil. Di Brasil, tercatat 3.893 kasus microcephaly sejak Oktober 2015 lalu, jauh lebih tinggi dari rata-rata microcephaly biasanya.

Pihak berwenang di Brasil, Kolombia, Ekuador, El Salvador, dan Jamaika sudah menyarankan agar kaum perempuan menunda kehamilan sampai diketahui lebih detail tentang virus tersebut. Sejauh ini, sudah 18 negara di Amerika Selatan dan Karibia yang melaporkan adanya infeksi virus Zika. Di antaranya Brasil, Barbados, Kolombia, Ekuador, El Salvador, French Guiana, Guatemala, Guyana, Haiti, Honduras, Martinique, Meksiko, Panama, Paraguay, Puerto Rico, Saint Martin, Suriname dan  Venezuela.

Menurut Ari Fachrial Syam, dosen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI RSCM), virus Zika merupakan Flavivirus kelompok Arbovirus, bagian dari virus RNA. Pertama kali  diisolasi tahun 1948 dari monyet di Hutan Zika Uganda.

“Jadi sepertinya Zika sendiri merupakan nama hutan tempat di mana virus ini diisolasi. Selanjutnya, beberapa negara Afrika, Asia khususnya Asia tenggara, Mikronesia, Amerika Latin, dan Karibia, melaporkan penemuan virus Zika ini,” terangnya kepada akarpadinews.com, Selasa (26/1).

Penularan virus ini sama seperti virus demam berdarah akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti, pembawa virus Dengue. Kasus demam berdarah Dengue terus meningkat di Indonesia, apalagi saat musim hujan. Seperti diketahui, selain menjadi vektor atau pembawa virus Dengue dan virus Zika, nyamuk ini juga membawa virus Chikungunya.

Di Indonesia, Ari menjelaskan, di tahun 2015, lembaga Eijkman Jakarta telah berhasil mengisolasi virus Zika di Indonesia. “Bahkan, pada tahun 1981, peneliti Australia telah melaporkan pasien penderita virus Zika setelah bepergian ke Indonesia,” kata Ari yang juga menjadi konsultan Gastroenterologi dan Hepatologi.

Pada tahun 2013, peneliti Australia juga melaporkan penemuan satu kasus infeksi virus Zika pada seseorang warga negara Australia setelah melakukan perjalanan selama sembilan hari ke Jakarta. Penemuan kasus tersebut dipublikasi di American Journal Tropical Medicine and Hygiene. “Dari laporan beberapa kasus terdahulu, virus Zika sudah ada di Indonesia."

Gejala virus Zika, menurut Ari, seperti infeksi virus pada umumnya. Awalnya, pasien akan merasakan demam mendadak, lemas, kemerahan pada kulit badan, punggung dan kaki, serta nyeri otot dan sendi. Berbeda dengan dengan infeksi virus Dengue, pada infeksi ini, mata pasien akan merah karena mengalami radang konjungtivitis. Pasien juga akan merasakan sakit kepala. 

Pada saat pemeriksaan laboratorium, ia menambahkan, hanya menunjukkan penurunan kadar sel darah putih seperti infeksi virus lainnya. Berbeda dengan infeksi demam berdarah, infeksi virus Zika, tidak menyebabkan penurunan kadar trombosit. Sementara masa inkubasinya, mirip dengan infeksi virus Dengue, yaitu beberapa hari sampai satu minggu.

Lalu bagaimana upaya penyembuhannya? Ari menjelaskan, dengan istirahat dan banyak minum, pasien dapat sembuh. Sementara obat yang diberikan hanya bertujuan untuk mengatasi gejala yang timbul. Misalnya, jika gatal, diberikan obat gatal, dan jika demam diberikan obat demam.

Meski dikabarkan virus itu mewabah di kawasan Amerika Latin, masyarakat Indonesia tetap harus waspada. Karena, virus ini juga pernah Indonesia lewat nyamuk Aedes Aegypti. Saat ini memang vaksin untuk virus ini belum ada. Namun, jangan panik. Pengobatan lebih pada suportif, istirahat cukup, banyak minum, jika demam, minum obat penurun panas dan tetap mengonsumsi makanan yang bergizi.

Pencegahan sama seperti pencegahan infeksi demam berdarah, yaitu dengan memberantas sarang nyamuk. Temukan jentik dan lakukan 3M (Mengubur, Menguras, dan Menutup) yang sudah menjadi slogan Kementerian Kesehatan tatkala membasmi demam berdarah. Nah, sekarang saatnya waspada karena musim hujan sudah tiba. Waspadalah, Waspadalah!

Ageng Wuri RA

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Sainstek
Polhukam
13 Jun 26, 06:26 WIB | Dilihat : 459
Langkah Berani Dato Onn Hafiz
08 Jun 26, 09:46 WIB | Dilihat : 348
Gelombang Biru di Negeri Johor
03 Jun 26, 10:21 WIB | Dilihat : 336
Cabaran Kewartawanan Era Baru
30 Mei 26, 04:47 WIB | Dilihat : 384
Kampanye Humor Kemerdekaan Pers
Selanjutnya