UNESCO Tetapkan Pantun sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia

| dilihat 328

LAYAK dan pantas disyukuri, penetapan pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO (United Nation Education, Scientific and Culture Organization), Kamis - 17 Desember 2020 di Paris, Perancis, seperti dikabarkan Surya Rosa Saputra - wakil delegasi tetap Republik Indonesia untuk UNESCO.

Menurut Surya, yang juga guru besar ilmu Biokimia pada Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember), Surabaya, itu UNESCO sebagai organisasi pendidikan, keilmuan dan kebudayaan Perserikatan Bangsa Bangsa, itu karena pantun kaya nilai yang menjadi panduan moral. Sekaligus, sebagai sarana komunikasi (sosial dan budaya) masyarakat.

Dikemukakannya, penetapan pantun sebagai warisan tak benda, itu ditetapkan pada sesi ke-15 'Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage' di Kantor Pusat UNESCO di Paris, Prancis. Sesi ke 15 ini dilaksanakan secara daring.

Pertemuan  tersebut dibuka dan dihantar oleh Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay dan Ketua Komite ke-15, Menteri Pemuda, Olahraga dan Kebudayaan Jamaika, Olivia Grange.

Indonesia dan Malaysia sama mengajukan pantun sebagai  nominasi secara bersama, dan UNESCO menetapkannya sebagai tradisi budaya Indonesia ke-11 yang diakui UNESCO. Terutama, karena akar budaya pantun memang di Indonesia, persisnya Kepulauan Riau, yang juga menjadi akar sebati budaya Melayu yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Malaysia, kemudian berkembang ke seluruh wilayah Nusantara, mulai dari Pattani (Thailand Selatan) dampai ke Mindanao (Filipina).

Dalam pandangannya, Menteri Pelancongan, Seni, Budaya dan Warisan Malaysia Nancy Shukri dan Surya sama mengedepankan keberadaan pantun dalam kehidupan sosial masyarakat Melayu Indonesia dan Malaysia. Olivia Grange mengetukkan palu penetapan pantun sebagai warisan budaya tak benda Indonesia, tanpa komplain dari floor.

Pantun dalam penilaian UNESCO, seperti di ungkap Surya, memiliki arti penting bagi masyarakat Indonesia. Pesan yang disampaikan melalui Pantun menekankan keseimbangan dan harmoni hubungan antar manusia. Mulai dari Pantun Nasihat sampai Pantun Jenaka, yang biasa digunakan para telangkai dalam upacara pernikahan sampai kampanye politik di lingkungan masyarakat Melayu.

Menurut Surya, keberhasilan penetapan Pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda bagi Indonesia, tidak lepas dari keterlibatan aktif berbagai pemangku kepentingan. Mulai dari komunitas, seperti Asosiasi Tradisi Lisan (ATL), Lembaga Adat Melayu, Komunitas Joget Dangdung Morro, Komunitas Joget Dangdung Sungai Enam, Komunitas Gazal Pulau Penyengat, Sanggar Teater Warisan Mak Yong Kampung Kijang Keke, serta sejumlah individu dan pemantun Indonesia, sampai Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat.

Dikemukakannya juga, inskripsi Pantun memiliki arti penting bagi Indonesia dan Malaysia. Pantun merefleksikan kedekatan dua negara serumpun yang berbagi identitas, budaya, dan tradisi Melayu.

Bagi masyarakat Melayu, pantun mempunyai peran penting sebagai instrumen komunikasi sosial, sekaligus menjadi panduan moral yang menekankan keseimbangan, harmoni, dan fleksibilitas hubungan dan interaksi antarmanusia dalam syairnya.

Diharapkan, Indonesia dan Melaysia berkomitmen untuk terus melakukan berbagai ikhtiar memastikan perlindungan pantun sebagai warisan budaya tak benda, melalui pelibatan aktif komunitas lokal di kedua negara. Termasuk diajarkan secara formal di sekolah dan melalui kegiatan kesenian.

Di sebagian terbesar daerah di Indonesia, banyak lahir para pemantun atau juru pantun produktif. Kita mengenal Amir Arsyad Nasution - Raja Pantun dari Sumatera Utara yang sangat piawai berpantun  dan mampu merangkai pantun beragam tema dalam bilangan detik.

Di lingkungan masyarakat Aceh tersebut nama Syamsuddin Jalil alias Ayah Panton. Di lingkungan  masyarakat Betawi dikenal Zahruddin Ali al Batawi atau Bang Udin yang produktif menulis buku pantun Betawi. di Banjar Baru, Kalimantan Selatan dikenal Iberamsyah Barbary.

Di Minangkabau, banyak tokoh yang boleh disebut sebagai pemantun andal, dan pemumpun pantun yang produktif, antara lain adalah Hamzah Johan, N.M Rangkoto, dan lain-lain.  Di berbagai daerah lain di Indonesia, juga banyak para pemantun lainnya.

Di Malaysia, penulis dan penelaah pantun yang produktif adalah Tan Sri Datuk Seri Utama Rais Yatim (Dasury) yang kini menjabat Yang Dipertua Dewan Negara.

Di Indonesia, pantun beragam jenis, mulai dari karya-karya puitik Syeikh Hamzah Fansuri, Amir Hamzah, Raja Ali Haji (Gurindam 12), KH Hasan Mustopa (Dangding), Rumpaka dan Pantun Buhun Sunda,  Pantun Madura, sampai Pari'an Jawa.  Demikian pula halnya di Sulawesi dan Maluku (antara lain di Tidore, dikenal Kabata -- yang belakangan hari ditekuni oleh Harun A. Rahman).

Salah seorang yang produktif dan setiap hari menulis pantun adalah Direktur Utama Balai Pustaka Ahmad Fahrodji, untuk kepentingan menguatkan komunikasi antar Direktur Utama BUMN (Badan Usaha Milik Negara), termasuk sebagai konten ucapan selamat hari jadi BUMN. Menurut Fahrodji, pantun olahannya mempererat hubungan Balai Pustaka dengan BUMN lain dan bahagian dari proses kreatif menghidupkan terus Balai Pustaka.

Di Malaysia, hampir semua petinggi dan politisi di Malaysia, piawai berpantun. Di Indonesia, petinggi yang piawai dan gemar berpantun adalah Gubernur Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor, dan lain-lain. Dari kalangan politisi dan aktivis pendidikan yang juga rajin menuliskan pantun di status akun facebook adalah Achmad Zacky Siradj.

Cara mensyukuri pengesahan pantun sebagai warisan budaya tak benda, adalah menjadikannya sebagai bagian kehidupan sehari-hari. Sekaligus menggerakkan pantun sebagai produk budaya - literatif penuh hikmah, untuk menguatkan imunitas sosial budaya dari infodemi yang merusak, seperti hoax, yang diproduksi secara terencana setiap hari.

Manfaatkan pantun untuk menghidupkan kecerdasan dan kearifan budaya, sebelum informasi dan pesan wadul (hoax) merusak akalbudi warga bangsa.. | tique, delanova

Editor : Sem Haesy | Sumber : berbagai sumber
 
Lingkungan
04 Feb 21, 08:23 WIB | Dilihat : 213
Dahsyatnya Ular Betina
02 Feb 21, 09:26 WIB | Dilihat : 232
Anjing
26 Des 20, 19:59 WIB | Dilihat : 226
Tsunami Dahsyat Menggempur Aceh 1394 dan 2004
05 Des 20, 16:53 WIB | Dilihat : 274
Menghirup Udara Bersih Adalah Hak Asasi Manusia
Selanjutnya
Budaya
26 Feb 21, 10:56 WIB | Dilihat : 76
Alor, Aku Berguru Kepadamu
11 Feb 21, 09:24 WIB | Dilihat : 150
Allah Menyapa
01 Feb 21, 00:45 WIB | Dilihat : 245
Adzan Maghrib Kali Ini
09 Jan 21, 00:30 WIB | Dilihat : 599
Berpegang Adab dan Etika Hidupkan Kolaborasi
Selanjutnya