Insiden Galaxy Note 7

Smartphone Menjadi Smartbomb

| dilihat 1603

AKARPADINEWS.COM | COBAAN berat melanda Samsung, perusahaan teknologi asal Negeri Ginseng, Korea Selatan. Sejak awal September 2016, Samsung harus menarik kembali (recall) produknya, Samsung Galaxy Note 7 yang sudah beredar di beberapa negara.

Penarikan dilakukan karena laporan jika beberapa unit Galaxy Note 7 yang ada di pasar, meledak atau terbakar. Samsung mengumumkan penarikan 2,5 juta unit Galaxy Note 7 dari pasaran dunia.

Pihak Samsung mengkonfirmasi ke media jika insiden itu karena masalah pada sel baterai. Dilansir dari laman samsung.com, penyebab ledakan bukan pada ponsel. Namun, karena overheating yang terjadi ketika komponen anoda ke katoda mengalami kontak.

Anoda adalah kutub negatif dan katoda adalah kutub positif pada baterai. “Ini adalah kesalahan proses produksi yang sangat langka,” tulis Samsung. Lalu bagaimana dengan peredaran Galaxy Note 7 di Indonesia?

Produk itu ternyata baru masih dalam tahap pre-order. Karena ada laporan tak baik, Samsung Electronics Indonesia (SEIN) pun harus menunda peluncurannya di Indonesia.

Padahal, minat pasar terhadap Galaxy Note 7 di Indonesia begitu masif. Galaxy Note 7 yang dijual dengan harga Rp10.777.000 dengan memori internal 64 GB, ludes terpesan hanya dalam waktu tiga hari pasca pembukaan pre-order 5 hingga 21 Agustus 2016.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban, SEIN akan mengembalikan dana konsumen secara utuh yang telah melakukan pre order. Selain refund, pemesan awal Galaxy Note 7 dijanjikan Samsung akan mendapatkan kompensasi khusus kepada konsumen berupa voucher belanja senilai Rp1 juta dan cashback sebesar Rp2 juta dengan syarat khusus.

Kecanggihan Galaxy Note 7 sempat menarik para pecinta gadget. Smartphone ini lebih berkualitas dibandingkan seri sebelumnya, Galaxy Note 5, yakni dengan Stylus S Pen yang lebih sensitif dan dilengkapi kemampuan anti air  bersertifikasi IP68. Spesifikasi Galaxy Note 7 kebanyakan mirip dengan duet Galaxy S7 dan S7 Edge, baik dari segi kamera, prosesor, dan kapasitas RAM. Dari segi keamanan, Galaxy Note 7 dilengkapi sensor pemindai sidik jari (fingerprint scanner) dan pemindai iris (iris scanner).

Imbas Insiden Ledakan

Namun, segala kecanggihan ini hancur di mata konsumen. Dan, smartphone ini dianggap berubah menjadi smartbomb. Hingga pertengahan September, tercatat sudah terjadi 35 kasus laporan Galaxy Note 7 yang terbakar.  Sebanyak 17 kasus terjadi di Korea Selatan, 17 kasus di Amerika Serikat (AS), dan satu kasus di Taiwan. Lalu, kasus terbaru terjadi di Australia.

Insiden ini menimpa warga Australia, bernama Tham Hua yang tengah menginap di sebuah hotel di Kota Perth. Kejadian itu terjadi ketika dia menancapkan Galaxy Note 7 ke charger untuk mengisi baterai, lalu ditinggal tidur. Tiba-tiba, Hua terbangun karena mendengar ledakan hingga membuat Galaxy Note 7 bahkan charger originalnya, terbakar.  

“Ponsel membakar seprei dan karpet saat saya menepisnya ke lantai. Jari saya juga ikut mengalami luka bakar,” keluh Hua seperti dilansir The Sydney Morning Herald.

Akibat insiden itu, Hua dikenakan ganti rugi oleh pihak hotel senilai 1.800 dolar Australia atau Rp18 juta. Hua pun melaporkan insiden itu ke Samsung. Perusahaan itu pun menanggung kerugian Hua, termasuk diberikan ponsel pengganti Galaxy J1 untuk sementara waktu.

Kejadian lebih parah terjadi di Florida, AS, seperti dialami Nathan Dornacher, pemilik Galaxy Note 7. Dia harus kehilangan mobilnya, Grand Cherokee karena hangus dilalap api. Nathan menuturkan, peristiwa nahas itu terjadi ketika dia dan istrinya pergi ke pasar barang bekas di akhir pekan lalu. Ketika sedang menurunkan sebuah meja yang dibeli untuk putrinya, Nathan meninggalkan Note 7 baru miliknya di mobil untuk mengisi baterai. Namun, dia terkejut tatkala melihat mobilnya sudah terbakar.

Menanggapi kejadian ini, juru bicara Samsung pada Fox 13 News, salah satu televisi berita AS, mengonfirmasi akan membayar kompensasi untuk Nathan. Keamanan pelanggan menjadi prioritas utama Samsung.

Samsung pun meminta para pemilik untuk mengikuti program penggantian produk, menukar ponsel milik konsumen dengan yang baru. Namun, Nathan terlajur kecewa. Kepercayaannya hilang dan tidak pernah lagi menggunakan produk Samsung apapun di rumahnya.

Tak hanya itu, demi menjaga keamanan penerbangan, sejumlah maskapai penerbangan di Australia, Abu Dhabi, AS, Jepang, Singapore Airlines, termasuk Garuda Indonesia, melarang penumpangnya menghidupkan telepon genggam Samsung Galaxy Note 7.

Cacat Produksi atau Kompetisi Dagang?

Saat pertama kali diluncurkan, Galaxy Note 7 mendapat banyak pujian karena kecanggihan dan ketangguhannya. Namun, sejak banyak laporan jika Galaxy Note 7 terbakar saat pengisian baterai, produk itu merusak reputasi bisnis Samsung. Bahkan, saham Samsung pun terjun bebas.

Diperkirakan, total kerugian yang diderita mencapai US$1 miliar atau setara sekitar Rp13 triliun. Dan, Samsung pun makin terpukul saat Apple meluncurkan iPhone 7 dan 7 Plus.

Karenanya, muncul pula spekulasi jika insiden itu terkait persaingan bisnis atau memang karena kualitas smarthone tersebut semakin menurun lantaran diproduksi secara massif dan masal untuk memenuhi keinginan pasar global.

Sebenarnya, insiden itu bukan pertama terjadi. Rentetan kasus meledaknya smartphone juga merusak reputasi produk smartphone di pasar global.  Tahun 2009, seorang ibu dari Cincinnati Ohio, AS, menuntut Apple dan 10 karyawan toko ritel Apple Store di Kenwood, karena iPod Touch yang dibeli untuk anaknya, terbakar.

iPod Touch itu diperkirakan meledak dan terbakar di saku celana anaknya, pada jam belajar di sekolah. Padahal, gadget musik itu sedang dalam keadaan dimatikan. Selain mengalami gangguan fisik, sang anak merasa terpukul dan mengalami tekanan mental, yang terus membebani hidupnya.

Tahun 2010, seorang pria AS mengajukan gugatan pada Apple setelah iPhone 4 miliknya terbakar. Dia meminta ganti rugi sebesar US$75 ribu akibat kerusakan dan biaya medis karena cedera yang dialaminya. 

Kejadian menyeramkan lain terjadi di kota Xinjiang, China. Sebuah perangkat iPhone 5 dilaporkan mengakibatkan seorang wanita asal China, Ma Ailun yang berprofesi sebagai pramugari  di Southern Airlines, tewas. Ailun diketahui mengambil perangkat iPhone 5 yang sedang di-charge untuk menjawab panggilan telepon. Tiba-tiba Ailun tersengat listrik dari perangkat iPhone 5 yang masih dalam keadaan di-charge hingga tewas di tempat.

Selanjutnya, sebuah tablet besutan Google, Nexus 7 sebagai salah satu tablet paling diminati tahun 2012, dilaporkan meledak. Kejadian ini bermula ketika pemiliknya melakukan charging dengan menggunakan charger orisinilnya. Ketika sedang dalam proses pengisian baterai, tiba-tiba tablet besutan Google tersebut mengeluarkan asap dan terbakar. Pemilik Nexus 7 itu lalu mengunggah beberapa foto serta bercerita di internet. Beberapa bagian dari tablet itu terlihat meleleh. Karena kejadian ini, Asus sebagai salah satu vendor yang ikut andil dalam produksi Nexus 7, bertanggung jawab dan mengganti tablet tersebut dengan yang baru.

Sebelum Galaxy Note 7, kasus meledaknya Samsung yang menghebohkan terjadi pada Juli 2013. Samsung Galaxy S4 milik Du, seorang pria asal Hongkong meledak dan membakar apartemennya. Pada saat itu, dia sedang asyik bermain game. Namun, tiba-tiba smartphone miliknya semakin panas dan meledak. Karena terkejut, dia langsung melempar smartphone itu ke sofa dan akhirnya api membakar apartemennya.

Berbagai insiden itu membuktikan jika tidak ada teknologi ciptaan manusia yang sempurna. Samsung dan perusahaan elektronik lainnya harus terus berinovasi dan memastikan kualitas, termasuk keamanan produk yang diciptakannya. Dengan harapan, tidak lagi terjadi kejadian serupa.

Ratu Selvi Agnesia

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Ekonomi & Bisnis
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 183
Mengharap Garuda di Langit
03 Okt 20, 19:40 WIB | Dilihat : 164
KAMI Tolak Bailout Jiwasraya 22 Triliun Rupiah
18 Sep 20, 21:20 WIB | Dilihat : 217
Naik Turun Indeks Harga Saham itu Niscaya
11 Sep 20, 23:04 WIB | Dilihat : 350
Penghiburan Bank Dunia & IMF dan Tuas Rem Darurat Anies
Selanjutnya
Energi & Tambang