Menjaga Marwah Jurnalis Via AJP2018

| dilihat 142

Puncak Anugerah Jurnalistik Pertamina (AJP) 2018 digelar Jum'at (23/11) di Ball Room - Gedung Utama Pertamina, Jakarta. Para pemenang sudah ditetapkan dalam Rapat Pleno Dewan Juri hari Jum'at (16/11), pekan lalu di Jakarta.

Dewan Juri dipimpinan Yosep Adi Prasetyo yang juga Ketua Dewan Pers.

Anggotanya: Marwan Batubara, Achmad Wijaya, Komaidi Notonegoro, Efendi Gazali, Ichsan Loulembah, Beawiharta, Iskandar Zulkarnain, Enny Nurhaeni, Riza Primadi, dan saya.

Komposisi Dewan Juri memang menarik, gabungan dari praktisi, pemerhati dan akademisi di bidang energi dan para kampiun jurnalis dengan pengalaman luas. Termasuk pewarta foto.

Selain berpegang pada Kode Etik Jurnalistik Indonesia dan Pedoman Etik Penyiaran, karya para jurnalis itu juga dinilai dari aspek teknis penulisan dan cara memperoleh data dan informasi, termasuk kemampuan menentukan titik pandang, sudut pandang, dan cara pandang atas obyek penulisan.

Tema tahun ini adalah Sinergi Energi. Materi yang dinilai mesti mengulas langkah sinergi, kemitraan dan kolaborasi Pertamina dengan seluruh stakeholders, untuk meningkatkan energi bangsa, mendorong pertumbuhan ekonomi, pemberdayaan sosial, sekaligus memberi manfaat sebesar-besarnya bagi kemajuan Indonesia.

Di sektor hulu, materi yang dinilai, mengulas kemitraan bisnis Pertamina dengan perusahaan atau stakeholders lainnya untuk mendorong peningkatan produksi Migas dan Energi Nasional, seperti pengelolaan bersama Blok Migas pasca pengambilalihan atau serah terima Blok Migas potensial. Tema ini juga meliputi upaya Pertamina membeli produksi minyak mentah dalam negeri dari KKKS untuk penyediaan energi nasional.

Di sektor pengolahan, materi yang dinilai, mengulas kemitraan bisnis Pertamina dalam membangun infrastruktur Minyak, Gas, Petrokimia, Energi Baru Terbarukan dalam rangka mempercepat kemandirian energi.

Di sektor hilir, mengulas kemitraan dan kolaborasi bisnis Pertamina dengan Perusahaan atau lembaga masyarakat dalam penyediaan energi (produk Pertamina) di seluruh pelosok tanah air.

Penentuan pemenang melalui proses perdebatan panjang yang lumayan 'melelahkan,' karena juri dalam posisi setara satu dengan lainnya, dan harus menentukan 11 kategori, yang setiap pemenang kategori dan best of the best, melalui uji ketat. Dewan juri harus melakukan verifikasi dan konfirmasi ulang. Salah satu pemenang harus ditempuh dengan voting.

Dengan teknik blind review and preview, proses penjurian memang dapat terhindar dari subyektivitas yang tak perlu. Juri sama sekali tidak tahu materi yang dinilainya ditulis siapa dan diterbitkan atau disiarkan media mana.

Materi yang dinilai dewan juri, sebelumnya harus melewati dua tahapan seleksi yang dilakukan oleh komite seleksi, laiknya sistem yang pernah berlaku dalam Festival Film Indonesia (FFI) dan Festival Sinetron Indonesia (FSI) yang beberapa kali saya ikuti (baik sebagai Komite Seleksi maupun Juri).

Perdebatan memang tak terhindarkan. Dalam perdebatan Dewan Juri, ungkap Ketua Dewan Juri, Yosep Adi Prasetyo, "Argumentasi dibangun dan diadu. Masing-masing saling mengecek dan menguji untuk menemukan persamaan persepsi. Setiap juri tadi (dalam perdebatan) menunjukkan kelas yang tinggi dengan penguasaan materi dan pengetahuan yang mumpuni. Saya merasa bangga menjadi bagian dari juri AJPertemina 2018."

" Kami juga turut bangga menjadi bagian perdebatan jurnalistik tingkat tinggi," timpal Inna Mukaddas, Sekretaris Dewan Juri, yang tak beroleh hak suara.

"Seru," ungkap Efendi Gazali. "Penjurian terpanjang. Semua bebas mengungkapkan dan sharing ilmu. Saling cek dan ricek, boleh agak ngotot. Tapi, saat voting, tetap obyektif dan yang terbaik dipilih bersama. Bravo.."

Perdebatan berlangsung tak hanya untuk mempertahankan obyektivitas dan marwah AJP yang sudah berlangsung belasan kali. Jauh dari itu, untuk memelihara dan menjaga integritas jurnalis dalam menjalankan prinsip jurnalisme dan praktek aktivitas jurnalistik yang bertumpu pada kode etik jurnalistik, termasuk pedoman etik penyiaran yang berlaku dalam publikasi media televisi.

Secara keseluruhan, karya jurnalistik peserta AJP2018 lebih baik dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Selain sebagian peserta memenuhi standar penulisan jurnalistik untuk setiap kategori, tingkat kompetensi dan inisiatif untuk memilih titik pandang (point of view), sudut pandang (angle) dan cara pandang (perspektif) semakin baik;

Beberapa peserta menajamkan perhatian pada focal concern (sentra kepedulian) terkait dengan policy design dan policy pemerintah di sektor energi - termasuk dalam bauran energi, dan sinergi manajemen dalam aksi korporasi.

Secara kritis beberapa peserta menyoroti dampak (proyeksi) aksi korporasi antara Pertamina (Persero) dengan BUMN lain, tidak terbatas hanya karena kebijakan pemerintah (Presiden dan Menteri BUMN) -- seperti pembentukan holding dengan menempatkan Pertamina sebagai korporasi loko untuk holding Energi. Jauh dari itu, pun inisiatif bersinergi dengan BUMN lain (seperti BUMN sektor Konstruksi dan Perkebunan) untuk mengembangkan sinergi energi positif untuk mencapai efisiensi dan efektivitas aksi korporasi (sesuai prinsip untuk mencapai world class corporation);

Sinergi untuk mengembangkan energi positif juga dilakukan Pertamina (dan perusahaan anak) dengan berbagai kalangan masyarakat, tidak hanya untuk mengintroduksi nilai baik secara sosio budaya melalui lembaga pendidikan dan institusi sosial - komunitas, dan bahkan kelompok lingkungan sosial di tingkat kampung.

Antara lain dengan menguatkan inisiatif dan gagasan masyarakat menciptakan kondisi lingkungan sosial yang lebih aman dan nyaman (lingkungan cerdas, lingkungan sehat, dan lingkungan mampu secara ekonomi);

Peserta menyerap dan merefleksikan aksi korporasi Pertamina (Persero) dari sudut pandang positif - good news is good news tanpa mengabaikan prinsip jurnalisme yang merdeka dan berjarak dengan sumber berita / informasi;

Dari sisi keterampilan jurnalistik, peserta AJP2018 (minimal di tiga kategori tersebut) relatif berkembang lebih baik di tengah perkembangan cepat keragaman media, khasnya media digital, radio dan televisi.

Untuk peningkatan kualitas ke depan, perlu difasilitasi pelatihan terkait dengan pemahaman aplikatif tentang verifikasi, konfirmasi, dan daur data - informasi dalam penulisan.

Kepedulian juri yang kuat atas integritas jurnalis juga menguat dan terasa, muaranya adalah terus menerus memelihara watak dan sikap jurnalis tetap independen. Mampu membedakan subyektivitas dengan opini, dan tentu, tak berhenti meningkatkan kompetensi di tengah begitu banyak kepentingan pemilik perusahaan ikut menyertai kebijakan redaksi.

Sistem dan pola penilaian AJP2018 pantas dipergunakan dalam penilaian karya jurnalistik lain, yang diselenggarakan berbagai lembaga. Tak mudah memang, tapi juga bukan tidak mustahil dilakukan.  Animo peserta AJP2018 juga masih besar. Tak kurang dari 2084 karya jurnalis, mengikuti ajang AJP2018.

Salut untuk seluruh juri, komite seleksi, dan panitia. | Bang Sem

Editor : Web Administrator
 
Sainstek
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 313
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
19 Jul 18, 09:52 WIB | Dilihat : 1110
Volante Vision, Visi Kendaraan Udara Aston Martin
20 Feb 18, 12:07 WIB | Dilihat : 1987
Tragedi Archimides di Tangan Serdadu
10 Jan 17, 15:25 WIB | Dilihat : 719
Honda Kembangkan Teknologi Motor Pintar
Selanjutnya
Polhukam
10 Des 18, 16:18 WIB | Dilihat : 37
Ihwal Gagasan Sandiaga Uno Membangun Tanpa Utang
06 Des 18, 09:43 WIB | Dilihat : 214
Anies Baswedan Pemimpin Pas di Masa Sungsang
06 Des 18, 00:08 WIB | Dilihat : 168
TNI Mesti Tumpas Pemberontak Papua Merdeka
Selanjutnya