Pertamina Siap Ambil Alih

Produksi Blok Mahakam Musti Dijaga

| dilihat 1261

KESIAPAN Pertamina mengelola Blok Mahakam tak perlu diragukan, sejak beberapa tahun terakhir, Pertamina sudah menyatakan siap. Apa yang dikemukakan Direktur Utama Dwi Soetjipto tentang kemampuan Pertamina, memberi aksentuasi pernyataan Karen Agustiawan kepada saya tiga tahun lalu.

Dari sisi sumberdaya manusia dan teknologi, Pertamina memang mampu mengambil alih Blok Mahakam. Pertamina punya pengalaman untuk hal semacam itu.

Blok Mahakam yang dikontrakkan kepada PT Total EP dan Inpex Corporation akan berakhir Desember 2017. Pemerintah sudah memutuskan, menyerahkan pengelolaan blok itu kepada Pertamina dengan menggandeng PT Total EP dan mitra kongsinya, Inpex Corporation. Total dan Inpex diberikan peluang berinvestasi sebesar 30 persen saham.

Ketika sekarang harga minyak mentah dunia sedang turun dan akan berakhirnya kontrak, juga sangat wajar bila PT Total EP dan Inpex Corporation menurunkan investasinya. Namun, lepas dari apapun, kita sepandangan dengan Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto, produksi Blok Mahakam mesti dijaga agar tidak mengalami penurunan tajam pada 2017.

Untuk menjaga kondisi demikian, diperlukan investasi sampai 1,5 miliar dolar Amerika Serikat. Artinya, bila Pertamina sungguh akan beroleh kesempatan menangani Blok Mahakam per 1 Januari 2018, tentu investasi itu akan ditanggung Pertamina dan rekan kongsinya. Dan investasi, pastinya akan ‘ditanam’ pada 2017. Nilai investasi sebesar itu, terutama karena di Blok Mahakam terdapat 19 sumur yang relatif sudah tua.

Kini, Pertamina sedang menyusun rencana kerja dan budget untuk mengambil alih pengelolaan Blok Mahakam itu. Berdasarkan Work Plan and Budget (WP&B) itu, juga baru ketahuan seberapa besar nilai investasi yang sungguh diperlukan. Dan, berdasarkan WPB itu pula kelak para perusahaan sebenarnya yang bakal menjadi mitra Pertamina baru akan ketahuan, termasuk dari Pemerintah provinsi Kalimantan Timur sendiri.

Terkait pemerintah provinsi Kalimantan Timur, pertimbangannya bisa jadi tak hanya faktor bisnis semata, karena ada faktor historis. Terutama bila hendak dihubungkan dengan Sultan Aji Muhammad Sulaeman, yang memberikan konsensi kepada Hindia Belanda untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi sumur-sumur minyak di Kalimantan Timur.  J.A Hooze, geolog Hindia Belanda, menjuluki kawasan itu sebagai “Sungai Minyak Bumi.”

Ketika isu tentang Blok Mahakam mengemuka dalam perbincangan publi, beberapa kalangan menyebut, sudah saatnya Pertamina mengambil alih seluruh pengelolaan Blok Mahakam. Latarnya, nasionalisme. Juga bisnis. Karenanya, wajar Bila Pertamina, sudah mengambil ancang-ancang, bila tak ada mitra kongsi yang masuk, tentu investasi itu akan ditanggung sendiri oleh Pertamina.

Tinggal lagi, pemerintah perlu mengambil keputusan cepat, agar Pertamina bisa berinvestasi lebih awal, kendati belum ada Menteri Energi Sumberdaya Mineral (ESDM) yang definitif.

Kerjasama Pertamina dengan PT Total dan Inpex Corporation memang tak bisa diabaikan, lantaran kedua perusahaan dari Inggris dan Jepang ini, sudah berpengalaman mengelola blok itu.

Kendati demikian, Pertamina tak mau kehilangan momentum untuk menunggu keputusan Total dan Inpex. Perusahaan energi nasional ini, sudah membentuk tim transisi, yang diberi tajuk : Tim Pengambilalihan Pengelolaan Mahakam (TPPM).

Salah satu tugas TPPM adalah melengkapi data operasional Pertamina ketika mengelola Blok Mahakam, termasuk menyiapkan WP&B 2016 dan 2017. Tim ini yang akan memberikan bahan pertimbangan bagi Dewan Direksi Pertamina untuk mengelola sisa cadangan minyak bumi sebesar 131 juta barel dan cadangan gas bumi sebanyak 3,8 TCF pada 2017, walaupun data lain menyebut sisa cadangan gas bumi kurang dari 2 TCF. 

Selaras dengan proses transisi, tentu Pertamina jangan dulu dibebankan target seperti yang tersurat dalam WP&B SKK Migas sebesar 1.572 mmscfd atau target sebelumnya, sebesar 1.423 mmscfd.

Pertamina agaknya harus bersabar, karena belum dapat masuk berinvestasi di Blok Mahakam. Pasalnya, sampai Desember 2017, seluruh operasi blok Mahakam masih dalam penguasaan PT Total EP dan Inpex Corporation. Dengan kewenangannya berdasar kontrak dan dalam konteks strategis bisnis, tentu perusahaan asal Perancis dan Jepang itu akan menggunakan otoritasnya atas Blok Mahakam secara optimum.

Dalam konteks itu, agaknya pemerintah via Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) atau melalui Kementerian ESDM perlu cawe-cawe untuk memungkinkan Pertamina masuk ke Blok Mahakam secara fade in, dan Total & Inpex Corporation keluar secara fade out. Tentu, agar proses transisi berlangsung mulus.

Sampai kini Pertamina masih terus melakukan diskusi dan pembicaraan bisnis dengan Total EP Indonesie dan Inpex Corporation tentang banyak hal, termasuk WP&B mengikuti perkembangan pasar minyak mentah dunia.

Hal tersebut penting dibahas sangat serius oleh Pertamina dan Total EP & Inpex Corporation, karena akan terkait langsung dengan nilai keekonomian hasil produksi, termasuk kontribusinya terhadap Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Terutama karena pemerintah sedang terus menggenjot proyek-proyek pembangunan infrastruktur.

Selaras dengan itu, karena Pertamina merupakan satu-satunya perusahaan milik negara yang harus menjaga ketahanan energi nasional, maka BUMN energi ini kudu berhitung ketat. Termasuk mempertimbangkan efisiensi dan inovasi dalam satu tarikan nafas.

Terutama untuk melihat realitas terjadinya declaine atau penurunan produksi secara alamiah, anjloknya harga minyak mentah dunia, dan upaya inovatif untuk menghitung pertumbuhan reserve replacement ratio (RRR), yang pernah diperkirakan bertumbuh antara 200 persen – 400 persen.

Tak bisa tidak, memang Pertamina, harus melakukan efisiensi simultan, sehingga dapat fokus pada produksi dan pemasaran untuk terus mempertahankan perkembangan pendapatannya. Termasuk mengelola secara efektif dan efisien pertumbuhan produksi sekitar 6 persen dengan cadangan migas rata-rata bertumbuh sekitar 4.4 persen.

Di sisi lain, Pertamina juga harus menghitung ketat, seberapa besar pengambilalihan blok Mahakam akan menambah pertumbuhan produksinya. Sampai Juli 2016, tercatat produksi minyak dan gas bumi Pertamina mencapai 640 ribu barel setara minyak per hari (BOEPD) atau 12 persen lebih tonggi dibandingkan prode yang sama tahun lalu (571 BOEPD).

Kenaikan produksi migas tersebut, menurut  Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro ditopang oleh peningkatan produksi dari Blok Cepu yang melonjak 148% menjadi 77 ribu BOEPD dibanding periode yang sama tahun lalu 31 ribu BOEPD. PT Pertamina EP Cepu memiliki hak partisipasi 45% di Blok Cepu.

Selain itu,  peningkatan juga ditopang dari kenaikan produksi migas konsolidasi PT Pertamina Hulu Energi menjadi 189 ribu BOEPD dari sebelumnya 149 BOEPD. Kontribusi terbesar produksi migas perseroan berasal dari PT Pertamina EP, yaitu sebesar 256 BOEPD.

Menurut Wianda, dari lapangan luar negeri, produksi Pertamina melalui PT Pertamina International EP (PIEP) naik 8 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. PIEP mencatatkan produksi migas sebesar 119 ribu BOEPD sepanjang Januari-Juli 2016, tahun sebelumnya tercatat sebesar 110 ribu BOEPD.

Ketika produksi minyak bumi Pertamina di dalam dan di luar negeri digabungkan, tercatat angka produksi sebesar 307 ribu bph, naik 11,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 275 ribu bph. Akan halnya produksi gas mencapai sebesar 1.932 MMSCFD naik 12,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 1.712 MMSCFD.

Wianda menjelaskan, “Kami akan terus berupaya meningkatkan produksi migas baik dari dalam maupun luar negeri.”  Ia melanjutkan, apa yang sudah dicapai dalam 7 bulan terakhir dengan pertumbuhan 12 persen, menunjukkan upaya Pertamina membuahkan hasil positif dan diharapkan terus meningkat hingga akhir tahun. | Bang Sem

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : Pertamina dan sumber lain
 
Ekonomi & Bisnis
08 Jul 19, 16:21 WIB | Dilihat : 693
BNI Syariah Istiqamah di Jalan Hasanah
19 Jun 19, 10:46 WIB | Dilihat : 886
Harapan Wirausaha Kreatif Malaysia di Bahu Dzuleira
27 Mei 19, 13:43 WIB | Dilihat : 233
Sang Pemandu
16 Mei 19, 11:03 WIB | Dilihat : 377
Utang Negara dan Pembangunan Sosial
Selanjutnya
Polhukam
07 Jul 19, 18:14 WIB | Dilihat : 913
Jakarta Pantas Terima Penghargaan Kota Terbaik Dunia
28 Jun 19, 14:02 WIB | Dilihat : 1456
Nasib Rakyat Tidak Ditentukan di Bilik Suara
28 Jun 19, 11:03 WIB | Dilihat : 1448
Sofhian Mile : Selamatkan Bangsa, Utamakan Rakyat
27 Jun 19, 22:41 WIB | Dilihat : 1371
ISWAMI Sinergi Tunggal Jurnalis Malaysia - Indonesia
Selanjutnya