Perbincangan Senja

Sylviana Murni untuk Rakyat Jakarta

| dilihat 5721

Catatan Bang Sem

PROF. DR. Sylviana Murni, SH., Msi – Deputy Gubernur DKI Jakarta bidang Pariwisata dan Budaya, yang selama ini jadi buah bibir dalam perbincangan antar partai politik anggota Koalisi Kekeluargaan, itu akhirnya resmi dinyatakan sebagai calon gubernur dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

Jum’at (23/9/16) dinihari, di pelataran pendopo kediaman Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) – Puri Cikeas, Kabupaten Bogor.

Empat partai politik (Partai Demokrat, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Amanat Nasional) resmi mengusung Agus Harimurthi Yudhoyono dan Sylviana Murni sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur di Pilkada DKI Jakarta.

Semula Sylvi dan Syaifullah digadang-gadang bakal mendampingi Sandiaga Uno – yang disiapkan sebagai calon Gubernur dari Partai Gerindra. Lantaran Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendeklarasikan Sandiaga Uno berpasangan dengan Mardani Ali Sera, situasi berubah.

Belakangan, nama Saifullah disebut-sebut bakal berpasangan dengan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra yang konon digadang-gadang oleh PKB, tapi redup begitu saja.

Selepas PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) resmi mengumumkan pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) -  Djarot Saiful Hidajat dan mendaftarkan diri ke KPUD (Komisi Pemilihan Umum Daerah) Jakarta, Koalisi Kekeluargaan itu terkesan pecah.

Ketika Sylvi datang ke Puri Cikeas, Jum’at (23/4) pukul 02:22, nama mantan None Jakarta wilayah Jakarta Timur dan DKI Jakarta, mencuat lagi. Pertemuan para pimpinan keempat partai yang dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono (Presiden RI 2004-2014), itu memasangkannya dengan Agus Yudhoyono.

Ketua Umum partai (PPP, PAN, PKB): Roma Hurmuziy, Zulkifli Hasan, Muhaimin Iskandar dan Wakil Ketua Umum PD Sjarifudin Hasan resmi menyebut nama Agus – Sylvi dengan mengusung tagline: “Jakarta untuk Rakyat.” Dinihari itu, Sylviana Murni – disiapkan sebagai perempuan Betawi pertama, yang dipersembahkan untuk rakyat Jakarta.

Akarpadinews berbincang dengan Sylvi, Senin (5/9/16), beberapa saat, sebelum dia mengikuti fit and proper test Partai Gerindra di salah satu resto bilangan Rawamangun, setelah sepekan ‘memburu’-nya. 

Malam itu, Sylvi masih kelihatan sangat sibuk. Sebelum mengikuti fit and proper, dia masih menjalankan tugas mewakili Gubernur Basuki Tjahaja Purnama dalam suatu acara di bilangan Menteng.

 “Ngobrol yang ringan-ringan aja ya..,”ungkapnya, masih sambil senyum. Hari itu, Sylvi berpuasa. Dia memang rajin puasa Senin – Kamis, sejak lama.

Sambil ngobrol tentang kesibukannya yang kian padat, berbagai panggilan telepon masuk melalui bimbit (handphone)-nya. Perempuan yang biasa dipanggil Via, itu tersenyum.   

“Kayaknya lama deh gak baca tulisan abang. Udah lama nih gak ngeritik Via.. Bosen ya.. Ngeritik lagi dong, supaya Via semakin mampu memperbaiki diri, semakin dalam belajar ilmu tahu diri,” lanjutnya. Sylvi tersenyum, ketika Susi, kakak kandungnya nyeletuk, "Ngeritik jangan pedes-pedes.., Bang." Susi sangat dekat dengan Silvy. Ketika belia, keduanya sekamar di rumah orangtuanya di bilangan Pisangan Lama - Jatinegara.

Sylvi yang dulu aktivis mahasiswa, itu kini seorang Guru Besar bidang Ilmu Manajemen Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka – Jakarta, yang dulu dikenal sebagai IKIP Muhammadiyah.

Pendidikan Disiplin Orang Tua

PUTERI Betawi kelahiran Jakarta,  dari pasangan Kol (Purn) Drs. H. Moerdjani Nasrin dan Hj Ni’mah Moerdjani, itu meniti karir di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dari bawah. Dimulai sebagai staf di lingkungan BP7 (Badan Pembina Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) DKI Jakarta (1985-1987).

Karir perempuan -- yang di kala mahasiswa senang menonton pergelaran teater dan pembacaan puisi Rendra di Taman Ismail Marzuki -, ini terus merambat, sampai kemudian menjabat Deputy Gubernur DKI Jakarta bidang Pariwisata dan Kebudayaan.

Perbincangan dengannya beberapa kali tersela sambungan telepon lagi, termasuk dari pembantu rumahnya. Wajahnya serius dan bicaranya santun menerima panggilan telepon, itu. Sylvi mendapat informasi, salah seorang cucunya tak mau minum susu.

Seketika nada bicaranya berubah, bak guru taman kanak-kanak. Intonansi dan irama bicaranya lebih lembut, ketika dia bicara dengan cucunya. Topik pembicaraannya, soal minum susu. Dengan nada membujuk, dia memberikan sentuhan informasi edukatif tentang susu, sesuai perkembangan sang cucu. Sylvi juga bicara dengan cucunya yang lain, bergantian.

 “Ya.., begitulah jadi seorang nenek..,”ujarnya sambil tersenyum.

Sylvi mempraktikan prinsip ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Belakangan, bahkan sebagai pendidik bagi cucunya.

Pernikahannya dengan Haji Gde Sardjana, Dipl.Ing, SE., M.M – seorang entrepreneur, dikaruniai sepasang putera-puteri dalam keluarga yang harmonis.

Anak pertamanya, Shandy Aditya, BIB.MPBS., mengikuti jejaknya, menjadi dosen di Universitas Negeri Jakarta, dan menikah dengan Elina Rahmita Sofian, S.Hum, Grad. Dip – yang bekerja di UNESCO. Dari pasangan ini, Via dikaruniai 3 (tiga) orang cucu : Cherry Zealandia Aditya, Tsar Wiranegara Aditya, dan Victoria Annabelle Aditya.

Anak keduanya,  dr. Monica Andalusia yang sedang menempuh studi spesialis Psychiatri, menikah dengan dr. Agatha Pradana, M.Si., dan sudah memberinya satu cucu: Hastabrata Alaric Pradana.

Sylvi care dengan semua cucunya. Ia menerapkan pola pendidikan yang sesuai era, berbeda dengan pendidikan tegas a la militer yang dia terima ketika tumbuh dan berkembang dulu. Pendidikan masa belia di dalam keluarga itu yang membuatnya selalu disiplin.

Perempuan Betawi kelahiran Jakarta – 11 Oktober 1958, yang menyelesaikan studi S3-nya di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) selama 18 bulan (2005), itu juga terbuka dengan anak-anaknya yang kritis. Sejak mahasiswa, sikapnya memang egaliter dan demokratis.

Sylvi menyelesaikan program studi S1 di Fakultas Hukum Universitas Jayabaya pada tahun 1983. Lalu melanjutkan program pasca sarjana dan meraih gelar Magister Sains di Universitas Indonesia tahun 1999.

Selain sebagai perempuan penyandang jabatan fungsional guru besar (Profesor) dan jabatan struktural eselon 1, Sylvi tercatat sebagai perempuan pertama yang menyandang jabatan struktural strategis di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Melalui perjalanan karir berliku, Sylvi menyandang tanggungjawab dan berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik sebagai Kepala Dinas Kependudukan & Catatan Sipil (2001- 2004), Dinas Pendidikan Dasar Provinsi DKI Jakarta (2004-2008), Walikota Administrasi Jakarta Pusat (2008-2010), Asisten Pemerintahan Sekretariat Daerah Provinsi DKI Jakarta (2010 – 2013).  Dia juga mengemban tugas dan tanggungjawab sebagai Pelaksana tugas Kepala Satuan Polisi Pamongpraja dan Pelaksana tugas Walikota Jakarta Barat.

Sylvi merupakan perempuan pertama untuk semua jabatan itu. “Alhamdulillah.., saya ditakdirkan menjadi perempuan pertama sebagai Walikota di Ibukota Negara,”ujarnya sambil senyum.

Melayani Tanpa Kehilangan Integritas

MANTAN anggota DPRD DKI Jakarta di masa krisis (1997-1999), ini mensyukuri apa yang sudah diberikan Allah kepadanya. Termasuk ketika menghadapi tantangan dan ujian sebagai perempuan di dalam pusaran pemerintahan DKI Jakarta.  Ia berprinsip, dalam mengemban amanah apapun, pijakannya hanya dua: regulasi dan religi.

Sylvi dinilai berhasil melakukan perubahan dan penerapan sistem administrasi kependudukan, yang ditupang parameter kinerja staf berbasis pelayanan. Dia juga dinilai berhasil dalam pencapaian program wajib belajar dan perbaikan sistem manajemen sekolah. Termasuk perbaikan sistem perencanaan karir bagi guru. Juga, terkait dengan perlindungan terhadap hak anak atas akses pendidikan.

Sylvi sangat tegas menyelesaikan berbagai masalah, ketika dia menjabat Kepala Dinas Pendidikan. Saat mengemban amanah di bidang pendidikan, dia mulai menerapkan sistem digital, kelanjutan dari apa yang dilakukannya ketika menjabat Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.

“Bila sudah menyangkut hak anak dan guru dalam seluruh proses pendidikan, saya selalu pasang badan,”ujarnya, ketika disinggung soal itu.

Dalam hal menjamin kualitas pelayanan masyarakat, warga kota, kreativitasnya berkembang. Kala menjabat Walikota Jakarta Pusat, dia mengambil kebijakan pelayanan kelurahan malam hari untuk melayani warga yang tidak punya cukup waktu mengurus keperluannya di siang hari.

Berbeda dengan wilayah kota lainnya, Wilayah Kota Jakarta Pusat merupakan sentral Jakarta. Di wilayah ini kegiatan pemerintah nasional dan provinsi berlangsung. Di wilayah ini juga para pejabat tinggi negara, pengusaha, dan sejumlah figur prominen republik ini berdomisili.

Sylvi berpegang teguh pada sikap tawakkal, bekerja optimal dan proporsional dalam mengelola dan menyelesaikan masalah. “Tawakkal dan kemuliaan melayani, tanpa kehilangan integritas sebagai penyelenggara pemerintahan, itulah modal saya,” cetusnya.

Ketika Jokowi menugaskannya memimpin Satpol PP, Sylvi mengembangkan prinsip, “bekerja dengan otak dan nurani, bukan sekadar dengan otot. Tegas dalam melakukan penertiban, sekaligus manusiawi.” Kata kuncinya, menciptakan kondisi yang memungkinkan semua warga, berdisiplin.

Salah satu lulusan terbaik dalam pendidikan di Lemhanas, dan jenjang pendidikan kedinasan di dalam dan luar negeri, ini  tercenung sesaat, ketika ditanya soal kesediaannya dicalonkan sebagai Wagub dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

“Ketika menerima pinangan parpol, Via merenung dulu.. Istiharah lebih dulu, sampai akhirnya mau menerima dicalonkan.. Motivasi Via tidak berubah. Yaitu, memberi manfaat lebih luas kepada orang banyak. Bukan untuk memburu jabatan, apalagi kekuasaan. Percaya deh,.. sikap Via tidak berubah.”

Sylvi yang datang dari keluarga Nahdlatul Ulama (NU), itu sambil senyum mengatakan, “Acuannya tidak berubah. Khayrun naasi, ahsanuhum khuluqaan wa anfa’uhum lin naas(i).”

Dalil yang dikutip Sylvi, itu bermakna:  Sebaik-baiknya manusia adalah yang lebih baik perangainya dan yang lebih banyak bermanfaat bagi manusia lainnya.

Perempuan cerdas, tegas, dan cantik, sekaligus bijak ini karib dengan semua kalangan, baik kalangan islam maupun lintas agama. Pikiran, sikap, dan tindakannya dalam memperlakukan semua orang, sama: equit and equal, adil dan setara. Dia belajar independensi dan memadupadan nasionalisme religius, sejak masih aktif  di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Selain memegang teguh dan mempraktikan ajaran agama yang diyakininya sebagai penebar rahmat, Sylvi berpandangan, untuk mencapai karir terbaik juga harus ditempuh dengan memaduserasi prinsip Smart Work Hard with Heart.

Artinya kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas dan kerja tuntas. Sebagai abdi negara dan abdi bangsa, dia memegang teguh prinsip loyalitas dan dedikasi, sesuai dengan etika. Karenanya, sebelum mendaftar ke KPUD DKI Jakarta, dia akan pamit dulu dengan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama.

Aktivis kaum Betawi ini, juga konsisten menjalankan tugas mengajar sebagai Dosen Pascasarjana di Universitas Negeri Jakarta (sejak tahun 2010), sekaligus sebagai dosen tamu di UHAMKA, Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Universitas Borobudur, Universitas Attahiriyyah, Universitas As Syafi’iyah, dan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN). Sejak 2012, sampai kini, Sylvi masih mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Umum I MPP Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) 2012 – 2016.

MURI (Museum Rekor Indonesia) memberinya penghargaan sebagai Walikota Wanita Pertama di DKI Jakarta ( 2008) dan Penghargaan Walikota Pemrakarsa Pembersihan Halte-halte di Jakarta Pusat (2009).

Ka Kwarda Pramuka DKI Jakarta yang berhasil menggelar apel besar Pramuka 2016 yang diikuti 40.000 anggota, itu juga penerima penghargaan Ibu Kasur Award 2009 atas jasa Perhatian & Kepeduliannya kepada Anak-anak Indonesia dari Yayasan Pena Indonesia & Mensos RI2009. Dia juga penerima "Indonesia Digital Women Award 2013" kategori Indi Women Profesional dari PT Telkom Indonesia.  Dan banyak lagi penghargaan lainnya.

Perbincangan tersela lagi, ketika teleponnya berbunyi. Sylvi yang juga aktif di Lions Club, ini menerima telepon sangat santun dengan seseorang yang dia panggik “Lek” Mus.

“Ya Lek Mus.. saya sudah istiharah..,”ujar Sylvi. Terdengar via mengulang kalimat do’a yang dinasihati “Lek Mus,” itu:  “Ya Allah.. bila yang saya tempuh ini membawa manfaat bagi orang banyak, mudahkanlah.. Bila tidak membawa manfaat bagi orang banyak, hindarkanlah..”

“Kyai Mustofa Bisri dari Rembang. Saya memanggilnya Lek Mus, karena masih keluarga,” jelasnya menyebut Kyai yang biasa dipanggil Gus Mus, itu yang baru saja berbicara di telepon dengannya.

Adzan maghrib terdengar sayup lewat gadget.  “Alhamdulillah..,”cetus Sylvi, lalu berbuka dengan seteguk teh manis. | 

Editor : sem haesy | Sumber : foto-foto dokumentasi Sylviana Murni