Catatan Awal Tahun

2021 Tahun Pertobatan Semesta

| dilihat 245

Bang Sém

Tahun 2021 aalah tahun kesadaran dan pertobatan, setelah sepanjang tahun 2020 manusia berhadapan dengan petaka tak berkesudahan. Petaka yang ditimbulkan manusia sendiri.

Mulai dari perlakuan terhadap sesama manusia yang menebar derita ketidak-adilan dan berdampak langsung pada kemiskinan, memanjakan keserakahan dan nafsu duniawi, yang dikemas oleh philantropi politik dan berbagai aksi perampasan atas hak-hak dasar manusia, sampai perlakuan yang sangat buruk terhadap semesta, yang merusak ekologi dan ekosistem kehidupan manusia. Terutama eksploitasi sumberdaya alam yang sekaligus menghancurkan budaya secara dimensional.

Perlombaan menggunakan senjata nuklir, penguasaan darat, laut, dan udara, produksi aneka senjata, termasuk senjata biologi, kebakaran hutan dan berbagai perusakan ekologi yang menimbulkan anomali musim dan pemanasan global, serta berbagai hal lainnya.

Di seluruh dunia, untuk dan atas nama jargon-jargon yang ditebar para megalomaniak, khasnya globalisasi, menebar oligarki dan oligopoli, dan akhirnya menempatkan manusia pada karakter buruknya paling ekstrim : penghancur dan pencemar semesta.

Di lingkungan sekitar kita, bahkan dapat dilihat dengan mata telanjang, bagaimana singularitas, ketergantungan manusia kepada kecerdasan buatan dan timpangnya kecepatan keterampilan (skill) dengan lambannya pergerakan budaya dengan segala perangkat dan sistem nilai kehidupan yang menyertainya.

Dalam situasi demikian, demokrasi politik dan demokrasi ekonomi tidak dipergunakan secara bersungguh-sungguh sebagai cara melayari transhumanisma untuk merancang dan membangun peradaban baru. Melainkan untuk kepentingan sesat sesaat yang bermuara pada penghancuran tata nilai sebagai manusia mulia. Lantas menyeret manusia ke dalam jebakan fantasi yang semakin menjauhkan diri dari instrumen cinta kasih (rahman - rahim), seperti simpati, empati, apresiasi, dan respek secara proporsional kepada sesama insan.

Berbagai forum internasional yang terkait dengan politik dan ekonomi, menunjukkan, bagaimana berkembangnya budaya tanding secara ekstrim, yang berakibat pada terjadinya penguasaan kekuasaan politik secara global.

Ya'juj dan Ma'juj di era post modernisme dengan post truth era, yang memicu keadaan anomali, yang menyebabkan manusia berlomba mendapatkan kesenangan individual berujung kegamangan, ketidak-pastian, keribetan, dan keterbelahan kondisi dan situasi global. Suatu keadaan yang sejak 1987, disebut dalam teori Warren Bennis dan Burt Nanus, sebagai VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity).

US Army College menggunakan pandangan Bennis dan Nanus, itu untuk menggambarkan realitas (dengan fakta-fakta brutal) multilateralitas global, awal babak perang baru, menyusul reformasi glasnost - dengan demokratisasi perestroika -- yang ditawarkan Mikhail Gorbachev.

Reformasi a la Gorbachev itu berujung deformasi yang ditandai dengan bubarnya Uni Soviet, karena menawarkan pergerakan budaya baru - demokrasi politik liberal dengan demokrasi ekonomi kapitalistik yang berbilang tahun sebelumnya tak pernah dikenal di Uni Sovyet. Budaya baru yang menghadapkan secara frontal sosialisme komunistik dengan kapitalisme liberal.

Kegagalan Soviet dimanfaatkan China -- dengan mesin politik Partai Komunis China (PKC) -- yang mengembangkan komunisme baru, demokrasi terpusat dengan kapitalisme struktural, tentu dengan tetap memelihara paduan pemikiran Karl Marx, Machiavelly, dan Mao Ze Dong.

Konsepsi budaya sebagai 'haluan peradaban' dengan berbagai nilai-nilai kebajikan berbasis tradisi dan religi, mengalami kontaminasi secara penetratif hipodermis dengan kuatnya daya dorong teknologi informasi.

Kekuatan super power yang bergeser petanya, dari konflik tak berkesudahan antara Uni Sovyet versus Amerika Serikat, menjadi China versus Amerika Serikat. Menariknya adalah dalam situasi semacam ini, tak ada leader - negara - bangsa yang mampu memainkan peran menjadi pelindung umat manusia dari konflik  negara-negara super power, itu. Baik ketika mereka berjaya apalagi ketika mereka juga terhuyung.

Institusi-institusi dunia yang lahir dari berbagai kesepakatan antara negara - bangsa, pun tak mampu memainkan peran strategis sebagai pelindung, karena merupakan bagian integral dari polarisasi kekuatan super power. Satu-satunya bangsa yang cerdik bersiasat memainkan pengaruhnya -- karena penguasaan ekonomi, khususnya moneter -- hanya Yahudi. Terutama, karena pengalaman panjang di era modern - lewat kolonisasi bangsa-bangsa penjajah (terutama Inggris) merebut kembali 'tanah yang dijanjikan' dengan berdirinya negara Israel. Meski dalam percaturan kekuasaan dunia, pada mulanya hanya memainkan peran sebagai 'selilit.'

Kekuatan Islam yang selalu dipandang sebagai ancaman - karena penyebarannya sebagai way of life dipandang sangat cepat, mesti dikeroyok dengan berbagai cara. Terutama dengan menebar konflik internal di kalangan dunia Islam yang tak berkesudahan.

Peradaban Islam dirontokkan dengan sekularisme, ditandai dengan rontoknya kekuasaan Ottoman Turkish (Turki Ostmani). Di Nusantara, dirontokkan dengan sekularisma ala orientalisme Snouck Hourgronje. Pondasi keilmuan Islam terus digoyang dengan berbagai cara, dengan meletupkan konflik sektarian Sunni - Shiah.  

Revolusi Islam di Iran yang digerakkan oleh Ayatollah Khomeini yang shiah, dihadang dengan kristalisasi esktrem dengan memanfaatkan Wahabiyah. Kontaminasi politik lebih mendominasi dan meluruhkan spirit besar Kebangkitan Islam Abad  XV Hijriah, antara lain dengan menebar bencana Arab Spring yang menimbulkan konflik berkepanjangan, bahkan dipicu hanya dengan friksi-friksi kecil persoalan ubudiyah. 'Dibumbui' pula dengan berbagai pengelompokkan invisible hand, seperti ISIS (the Islamic State of Irak and Syria), Hizbut Tahrir (International), Al Qaeda, dan lain-lain yang secara konotatif (bahkan denotatif) dibarengi dengan stigma terorisme dan radikalisme (dengan pemahaman dasar ihwal sesensi 'radikal' yang diselewengkan).

Arus besar sekularisme membentuk pusaran gelombang besar arus perubahan dunia, yang diseret ke dalam berbagai jargon baru yang seolah-olah merupakan dimensi peradaban baru: industri 4.0 era, society 5.0 era dan lainnya. Intinya adalah penguasan politik melalui oligarki dan penguasaan ekonomi secara oligopoli.

Dalam situasi demikian, Iran dan Korea Utara dijadikan sebagai musuh bersama, karena berkembang menjadi dua kutub yang amat berjarak secara budaya, tetapi mempunyai daya perlawanan yang kuat atas super power baru yang dipimpin China dan Amerika Serikat, yang sedang siap menjadikan Indo - Pasifik sebagai medan baru pertarungan.

Dalam keseluruhan konteks inilah, saya selalu menyebut virus Covid-19 sebagai nanomonster yang hanya mungkin dilawan (dan ini menjadi ajang perang dagang baru, vaksin) oleh mereka yang menguasai nanotechnology.

Saat bersamaan juga berkembang infodemi global, pandemi 'simpang siur informasi' yang sangat ganas menjungkir-balikkan kebenaran, sekaligus melemahkan virus memetika (akal budi - keadaban). Antara lain dengan mengembangkan cyber warrior dengan ribuan influencer dan buzzer, yang berfungsi memelihara gaya hidup suka-suka dan liberal, kerumitan dan konflik sosial, ketidak-normalan, dan ketidak-pastian. Suatu keadaan yang melemahkan bangsa-bangsa (terutama konsumen produk teknologi informasi multi - media, multi channel, dan multi platform) dalam hal mengendalikan singularitas dan transhumanisme untuk menjaga keseimbangan kecerdasan manusia, kecerdasan buatan (artificial intelligent) dengan kearifan dan kecerdasan budaya.

Di berbagai belahan dunia, khasnya Eropa, muncul arus balik  kesadaran religius (khasnya Islam dan Katholik) yang serta-merta menghidupkan kembali daya religi dalam kebudayaan, religi sebagai bagian integral dari gaya hidup yang menahan arus besar gaya hidup agnostik dan atheisme.

Berbagai international interfaith dialogue, khasnya di Amerika Serikat menawarkan solusi menarik tentang reaktualisasi cinta kasih (rahman - rahiim) dan manifestasi keimanan kepada Tuhan -- dalam bentuk gaya hidup sehat, kecerdasan dan kematangan religius, gerakan kesalehan individual - sosial, penciptaan kehidupan damai dimulai dengan titik temu religi pada keimanan (tauhid) -- sebagai 'vaksin utama' meningkatkan imunitas global melawan pandemi, melalui proses pembentukan sistem universe prosperity - kesejahteraan semesta.

Dalam konteks itu, tahun 2021 mesti diposisikan sebagai tahun komitmen besar pertobatan semesta. Wujudnya adalah penguatan keimanan kepada Tuhan Maha Pencipta dan Tuhan Maha Kuasa, dengan perjuangan nyata menegakkan keadilan dan kemanusiaan sebagai nafas peradaban baru. Tahun untuk menghidupkan lagi kesadaran kemanusiaan, melaksanakannya secara antusias (melalui tanggungjawab sosial asasi ) simpati, empati, apresiasi, dan respek pada sesama, sebagai wujud kecintaan kepada Tuhan.

Pertobatan semesta boleh diyakini akan 'mengusik' Tuhan menghentikan petaka sekaligus tantangan yang telah mempertontonkan keberadaan manusia sebagai makhluk yang lemah. Hanya manusia pandir yang masih sibuk dengan friksi-friksi komunal dan sektarian. | [Jakarta, 04.01.21]

Editor : Sem Haesy | Sumber : foto-foto berbagai sumber
 
Lingkungan
26 Des 20, 19:59 WIB | Dilihat : 166
Tsunami Dahsyat Menggempur Aceh 1394 dan 2004
05 Des 20, 16:53 WIB | Dilihat : 209
Menghirup Udara Bersih Adalah Hak Asasi Manusia
01 Nov 20, 23:18 WIB | Dilihat : 599
Anies Nyata Memimpin Transformasi Jakarta
Selanjutnya
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1622
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 2026
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 1162
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
Selanjutnya