Kemerdekaan Adalah Jiwa Raga Sehat Tegakkan Keadilan

| dilihat 1143

Catatan Bang Sém dari Jakarta Melayu Festival 2019

DI tengah pusaran ribuan pengunjung Ancol Beach City, khasnya Jakarta Melayu Festival (JMF) ke 9 tahun, Sabtu, 17 Agustus 2019, saya tercenung, mencoba memaknai hakekat kemerdekaan.

Lagu Merengkuh Keadilan, karya Geisz Chalifah dan Anwar Fauzi yang didendangkan Tom Salmin, membuka pergelaran. Terus terang, hati saya tergetar, menyimaknya.

Setiausaha Sulit - Menteri Besar Selangor dan minister counselor Kedutaan Besar Malaysia yang duduk di sebelah saya, meresapi lagu itu. Sepasang kosakata, "Merengkuh Keadilan" menarik perhatian kedua.

Dia menyimak esensi di balik tema utama pergelaran malam itu, yang sekali-sekala -- setiap jeda pergantian penyanyi -- 'terganggu' oleh pergelatan live dangdut salah satu stasiun televisi yang menghadirkan Rhoma Irama, tak jauh dari lokasi itu.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan diundang ke panggung. Salah satu penggagas dan terlibat langsung dalam pergelatan Jakarta Melayu Festival sejak sembilan tahun lalu, ini menyampaikan narasi ihwal korelasi kemerdekaan, keadilan, dan musik melayu dalam keseluruhan konteks budaya.

Di dalam dimensi budaya, ada dimensi-dimensi kecil, seperti politik, ekonomi, sosial, dan seni, kesemuanya memerlukan saya besar -- yang boleh disebut sebagai dayacita dan dayacipta -- yang bermuara pada kemerdekaan.

Anies sangat fasih menjelaskan hakekat kemerdekaan, bukan hanya perjuangan untuk kebebasan dan pembebasan manusia, melainkan perjuangan untuk memungkinkan setiap orang di suatu negara - bangsa beroleh keadilan. Bukan semata-mata menggulung kolonialisme, melainkan menjamin berlangsungnya prinsip-prinsip keadilan yang tegak, sebagai pilar utama kesejahteraan.

Anies mengusik kembara fikir saya tentang hak dan kewajiban setiap warga negara dan warga bangsa, termasuk kewajiban kreatif dan inovatif untuk memaknai kemerdekaan yang bukan semata-mata freedom of expression, freedom of will, freedom of speech, atau beragam kebebasan lainnya.

Adalah tugas mereka yang sedang mengemban amanah dari rakyat untuk mengelola negara sebagai penyelenggara negara, budayawan, politisi, cendekiawan, wartawan, alim ulama, tak peduli lelaki atau perempuan untuk melakukan proses edukasi tanpa henti, sehingga rakyat memahami esensi kemerdekaan suatu bangsa dan negara. Semua kalangan itu mesti menjadi teladan dalam mengartikulasikan hakekat kemerdekaan: untuk apa kita merdeka dan apa tujuan utama perjuangan kemerdekaan itu.

Adalah Geisz Chalifah yang tak pernah lelah membuncahkan gagasan kreatifnya untuk menghidupkan kemerdekaan seniman -- khasnya penyanyi dan musisi -- Melayu melakukan pengembangan nilai dan inovasi-inovasi musikal. Termasuk memfasilitasi kolaborasi kreatif musisi melayu dengan beragam genre musik. Mulai dari melayu klasik, gambus, hindi, pop, jazz, rock, dan reaggae.

Pilihan menghadirkan kolaborasi musik Melayu dengan Reggae pada JMF ke 9 dengan tema keadilan untuk memperingati hari proklamasi kemerdekaan RI ke 74 tahun, sangat pas. Musisi reggae dengan fans based jutaan orang Tony Q Rastafara dengan segala sikap rendah hatinya, membuktikan malam itu, betapa kemerdekaan adalah ekspresi kemerdekaan yang dihidupkan oleh jiwa dan raga yang sehat.

Ribuan fans Tony, duduk tenang, dan sabar di atas hamparan pasir Ancol Beach City dan mengikuti rangkaian programa acara, termasuk narasi kemerdekaan Gubernur Anies Baswedan. Lantas meluahkan eskpresi mereka pada momen yang memang dinantikan, penampilan Tony.

Dahsyat memang! Ketika Tony mengawali penampilannya dengan sejumlah lagu tematik tentang cina, kemanusiaan, dan kemerdekaan, disertai dengan insert penyajian dokumentasi pembacaan Proklamasi Kemerdekaan oleh Bung Karno, ribuan fansnya bergerak mengikuti ritme dan psycho-line pergelaran.

Sukacita tertampak di wajah ribuan anak-anak muda beragam latar belakang itu fan beragam ekspresi, bahkan ketika Tony menghadirkan beberapa lagu Melayu yang mudah dihafal, seperti Soleram, Selayang Pandang, dan beberapa lagu melayu lama dengan pantun yang mudah dikenal. Lagu-lagu dengan nafas persahabatan, persaudaraan, dan kolaborasi dalam semangat "kita maju bersama."

Sabtu malam, di arena JMF ke 9 tahun itu, saya mendapat pemahaman baru, kemerdekaan adalah cinta (khasnya cinta negeri), persahabatan, persaudaraan, yang diaktualisasi dengan jiwa raga yang sehat, untuk maju bersama mengejar ketertinggalan.

Tony dengan kalimat sederhana berseru,"bangsa-bangsa lain sudah maju, bagaimana kita bisa mengejarnya kalau kita tidak bersatu.. mari bersatu dengan jiwa dan raga yang sehat." Dan.. di balik pesan komunikatif, itu Tony seolah mengingatkan, bagaimana mesti mengelola kemerdekaan untuk merengkuh keadilan.

Tony seperti sedang memberikan bold atas narasi Anies Baswedan, bahwa, tak boleh ada sepenggal pun bagian tanah air Indonesia yang dikuasai oleh siapapun secara tidak adil.

"Ini tanah kita, ini air kita, ini tanah air kita, Indonesia," seru Anies.

Mantan aktivis kampus dengan prestasi internasional sejak masih belia itu, memercikkan kesadaran baru untuk memelihara entusiasme, simpati, empati, apresiasi, respek, dan cinta bagi sesama warga negara dan warga bangsa. Dengan itu semua, keadilan ditegakkan. Jakarta harus memeloporinya, karena kota ini merupakan barometer dalam banyak hal. Termasuk dalam merayakan kemerdekaan dengan mengusung semangat bersama merengkuh dan mewujudkan keadilan.

"Sangat inspiratif," seru tamu dari Selangor - Malaysia, yang saya temani malam itu.

Ya sangat inspiratif.. karena dalam perjalanan (kaki) di atas pedestrian, bersama Ferry Mursidan Baldan dan teman-teman dari Putri Duyung Cottages sampai ke lokasi Ancol Beach City, saya menyerap begitu banyak aktivitas masyarakat pengunjung, yang menemukan katarsis di pedestrian, bibir pantai, pantai lagoon, jembatan pejalan kaki antar pantai, dengan segala ekspresi merayakan kemerdekaan.

Yang pasti, dari pergelaran JMF ke 9 tahun ini, saya menemukan isyarat, masih terlalu banyak pekerjaan rumah kita -- seluruh anak bangsa -- memaknai kemerdekaan sebagai cara untuk menegakkan keadilan. |

Editor : Web Administrator
 
Ekonomi & Bisnis
06 Nov 19, 11:12 WIB | Dilihat : 1396
Penguatan Profesionalisme Transformasi BUMN
05 Nov 19, 11:16 WIB | Dilihat : 897
Jalan Tol Sumatera Telangkai Mega Region
04 Nov 19, 13:44 WIB | Dilihat : 543
Benahi Hukum dan Prasarana Utama Investasi
Selanjutnya
Humaniora
13 Nov 19, 10:15 WIB | Dilihat : 1025
Masjid Apung di Tengah Aksi Transformasi Ancol
11 Nov 19, 14:53 WIB | Dilihat : 1017
Mimpi Karyawan di Sebalik Pembangunan Masjid Apung Ancol
04 Nov 19, 15:57 WIB | Dilihat : 989
Amsal Ayam Jago dan Merpati dalam Pernikahan
01 Nov 19, 11:10 WIB | Dilihat : 577
Menyegarkan Komitmen di Tanakita
Selanjutnya