Kaya Sumber Daya Alam, Miskin Persisten

| dilihat 1137

DALAM mengelola sumberdaya alam, khususnya terkait eksplorasi dan eksploitasi energi dan sumberdaya mineral, seringkali kita terjerembab pada beragam asumsi dan obsesi yang merisaukan. Terutama, karena sudut pandang kita yang berujung pada bagaimana menghasilkan komoditas. Boleh-boleh saja kita berpikir begitu, namun, seberapa jauh kita mendudukkan komoditas itu dalam keseluruhan konstelasi sumberdaya alam kita secara lebih luas di hampar ruang ekonomi.

Sekejap saya teringat sesosok orang muda, yang secara khusus menekuni studi di bidang ekonomi sumberdaya alam.  Prof. Dr. Ir. Ahmad Fauzi, MSc, guru besar Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan – IPB, kerap mengungkap soal non convexity yang kemudian berbuah ironi.

Ia menyengat kita melalui ilustrasi sederhana. Ungkapnya, dalam model ekonomi yang konvensional, kita cenderung menggunakan asumsi: pengambil keputusan ole individu memungkinkan fleksibilitas tinggi dalam menentukan economic space. Lantas kita menjabarkan objek keinginan atau kebutuhan input, sesuai model itu, untuk keperluan proses produksi, menggunakan komoditas. Komoditas itu, bisa saja semangkuk bubur ayam di pagi hari. Input produksinya, bisa saja berupa tenaga kerja yang digunakan untuk menghasilkan bubur ayam atau BBM yang dipergunakan nelayan untuk melaut. Penjabaran ini memang kuat dalam teori, tapi mempunyai kelemahan dalam mengabaikan pendefinisian alternatif dalam hal economic space.

Nah, dalam konteks ekonomi konsumsi, ujarnya, convexity merupakan salah satu asumsi, selain completteness, the more better, dan transitivity. Lantas, bagaimana ihwal non convexity? Suatu teori yang memfokuskan pentingnya desentralisasi antara konsumen dan produsen untuk mencapai keseimbangan optimum pengendalian sumberdaya alam dari sudut pandang ekonomi. Non convexity pengelolaan sumberdaya alam bisa terjadi oleh beberapa sebab. Yakni: increasing retursns pada faktor produksi; increasing returns to scale; efek sinergetik pada sumberdaya alam; efek ambang batas threshold; dan, ketiadaan hak pemilikan (propherty right). Karenanya, dalam pemikiran yang progresif, keberadaan non convexity berimplikasi dalam konteks ekonomi sumberdaya alam dan lingkungan. Inilah, yang boleh jadi, akan mempertemukan kepentingan ekonomi dan kepentingan lingkungan yang berujung pada sustainibilitas kehidupan di masa depan.

Fauzi mengurai, eksistensi non convexity pada sumberdaya alam, apapun kepentingannya, tak boleh diabaikan. Apalagi, ekonomi sumberdaya alam tak hanya bicara pada alokasi barang dan jasa, tapi juga mengidentifikasi mekanisme atau pathway interaksi antara sistem alam dan sistem ekonomi. “Interaksi human nature, ini dalam banyak hal memiliki karakteristik non convex,” seru Fauzi.

Saya tertarik dengan pandangan ini, lantaran seringkali diajak berbincang ole para sobat yang mesti berpikir ekstra dalam menjalankan tugas profesionalnya, karena terganggu oleh berbagai resistensi tak jelas dari berbagai kalangan. Apalagi, tanpa mempunyai pengetahuan yang asasi, seringkali tanpa mumpuni menghadapkan industri pertambangan dan migas dengan realitas kemiskinan masyarakat di sekitarnya. Saya melihat, gagasan pemikiran Fauzi, dapat menjadi bagian penting dari strategi bangsa ini dalam mengubah persepsi publik secara positif terhadap pengelolaan sumberdaya alam – khususnya tambang dan migas – secara bertanggungjawab.

Fauzi mengungkap, pemahaman non convexity terhadap sumberdaya alam dan lingkungan, akan membantu kita memahami kemiskinan, serta implikasi program-program penanggulangan kemiskinan yang semestinya dapat ditawarkan. “Kemiskinan dan non convexity”, menurut Fauzi, sangat terkait erat satu dengan lainnya.  Apalagi, di sekitar daerah eksplorasi dan eksploitasi energi dan mineral, di negara-negara berkembang, sering terjadi poverty trap. Jebakan kemiskinan. Terutama karena ketidakmampuan rakyat untuk menabung, selain jebakan demografi. Termasuk non convexity, dimana stok modal hanya bermanfaat ketika mencapai standar minimum, yang oleh Jeffrey Sach disebut threshold effect.

Akibatnya, program penanggulangan kemiskinan (termasuk yang menjadi sasaran utama program community development dalam rangka corporate social responsibility perusahaan tambang dan migas), lebih banyak diarahkan pada peningkatan modal kapital. Maksudnya, tentu, untuk menembus ambang batas kemampuan ekonomi rakyat. Padahal, meminjam teori Dasgupta, kemiskinan persisten di negara-negara berkembang, lebih disebabkan oleh keterkaitan antara mekanisme alokasi sumber daya alam dengan adanya umpan balik dari sumberdaya alam dan lingkungan. Tidak semata-mata sebagai kegagalan pilihan kebijakan publik. Walaupun sering juga disebabkan oleh kesalahan pilihan investasi publik dan perilaku rent seeking. Ironi memang, di tengah kekayaan sumberdaya alam, kemiskinan tumbuh persisten. | sem

Editor : Nur Baety Rofiq
 
Seni & Hiburan
04 Jul 19, 13:22 WIB | Dilihat : 672
Jakarta Melayu Festival 2019 Merengkuh Keadilan
19 Jun 19, 12:59 WIB | Dilihat : 946
Kejujuran
12 Jun 19, 14:16 WIB | Dilihat : 287
Hafez dalam Abadi Cinta
10 Jun 19, 10:45 WIB | Dilihat : 298
Perempuan di Makam Ibu
Selanjutnya
Energi & Tambang