Percakapan di Lereng Bukit

| dilihat 1252

Cerita Bersambung Sem Haesy

“ANDA ingin berlaga di ajang demokrasi, pemilihan umum?”

Begitu tanya Wak Noch kepada Nasrun, seorang akademisi yang sedang berniat terjun ke dunia politik dan menjadi calon anggota parlemen dari suatu partai.

Nasrun mengangguk.

Percakapan di lereng bukit gersang tempat Wak Noch bermukim kini, itu berlangsung ketika senja merah terbentang menjemput malam.

“Apa bekal Anda? Pernah Anda menjadi aktivis dalam student government di kampus Anda?” tanya Wak Noch sambil menghirup kopi dari cangkirnya.

Nasrun menggeleng. “Saya mahasiswa jurusan ilmu politik. Saya mendalami begitu banyak teori politik. Juga komunikasi sosial. Saya juga belajar banyak tentang partai politik dan bagaimana politisi melaksanakan tugasnya di parlemen,” ungkap Nasrun.

Wak Noch, menatap mata Nasrun. Dia tersenyum. Dia melihat mata Nasrun memandang tajam, tapi terlihat dari sorot matanya, kecerdasan yang belum sempurna. “Ada sesuatu yang empiris dan ada sesuatu yang tak terjangkau oleh empirisma,” gumam orang tua itu dalam hati.

Nasrun agak gusar menyaksikan gestur dan gerak tubuh orangtua itu.

“Tuan meragukan kapasitas saya?” tanya Nasrun.

Wak Noch menggeleng. “Saya percaya Anda punya kapasitas. Anda juga well educated. Kecerdasanmu terlihat. Tapi, kau belum keluar dari habitus-mu, lingkungan psikologis yang banyak memengaruhi dirimu.” 

Nasrun terdiam. Pikirannya menerawang ke banyak hal ke dalam lingkungan sosialnya yang sebagian besar adalah para politisi. Terbayang juga di benaknya, bagaimana dinamika partai politik yang dimasukinya.

Sekelebat, di benaknya melintas bayangan, sebuah panggung besar politik dengan segala atribut partai. Seorang tokoh senior dan yunior berada di panggung politik itu, berorasi. Seorang announcer menggempitakan peristiwa politik yang dihadiri ribuan orang.

Gempita dinamika politik itu merasuk ke dalam benaknya. Pun ke dalam sukmanya.

Nasrun memandang orang tua yang nampak tersenyum, namun ia rasakan senyumnya menyimpan begitu banyak makna. Boleh jadi paradoks dari apa yang ada dalam pikirannya. Dia terhenyak sesaat, ketika orang tua itu tiba-tiba menatapnya tajam sambil bicara.

“Apa yang kau kehendaki dari kontestasi yang kau akan mencebur ke dalamnya? Dipilih oleh rakyat, kemudian melenggang ke gedung parlemen?” tanya Wak Noch sambil meletakkan cangkir kopi di atas meja lusuh. Terlihat ampas kopi di dasar cangkir itu. Tatapan matanya tak henti terarah ke mata Nasrun, yang nampak gelisah.

Nasrun mengangguk. “Ya.. dengan cara itu saya akan melakukan perubahan. Membuat parlemen tak lagi hanya sekadar menjadi tempat para politisi bermain politik. Saya ingin menjadi seorang negarawan yang menggunakan kekuasaan politik sebagai cara mengabdi kepada rakyat,” ungkap Nasrun.

“Silakan minum kopimu.. Rileks saja,” tanggap Wak Noch mempersilakan Nasrun menghirup kopi yang belum terhirup dari cangkirnya itu.

“Apa yang kau tahu tentang cara memenangkan suara rakyat, calon pemilihmu di pemilihan umum nanti?” tanya Wak Noch.

Nasrun segera mengemukakan berbagai cara dari beragam teori yang sudah dipelajarinya di kampus, hingga ia berhasil lulus dengan nilai baik dan beroleh gelar magister.

Wak Noch mengangguk. “Berjuta teori sudah dituliskan para akademisi, bahkan guru besar ilmu politik. Tak terkecuali para politisi senior yang kini hidup dalam kerisauan senja,” ungkap Wak Noch. Nasrun tak begitu paham maksud Wak Noch. Dia baru paham, ketika Wak Wak Noch bercerita tentang para politisi senior yang masih sibuk menghabiskan waktu mereka memilih para intelektual muda untuk memperkuat partainya.

Nasrun menghela nafas. “Menurut Wak apa yang harus saya lakukan?” tanya Nasrun dengan suara merendah.

Wak Noch memperbaiki posisi duduknya. Sesaat ia memandang langit senja yang mengirim remang. Dedaunan jati emas yang ditanamnya di lereng gersang itu, nampak bak shiloet.

“Berusahalah mendapatkan perhatian rakyat, bakal pemilih dan senantiasalah berusaha menjaga militansi tinggi mereka untuk mendapatkan suara sebanyak-banyaknya. Tidak mudah memang. Tapi, sekali kamu dapatkan, selebihnya akan mudah..,” ujar Wak Noch.

Nasrun menyimak dengan takdzim.  “Untuk mendapatkan perhatian rakyat dan mendorong mereka memberikan suaranya kepadamu, masuklah ke relung sukma mereka,” lanjut Wak Noch.

Politisi tua itu, lantas bercerita pengalamannya berkali-kali merebut suara rakyat, sehingga dia menjadi anggota parlemen, sampai dirinya bosan menjadi politisi.

“Ada-ada masa-masa heboh. Itulah masa ketika kau memasuki arena political zoo, kebun binatang politik praktis. Kau akan berinteraksi dengan kalajengking, kodok, kecoa, sampai buaya dan harimau yang kapan saja siap melahapmu. Mereka akan datang bermanis wajah kepadamu, lalu bercerita tentang kehebatan mereka menggalang suara rakyat, kenyataannya tidak demikian,” ungkap Wak Noch.

Nasrun terdiam. “Jangan pernah sekali-sekala kau merasa telah mempunyai jaringan kuat yang membuatmu singgah dan semayam di hati rakyat, hanya karena begitu banyak kau berkomunikasi dengan banyak orang yang menjanjikan suara rakyat kepadamu,” sambung Wak Noch.

“Maksud Wak, saya harus teliti?”

“Ya.. teliti. Tak hanya itu.. kau juga harus ubah dirimu menjadi sesungguh politisi, pembela rakyat yang sesungguhnya. Rakyat tak perlu omonganmu.., bahkan.. walaupun mereka sudah terkondisikan oleh money politic, tak sepenuhnya uangmu bermakna,” ujar Wak Noch.

Wak Noch mengarahkan telunjuknya ke pokok Jati. “Lihat pohon jati itu. Ada pohon yang daunnya rimbun, dan ada pula yang lebih rimbun lagi. Kalau kau mengandalkan uangmu, ada politisi lain yang uangnya jauh lebih besar dari yang kau punya,” cetus Wak Noch.

“Ingat,”katanya. “Hal pertama yang harus ada di benakmu adalah bagaimana kau bisa membuat konstituenmu berhubungan sangat lama denganmu, sampai kau menjadi anggota parlemen, dan tiba lagi musim pemilihan umum lima tahun berikutnya.”

Nasrun tertegun. Wak Noch terus bicara. “Jangan buat hubunganmu dengan konstituenmu hanya berakhir setelah surat suara ditutup dan hitung. Pelihara hubunganmu dengan mereka sampai ada kepastian kau beroleh amanah dari mereka berulangkali.”

“Jadi, apa yang harus saya lakukan?” tanya Nasrun.

“Buang kata apa dari pertanyaanmu. Karena yang selalu harus ada di benakmu adalah, bagaimana kamu bisa mengetahui apa yang rakyat, konstituenmu pikirkan. Karena dengan cara itu, kau dapat melayani mereka dengan sebaik-baiknya dan mengatasi masalah-masalah penting mereka,” ungkap Wak Noch.

Gelap merambat. Kumandang adzan terdengar dari lembah. Wak Noch mengajak Nasrun salat Maghrib. “Yang kukatakan ini baru pengantar.. Sekarang kita menghadap dulu kepada Dia, Pemilik Kekuasaan tiada sanding.. tiada banding,” ujar Wak Noch. Lalu beringsut ke tempat padasan, di bawah rerimbun pohon jati, sebelah musalah. | Bersambung

Editor : sem haesy
 
Humaniora
12 Sep 18, 11:22 WIB | Dilihat : 242
Harapan Hampa Tenaga Honorer Kategori 2
11 Sep 18, 11:39 WIB | Dilihat : 274
Sadaf Taherian Sang Pemberontak
09 Sep 18, 01:37 WIB | Dilihat : 225
Mbak Tutut
23 Agt 18, 11:35 WIB | Dilihat : 1982
Hakekat Haji Mabrur
Selanjutnya
Seni & Hiburan
10 Jul 18, 10:28 WIB | Dilihat : 580
Anggi.. Lepaskan
09 Jul 18, 16:34 WIB | Dilihat : 666
Ketika Polisi Berpuisi di Watulumbung
26 Jun 18, 11:26 WIB | Dilihat : 1253
Percakapan di Lereng Bukit
19 Jun 18, 15:10 WIB | Dilihat : 686
Gegauan Sate Buntel
Selanjutnya