Terbakarnya Kilang Tua Pertamina di Cilacap

| dilihat 583

TANKI 041 T 313 RU IV Cilacap yang terbakar pada tengah hari Rabu, 05 Oktober 2016 disebabkan oleh kondisinya yang sudah tua. Tahun 2011 sebenarnya sudah terjadi kebakaran dan eksplosi.

Tanki tersebut diperuntukkan untuk penyimpanan asphalt (bottom product).

Informasi yang dihimpun akarpadinews menunjukkan, kebakaran terjadi ketika sedang berlangsung proses pengosongan tangki tersebut untuk kepentingan maintenance, perbaikan bottom plate. Ketika itu, posisi level tangki mencapai 35 cm.

Saat itulah terjadi self ignition  atau yang populer disebut flash, dan menyebabkan terjadi kebakaran pada tangki.

Tangki itu sendiri berketinggian 16,5 meter, jelas Achmad Hardadi, Direktur Pengolahan Pertamina. Hardadi menduga, tangki terbakar karena panas berlebih.

Cairan aspal menjadi terlalu panas, karena suplai panas yang tetap dan aspal sebagai penyerap panas berkurang jumlahnya. Karena bersifat hidrokarbon, kata Hardadi, aspal sampai pada temperatur autoflash. Temperatur inilah yang menyebabkan terjadinya percikan api sehingga kebakaran.

Wianda Pusponegoro – VP komunikasi korporat Pertamina – kepada media menyebut tangki mengalami overheat, peningkatan suhu panas.

Kebakaran tersebut tidak mengganggu operasional kilang RU IV, proses produksi tetap berjalan normal. Pertamina cepat mengatasi penanggulangan kebakaran dan ledakan yang terjadi.

Peristiwa itu sempat menjadi perhatian masyarakat sekitar, karena asap hitam pekat membubung tinggi ke udara, dan terdengar suara ledakan. Tidak ada korban. “Operasi kilang, aman,”ungkap Wianda.

Masyarakat sekitar sempat mendengar ada suara ledakan dari lokasi disusul asap hitam yang membumbung ke langit, sekitar pukul 12.40 WIB. Namun menurut Wianda, tidak ada masalah berarti karena kejadian itu karena tangki aspal yang overheat.

Akan halnya Ristanto Heru Widodo, Kepala Humas Pertamina RU IV Cilacap mengatakan, kebakaran terjadi pada tangki berukuran kecil di area kilang. Dikatakannya, Pertamina segera menurunkan tim untuk melakukan investigasi atas peristiwa itu.

Tim akan meneliti penyebab utama terjadinya kebakaran dan ledakan itu dan sekaligus menghitung kerugian, seperti dikemukakan Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto kepada wartawan di kompleks DPR RI.

Api bermula dari aspal berbentuk padat yang dikeluarkan dengan memanaskan bagian bawah tangki menggunakan pemanas elektrik.

Direktur Utama PT Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan pihaknya masih meneliti penyebab dan menghitung kerugian akibat kebakaran penyimpanan aspal di area Refinery Unit IV Cilacap. "Kebakaran terjadi saat tangki aspal sedang dikosongkan," kata Dwi di kompleks DPR, Jakarta, Rabu, 5 Oktober 2016.

Kebakaran di kilang Cilacap bukan sekali ini terjadi. Menurut Hardadi, Pertamina telah memastikan seluruh operasi dan keselamatan di kilang Cilacap berstandar internasional. "Kami tidak menoleransi kejadian substandar," ucapnya.

Informasi resmi PT Pertamina (Persero) Unit Pengolahan IV Cilacap merupakan salah satu dari 7 jajaran unit pengolahan di tanah air, dengan kapasitas produksi terbesar yakni 348.000 barrel/hari dan terlengkap fasilitasnya.

Kilang di Cilacap ini bernilai strategis karena memasok 34 persen kebutuhan BBM nasional atau 60 persen kebutuhan BBM di Pulau Jawa. Kilang ini juga merupakan satu-satunya kilang di tanah air yang memproduksi aspal dan base oil untuk kebutuhan pembangunan infrastruktur.

Kilang di PT Pertamina (Persero) Unit Pengolahan IV Cilacap terdiri atas Kilang Minyak I, Kilang Minyak II, dan Kilang Paraxylene.

Kilang Minyak I dibangun tahun 1974 dengan kapasitas semula 100.000 barrel/hari, dan beroperasi sejak diresmikan Presiden RI tanggal 24 Agustus 1976.

Sejalan dengan peningkatan kebutuhan konsumen, tahun 1998/1999 ditingkatkan kapasitasnya melalui Debottlenecking project sehingga menjadi 118.000 barrel/hari.

Kilang ini dirancang untuk memproses bahan baku minyak mentah dari Timur Tengah, untuk menghasilkan BBM sekaligus untuk mendapatkan produk NBM yaitu bahan dasar minyak pelumas (lube oil base) dan aspal.

Kilang ini, mengolah minyak dari Timur Tengah yang bertujuan menghasilkan bahan dasar pelumas dan aspal, mengingat karakter minyak dari dalam negeri tidak cukup ekonomis untuk produksi dimaksud.

Kilang Minyak II dibangun tahun 1981, untuk pemenuhan kebutuhan BBM dalam negeri yang terus meningkat. Mulai beroperasi 4 Agustus 1983 setelah diresmikan Presiden RI, memiliki kapasitas awal 200.000 barrel/hari.

Mengingat laju peningkatan kebutuhan BBM di tanah air, sejalan dengan proyek peningkatan kapasitas (debottlenecking) pada tahun 1998/1999, kapasitasnya juga ditingkatkan menjadi 230.000 barrel/hari. Kilang ini mengolah minyak “cockta” yaitu minyak campuran, dari dalam negeri juga dari luar negeri.

Kilang Paraxylene Cilacap dibangun tahun 1988 dan beropersi setelah diresmikan oleh Presiden RI tanggal 20 Desember 1990. Kilang ini menghasilkan produk NBM dan Petrokimia. Kilang ini dibangun atas pertimbangan: Tersedianya bahan baku Naptha yang cukup dari Kilang Minyak II Cilacap. Adanya sarana pendukung berupa dermaga tangki dan utilitas. Termasuk, terbukanya peluang pasar di dalam dan di luar negeri.

Kilang ini menghasilkan jenis produk Penetrasi 60/70 (60 Pen) dan Penetrasi 80/100 (80 Pen).

Aspal PT Pertamina (PERSERO) digunakan diberbagai proyek pembuatan jalan dan landasan pesawat di Indonesia, yang berfungsi sebagai perekat, bahan pengisian dan bahan kedap air.

Juga dapat digunakan sebagai pelindung/coating anti karat, isolasi listrik, kedap suara atau penyekat suara dan getaran bila dipakai untuk lantai.

Kilang ini juga memproduksi Heavy Aromate sebagai produk sampingan PT Pertamina (Persero) Unit Pengolahan IV Cilacap yang diproduksi oleh unit Naptha Hydro Treater, sebagai bahan solvent.

Produk lain yang dihasilkan kilang ini adalah Lube Base Oil, bahan baku pelumas atau disebut pelumas dasar, yang diproduksi oleh MEK Dewaxing Unit (MDU) I, II, dan III di Kilang PT Pertamina (Persero) Unit Pengolahan IV Cilacap. Diproduksi dalam bentuk cair.

Jenis-jenis produk yang dihasilkan kilang ini adalah : HVI – 60, HVI – 95, HVI - 160S, HVI - 160B, HVI – 650 sebagai bahan baku minyak pelumas berbagai jenis permesinan baik berat maupun ringan. Selain itu lube base oil juga digunakan untuk bahan kosmetika.

Kilang ini juga memproduksi Low Sulphur Waxy Residue (LSWR) sebagai bottom produk yang diproduksi oleh Crude Distilasi Unit Kilang PT Pertamina (Persero) Unit Pengolahan IV Cilacap.

LSWR merupakan bahan baku untuk diproses lebih lanjut menjadi berbagai produk BBM dan NBM, disamping dapat dimanfaatkan sebagai pemanas di negara-negara bersuhu dingin.

Jenis produk lainnya adalah Minarex, yang dihasilkan oleh Kilang minyak PT Pertamina (Persero) Unit Pengolahan IV Cilacap untuk memenuhi kebutuhan proccessing oil pada industri barang karet, ban dan tinta cetak.

Minarex sebagai proccessing aid sangat penting perannya dalam pembuatan komponen karet pada industri ban dan industri barang karet, untuk memperbaiki proses penulakan dan pemekaran karet, dan menurunkan kekentalan komponen karet.

Jenis-jenis produksinya meliputi Minarex A, Minarex B, dan Minarex H, yang digunakan sebagai “pelarut” pada industri cetak, sehingga kualitas tinta menjadi lebih baik.

Kilang PT Pertamina (Persero) Unit Pengolahan Cilacap IV, juga memproduksi Paraffinic Oil. Kilang ini merupakan proccessing oil dari jenis Paraffinic dengan komposisi Paraffinic Hydrocarbon, Nepthenic, dan sedikit Aromatic Hydrocarbon.

Produk yang dihasilkannya adalah Paraffinic Oil 60 dan Paraffinic Oil 95, yang pada umumnya digunakan sebagai proccessing oil pada produk karet yang berwarna terang yaitu sebagai bahan kimia pembantu pada industri penghasil barang karet seperti ban kendaraan bermotor, tali kipas, suku cadang kendaraan.

Proccessing oil dan extender untuk polymer karet alam dan karet sintesis, dan Base oil untuk tinta cetak.

Kilang ini juga memproduksi berbagai produk lain, seperti Slack Wax dan Toluene berbentuk cair. | JM Fadhillah

Editor : sem haesy | Sumber : Pertamina dan sumber lain
 
Polhukam
13 Okt 17, 10:11 WIB | Dilihat : 711
Parpol Wajib Mendidik Rakyat
13 Okt 17, 15:19 WIB | Dilihat : 1180
Generasi Milenial di Pusaran Politik
12 Okt 17, 21:48 WIB | Dilihat : 732
Analisis Media dan Pengelolaan Isu Kebijakan
12 Okt 17, 07:48 WIB | Dilihat : 202
Jangan Biarkan Iblis Merajalela
Selanjutnya
Budaya
06 Okt 17, 17:21 WIB | Dilihat : 1250
Choreopainting Revki dan Daya Magis Biola
13 Jan 17, 23:30 WIB | Dilihat : 151
Diplomasi Lewat Seni Budaya
01 Jan 17, 18:24 WIB | Dilihat : 276
Jembatan Bentang Budaya
20 Des 16, 23:56 WIB | Dilihat : 662
Merajut Budaya Indonesia-New Zealand di Auckland
Selanjutnya