- Lagi Kita Kehilangan Putra Terbaik Bangsa

Mas idris Kembali kepada Sang Maestro Sejati

| dilihat 1342

Bang Sem

IDRIS Sardi (75) akhirnya meninggalkan kita, Senin (28/4) pukul 07.25 WIB di Rumah Sakit Meilia Cibubur – Cimanggis, Depok. Kita kehilangan ‘orang besar’ bertubuh ramping yang tak berbilang karya ciptanya di dunia musik dan ilustrasi film Indonesia. Adalah asam lambung dan liver yang menjadi musabab tibanya ajal beliau.

Saya biasa memanggilnya Mas Idris. Beberapa kali berkolaborasi, termasuk menjadi inspirasi beberapa sinetron yang saya terlibat di dalamnya sebagai creative director. Violis dan musisi besar yang tak mau disebut sebagai maestro, itu saya yakini, berpulang ke haribaan Allah SWT dalam keadaan husnul khatimah.

Beberapa tahun lalu, dalam suatu perbincangan sore di sebuah rumah di bilangan perumahan Sentul City, almarhum berbincang tentang korelasi manusia – alam – Allah. Saya bercerita tentang Einstein yang kian meyakini hakekat relativitas, usai menyaksikan seorang bocah berusia 6 tahun memainkan karya Beethoven, Turkishmart. Permainan bocah itu menyentuhkan jari jemarinya di atas tuts piano untuk suatu komposisi besar, mengingatkan dirinya pada perjalanan hidup sebagai seorang musisi. Mas idris memang mengenal biola pertama kali pada usia enam tahun. Kemudian tampil di hadapan publik untuk pertama kalinya pada usia 10 tahun (1949) di Yogyakarta.

Pada usia 14 tahun, Mas Idris sudah diterima di Sekolah Musik Indonesia (SMIND), yang baru saja dibuka tahun 1952. Ia menjadi siswa pertama bersama dengan pemain biola yang lebih tua darinya, Suyono. Tahun itu juga, Mas Idris dan Suyono telah memperkuat orkes siswa SMIND pimpinan Nicolai Varvolomejeff. Mas Idris, menjadi concert master. Mas idris belajar dari George Stett dan Henri Tordasi, yang berasal dari Hongaria.

Ayah Santi Sardi dan Lukman Sardi (dari pernikahannya dengan  Zerlita), ini memang luar biasa. Ketika berbincang sore di Sentul itu, beliau banyak mengungkapkan, bagaimana kepiawaiannya merupakan kepiawaian yang dipinjamkan Tuhan. “Bukan Idris Sardi yang patut mendapatkan sanjung puji, melainkan Allah yang telah menciptakannya dan mengalirkan bakat memainkan instrumen musik ini menjadi bermakna bagi orang banyak,” tukasnya.

Mas Idris yang di masa tuanya lebih sering mengenakan sarung dan kaos oblong, itu menjadikan seluruh kepiawaian dan bakatnya bermain biola dan musik sebagai salah satu jalan ibadah. “Saya meyakini, Allah memberikan semua ini kepada saya sebagai jalan ibadah bagi-Nya.”

Mas Idris merasa malu, ketika mendapat sanjung puji dan khalayak dan media. Karenanya ia tak mau disebut sebagai maestro. “Hanya Allah sajalah yang maestro. Saya hanya alat bagi Sang Maestro untuk menunjukkan kebesaran-Nya.”

Lama saya tak jumpa dengan almarhum. Ketika beliau tampil di Istana Budaya – Kuala Lumpur dalam suatu konser mengenang P. Ramlee, berulang kali penonton memberikan standing occasion. Ketika itu juga beliau mengatakan, semua keindahan yang ternikmati dari permainannya, adalah karena Allah. Bukan karena dia hebat.

Saya bersyukur sekali ketika mendapat kiriman buku tentang beliau yang ditulis oleh Fadli Zon. Apa yang tertulis di buku itu menggambarkan sosok beliau yang luar biasa.

Mas Idris kian tawaddu (rendah hati), hal itu dicapainya dengan kesadaran penuh mengabdikan diri dan kemampuannya untuk beribadah. Di balik pentas Istana Budaya, beliau mengingatkan saya untuk terus berkarya dan menyerahkan seluruh karya itu sebagai ibadah. “Suatu ketika kita akan berpulang kepada Sang Maestro, sebagai hamba yang telah diberi-Nya kemampuan yang menjadi jalan ibadah,” serunya.

Akhirnya, Mas Idris memang sungguh berpulang menuju kepada Sang Maestro sejati. Allah Yang Maha Indah dan menyukai keindahan. Kita kehilangan putera terbaik bangsa ini, kita kehilangan seorang guru yang keras, tegas, dedikatif, dan tak pernah berhenti berbagi ilmu. Semogalah, Allah SWT menempatkannya di taman indah Surgawi.. |

Editor : administrator
 
Budaya
20 Jul 20, 00:16 WIB | Dilihat : 264
Dimensi Kata di Tangan Sapardi Djoko Damono
06 Jul 20, 09:30 WIB | Dilihat : 383
Puisi, Pandemi dan Kisruh Logika Publik
Selanjutnya
Humaniora
09 Agt 20, 14:49 WIB | Dilihat : 256
Meminjam Taji Dato Jalil Ali
29 Jul 20, 14:08 WIB | Dilihat : 127
Mencandai Masa Depan
Selanjutnya