Kelola Sumberdaya Alam secara Efisien

| dilihat 617

Bang Sem

POLITIK negara terhadap sumber daya alam adalah keperluan asasi dalam proses pembangunan yang visioner dan berkelanjutan.

Kita menyebutnya, politik sumberdaya alam. Yaitu: kebijakan dasar negara yang mengikat se­luruh pihak di dalam wilayah kedaulat­annya, untuk mengelola sumber daya alam secara cerdas, arif, efisien, produktif, dan bermanfaat langsung bagi keejahteraan rakyat.

Untuk mencapai kondisi semacam itu, kita perlu memusatkan kepedulian pengelolaan sumber daya alam secara lebih kongkret.

Pertama, untuk memenuhi – dan secara efektif - efisien men­jamin -- peningkatan daya saing bangsa secara kualitatif;

Kedua, untuk menciptakan kondisi lingkungan hidup manusia yang cerdas, sehat dan mampu ecara ekonomi, dipandu orientasi hidup produktif dan bertanggung jawab;

Ketiga,  untuk membangun kesadaran kolektif seluruh warga negara dan warga bangsa melakukan per­lindungan, pelestarian, reha­bilitasi, dan pe­manfaatan alam berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya.

Ketiga sentra kepedulian itu, mesti diwujudkan dalam tata kehidupan sehari-hari, dengan ditopang oleh : tradisi dan bu­daya, ilmu penge­tahuan dan teknologi, politik, ke­mampuan mengelola keuangan negara, dan pengembangan pusat-pusat unggulan  peradaban.

Kepedulian semacam ini diperlukan, agar terjadi keseimbangan ruang bagi manusia dan sumber daya alam. Keseimbangan ruang se­macam ini diperlukan untuk me­wujudkan kondisi mental yang sehat.

Sedangkan mental yang sehat akan ber­pengaruh langsung terhadap ke­pribadian, dan akhirnya terhadap watak bangsa.

Watak dan kepribadian bangsa yang ter­bentuk oleh keseimbangan ruang dan sumber daya alam, pada akhirnya akan menentukan kualitas bangsa di kemudian hari. 

Terkait dengan keperluan asasi kita tentang kualitas bangsa inilah, maka politik sumber daya alam harus di­tegaskan dalam keseluruhan perencanaan pembangunan secara nasional.

Kita sependapat dengan pandangan cendekiawan almarhum Soedjat­moko,  bahwa pengendalian diri manusia harus selalu dilakukan, supaya dapat di­wujudkan suatu landasan sosial yang luas.

Terutama dalam mengejar tingkat kehidupan yang lebih tinggi. Dengan cara demikian, kenaikan tingkat hidup dapat di­rasakan oleh masyarakat luas dan bukan hanya oleh suatu golongan kecil masyarakat.

Maka hidup di dalam batas sumberdaya alam yang ada pada kita, bukan merupakan argumentasi anti-moderen atau anti-pembangunan. Melainkan suatu syarat mutlak untuk maju dan menggerakkan modernisasi se­cara lebih luas. Termasuk di dalamnya, untuk menegakkan kemerde­kaan aasi kita sebagai bangsa.

Kata kuncinya adalah kesederhanaan hidup, sebagai refleksi dan ekspresi sikap efektif dan efisien, yang menjelma dalam produktiv­itas (berinisiatif, krea­tif, dan inovatif), sehingga dapat me­nentukan kemampuan kita mengelola sumber daya alam sebagaimana mestinya.

Selaras dengan pandangan inilah, perlu perumusan visi kebangsaan dalam mengelola sumber daya alam, secara kolektif. Paling tidak, untuk menegaskan visi: Sumber daya alam sebagai ruang hidup lestari dan serasi bagi ke­hidupan manusia (pada kurun waktu tertentu).

Dengan visi semacam ini, kita dapat memahami, bahwa sumber daya alam yang kita miliki, sungguh merupakan wahana yang disedia­kan Tuhan kepada bangsa yang ber­fikir, ber­adab, dan berotoritas.

Bangsa yang mampu mengelola sumberdaya alam secara cerdas dan arif, sehingga bermanfaat sangat luas secara transgeneratif melintasi jaman.

Beranjak dari pemikiran demikianlah, pemanfaatan sumberdaya alam secara efektif dan efisien, menjadi penting. Dan, subsidi bahan bakar minyak (BBM) menjadi strategis.|

 

Editor : sem haesy
 
Lingkungan
25 Jun 18, 16:31 WIB | Dilihat : 1715
Perlawanan Budaya Warga Sempur Bogor
24 Jun 18, 11:58 WIB | Dilihat : 655
Kreativitas Anak Betawi dalam Toponimi Jakarta
19 Jun 18, 11:09 WIB | Dilihat : 447
Merawat Hutan Memelihara Peradaban
Selanjutnya
Budaya
24 Jun 18, 12:18 WIB | Dilihat : 910
Betawi Kembali ke Laut Arungi Tantangan Masa Depan
20 Mei 18, 22:08 WIB | Dilihat : 4545
Abah Iwan Dian Tak Pernah Padam
04 Apr 18, 14:35 WIB | Dilihat : 3385
Budaya Tanding dari Wine ke Bir Pletok
Selanjutnya