Cerita Pendek

Perempuan di Makam Ibu

| dilihat 435

Nazar

AYAH terbaring di kamar tidurnya. Matanya terpejam. Dia nampak lelah. Sejak awal Ramadan, dia kurang tidur. Waktunya lebih banyak dia habiskan di masjid yang persis di ujung kompleks.

Bahkan, di penghujung Ramadan, ayah menghabiskan waktunya di masjid, i'tikaf sambil menghatamkan Qur'an.

Aku pandangi tubuh yang sedang terbaring itu dengan beragam perasaan.

Sejak ibu wafat tiga tahun lalu, ayah nampak semakin religius. Lelaki 70 tahun, yang sudah mengenyam asam garam kehidupan, itu memang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk ibadah.

Selebihnya, melakukan kegiatan olahraga. Jalan sehat di hutan kota yang tak jauh dari rumah, bersama para koleganya. Ya.. para pensiunan dan para mantan aktivis pergerakan mahasiswa di masa muda.

Di rumah, ayah tinggal sendirian. Sejak ibu wafat, sopir dan pembantu rumah tangga berhenti. Pulang ke kampungnya masing-masing.

Kami bergantian menemaninya. Lebaran tahun ini, ayah ditemani adik bungsuku, Sheila. Dia tiba sejak pekan kedua Ramadan. Libur kuliah selama sebulan.

"Abang tenang-tenang sajalah. Biar aku yang urus ayah," kata Sheila.

Pas hari lebaran, ayah bersukacita. Selepas salat Idul Fitri aku bergegas mengunjunginya, membawa istri dan tiga anakku. Cucu adalah daya hidup bagi ayah.

Lebaran kali ini, hanya anak-anakku yang bisa meramaikan hatinya. Dua cucunya yang lain tak berkesempatan.

Abangku, isteri dan anak-anaknya tak pulang ke Jakarta tahun ini. Dia bermukim di Osaka dan sudah sejak setahun terakhir menjadi warga negara Jepang, mengikuti kewarganegaraan isteri dan mertuanya.

"Aku sudah beritahu ayah, tahun ini tak ke Jakarta," ujar abangku di malam takbir. "Boleh juga kamu bicara dengan ayah, habis lebaran, sebaiknya ayah ke sini," ujar abangku ketika menelponku di sela suara takbir dan tahmid.

Aku masih berdiri di pintu kamar ayah dan memandangi tubuhnya yang terbaring.

Anak-anakku sedang asyik bermain di ruang keluarga. Sheila juga nampak asyik berbincang dengan isteriku.

"Bi.. abi.. ke sini sebentar," terdengar suara istriku memanggil. Aku menghampirinya, dan duduk di salah satu sofa ruang tamu.

"Bi.. mau dengar kabar khas?" tanya istriku

"Kabar apa?"

Sheila angkat bicara. "Itu lo bang.. tentang perempuan yang rajin ziarah ke makam ibu..," ujarnya.

"Perempuan mana? Siapa?"

"Memang abi gak dengar cerita penjaga makam, ketika kita ziarah ke makam ibu?"

Aku menggeleng, sambil agak penasaran.

"Penjaga makam di tempat pemakaman ibu, cerita.. sejak tiga bulan terakhir ada seorang perempuan sebaya abang, rajin sekali ziarah ke makam ibu. Kata penjaga makam, wajahnya mirip aku," ujar Sheila.

"Kata penjaga makam itu lagi, perempuan itu selalu datang setiap kali ayah dan kita jarang ziarah ke makam ibu..," ujar istriku.

Perbincangan kami terhenti sesaat. Nampaknya ayah sudah bangun. Kami mendengar suara ayah bicara dengan anak-anakku. Sheila melihat ke arah ruang keluarga. Betul. Ayah berdiri di dekat kursi selonjornya.

Ayah menghampiri kami. Lalu duduk di sofa bersama kami. Wajahnya nampak segar.

Ayah meminta kami menggantarnya ke makam ibu.

"Ba'da salat ashar aja," katanya.

***

LANGIT cerah. Udara terasa sejuk. Air sungai mengalir. Agak jernih. Kami melintas jembatan menuju ke makam ibu. Ayah menuntun anak bungsuku. Dua anakku yang lain berlarian di atas jembatan itu, mendekati makam.

Sheila menjentikkan jarinya ke lenganku. "Itu.. bang.. itu.. coba lihat makam ibu..." serunya.

Aku melihat seorang perempuan seusiaku baru saja berdiri dari makam ibu. Dia menoleh ke arah kami. Lalu beranjak. Aku mencoba mengikuti dengan mataku. Ah.. perempuan itu nyelinap di antara para peziarah lain. Lalu tak nampak lagi.

Terakhir aku melihat dia bergegas ke balik pohon Ki Hujan besar.

"Ke mana dia bang?" tanya Sheila, penasaran. Aku menggeleng, lalu mempercepat langkahku.

Tiba di makam ibu yang hijau oleh rumput halus kulihat taburan bunga segar. Rumput di atas pusaranya juga basah. Aku menoleh ke arah sekeliling. Tak juga kujumpai sosok perempuan itu.

Ayah memimpin kami mendo'akan ibu. Tiga anakku pun nampak serius membuka telapak tangannya, mengikuti cara kami berdo'a. Anak bungsuku minta digendong ibunya.

Aku perhatikan wajah ayah, ketika dia menggumamkan do'a yang kami aminkan. Pandang matanya mengekspresikan sikap khusyuk-nya.

Sheila menghampiri petugas makam. Kulihat keduanya berbincang. Petugas itu menunjuk ke sudut lain makam. Sheila kembali.

"Dia pergi lewat pintu makam yang lain, yang berbatasan dengan perkampungan," kata Sheila. Ayah menoleh ke arah kami. Anak sulungku memanggil ibunya, lalu memberikan selembar sapu tangan.

"Kamu dapat darimana ini?" tanya isteriku.

Anakku menunjuk tempat dia dapatkan saputangan yang beberapa bagiannya masih nampak basah.

Saputangan berhias gambar bunga itu diberikan istriku kepadaku. Wangi parfum segera tercium. Kuserahkan saputangan itu kepada Sheila, ketika ayah sedang berbincang dengan petugas makam.

Kami meninggalkan makam. Di atas jembatan ayah bicara.

"Kata petugas makam, tadi ada perempuan ziarah dan berdo'a di pusara ibu. Tapi, dia tidak tahu siapa perempuan itu," ujar Ayah.

"Mestinya ayah suruh petugas makam itu memotret wajahnya," tanggap Sheila. "Kata petugas makam, perempuan itu sering berziarah selama Ramadan. Ayah gak bisa perkirakan siapa kira-kira?"

Ayah menggeleng. Dia menyebut beberapa nama kemenakan ibu yang sangat dekat. "Mungkinkah Mbak Maya? Atau Mbak Dian kali, ya?"cetusnya.

"Gak mungkin, Yah.. Kalau Mbak Maya dan Mbak Dian pasti dia akan menunggu, begitu melihat kita datang," kataku.

Sheila memberikan saputangan itu kepada Ayah. Ayah mengambil dan memperhatikan saputangan itu.

Kami terus melangkah melintasi jembatan. Ayah menyerahkan lagi saputangan itu kepada Sheila.

Tiba di rumah, sosok perempuan di makam ibu, mengganggu benak kami. Sambil selonjor di kursinya, di dekat sofa kami duduk, ayah mengulang tanya.

Perbincangan tentang perempuan itu berakhir, ketika kami mendengar ucapan salam. Kemenakan-kemenakan ibuku datang bersama anak-anak mereka. Ruang tamu dan ruang keluarga pun penuh dengan percakapan. Suasana diam seketika, saat ayah bercerita tentang perempuan yang sering ziaran ke makam ibu.

Tanteku, adik bungsu ibu yang duduk di salah satu sofa menerima saputangan yang ditemukan anakku di makam ibu. Beberapa saat tante tercenung. Pandangan mata kami tertuju kepadanya.

"Perempuan itu sebaya kamu, ya?" tanya tante kepadaku. Aku mengangguk.

"Kata petugas makam sih begitu, tante. Memang tante tahu?" tanya Sheila.

"Perempuan yang sama, itu juga sering ziarah ke makam bude dan pakde kalian. Tapi, masih misteri..," katanya.

Tante urung bercerita, karena kumandang adzan maghrib sudah terdengar. Kami sibuk menyiapkan diri untuk salat Maghrib berjama'ah... |

 

Editor : Web Administrator
 
Energi & Tambang
Ekonomi & Bisnis
09 Okt 19, 08:57 WIB | Dilihat : 418
Langkah HK Membentang Masa Depan di Sumatera
04 Okt 19, 22:49 WIB | Dilihat : 180
Suap Menyuap Direksi BUMN
10 Sep 19, 14:32 WIB | Dilihat : 368
Atmosfir Pelayanan di Hutama Karya
08 Sep 19, 20:57 WIB | Dilihat : 220
Perkuat Nilai Tukar Rupiah, BI Akselerasi Pasar Keuangan
Selanjutnya