Imagineering Bisnis 1

Lompatan Kutu Anjing

| dilihat 917

Sem Haesy
 

BABAH Liem memang ‘tidak makan bangku sekolahan.’ Ia beroleh ilmu bisnis dan kini menjadi besar, lantaran memperoleh warisan: tradisi bisnis, dari kakek moyangnya secara turun temurun. Hal itu juga yang hendak ia terapkan pada anak-anaknya, meskipun bisnis mereka beragam.

Di ujung pekan, ketika sedang menikmati kopi hangat di beranda belakang rumahnya yang nyaman, berkunjunglah Koh Aming, putera tertuanya. Lelaki lulusan Business School of Harvard – Amerika Serikat, itu bersama dua adiknya: Leonny dan Acaw, yang berbisnis di industri keuangan.

Sekenanya, Babah Liem bertanya ihwal kondisi saat ini.

“Babah dengar pasar uang kita sedang ramai. Dana melimpah ya?” Aming mengangguk.

“Sejak setahun terakhir, arus modal di pasar uang memang bergerak membaik,” katanya.

Para pelabur (investor)  dari Amerika, Inggris, Perancis, Jepang dan China sedang berusaha mencari peluang di negara-negara yang bertumbuh kuat, negara-negara emerging market, seperti Indonesia.

“Berhati-hatilah,” nasihat Babah Liem.

Aming tersenyum. Secara teoritis, nasihat singkat ayahnya itu relevan dengan nasihat baku. Khasnya, soal manajemen risiko menjadi prioritas. Terutama berkaitan dengan fluktuasi pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang bisa terjadi dengan sekelip mata.

Dalam berbisnis, menurut Babah Liem, selain faktor kepercayaan (trust), prudensia alias prinsip kehati-hatian juga memainkan peran yang sangat penting dan utama.

“Kita tidak bisa memastikan kondisi kehidupan sehari-hari,” serunya. “Apa saja yang terjadi dalam sekejap mata di tengah kehidupan, bisa berakibat buruk, ketika kita tidak berhati-hati,” serunya. 

“Manusia hanya bisa meraba indikator bisnis dari tahun ke tahun,” serunya. Aming tersenyum, karena sejak kecil dilatih menjaga kepercayaan dan melaksanakan prinsip kehati-hatian, juga hemat.

Ia sudah menyesuaikan diri dengan perkembangan era. Meski ayahnya masih bertahan dengan bisnis era pertanian dan industri, serta adik-adiknya berkiprah di bisnis era informasi, Aming melangkah lebih cepat, masuk ke era konseptual.

Merujuk pada konsep Stevewright, menurut Aming, seluruh lapangan bisnis perlu menciptakan realitas baru berbasis the five C pillars.  Yakni: Consolidation, Convergence, Customers Focus, Channels, dan Cost of Ownership.

Mulai dari konsolidasi keuangan, konfergensi teknologi dan pengembangan produk, penguatan posisi di pasar sesuai pangsa, penguatan saluran bisnis dan distribusi melalui networking, serta pengendalian biaya kepemilikan sesuai skema investasi.

Babah Liem balik tersenyum. Berbasis kepercayaan dan prinsip kehati-hatian, pebisnis yang sudah nampak kerut tua di wajahnya, ini malah bilang: “Lakukan lompatan kutu anjing.” Aming terpana. Dia sepakat dengan konsolidasi untuk menguatkan fundamental bisnis. Tapi, konvergensi harus dengan perubahan ‘costumers focus’ menjadi ‘ambassadors shimpony.’ 

“Pelanggan harus dilayani dan difasilitasi, sehingga menjadi ambassador yang memainkan peran membentuk pasar yang terkendali, sesuai partitur yang kita buat,” ujar Babah Liem yang ngefans dengan Pavarotti, itu.

Dengan begitu, katanya, seluruh saluran bisnis akan menjadi kanal pergerakan kita menghindari risiko kompetisi yang tidak perlu.

“Kalau itu terjadi, pasti kita mencapai efisiensi atas biaya kepemilikan. Tak perlu bertempur untuk memenangkan peperangan,” ujar Babah Liem. Aming menggaruk kepalanya yang tak gatal. |

Editor : Web Administrator
 
Budaya
07 Agt 19, 20:46 WIB | Dilihat : 561
Berguru pada Sejarah, Transformasi Elang
22 Jul 19, 16:15 WIB | Dilihat : 488
Dimensi Kaum Betawi
21 Jul 19, 14:19 WIB | Dilihat : 269
Refleksi dari Arena Lebaran Betawi
Selanjutnya
Energi & Tambang