Menjemput Jakarta Melayu Festival 2018

Melayu Menenun Cindai Keadaban Bangsa

| dilihat 624

Catatan N. Syamsuddin Ch. Haesy

Pantai Ancol Beach City, Sabtu : 27 Oktober 2018 - malam, akan kembali diramaikan pentas musik, tari dan pesona budaya Melayu.

Anwar Fauzy Big Band, Cockpit Band, dan penyanyi-penyanyi berkualitas : Erie Susan, Shena Malsiana, Alfin Habib, Maxi, Takaeda, Husin Alatas, dan Fika Fabiola akan unjuk kebolehan menghibur sekaligus mempresentasi dimensi Melayu dalam perjalanan seni budaya bangsa di Jakarta Melayu Festival (JMF) yang ke 8 tahun.

Even musik dan ekspresi budaya Melayu itu digagas dan dirawat tanpa lelah oleh Geisz Chalifah, bersama Anies Baswedan (yang kini menjabat Gubernur DKI Jakarta), Ferry Mursidan Baldan, Faisal Motik, dan kawan-kawan.

Dua tahun terakhir (2016 – 2017), JMF digelar di Ancol, setelah sebelumnya keliling dari hotel, function hall, dan gedung teater Taman Ismail Marzuki. Biasanya, pergelaran dilakukan bulan Agustus, terkait dengan perayaan peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada JMF 2017, panggung JMF di Ancol, terhanyut oleh kolaborasi musisi kelas dunia, saxophonist Daniel Lerner dari Amerika Serikat  dengan musisi nasional sekelasnya : Henry Lamiri dan Daud Debu, padu meningkah dengan musisi melayu Butong, Tom Salmin, Ade Fauzi, Akmal Syam dan lainnya di bawah koordinasi Anwar Fauzy, komposer musik Melayu yang andal. Tentu, Darmansyah Ismail biduan Melayu sohor yang tak pernah lelah merawat musik dan lagu Melayu. Mereka, konsisten menghadirkan musik dan lagu Melayu di Al Jazeera Signature dan Consulate di kawasan Menteng setiap Selasa dan Jum’at malam.

Kali ini, digelar sehari sebelum peringatan Hari Sumpah Pemuda. Momentum ini dipilih untuk menyegarkan kembali kesadaran kebangsaan, tentang spirit persatuan kebangsaan yang dipelopori generasi muda. Sekaligus kesadaran bertanah-air, berbangsa, dan berbahasa.

Hal ini dianggap penting, karena menurut Geisz, ada sesuatu yang lepas dari jemari kita selama ini, yakni polarisasi pengelompokan di banyak bidang kehidupan. Hal itu, mulai menebar virus tak baik bagi generasi muda, yang sengaja hendak dihanyutkan oleh berbagai kepentingan politik untuk lebih mendahulukan keberbagaian – diversitas, katimbang persatuan – unitas.

Padahal, modal besar bangsa ini justru berada pada persatuan. Melayu, kata Geisz, adalah ruh sekaligus spirit persatuan itu. Di dalam budaya Melayu yang terbentang sepanjang jaziratul mulk – setidaknya dari Malaka (termasuk Madagaskar) sampai Maluku (termasuk Papua – dengan core budaya Aryan), merefleksikan bentang ke-Indonesia-an dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote.

Jazirah al Mulq yang lebih dikenal sebagai Nusantara, menjadi wilayah budaya yang mempertemukan secara serasi beragam instrumen musik petik dan gesek dari Oud, Gitar, Mandolin, Pakacaping, Sampe, Sasando, Biola, Cello, Gajah Bodo (stand bass), Rebab, Tarawangsa, Arababu, Tehyan, Erhu, Haegeum, Kecapi , Yangqin sampai Harpa.

Rangkaian kepulauan Indonesia dalam garis panjang budaya Nusantara, pun memadu padan secara harmonis, beragam instrumen perkusi, mulai dari Kolintang, Gong, Kempul, Saron, dan ragam gamelan, kemudian Tifa, Kendang, Gendang, Rebana, Jimbe, Tamtam (Ketipung), Bongo, Drumb, Tambua, Tabla, Burdah, Bebano, Nobat, Gondang, Kompang, Beleq, Kodeq, Celempung, dan sejenisnya.

Di negeri ini juga berpadu padan secara harmonis instrumen musik Serunai, Karinding, Genggong, Serunai, Satong, Silu, Seruling, Ufi, Druridana, Muri, Toleat, Gongti, Cungcuit, Saluang, Trompet, Trombone, Flute, Klarinet, Saxofone, Harmonika, Klarinet, Pareret, sampai Tuba.

Tak terkecuali, di gugus kepulauan katulistiwa ini juga berpadu padan aneka instrumen musik Harmonika, Harmonium, Accordion, sampai Piano, berpadan dengan Angklung, Electone, dan lainnya.

Kesemua instrumen musik, baik pentatonis dan diatonis, itu pada masanya menghidupkan musik melayu sebagai musik yang mudah beri teraksi dengan beragam konsep artistiknya. Melalui musik melayu, tak hanya sense dan feel yang berkolaborasi, juga kecerdasan think dan ketajaman instink.

Menghidupkan dan mempresentasikan musik dan budaya Melayu sama maknanya dengan menghimpun keberagaman dan keberbagaian dalam suatu unitas yang sungguh mencerminkan esensi filosofis dari sesanti bhinneka tunggal ika.

Dalam konteks bahasa, bahasa Melayu yang berkembang menjadi lingua franca dan menjadi bahasa Indonesia mempersatukan ratusan, bahkan ribuan bahasa ibu yang bersifat lokal melalui ragam kosakata. Dan kemudian, beralih media menjadi pantun, talibun, rubayyat, gurindam, puisi, sonata, rumpaka, lantas menjelma dalam syair yang mempertautkan seni kata dengan musik.

Dalam konteks budaya dan peradaban Melayu, kata tidak berhenti hanya sebagai sabda tanpa makna, karena kaya dengan metafora dan pola narasi dan diksi yang mencerminkan ke-Indonesia-an dan ke-Nusantara-an dalam satu tarikan nafas. Lantas, mempersatukan ragam proto melayu dan proto austronesia, sebagai cikal identitas budaya yang di dalamnya mengalir keadaban, lalu sebagai peradaban.

Ketika kini, Indonesia sedang dikepung oleh arus besar pusaran globalisme yang ditawarkan George Soros dan glokalisme yang ditawarkan Philip Kotler, dimensi budaya Melayu sebagai titian pergerakan era dari agraris, industri, informasi, dan konseptual adalah pilihan menarik. Khasnya untuk mempertautkan kearifan dan kecerdasan lokal, dengan universalisme yang kadang membuat orang lupa diri. Lantas kehilangan adab, bahkan mereduksi tata pikirnya menjadi amat primitif yang tertampak dalam pengelompokan politik.

Otak besar manusia Melayu – Nusantara – Indonesia yang luas, menjadi (istilah Geisz) otak dikit. Kecerdasan direduksi begitu rupa menjadi kepandiran dan kedunguan yang dikondisikan oleh rekayasa, antara lain framing media.

Di situ, egaliterianisma sebagai ruh yang ditawarkan budaya Melayu, terperosok menjadi feodalisme baru, meski yang diteriakkan adalah demokrasi, ekuitas dan ekualitas.

Jakarta Melayu Festival (JMF) dalam wajahnya yang paling sederhana, memadupadan gugus tonasi, birama, dan irama musikal yang berserasi dengan gerak tari dan joget yang merdeka, egaliter, dan tentu.. demokratis. Ketika politik praktis seringkali mencerai-beraikan, dimensi budaya Melayu menyatukan.

Dari panggung Jakarta Melayu Festival (JMF) 2018, Melayu menenun cindai keadaban bangsa. Menghimpun semua yang terserak, mendekatkan yang jauh, mengkaribkan yang dekat, untuk sama berkomitmen : saling memuliakan!

Dari panggung JMF 2018, Geisz Chalifah, Anies Baswedan, Ferry Mursidan Baldan, seluruh musisi dan penyanyi Melayu, di bawah pesona kembang api yang mengekspresikan spirit kebangsaan, akan menghidupkan terus kesadaran kolektif bangsa, memanifestasikan esensi  Sumpah Pemuda secara utuh, dan tak kan berubah menjadi Sumpah Serapah Pemuda.

Tahun silam, pesan kebangsaan ditawarkan melalui pesan dalam syair Lancang Kuning : “Lancang kuning berlayar malam / Haluan menuju ke laut dalam / Kalau nahkoda tidaklah paham / Alamat kapal akan tenggelam.”

Lantas kumandang ghirah dan gairah, lewat Hikayat Negeri Melayu hasil kolaborasi Geisz Chalifah, Anwar Fauzi, Nong Niken Astri, serta seluruh musisi dan penyanyi Melayu. Gairah itu juga yang kan diekspresikan oleh Insan Budaya Melayu di JMF 2018, seraya mengekspresikan ulang nafas ke-Indonesia-an, dan berkabar kepada bangsa ini :

Bila gugusan pulau-pulau adalah rinoncè keindahan yang jelma Nusantara, dari Malaka hingga ke Maluku, Melayu adalah benang sutera yang merangkainya.

Bila ragam puak, suku, dan etnis tersebar sebagai mutu manikam memancarkan pesonanya sebagai keindahan dunia, Melayu adalah mutiara indah yang menyatukannya.

Bila rineka budaya tumbuh laksana aneka bunga nirwana di hamparan tanah air peradaban yang luas, Melayu adalah seroja yang menghimpun selasih, melur, dan aneka bunga mengharumkan bangsa.

Bila seluruh keindahan syair, gurindam, talibun, rubayat, puisi dan pantun jelmakan keindahan rasa dan elok rupa, Melayu adalah hamparan cindai tempat aksara menyatukan akal budi, sehingga elok rupa bangsa karena indahnya bahasa.

Melayu menyatukan ragam kemakmuran tanah pusaka sebagai gugusan cinta sedalam segara, setinggi cakrawala Nusantara;

Melayu menyatukan ragam suku bangsa yang tersebar dari ujung Barat ke ujung Timur sebagai untai keindahan pesona ibu pertiwi;

Melayu menyatukan ragam kecerdasan bangsa seluas hamparan samodera dunia sebagai kearifan budaya, peradaban semesta;

Melayu mengubah kau dan aku, kami dan kalian, menjadi kita. Melayu adalah ruh kita. Indonesia Raya mesti berjaya.    |

Editor : sem haesy
 
Sporta
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 921
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 633
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 648
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
Selanjutnya
Humaniora
06 Des 18, 12:07 WIB | Dilihat : 184
Reuni Mujahid 212 Referensi Relasi Rakyat dengan Media
05 Des 18, 00:03 WIB | Dilihat : 196
Seonggok Batik Berwiru
04 Des 18, 10:28 WIB | Dilihat : 233
Gairah dan Ghirah Mujahid Mujahidah 212
24 Nov 18, 23:10 WIB | Dilihat : 307
Qanaah dalam Berkeluarga
Selanjutnya