Yesmil Anwar Bunga Ilalang di Tepian Zaman

| dilihat 199

N. Syamsuddin Ch. Haesy

Salah satu dari begitu banyak kelemahan saya dalam merenangi dunia sastra, khasnya puisi, adalah sikap persisten. Hanya pada masa belia, sekitar dekade 70-an saya konsisten menulis puisi dan mempresentasikannya dalam berbagai ajang baca puisi.

Kemudian, dalam hidup saya, puisi dan keluarganya ( pantun, sonet, haiku, rubaiyat, dan lainnya) hanya menjadi katarsis, ketika menghadapi tekanan hidup yang berat.

Saya meninggalkan dunia kata-kata dan bersibuk diri dengan dunia angka-angka. Lantas berusaha mengawinkan kata dan angka, yang belum sepenuhnya serasi hingga kini.

Dengan cara demikian, saya penuhi kewajiban sebagai suami dan ayah.

Belakangan dunia kata seperti memanggil-manggil. Dunia kata menawarkan hamparan ilalang, étendue de roseaux, yang memberi nilai artistik - estetik - etik bagi jalan kehidupan.

Saya ingin menjadi bagian dari insan yang berkontribusi mengelola vegetasi sisi jalan kehidupan yang terintegrasi. Supaya hidup di usia lanjut, tak menjadi gulma kehidupan.

Menjadi bagian dari rimba ilalang itu penting, setidaknya untuk menjaga, agar tepian jalan tak mudah terkena erosi dan tak pula bermasalah kala mengalami kualitas air penghidupan yang surut.

Dalam situasi semacam itu, saya dipertemukan Tuhan dengan Yesmil Anwar, sastrawan yang hobi mengajar ilmu hukum di Fakultas Hukum - Universitas Padjadjaran - Bandung.

Yesmil memberi saya tiga buku : satu buku puisi, dua buku kumpulan haiku, karyanya. Sastrawan yang memanfaatkan waktu mengajar dan melakukan advokasi kepada khalayak ramai, adalah bunga ilalang kebajikan.

Sangat pantas, Yesmil menerbitkan buku kumpulan haiku bertajuk Bunga Ilalang, Flower of the Prairie. Lewat karyanya, itu saya beroleh inspirasi dan keyakinan, bahwa menjadi bagian dari rimba ilalang kebajikan dalam hidup adalah kewajiban, untuk memenuhi hak siapa saja - khasnya anak dan cucu - melaju di jalan kehidupannya.

Rimba ilalang -- saya tak mau menyebutnya dengan istilah belukar -- menyediakan isyarat-isyarat bagi generasi baru - anak dan cucu, tentang kendali gulma kehidupan, sekaligus menyimpan fenomena perubahan yang lentur. Terutama, ketika badai datang kapan saja. Termasuk 'melindungi' generasi baru - anak cucu dari anomali musim, iklim yang terus berubah. Meski tetap berada di tepi. Tepian zaman.

Menjadi bunga ilalang dalam pandangan semacam itu, adalah sesuatu. Karena ada kewajiban lain : menawarkan isyarat harmoni artistik - estetik - etik sebagai satu kesatuan yang indah.

Yesmil menulis :

(1)

Kepompong jatuh

Lingkaran riak air

Kupu mengapung

 

(2)

Di ujung ranting

Angin musim penghujan

Jendela jiwa

 

(3)

Kubawa pulang

Embun di ujung jari

Menjelang fajar

Tiga haiku itu menjelaskan kepada saya, sebagai penikmatnya, betapa di tengah era perubahan musim yang anomali dan nyaris tanpa arah, seorang haijin diperlukan untuk memberi isyarat non empiristik kepada generasi baru - anak cucu yang sedang bergerak melaju di jalan kehidupan.

Haiku adalah puisi Jepang yang mendunia. Berbeda dengan karya puisi lain, haiku membatasi dirinya dengan struktur dan format penulisan yang ketat, hanya dalam 17 suku kata.

Haiku merupakan karya puisi yang memberi makna mendalam sebagai ruh kata, yang menyadarkan kita, pesan yang mendalam dan asasi bisa disajikan dalam kesederhanaan, keterbukaan, kedalaman, dan ringan.

Persis seperti esensi filosofi sebagai bukan sesuatu yang rumit dan njelimet. Format dan strukturnya menarik : 17 suku kata, terdiri dari tiga larik 5-7-5 (lima suku kata pada larik pertama, tujuh suku kata pada larik kedua, dan 5 suku kata pada larik terakhir). Dan berinteraksi kuat dengan metafora. Berorientasi waktu.

Tiga haiku karya Yesmil yang saya kutip di atas, diambil dari antologi haiku-nya bertajuk Bunga Ilalang.

November 2017, Yesmil memberikan buku ini pada saya, dan saya nikmati, kala berkunjung beberapa pekan di Jepang. Dalam perjalanan dari Tokyo ke Osaka, di dalam shinkansen - kereta api super cepat - saya bacakan beberapa haiku Yesmil untuk teman saya, Akiko, yang studi kebudayaan Melayu.


Dia berdecak, merasakan suasana batin dan refleksi Yesmil pada ketiga haiku itu. Saya bacakan lagi beberapa haiku Yesmil untuknya. Begini :

(1)

Kereta malam

Rel bersimbah cahaya

Bulan Tergilas

 

(2)

Suara sunyi

Kabut turuni lembah

Malam memekat

 

(3)

Bulan terlantar

Mengambang sendirian

di Ranjang Malam

 

(4)

Bulan berombak

Sisik ikan di langit

Cahaya malam

Sebagai seorang haijin, Yesmil sangat piawai menempatkan haiku, bukan hanya sebagai medium ekspresi. Yesmil membuat haiku laksana cakrawala untuk berinteraksi dengan realitas semesta, mempertautkan mimpi cerah dan mimpi gulita (light dream dan dark dream).

Semesta memang memberikan kemungkinan mimpi semacam itu, agar manusia tak takluk dilambung ilusi, tak bertekuk di kubangan fantasi, dan selalu punya keberanian merenangi imajinasi yang luas tak berbatas, jauh tak berujung.

Sebagai akademisi - intelektual berbasis ilmu hukum, spirit haiku menjadi terasa dalam 'genggaman' Yesmil. Secara historis, haijin (penyair haiku) adalah samurai. Haijin paling berpengaruh di Jepang, menurut Akiko, adalah Basho, seorang Samurai (1644-1694) dari provinsi Iga.

Matsuo Basho mempelajari gaya penulisan haiku dari patron-nya. Pertama kali dia menulis haiku dengan nama Sobo. Basho yang wafat di Osaka pada 1694, mengembara ke berbagai pelosok Jepang dan mengembangkan karya-karya haikunya.

Haiku terpelihara, sejak keteguhan Basho, dilanjutkan oleh Yosa Buson, Kobayashi Issa, dan Masaoka Shiki. Sejumlah penyair modern pun tertarik dengan haiku, seperti Robert Hass, Paul Muldoon, dan Anselm Hollo.

Di Indonesia, komunitas haiku bertumbuh menjadi persaudaraan yang produktif dan kreatif, dipandu Diro Aritonang, penyair Bandung, Yesmil, dan kawan-kawan.

Karya-karya haiku Yesmil dalam antologi Bunga Ilalang, merefleksikan pemahaman asasi tentang haiku sebagai deskripsi imajinasi yang mudah dipahami. Tak bertumpu hanya pada paduan nalar dan naluri (think dan instink), tetapi juga merambah harmoni rasa (sense) dan indria (feel).

Membaca haiku yang terhimpun dalam antologi ini, saya terantuk pada interaksi imajinasinya dengan realitas empiris kehidupan kita berbangsa sejak dua atau tiga dasawarsa mutakhir. Hidup bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa yang gaduh, dan enam tahun terakhir makin terasa kehilangan cinta.

Rumput cemberut

Air lama tak apel

Cinta mengering

Secara konotatif dan denotatif, membaca haiku ini, terasa ngilu, seperti kulit terseset sembilu. Sulit mencari siapa panutan yang bisa menyegarkan kembali kebiasaan dan tradisi kita merawat cinta, ketika media (mainstream ataupun medsos) telah menjadi ladang pembantaian estetika dan etika sosial. Dan, kita ditinggalkan akalbudi.

Haiku mengandung kigo, kosakata yang mengekspresikan dimensi waktu, tempat musim bersemayam. Haiku bersanding dengan gambar sebagai deskripsi proxi bahasa teks dengan bahasa visual.

Haiku karya Yesmi itu juga menunjukkan kesetiaannya menempatkan haiku sebagai frasa pembuka renga, yang ketika dibacakan, lebih terasa mengalirkan keindahan estetika kata dalam lisan.

Haiku secara tradisional ditulis dalam bentuk waktu sekarang dan berfokus pada asosiasi di antara gambar-gambar. Ada jeda pada akhir baris pertama atau kedua, dan "kata musim," atau kigo, yang ditentukan sepanjang tahun.

Boleh jadi, secara format dan bentuk haiku bisa berevolusi, kendati filosofinya abadi. Yesmil setia dengan bentuk yang dikembangkan Basho. Haiku Yesmil tetap menyediakan ruang ketangkasan bagi pembacanya untuk menangkap ruang pencerahan, buncah kebajikan, lewat pilihan kosa kata yang bertenaga. Semua bisa mengalir dalam satu tarikan nafas, pun begitu saat membacanya.

Saya membayangkan para wiseman - orang-orang bijak yang pergi satu-satu dan meninggalkan negeri ini dengan renjana kehidupan yang gagal disajikan dalam era inflasi petinggi, karena miskin pemimpin negarawan. Yesmil menulis :

sendiri saja

berjalan dalam hujan

menatap kelam

Dan.. ketika begitu banyak persoalan dihadapi dengan alasan seraya meninggalkan cara untuk mengatasinya, yang ada hanyalah senyap yang membekap. Seperti ditulis Yesmil :

pohon kamboja

diguyur air hujan

makam ibunda

Dalam situasi itu, bunga ilalang menjadi isyarat, bila kita terus lupa dengan hakekat dan fungsi insani kita, mimpi kolektif menjadikan bangsa ini sebagai sesuatu, akan hanya menjadi mimpi.

Bunga Ilalang

Dihembus angin pagi

Terbang melayang.

 

Segeralah tersedar, kembali ke jalan utama kehidupan lagi. Jalan panjang berujung cita-cita kolektif.

azan memanggil

langkah kaki ke masjid

jalan terjauh.

 

(Dago Pakar, 22 Oktober 2018)

Editor : sem haesy
 
Budaya
Seni & Hiburan
24 Nov 18, 19:07 WIB | Dilihat : 262
AJP2018 dan Kaus Kaki Hesti
29 Okt 18, 22:01 WIB | Dilihat : 368
Hujan dan Emak Emak Suburkan Spirit Melayu di JMF 2018
29 Okt 18, 15:57 WIB | Dilihat : 281
Ibu Ajari Aku Menangis
Selanjutnya