Pesona Lipet Gandes dan Topeng Jantuk

| dilihat 552

Catatan Bang Sém

Bunyi tetabuhan nayaga gambang kromong melantun dalam irama ritmis. Sesekali lengking string tehyan menyayat, memberi ilustrasi adegan.

Di pentas teater kecil Taman Ismail Marzuki malam, itu digelar salah satu produk budaya, ekspresi seni pertunjukan Lipet Gandes. Dimainkan tiga pelakon yang mengekspresikan performa masyarakat sub urban dengan tarian rakyat yang memikat, iringan musik yang kompatibel dengan adegan 'alan-alan' sebabak.

Para penari dan pelakon dari Sanggar Ratnasari pimpinan Sukirman Kisam, ini menarik. Karlin, penari Topeng yang mengawali pertunjukan, sangat menguasai gerak dan lenggang, yang selain luwes juga tangkas. Penari lainnya, Herry Ujang punya kemampuan olah tubuh yang luwes dan harmonis dengan irama musik gambang kromong yang mengiringinya.

Dialog keduanya, kala menjelaskan even Pekan Sastra Betawi dengan tema besar Lokalitas Metropolitan, cerdas dan punya nilai improvisatorik yang pantas dipujikan. Kenes, spontan, dan lucu. Interaksi keduanya dalam berdialog nyaris tanpa jeda dengan gaya ungkap parodial yang mengundang gelak.

Tak ada kesan mereka melucu, tetapi lucu. Ini format teater rakyat yang punya jejak historis panjang, sebagai produk asimilasi sekaligus akulturasi yang menandai, kebudayaan Betawi mempunyai nilai kosmopolitanitas yang khas. Bebas dan merdeka dari pakem tari topeng asalnya, sesuai dengan ekspresi egaliterianisma - keterbukaan dan kesetaraan yang menjadi ciri khas Betawian.

Performa Lipet Gandes, membuktikan kecerdasan lokal masyarakat Betawi dalam mengekspresikan dinamika dan interaksi sosial masyarakat sub urban. Selebihnya adalah mampu menghadirkan kontras (paling tidak kosntum penari perempuan yang kaya warna dan pernik dengan kostum penari lelaki yang sederhana) secara harmoni.

Lantas, tampil sajian Topeng Jantuk. Juga dari sanggar yang sama. Teater tradisi yang tumbuh berkembang di wilayah hinterland Jakarta pada abad ke 19, ini merupakan lakon pendek.

Tentu lebih teateral dibanding Lipet Gandes. Spontanitas yang tangkas pemain dan para nayaga yang juga berlakon, menunjukkan kecerdasan pemainnya. Pemeran Bapak Jantuk, sepanjang pertunjukan memikat penonton. Terutama keleluasaannya berinteraksi. Tak hanya dengan nayaga, tetapi juga dengan penonton.

Pesan moral kehidupan berkeluarga yang ditampilkan dalam dialog, tak kehilangan makna, meski dalam interaksi spontan yang cepat dalam dialog memancing bahak. Saya meyakini, tak semua pelucu bisa memainkan adegan yang terlihat sederhana itu.

Agak lebih 'menghunjam' dibanding Lipet Gandes, sajian kreatif Topeng Jantuk Sanggar Ratnasari, Ciracas malam itu, mampu menghadirkan dark commedy yang mengundang gelak. Bahkan ketika kegetiran hidup dan lengking tekyan yang mengekspresikan realitas hidup yang 'perih.'

Sosok Bapak Jantuk sebagai aktor tunggal yang menjadi sentra pertunjukan secara alamiah, menunjukkan kemampuan mengolah naluri dan rasa dalam ekspresi dria yang dalam dramatika yang padat. Pelakon, menguasai dramaturgi yang kuat untuk menghantar alur cerita, mengubah narasi menjadi pesan dengan diksi yang jelas.

Dengan format Teater Kecil TIM, pertunjukan Topeng semacam ini lebih terasa sentuhannya. Terutama karena teater rakyat -- dengan interaksi improvisatoriknya -- mempunyai kekariban tertentu dengan khalayaknya.

Saya mengapresiasi kerja kreatif yang dilakukan Pengelola Taman ismail Marzuki, Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat, bekerjasama dengan Lembaga Kebudayaan Betawi dan Indonesiana, serta komunitas Betawi Kita dan Baca Betawi.

Ini kerja kesenian yang pantas dipujikan. Apalagi, selain menyajikan pergelaran ragam produk seni terkait dengan Sastra Betawi, juga diperkuat oleh seminar, diskusi, dan workshop penulisan.

Dengan cara ini, eksistensi sastra Betawi akan terjamin dan kaum Betawi serta masyarakat Betawian sebagai inti dari lokalitas metropolitan Jakarta dapat lebih intens menggali potensinya. Termasuk pengembangannya.

Tak keliru bila Lembaga Kebudayaan Betawi bekerjasama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Betawi, kelak memberi ruang bagi seni pertunjukan tradisi di berbagai spot budaya yang sudah dibangun di Jakarta. Khasnya di bulevard utama Jakarta. Jadikan spot budaya itu sebagai etalase seni dan ekspresi produk budaya Betawi.

Seperti adegan yang disajikan Topeng Jantuk, perlu berbagi peran fungsional, seperti Bapak Jantuk, Emak Jantuk, dan Mertua. Mesti jeli dalam berbagi peran, sehingga tidak kehilangan kontrol. Menyangka sedang menuntun istri, padahal yang dituntun justru nayaga pemain kempul dan saron. |

Editor : Web Administrator
 
Lingkungan
03 Okt 19, 22:48 WIB | Dilihat : 237
Dengan Glamping Membaca Tapak Kekuasaan Ilahi
13 Sep 19, 23:21 WIB | Dilihat : 1353
Yeo dan Siti Segeralah Bertemu, Halau Asap
Selanjutnya
Polhukam
20 Nov 19, 11:24 WIB | Dilihat : 294
Fokuslah Kepada Nasib Korban
02 Nov 19, 10:19 WIB | Dilihat : 622
Anies Baswedan versus Orang Separo
22 Okt 19, 12:18 WIB | Dilihat : 165
Tetty Paruntu dan Perencanaan Karir Partai Golkar
Selanjutnya