Peringatan Hardiknas, Berguru pada KH Dewantara

| dilihat 1349

Catatan Bung Sem

NASRUDIN Anshory alias Gus Nas, saya kenal sejak beberapa waktu yang lalu. Gus Nas mendirikan dan memimpin pesantrend (pakai huruf ‘d’ di buntut). Seorang sahabat yang kreatif dan lama merenangi dunia seni dan budaya.

Dia menulis beberapa buku tentang tokoh-tokoh Islam Indonesia, juga tentang tasawuf lingkungan hidup, yang dalam disertasi Suwito di UIN Syarief Hidayatullah – Jakarta, disebut ekosufisme.

Rabu, 2 Mei 2018, Gus Nas tampil dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional di salah satu plasa Insan Berprestasi - gedung Kementerian Pendidikan & Kebudayaan di Jalan Jenderal Sudirman – Jakarta, itu.

Gus Nas yang juga melukis, membuat film pendek, melakukan pergelaran baca puisi dengan kolaborasi musikal World Heritages Day di Candi Prambanan dan Candi Borobudur bersama Maya Hasan dan Olivia Zalianty, itu nyaris tak berubah sejak dulu.

Perangainya kalem, humble, dan selalu bersikap saling hormat dalam berdiskusi atau berbincang tentang apa saja terkait kebudayaan. Dia sangat karib dengan dunia literasi, dan saya menyebutnya pelaku perjuangan literasi. Baik dalam konteks sastra dan budaya pada umumnya yang melatiuh kecakapan membaca. Maupun literasi aksi, karena melakoni apa yang dia pikirkan dan tulis dalam realitas kehidupan sehari-hari.

Kala berlakon sebagai seniman, Gus Nas, tampil utuh sebagai seniman. Persis seperti ketika dia tampil dealam pergelaran memperingati hari Pendidikan Nasional bertema: Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan.

Pada kesempatan itu, Gus Nas memimpin produksi fragmen sejarah bertajuk, “Berguru pada Ki Hajar Dewantara.” Dalam fragmen itu, selain Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dan para petinggi eselon Ikementerian, beberapa petinggi eselon II, dengan menghadirkan Maudy Kusnaedi, Olivia Zalianty, dan Gus Nas sendiri sebagai bintang tamu.

Olivia juga bermonolog tentang Ki Hadjar Dewantara. Gus Nas, membacakan puisinya bertajuk sama dengan fragmen. Begini, bunyi puisi itu:

Di haribaan bumi Ibu Pertiwi bernama Indonesia / Telah dua dasawarsa terucap Sumpah Pemuda / Sebagai penanda bagi kebangkitan jiwa //

Bangkitnya Indonesia // Satu Nusa / Satu Bangsa / Satu Bahasa / Indonesia // Seabad silam itu tanah air ini masih gelap gulita / Saat penjajah dengan pongahnya menjarah segalanya / Jati diri dan akal budi menjadi asing di bumi ini / Kaum pribumi selalu dikebiri //

Di dalam sesak nafas kaum bumi putra / Telah lahir suara lantang dan nyala api para pejuang / Agar janji kemerdekaan dengan cerdas dan gagah ditunaikan

Tersebutlah nama pendiri Tamansiswa / Lelaki pemberani bernama Ki Hadjar Dewantara / Pendidikan baginya adalah senjata / Untuk meruncingkan cita-cita bagi kedaulatan bangsa / Lebih runcing dari bambu runcing / Pendidikan adalah menajamkan akal budi dan jati diri demi tegaknya kedaulatan bangsa //

Tanggal 2 Mei itu Ki Hadjar menggenggam fajar di tangan kanannya / Menajamkan pena untuk perjuangannya //

Bersama Kyai Ahmad Dahlan yang begitu khusyuk menyalakan matahari / Yang menjadikan Al-Maun sebagai kredo jihadnya / Dan Hadratusyaikh Hasyim Asy'arie yang mengobarkan jihad di ufuk lazuardi / Menyulut takbir bagi kemenangan Ibu Pertiwi //

Ki Hadjar Dewantara rela melepaskan gelar kebangsawanan dalam dirinya / Sebab gelar priyayi yang tinggi dan tidak membumi hanya akan memenjarakan diri sendiri //

Darah Biru yang mengalir dalam tubuhnya / Trahing Kusumo, Rembesing Madu yang melekat dalam dirinya / Tak ada artinya jika kebodohan masih bersarang dan merajalela di tanah air tercinta ini //

Dengan atau tanpa ordonansi / Pendidikan harus menjadi sumbu dan nyala api bagi Ibu Pertiwi / Menjadi penerang dan jiwa merdeka di hati sanubari seluruh bangsa //

Pendidikan bagi Ki Hadjar adalah kunci / Pembuka cakrawala bagi kejumudan dan sikap apriori / Pendidikan adalah perlawanan bagi penindasan //

Dalam kredo Ki Hadjar / Pendidikan adalah menyalakan jiwa sejati sang manusia agar menjadi lapang dada / Membuka jendela bagi iman dan ilmu untuk menyaksikan keindahan semesta / Sebab iman dan ilmu yang tanpa disertai lapang dada / Akan menjelma rumput kering yang mudah menyala / Menjadi taburan abu dan hitam jelaga //

Apakah hari ini cita-cita untuk memuliakan manusia itu masih menyala? / Ki Hadjar Dewantara bertanya padamu //

Ing Ngarso Sung Tulodo / Saat di depan jadilah pemimpin / Jadilah teladan bagi hadirnya kemuliaan dan kemanusiaan //

Jujur dalam sikap / Jujur dalam laku / Jujur dalam bertutur //

Jadilah pemimpin yang berjiwa penggembala / Sebab Kodrat Alam telah mengajarkan segalanya //

Ing Madyo Mangun Karso / Saat di tengah selalu bersikap amanah / Menjaga keseimbangan antara langit dan bumi / Menanam kebajikan di ladang nurani //

Tut Wuri Handayani / Manakala di belakang selalu taat pada rambu dan jejak kebajikan / Mendorong tumbuhnya ruh untuk marwah kemanusiaan //

Ki Hadjar Dewantara menaburkan benih-benih ilmu di dalam Panca Dharma / Agar Kodrat Alam, Kemerdekaan, Kebudayaan, Kebangsaan dan Kemanusiaan menjadi acuan ilmu dan laku untuk menggapai peradaban //

Lewat puisi ini, Gus Nas menghadirkan kembali esensi pendidikan berdimensi budaya, sesuatu yang belakangan hari kurang terasakan. Terutama, karena peserta didik lebih berkutat dengan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual, dan agak abai dengan kecerdasan budaya.

Gus Nas menarik perhatian saya. Selain karena karya-karyanya, juga karena dia beberapa kali menjadi obyek studi dan menjadi bahan penelitian penulisan disertasi.

Dr Saleem H. Ali, wakil Dekan Pendidikan Tinggi di University of Vermont’s Rubenstein School of Environment (2008), ketika menulis artikel tentang Madrasah Hijau, memusatkan perhatiannya pada gerakan lingkungan hidup yang dipelopori Nasrudin Anshory di pedalaman Jawa Tengah (sebetulnya di Jogjakarta). Terutama, karena Nas dengan Giri Ilmu yang dipimpinnya dan berpusat di Selopamiro – Bantul, menggerakkan pesantren budaya.

Yusron Fauzy yang diminta Gus Nas mencari nama untuk apa yang dimaksud Saleem Ali sebagai madrasah hijau, itu dalam blognya menulis, lembaga penggiat lingkungan hidup berformat pesantren, itu diberi nama Ilmu Giri karena yang diajarkan adalah ilmu model budaya giri (gunung).

Yang diajarkan di situ adalah ilmu mencintai alam dan lingkungan berdasarkan tradisi nenek moyang. Santrinya adalah masyarakat di sekitar pesantren, berjumlah 840 kepala keluarga yang bukan hanya mengaji agama, tapi juga mengaji alam dengan cangkul. Mereka mudah diajak mencintai lingkungan karena bahasa yang dipakai menggunakan idiom lokal (Jawa).

Di puncak salah satu "pegunungan seribu", tepatnya di Dusun Nogosari, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, di lereng-lereng gunung itulah, tulis Yusron, masyarakat kembali menggarap tanah warisan.

“Ahli waris yang baik tidak boleh membiarkan tanah warisan para pahlawan menjadi lahan tidur yang tidak produktif,” tulis Yusron. Di sini ilmu gunung dan ilmu pesisir menjadi satu visi. Bahkan Barat dan Timur menjadi satu tujuan: sejahtera dalam kebersamaan.

Dengan spirit budaya lokal itu Gus Nas mengembangkan gagasan dan pemikirannya, termasuk melihat pendidikan dalam konteks budaya. Khasnya untuk menemukan kembali kesadaran dharma, kesadaran pengabdian sebagai ruh pendidikan yang berorientasi pada pembentukan manusia mulia.

Spirit itu tercermin dalam puisi Gus Nas bertajuk Pancadharma, seperti ini :

 

Di langit Tamansiswa masih kulihat lazuardi berwarna biru / Saat sejarah menaburkan marwah dari gunung hingga ke lembah //

Hari ini kembali kudengar sayup-sayup suara Ki Hadjar Dewantara / Mengucapkan salam dan bahagia bagi sesama //

Apakah suara-suara itu kini masih juga menggema di kedalaman hatimu? / Salam dan Bahagia adalah dua kata yang dirangkai menjadi doa / Salam dan Bahagia adalah nubuah cinta agar  hidup tak jadi nestapa //

Hari ini tanggal 2 Mei / Saat sejarah dan marwah bertemu menjadi aliran darah / Ketika kaum bumi putra dianggap sampah dan dilecehkan oleh para penjajah /  / Ki Hadjar Dewantara menuding kolonial dengan dada tengadah //

Di tengah remuk redam harga diri kaum pribumi / Ki Hadjar Dewantara mengajarkan makna cinta dan jati diri / Sebab akal budi dan hati nurani / Adalah inti dari pendidikan itu sendiri //

Ki Hadjar Dewantara berdiri gagah di zaman pongah / Menuliskan suara hati untuk kemuliaan Ibu Pertiwi / Sebab cita-cita untuk merdeka bukanlah fatamorgana / Dan Panca Dharma adalah sumpah sejati bagi masa depan Ibu Pertiwi //

Dharma Pertama adalah Kodrat Alam / Di dalam daulat alam, sang manusia adalah makhluk Tuhan yang menjaga keseimbangan semesta / Menjadi Khalifah Tuhan untuk memakmurkan bumi dan melestarikan lingkungan //

Dharma Kedua adalah Kemerdekaan / Sebab tanpa kemerdekaan sang manusia tak punya daya / Tanpa kemerdekaan sang manusia hanyalah kerbau yang dicokok hidungnya / Hidup terjajah dan tanpa arah / Jiwa dikebiri dan tanpa harga diri / Kemerdekaan adalah merayakan kemanusiaan / Kemerdekaan adalah memuliakan kehidupan //

Dharma Ketiga adalah Kebudayaan / Sebab dengan kebudayaan itulah Sang Manusia menemukan jiwa sejatinya / Bagi Ki Hadjar Dewantara, pendidikan dan kebudayaan adalah darah daging bagi kemajuan harkat dan martabat manusia / Kebudayaan adalah ruh yang menyatukan dan menghidupkan / Tanpa kebudayaan sebuah bangsa akan ditenggelamkan oleh bangsa asing / Tanpa kebudayaan sebuah bangsa akan menjadi alas kaki bagi penjajah //

Dharma Keempat adalah Kebangsaan / Dan hanya kebangsaan lah yang akan menjadi perekat kadaulatan / Tanpa semangat kebangsaan yang tumbuh di dalam jiwa setiap anak bangsa / Indonesia hanyalah fatamorgana / Kebangsaan itu menyatukan dan bukan menceraikan / Sebab berbeda suku dan agama adalah kebhinekaan / Sebab kebangsaan adakah ke-Tunggal Eka-an //

Dharma Kelima adalah Kerakyatan dan atau Kemanusiaan / Dengan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan / Maka hak setiap warga untuk mendapatkan keadilan sosial akan berjalan di bumi Indonesia / Kerakyatan dan Kemanusiaan akan menggerakkan nilai-nilai keadilan untuk kedaulatan //

Hari ini Panca Dharma sudah saatnya kembali bergema / Ketika bangsa Indonesia sudah mulai kehilangan segala dharma // 

Pergelaran yang bermuatan dimensi budaya dalam pendidikan itu, menarik disimak..  |

Editor : sem haesy
 
Seni & Hiburan
17 Okt 18, 17:37 WIB | Dilihat : 343
Melayu Menenun Cindai Keadaban Bangsa
10 Jul 18, 10:28 WIB | Dilihat : 621
Anggi.. Lepaskan
09 Jul 18, 16:34 WIB | Dilihat : 696
Ketika Polisi Berpuisi di Watulumbung
26 Jun 18, 11:26 WIB | Dilihat : 1282
Percakapan di Lereng Bukit
Selanjutnya
Budaya
18 Okt 18, 13:42 WIB | Dilihat : 116
Majelis Adat Bamus Betawi Mesti Kembangkan Kebudayaan
06 Okt 18, 10:24 WIB | Dilihat : 468
ISBI Bandung Garda Depan Transformasi Budaya
15 Sep 18, 01:15 WIB | Dilihat : 300
Di Tengah Pusaran Zaman Fitan
13 Sep 18, 13:36 WIB | Dilihat : 292
Isfahan - Shiraz dan Suara Hati Penyair Fatemeh Shams
Selanjutnya