Serangan Cinta dari Utara

| dilihat 201

Puisi-Puisi Gus Nas

 

SERANGAN CINTA DARI UTARA

 

Cukuplah puisi membidik hati

Biarkan rindu menusuk kalbu

 

Tapi serangan cinta dari utara

Membuatku merana

Menjadikan bait-bait puisiku meregang cinta

 

Kucari pagar mantra

Tapi buluh perindu ini membuatku terlena

Sebab kilau senyumnya yang seindah seribu bunga

Dan bibirnya yang semerbak puisi

Adalah mabukku pada secangkir arak dunia

 

Serangan cinta dari utara

Membuat syair-syairku siaga

Tak akan kuserahkan perih rindu ini

Walau senja terus menggoda

 

[Gus Nas Jogja, 29 Oktober 2020]

 

SUMPAH PEMUDA

 

Kepada para pemuda dan pemudi Indonesia

Yang sibuk bernyanyi di kamar mandi

Yang tangannya menggapai ke langit

Tapi jiwanya hampa menggantang asap di cakrawala

Puisi ini kutulis sebagai sumpahku

Kupahat daulat nusa-bangsa-bahasa di seluruh bait dan stanza lagu Indonesia Raya

 

Bangunkan jiwa bangsa ini

Di atas kaki-kaki kokoh budi pekerti

Ketika bangunan megah menjulang tinggi

Hanya menggusur tanah fakir miskin pemilik bumi Ibu Pertiwi

Ketika etalase gemerlap runmh-rumah kaca

Hanya memantulkan perih dan luka anak-anak bangsa

 

Bangunlah badanmu wahai pemuda

Di atas puing dan reruntuhan ideologi

Ketika demokrasi dan khilafah terus bersaing berebut simpati

Tatkala kerajaan baru tumbuh bersemi

Untuk memuaskan halu diri sendiri

 

Carilah Sumpah Palapa di dalam lagu Indonesia Raya

Carilah nada Indonesia Raya dalam Sumpah Palapa

Apakah nusa dan bangsa masih bergemuruh di sana?

Apakah kebangsaan masih menjadi partitur permata para pemuda?

 

Ataukah ia hanya tinggal retorika yang tak lagi menginjakkan kaki di bumi Indonesi?

Inflasi logika dan defisit aksara

Surplus gincu dan kebencian merebak tak tentu rimba

 

Sumpah ini kutulis kembali menjadi bait-bait mantra dalam pena puisi

Pada bendera merah-putih yang berkibar malu-malu setengah hati

 

Sebab Sumpah Pemuda di Zaman Now ini

Telah dikalahkan oleh sampah kata-kata pada poster-poster Pilkada

Dan menghadirkan milenial manja yang hanya jago main game saja

 

Satu Nusa telah dikebiri oleh partai-partai politik dimana-mana

Satu Bangsa hanya slogan kosong

Dan dilecehkan oleh fatwa membabi-buta untuk kemenangan golongannya

 

Kebangsaan sudah terasing di negeri sendiri

Nasionalisme termangu-mangu dan tanpa daya

Terusir oleh suara gaduh dan genderang demo tak henti-henti di Ibukota

 

Atas nama kelompok dan sempalan partisan dalam agama dan idiologi

Atas nama daya kritis atau sakit hati

Anarkisme menari-nari menaburkan duri

 

Hari ini kutulis kembali Sumpah Pemuda ini

Di kedalaman palung gurindam dan lautan puisi

Agar gelombang kebangsaan bergetar kembali di dalam samudera nurani

 

Dengan Sumpah Pemuda ini

Kubangunkan kembali bahasa Indonesia yang telah terkubur sekian lama

Bahasa Indonesia yang telah lama terkilir dalam nyinyir

Dan membuahkan sampah retorika

Bahasa Indonesia yang telah kehilangan energi

Pada esensi maknanya

Bahasa Indonesia yang seharusnya merdeka

Dari penjajahan dalil dan fatwa

Bahasa Indonesia yang lahir kembali menjadi puisi dan warisan tak benda

 

Bahasa Indonesia yang dibebaskan dari penjara retorika orang-orang yang fakir literasi

Yang tak pernah membaca tapi pidato berbuih-buih dan berkhotbah dimana-mana

Tanpa berpegang data

Hanya menyebar ghibah semata

 

Wahai Kaum Muda dalam pelukan dusta janji Pilkada

Bangunlah kalian semua

Lihatlah dengan mata hati dan mata jiwa

Darurat korupsi dan dan darurat narkoba

Sudah mengepung kota dan desa

 

Sudah saatnya Ibu Pertiwi terjaga dari nikmat syahwat dalam mimpinya

Bangunlah jiwamu wahai putra-putri Indonesia

Bangunlah ragamu agar siap siaga menendang bola dunia

 

Di tangan kananmu wahai para pemuda

Ada obor menyala untuk membakar surga

Sedangkan di tangan kirimu

Ada seember air untuk memadamkan api neraka

Laksanakan amanah sejarah ini

Agar gairah hati pada Ibu Pertiwi terus menyala

 

Tulislah cinta pada teks Sumpah Pemuda

Tulislah cinta pada teks Pancasila

Tulislah cinta teks UUD 45

Tulislah cinta pada bendera merah-putih dan burung garuda

 

Merdeka!

 

Gus Nas Jogja, 28 Oktober 2020

 

SYAHADATAIN

 

Kucari Sekaten dalam bait-bait gurindamku

Saat alun-alun utara Jogja semakin membisu

Ketika nasi uduk di selasar Masjid Gede Kauman tak kunjung kutemu

 

Kenapa Jogja hanya menyisakan hampa?

Gamelan Kyai Guntur Madu seperti sudah berlalu

Dan Kyai Sekati mulai kehilangan gema di dalam detak jantungku

 

Kucari suara Al Barzanji di antara reruntuhan puing-puing puisiku

Tradisi leluhur yang penuh arti saat merayakan Maulid Nabi

 

Bukankah Sekaten itu asal-muasalnya adalah Soko Ati?

Pilar kalbu sejati agar dua syahadat itu tetap lekat di sepanjang waktu?

 

Kurenungkan kembali bait-bait Syahadatain dalam dzibaan rindu

Seperti saat Sultan Agung mengucap maklumat agar alun-alun Kerto tak tumbuh benalu

Agar Grebeg Maulid dirayakan untuk mengasihi anak-anak yatim dan para piatu

 

Lihatlah Jogja hari ini

Masih adakah ketajaman ruhani memaknai tradisi

Mensedekahi fakir-miskin di kanan-kiri agar makna Al Ma'un makin berarti?

 

Jika tradisi dan paugeran sudah dianggap basi

Adakah jati diri dan harmoni kawula-gusti akan tumbuh bersemi?

 

Sudah saatnya Jogja mawas diri

Menatap awas dan waspada pada diri sendiri

Sebab warisan budaya dan warisan tradisi tak hanya kosmetika purbakala tanpa arti

 

Sudah waktunya Jogja mengheningkan cipta

Sebab generasi milenial yang buta peta masa lalu tak akan menemukan kecerahan masa depannya

 

Gus Nas Jogja, menjelang Grebeg Maulid 1442 Hijriah

 

TANAH PABELAN

Ode untuk Ajip Rosidi

 

Kutemukan sisa usia itu di Tanah Pabelan

Pada lelaki yang mewakafkan hatinya pada keindahan

 

Dari Majalengka mata air itu mengalir

Menjadi anak-anak sungai yang membasahi hati

Mempertemukan Sunda dan Jawa dengan cinta

 

Begitu setia ia mencatat gerak-gerik rindu

Begitu perkasa ia mengasah sejarah masa lalu

Dan di Tanah Pabelan ia pahat prasasti menjelang takbir Idul Adha

 

Ada air mata bercampur doa dalam puisi ini

Saat setangkai bunga gugur di taman hati

 

Selamat jalan, Kang Ajip

Perjuanganmu mengalirkan mata air cinta tak mungkin sia-sia

Dengan kelembutan doa ini kuharumkan namamu dalam puisiku

 

Gus Nas Jogja, 29 Juli 2020

 

TUGU PROKLAMASI

 

Tak ada Sukarno dan Hatta di sini

Jejak juang dwi-tunggal itu telah lama sirna dari sejuk sanubariku

Yang tersisa hanya taburan debu dan patung perunggu

 

Pidato Bung Karno yang memuntahkan deburan ombak laut selatan itu terus kucari di sini

Tapi yang kudengar hanya suara-suara cemas sudah mulai berkemas

Pekik merdeka menjelma rintih jelaga

 

Kepada Bung Karno aku bertanya

Dimana wajah Marhaen dan senyum Sarinah itu kini berada?

 

Kenapa para elite politik itu kian sontoloyo?

Kenapa para kawula alit itu terus menyantap galau?

Dimana penyambung lidah itu menyembunyikan batang hidungnya?

 

Kepada Bung Hatta kubisikkan suara sanubariku

Tentang koperasi yang kehilangan harga diri

Tentang sokoguru ekonomi yang ditebang habis kaum serakah yang tanpa urat malu?

 

Di Tugu Proklamasi hanya tersisa suara sukmaku yang parau

Suara renta yang terbata-bata mengeja luka

 

Inikah gotong royong yang diperas jadi ampas

Eka Sila yang gemetar menerjemahkan dirinya?

 

Gus Nas Jogja, 17 Agustus 2020

 

GENERASI GOOGLE

 

Generasi google telah lahir dengan bermilyar wajahnya

Manusia virtual yang menghabiskan waktu dengan gadget

Dan menjadikan viral sebagai berhala

 

Masih adakah ruang rindu di rumah jiwaku?

Masih adakah tahta cinta di singgasana kalbuku?

Aku bertanya pada jutaan whatsapp dan instagram dengan suara terbata

 

Sepertinya baru kemarin mesin ketik tua itu menemaniku bekerja

Bersama tumpukan buku-buku tebal dan ensiklopedia

 

Sepertinya baru kemarin kutulis namaku pada papan sabak

Dengan grip yang kuruncingkan pada ujungnya

 

Sepertinya baru kemarin kutulis surat-surat cinta

Pada kekasihku yang kini entah dimana

Dengan kertas putih bergaris-garis dan ballpoint warna biru yang sarat kenangan lama

 

Kini semua episode penuh cinta itu telah sampai pada ajalnya

Melodrama telah digantikan budaya cadas yang serba tergesa

 

Kini sarapan pagi tak perlu dicerna

Makan siang selalu tertunda oleh meeting dan sejenisnya

Makan malam digantikan temu klien di ruang hampa

 

Manusia macam apa aku ini

Lalai pada petani yang menanam padi dan sayur-mayur untuk menu makananku

Lupa pada nelayan yang menjaring ikan untuk lauk-paukku

Khilaf pada buruh kasar yang setia melayani aneka macam kebutuhan hidupku

 

Generasi millenial yang gagal paham pada sejarah

Yang tumpul rasa pada kemanusiaan

Yang turun ke jalan dengan idiologi buta berkubang anarki

 

Ataukah aku hanya meniru generasi tua yang kehilangan marwahnya?

Generasi tua yang tuli budaya

Generasi tua yang pongah dalam beragama

Generasi tua yang gagal-total mewujudkan keteladanan sebagai negarawan dan bapak bangsa

 

Generasi google telah tiba

Bermental genit-genit manja dan kadangkala sontoloyo tingkah lakunya

Penuh topeng pada statusnya

Waspadalah!

 

Gus Nas Jogja, 28 Oktober 2020



KOLOM PUISI ini terbuka untuk siapa saja yang gemar berekspresi lewat puisi. Sesuai dengan standar norma artistika, estetika dan etika, puisi-puisi yang wajar. Merdeka berkreasi tanpa melukai. Layangkan via email : nhaesy@yahoo.com | [Ma'af sebelumnya puisi yang dimuat belum beroleh imbalan]

Editor : Sem Haesy
 
Seni & Hiburan
26 Jan 21, 20:24 WIB | Dilihat : 79
Linda Kiani Sang Kejora
24 Jan 21, 22:26 WIB | Dilihat : 113
Rubaiyat Kiamat
27 Des 20, 21:12 WIB | Dilihat : 234
Nyanyian Ombak
26 Des 20, 14:10 WIB | Dilihat : 137
Apa Kabarmu Ibu
Selanjutnya
Energi & Tambang