Terompah

| dilihat 1673

 

DARI begitu banyak dongeng masa bocah, yang paling terkesan di benak saya adalah dongeng ihwal te­rompah. Saya masih ingat, dari kisah 1001 Malam di Baghdad, selain lampu wasiat, yang sering didongeng­kan ibu, terompah Aladin termasuk yang sangat me­narik. Terompah itulah yang sangat karib dengan hambal (semacam sajadah) terbang, laksana pesawat terbang yang me­layang di angkasa. Membawa Aladin melintasi cakrawala, melanglang ke mana saja dia suka.

Terompah lain yang tak kalah menariknya adalah milik Abu Nuwas, seorang wiseman, yang cendekia dengan segenap keluguannya. Terompah Abu Nuwas, juga menjadi bagian dari cerita menarik tentang Bagh­dad, ibu kota Irak, yang menjadi simbol pusat peradaban di jaman khalifah Harun al Rasyid.

Dengan terompahnya, yang berujung lancip dan agak melingkar ke atas, Abu Nuwas mengunjungi istana, untuk memberi nasehat kepada sang khalifah. Dengan terompah itu pula, Abu Nuwas melanglang ke berbagai guru sufi, menimba kearifan dan kecerdasannya. Tak terkecuali, berkelana ke Negeri Zamrud Khatulistiwa.

Dalam salah satu dongeng dikisahkan, suatu ke­tika, terompah Abu Nuwas hilang. Ketika  itu, ia tertidur di tendanya. Ia tak tahu, terompahnya dipermainkan anjing, lalu tercebur ke oase (wadi), saat beberapa orang dari suatu kabilah sedang mengambil air, bekal minum di per­jalanan. Orang-orang di kabilah itu riuh dengan diskusi yang me­negangkan urat leher.

Sebagian mereka bilang, air di oase (wadi) itu tak boleh dipergunakan untuk minum ataupun untuk wudhu’. Pasal­nya? Ya, itu tadi, terompah Abu Nuwas sudah ter­kena air liur anjing. Jadi mengandung najis. Dan karena­nya, te­rompah Abu Nuwas, dianggap telah mengon­taminasi air oase (wadi), sehingga tak lagi suci me­nyucikan. Se­bagian lainnya berpikir lain. Air oase (wadi) masih bisa diper­gunakan untuk minum dan berwudhu’, karena volume air jauh lebih banyak dibandingkan dengan liur anjing yang menempel di terompah Abu Nuwas.

Saat mereka sedang bersitegang itulah, Abu Nuwas yang baru beberapa saat terbangun, mencari-cari terom­pahnya sampai ke pinggir oase (wadi).  Mendengar per­debatan yang disertai ketegangan, karena masing-masing pihak menganggap dirinya benar, Abu Nuwas terpana. Ia ter­kejut, saat mafhum, bahwa pangkal sebab silang pendapat mereka adalah terompahnya yang ter­cebur di oase (wadi), setelah diseret anjing.

Ketika orang-orang bertanya kepadanya, ihwal kualitas air di oase (wadi), Abu Nuwas menanggapi dengan senyum. Ia balik bertanya kepada mereka: “Siapa di antara kalian yang bisa membuktikan, bahwa terompah saya telah mencemarkan air oase (wadi), sehingga air tak lagi bisa dipergunakan berwudhu’ dan tak boleh diminum?” Tak seorangpun bisa menjawab.

Abu Nuwas kembali bertanya,”Siapa di antara kalian yang bisa membuktikan, air liur anjing telah membasahi terompah saya, sehingga terompah itu me­ngandung najis yang mencemarkan air oase (wadi)?” Tak se­orangpun bisa menjawab.

Abu Nuwas bertanya lagi, ”Siapa yang telah meng­gunakan air oase (wadi) untuk mandi?”

Semua meng­acungkan jarinya. Lagi, Abu Nuwas bertanya: ”Kemana mengalir­nya air usai dipergunakan untuk mandi?”

Serentak mereka menjawab: “Kembali mengalir ke oase (wadi)”.

Lalu, Abu Nuwas bilang, “Artinya, air yang telah menggelontorkan kotoran dan najis di tubuh tuan-tuan, mengalir kembali ke oase (wadi), lalu kalian tetap meng­ambil airnya untuk minum dan berwudhu”. Semua mengangguk.

Salah seorang angkat bicara: “Kami laku­kan itu, karena kami bukan najis.” Alasannya? “Kami manusia, bukan anjing”.

Abu Nuwas terkekeh. Lalu menceburkan dirinya ke oase (wadi), mandi sesuka hati sambil mengambil terompah­nya. Lantas dia bertayammum, dan tak mengambil air oase (wadi) untuk minum. Mereka yang bersengketa terlo­ngong.

Abu Nuwas bilang, oase (wadi) itu tercemar najis bukan karena terompahnya, tapi karena dipakai mandi oleh mereka yang saling gonggong laksana anjing. Masya­ allah. |

Editor : Web Administrator
 
Ekonomi & Bisnis
08 Jul 19, 16:21 WIB | Dilihat : 696
BNI Syariah Istiqamah di Jalan Hasanah
19 Jun 19, 10:46 WIB | Dilihat : 886
Harapan Wirausaha Kreatif Malaysia di Bahu Dzuleira
27 Mei 19, 13:43 WIB | Dilihat : 233
Sang Pemandu
16 Mei 19, 11:03 WIB | Dilihat : 377
Utang Negara dan Pembangunan Sosial
Selanjutnya
Seni & Hiburan
04 Jul 19, 13:22 WIB | Dilihat : 672
Jakarta Melayu Festival 2019 Merengkuh Keadilan
19 Jun 19, 12:59 WIB | Dilihat : 946
Kejujuran
12 Jun 19, 14:16 WIB | Dilihat : 287
Hafez dalam Abadi Cinta
10 Jun 19, 10:45 WIB | Dilihat : 298
Perempuan di Makam Ibu
Selanjutnya