Pasar Seni Ancol

Terbang di Samodera Berenang di Udara Diiring Tembang Cinta Chrisye

| dilihat 633

Catatan Sém Haésy

Saya masih kurang fit, ketika Jum'at (29/3/19) malam, datang ke Pasar Seni - Ancol. Karenanya tiba di lokasi agak terlambat. Beberapa hari sebelumnya -- sesuai anjuran dokter -- saya lebih banyak istirah, bermain dengan cucu yang kebetulan datang.

Ketika melangkah di bawah cahaya lelampuan dan menyaksikan seniman Pasar Seni mengekspresikan fantasi mereka dalam kanvas lukisan yang artistik dan atraktif, musik yang dimainkan Anwar Fauzi dan Seroja Band, sudah memainkan salah satu lagu yang pernah dipopulerkan Chrisye.

Malam itu, K2C (Komunitas Kangen Chrisye) yang diwakili Gideon dan Gita Cinta yang diwakili Geiz Chalifah, bekerjasama dengan Pasar Seni dan Jaya Ancol (yang menyediakan tempat) menggelar peringatan ke 12 tahun berpulangnya penyanyi legendaris Indonesia Chrisye, yang mashur dengan lagu-lagu cintanya.

Baru duduk di salah satu kursi taman, di sebelah Sofhian Mile, mantan Bupati Luwuk Banggai dan Ade Adam Noch, mantan petinggi Kementerian Tenaga Kerja -- para pecinta Chrisye -- mengalun lagu favorit saya, Merpati Putih didendangkan dengan apik oleh Butong, dengan sentuhan cengkok melayu pada satu dua larik syairnya.

Pemain akordion dengan suaranya yang khas, itu menghadirkan lirik lagu itu dengan 'bahasa hati,' yang menyentuh: "Mengering sudah bunga di pelukan/Merpati Putih berarak pulang/Terbang menerjang badai/Tinggi di awan/Menghilang di langit yang kelam."

Ah.. Terulang kenangan masa lampau, masa muda, ketika masih sering bertandang ke Pasar Seni, berpuluh tahun lalu. Syair lagu Merpati Putih, itu seolah membuka cindai penutup tambo kehidupan yang sangat pribadi. Kisah cinta putus sambung selama tujuh tahun, bergerak antara optimisme hidup dan realitas pertama yang akhirnya mewujud pada pernikahan.

Khasnya, ketika syair: Selamat berpisah kenangan bercinta/Sampai kapankah jadinya/Aku harus menunggu/Hari bahagia seperti dulu, digumamkan. Lantas menjelma menjadi kenyataan,"Bersama kasih kembali mesra/Bercumbu lagi memadu satu/Janji berjuta bintang/ Dalam pelukan/Sehangat pagi yang terang." Kehidupan rumah tangga selama tuga dasawarsa, sampai akhirnya Tuhan memisahkan dengan kematian.

Saya berdiri sesaat, menyaksikan dari kejauhan. Tubuh yang belum fit sempat terguncang sesaat.

Suasana berubah, ketika Syeina Malshiana dengan kepiawaiannya mendendangkan lagu Hip Hip Hura Hura menghadirkan rentak dan hentak yang menyeret pada kenangan masa belia, ketika setiap Sabtu malam, berkeliling rumah para teman yang bergantian berulang-tahun, dan menghabiskan malam dengan pesta disco kemasan sendiri di rumah.

Ekspresi kegembiran belia yang bersentuhan dengan rima-rima cinta: Di malam minggu/Ku pergi ke pesta/Pesta meriah/Ulang tahun kawanku//Semua yang datang bergaya ceria/Berdansa dan gembira/Di tengah pesta kulihat si dia/Lincah gayanya dandanan masa kini/Ingin hatiku mencium pipinya/Tapi malu rasanya//Oh hip hip hura hura/Aku suka dia, suka dia/Aku jatuh cinta, jatuh cinta/Dia menanti cinta bersemi di hati//Di tengah pesta kulihat si dia/Lincah gayanya dandanan masa kini/Ingin hatiku mencium pipinya/Tapi malu rasanya//Oh hip hip hura hura/Aku suka dia, suka dia/Aku jatuh cinta, jatuh cinta/Dia menanti cinta bersemi di hati//Oh hip hip hura hura/Aku suka dia, suka dia/Aku jatuh cinta, jatuh cinta/Sungguh suka dia, suka dia//Sungguh jatuh cinta, jatuh cinta/Dia menanti cinta bersemi di hati/Di hati ada cinta//Oh hip hip hura hura/Aku suka dia, suka dia/Aku jatuh cinta, jatuh cinta/Sungguh suka dia, suka dia/Sungguh jatuh cinta, jatuh cinta//Hura hura/Aku suka dia/Aku jatuh cinta//

Suasana kehidupan belia di kawasan Menteng dan Kebayoran Baru - Jakarta, hadir kembali seketika dalam benak. Tak terasa, saya segera berdiri, dan ikut menggoyang kaki. Sambil masuk ke dalam fantasi masa belia. Blas.. di benak melintas adegan flashis: Cipersemar - ciuman pertama sebelas maret. Seketika itu juga bermunculan wajah-wajah teman masa belia, yang sebagian sudah mendahului, meninggalkan dunia. Tentu, allahyarham isteri saya.

Suasana itu terjaga, ketika Takaeda melantunkan tembang Anak Jalanan. Sekelebat melintas wajah sahabat, Teguh Esha penulis novel Ali Topan Anak Jalanan. Anak-anak kami melanjutkan persahabatan, itu. Lirik lagu itu, merasuk, mengulang ingat dinamika belia masa itu. Masa perubahan era, menyusul perubahan teknologi tabung elektrik menjadi transistor, era ketika lagu-lagu The Beatles, The BeeGees, sampai The Rolling Stone dan Cat Steven, bahkan Deep Purple menguasai mind and soul, termasuk nilai-nilai baru yang dibawanya.

Anak jalanan kumbang metropolitan/Selama ramai dalam kesepian/Anak Jalanan korban kemunafikan/Selalu kesepian di keramaian//Tiada tempat untuk mengadu/Tempat mencurahkan isi kalbu/Cinta kasih dari ayah dan ibu/Hanyalah peri yang palsu//Anak perawan kembang metropolitan/Selalu resah dalam penantian/Anak Perawan korban keadaan/Selalu menanti alam keresahan//Tiada restu untuk bertemu/Restu menjalin hidup bersatu/Kasih sayang dari ayah dan bunda/Hanyalah adat semata//Tiada waktu untuk bertemu/Waktu berkasihan dan mengadu/Karena orang tua metropolitan/Hanyalah budak kesibukan/Anak jalanan metropolitan/Anak jalanan metropolitan//

Segera kembali terbayang era gaya hidup Hippies mulai menjalar (belakangan diikuti oleh komunitas Punk), musim berkemah ke Gunung Gede dan Pangrango dan juga Merbabu. Disusul era sikap kritis secara sosial berkecambah dan aktivitas kampus menawarkan beragam aksi dengan beragam pemikiran baru yang dipicu intelektualisme.

Itulah periode kehidupan sosial menghadirkan kesadaran baru tentang ketimpangan sosial, yang diekspresikan secara kreatif lewat pentas teater, pergelaran musik, baca puisi dan lainnya. Periode pemberontakan diekspresikan lewat pacu sepeda motor dari Ancol ke Blok M, dengan hanya mengenakan singlet dengan deru knalpot yang memekakkan telinga.

Ritme pergelaran malam itu dengan rundown musik dan lagu yang mengikuti psychoritme terjaga, komposisi musik garapan Anwar Fauzi yang keren, memadu padan denting piano, deru keyboard, lengking gitar melodi, dentang petikan gitar akustik, akordeon, drumb dan gendang tiong, serta gesekan biola. Komposisi yang kaya, dan memungkinkan Butong, Anwar Fauzi, Henri Lamiry, dan Ade berekspresi maksimal.

Dan.. Tom Salmin yang biasa mendendangkan lagu-lagu Latin, menghadirkan beberapa nomor lagu Chrisye (antara lain Selamat Jalan Kekasih), mempermainkan perasaan. Pun, begitu ketika Alvin Habib, Nong Niken, Bonita, Darmansyah, dan Takaeda menghadirkan sejumlah lagu hit, seperti Cinta, Kisah Kasih di Sekolah, Sakura dalam Pelukan, dan lainnya. Semua terangkai dalam konsep pergelaran yang digarap langsung Geisz Chalifah. Ferry Mursidan Baldan penggagas acara ini berhalangan hadir karena kesibukannya dan ada acara keluarga yang tak bisa ditinggalkan.

Bonita dengan suara dan penampilannya yang khas menghadirkan Badai Pasti Berlalu dengan apik. Sebelum akhirnya pergelaran ditutup dengan Pengalaman Pertama yang diubahsuai Chrisye dari lagu A. Rafiq yang meramu beat pop dan dangdut, itu Takaeda melantunkan lagu spiritual Chrisye yang tiada banding, "Ketika Tangan dan Kaki Berkata."

Saya terhenyak menyimak lagu ini, sambil membayangkan momen ketika esensi syair lagu ini menjadi kenyataan, karena setiap manusia akan mengalaminya.

Akan datang hari/Mulut dikunci/Kata tak ada lagi//Akan tiba masa
Tak ada suara/Dari mulut kita/Berkata tangan kita/Tentang apa yang dilakukannya//Berkata kaki kita/Kemana saja dia melangkahnya/Tidak tahu kita/Bila harinya/Tanggung jawab, tiba...//

Akan datang hari/Mulut dikunci/Kata tak ada lagi//Akan tiba masa/Tak ada suara/Dari mulut kita/Berkata tangan kita/Tentang apa yang dilakukannya/Berkata kaki kita/Kemana saja dia melangkah pergi/Tidak tahu kita/Bila harinya/Tanggung jawab, tiba...//

Akan datang hari/Mulut dikunci/Kata tak ada lagi/Akan tiba masa/Tak ada suara/Dari mulut kita/Berkata tangan kita/Tentang apa yang dilakukannya/Berkata kaki kita/Kemana saja dia melangkahnya/Tidak tahu kita/Bila harinya/Tanggung jawab, tiba...//

Seketika terbayang wajah allahyarham isteri, lantas berganti bayangan diri, kala tubuh terbujur kaku di pembaringan sunyi. Terbayang, betapa masih sangat sedikit yang dilakukan dalam hidup untuk sampai ke momen paling dramatis dalam kehidupan manusia itu.

Saya melangkah meninggalkan Pasar Seni, malam itu, dengan suasana hati lain. Seolah terbang di samodera, berenang di udara. Tembang cinta Chrisye mengalirkan kenangan hari kemarin, rasa syukur hidup hari ini, dan perenungan untuk melangkah ke hari esok, ke hari yang tak mudah dibayangkan.

Memaknai hakekat sunyi di tengah keramaian, menyimak keramaian (riuh, bahkan gaduh) di tengah hening sunyi. Hidup harus terus bergerak, menggerakkan perubahan ke arah lebih baik, hingga tiba di penghujung dalam keadaan husnul khatimah.. |

Editor : Web Administrator
 
Energi & Tambang
Seni & Hiburan
25 Mar 19, 17:31 WIB | Dilihat : 578
Dangdut dan Betawi dalam Minda Musika Chrisye
12 Mar 19, 13:09 WIB | Dilihat : 438
Mengenang Chrisye Merawat Cinta di Ancol
12 Mar 19, 13:37 WIB | Dilihat : 416
Hadapi dengan Senyuman
Selanjutnya