Sungai Bersih dan Masjid Jamek Pesona Khas Kuala Lumpur

| dilihat 675

Catatan Bang Sém

Sejak dua tahun terakhir, setiapkali balik ke Kuala Lumpur, yang tak pernah terabaikan dalam perhatian saya adalah kawasan Masjid Jamek - Kuala Lumpur.

Bagi saya, kawasan ini jauh lebih menarik, katimbang KLCC (Kuala Lumpur City Center) dengan Menara kembar Petronas yang ikonik dan mengubah wajah kota Kuala Lumpur.

KLCC sendiri dibangun di atas lahan bekas pacuan kuda, yang diubahsuai dengan perencanaan tata ruang kota, selaras dengan rencana pembangunan pusat pemerintahan Putrajaya dan pengembangan kawasan konurbasi KLCC, seperti Gombak, Petaling Jaya, Subang Jaya, Kelana Jaya, Shah Alam, sejak dekade 90-an berdasarkan perencanaan dekade 1980-an.

KLCC merupakan pengembangan rencana terpadu (masterplan) modernisasi Kuala Lumpur sebagai ibukota negara dengan pola campuran, meliputi kawasan seluas 40,5 hektar (100 acre) lahan utama di tengah ibu kota Malaysia. Suatu perencanaan terpadu berinti pada ikhtiar pengembangan real estat publik terbesar di Malaysia, yang diharapkan dapat menjadi contoh di setiap Negeri (negara bagian dengan spesifikasi wilayah perkotaannya masing-masing).

Tengara KLCC adalah pembangunan Menara Kembar Petronas yang dalam studi kelayakan ULI Development memang disiapkan sebagai jangkar utama pengembangan modernitas Kuala Lumpur yang dimulai pembangunannya awal 1990. Menara selesai dibangun dan diresmikan tahun 1998 dan sekaligus dinyatakan sebagai bangunan tertinggi di dunia.

Mengikuti Wawasan (Visi) 2020 Malaysia - proses pembangunan terus berlanjut, meliputi 22 bidang pengembangan dengan fokus yang berbeda, seluas 50 hektar, mengelilingi taman seluas 20 hektar. Di luar itu, pembangunan dan tata kelola Kuala Lumpur berada di bawah kendali DBKL (Dewan Bandaraya Kuala Lumpur) yang dipimpin Dato' Nor Hisham bin Achmad Dahlan selaku Walikota.

Banyak hal bisa dicatat di lokasi ini. Tak hanya karena terkoneksi secara langsung dengan titik-titik historis kota, seperti bekas Istana Sultan Abdul Samad yang dibangun 1834 di pusat kota, yang beberapa bagiannya menjadi meuseum, galeri senirupa, Royal Club Selangor, bekas Stasiun Kereta Api, Masjid Negara, Pusat Islam, juga Pasar Sentral, China Town, dan Little India. Masjid Jamek terkoneksi dengan Istana Sultan Abdul Samad.

Masjid ini dibangun atas desakan Sultan Selangor kepada pemerintah Inggris, tahun 1897. Pemerintah Inggris menugaskan Arthur Benison Hubbock, arsitek kelahiran India, pegawai pemerintah yang bekerja di Departemen Pekerjaan Umum.

Dia merancang pembangunan masjid ini, persis di ujung pertemuan sungai Gombak dan Sungai Klang. Tahun 1907 pembangunan dimulai, bersebelahan dengan permukiman penduduk Melayu pra urban. Hubbock langsung yang mengawasi pembangunan masjid ini. Sultan Selangor Abdul Samad, meresmikan masjid ini, 23 Desember 1909.

Pembangunan masjid tertua di Kuala Lumpur yang dipergunakan untuk salat Jum'at, itu menandai titik mula sejarah kota ini.  Di sinilah pertama kali penduduk asli Melayu berinteraksi dengan pendatang (kaum migran dan urban), yang membangun gubuk dan rumah mereka di kawasan ini.

Di dekat masjid, yang berdekatan dengan bangunan terpisah istana Sultan Selangor dulu merupakan tempat perahu berlabuh, semacam dermaga. Di sini, para penambang timah dari berbagai negeri dan bahkan dari China dan India membongkar peralatan mereka, sekaligus menyiapkan bekal, sebelum akhirnya berjalan ke lokasi penambangan di hutan ampang.

Masjid Jamek menjadi suar peradaban baru bagi penduduk yang sudah membangun permukiman sederhana sejak 1850-an. Ketika masjid ini dibangun, populasi penduduk kian ramai.

Ketika Kuala Lumpur berkembang dan kawasan ini berkembang menjadi kawasan perniagaan dan ekonomi beragam peringat masyarakat dan besaran bisnis, sekaligus menjadi sasaran utama kaum migran dari Tiongkok dan India.

Belakangan, situasi kawasan masjid kian riuh dengan pembangunan stasiun Light Rapid Transportation (LRT) dan monorail. Beberapa sisi estetis masjid, terhalangi oleh beton penyangga rel.

Bangunan-bangunan tinggi yang dibangun di kawasan ini, seperti menghimpit masjid Jamek, dan menjadi salah satu simpul banjir Kuala Lumpur.  Hujan deras akan membuat kawasan ini banjir, karena dua sangai di sisinya, tak sanggup menampung debet air.

Berulang kali saya menelusuri kawasan sekitar masjid ini. Ketika berkunjung lagi ke sini, Oktober 2017 bersama Sabaruddin Sabri, mantan host programa "Negarawan" - Radio Talivisyen Malaysia (RTM), suasana sudah berubah, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Apalagi dibandingkan dengan tahun 80 atau 90-an.

April 2018, saya berkunjung lagi ke sini dengan Noraini - aktivis NGO Malaysia, perubahan itu makin tampak.

Kawasan ini sudah berubah menjadi kawasan pelancongan yang membuat takjub. Air mancur masjid dan semburan air ditingkah pencahayaan warna biru. Sungai sudah sangat bersih. Airnya jernih. Di tepiannya dilengkapi dengan pipa pembersih sungai otomatis

Pada siang hari, air sungai nampak sangat jernih. Ketika singgah ke sini lagi beberapa waktu berselang, saya jumpa dengan gadis peranakan China asal Melaka, Ying Yue. Karyawati salah satu bank di kawasan ini, sambil menikmati kopi sore bercerita tentang perubahan itu. Pun, demikian dengan Sabar sahabat saya.

Dari ceritanya, DBKL memberi prioritas pengelolaan Sungai Gombak dan Sungai Klang di kawasan ini. Termasuk membangun pedestrian yang kini juga dilengkapi dengan kedai-kedai kopi. Kawasan ini dikembangkan menjadi salah satu destinasi pelancongan kota sebagai bagian dari akselerasi pencapaian visi  Kuala Lumpur sebagai "Kota Tropis Berkelanjutan Kelas Dunia pada 2020."

Pencapaian visi itu ditegaskan dalam misi: "Mengembangkan lanskap kota yang indah, rapi, bersih dan dirancang dengan baik yang memberikan kepuasan bagi penduduk kota dan pelancong."

Dari aspek program, informasi yang saya peroleh dari Kantor DBKL, menunjukkan pembenahan dan pengelolaan Sungai di kawasan ini terintegrasi dengan program River of Life yang dirancang sejak 2012. Fokus program aksinya adalah membersihkan dan mempercantik sungai Klang dan Gombak serta enam anak sungai sampai tahun 2020.

Sungai Klang menjadi prioritas, tak hanya karena melintasi Masjid Jamek, tetapi juga karena sungai ini mengalir melalui Kuala Lumpur dan selama bertahun-tahun telah tercemar oleh dinamika pembangunan kota (termasuk KLCC) yang sangat cepat. Selain itu, juga karena kawasan ini terus mengalami banjir intensif selama musim hujan.

Selebihnya, menurut seorang pejabat DBKL, program ini dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas air kedua sungai serta mengembangkan fungsi lahan pemerintah di sekitar lokasi itu. Capaian yang ditargetkan adalah, "seluruh warga kota dan pelancong mendapat manfaat dari program ini."

Tak hanya pembangunan fisik yang dilakukan. DBKL selaku pemerintah yang mempunyai otoritas pengelolaan kota Kuala Lumpur, juga mengintensifkan program pendidikan dan penjangkauan internasional untuk membangun kesadaran publik tentang pentingnya melindungi sumber daya air. Dalam program ini, warga kota dan berbagai pihak, dilibatkan. Khasnya untuk melakukan pemantauan dasar terhadap kondisi air setempat.

Noraini dan Ying Yue sama menjelaskan, dirinya dan banyak warga akan terpanggil untuk segera menghubungi petugas DBKL bila melihat kotoran di sungai. Warga merasa bertanggungjawab menjaga kebersihan dan keindahan sungai.

Apalagi di kawasan Masjid Jamek, itu Sungai Klang dan Sungai Gombak, dilengkapi Blue Poll sebagai titik konvergensi yang dirancang secara visual untuk mengubah sungai menjadi pengalaman sensoris yang menakjubkan. Seirama dengan seluruh aksi program itu, penegakan hukum yang lebih besar untuk memastikan kebersihan sungai, juga dilakukan.

"Sungai, khasnya di kawasan ini merupakan warisan bangsa dan harus dilestarikan oleh semua orang," cetus Sabaruddin.

Dengan kesadaran ini, warga menikmati sejumlah fasilitas yang tersedia dan Masjid Jamek Sultan Abdul Samad menjadi focal point perubahan keindahan kota. Khasnya untuk memperoleh pengalaman nyata keunikan kota yang mempertemukan tradisi dengan modernitas, budaya lokal dan budaya global.

Perspektif budaya itu bisa disaksikan dengan simpul religiusitas - islami di masjid, heritage di Istana Sultan Abdul Samad yang bersejarah, Old KL, dan rekacita keindahan kota dengan aksesoris, seperti air mancur simfoni menari, koridor biru, efek kabut dan kilat, dan Blue Pool yang menciptakan kawasan ini sebagai area rekreasi yang sejuk untuk berinteraksinya penduduk lokal dan wisatawan.

Kawasan ini juga dilengkapi dengan jembatan baru, Jambatan Sultan Abdul Samad juga telah dibangun untuk menghubungkan masjid dengan bangunan Sultan Abdul Samad dan Dataran Merdeka yang sekaligus berfungsi mengurangi 50 persen waktu perjalanan untuk pejalan kaki.

Pembenahan dan pengelolaan kawasan berbasis Sungai Klang dan Sungai Gombak ini, merupakan bagian terintegrasi dari pencapaian indeks kehidupan kota yang akan mempercepat KL setara dengan kota-kota lain di dunia.

Masjid dimakmurkan, warga dan pelancong dimuliakan, sungai dibersihkan, pejalan kaki dibuat nyaman dan aman dengan pedestrian dan jembatan, kota diperindah dengan kelestarian lingkungan dan keindahan seni yang menggunakan teknologi terkini.

Di sini, sungai tua menjadi lebih punya makna. Bersejarah di masa lalu, masa kini, dan mendatang. Visi dan Misi Kuala Lumpur 2020 melahirkan tagline: A City of Contras and Diversity (exciting, surprising, enticing). Tak Melayu tenggelam di pusaran arus budaya global. |

Editor : Web Administrator
 
Energi & Tambang
Ekonomi & Bisnis
09 Okt 19, 08:57 WIB | Dilihat : 441
Langkah HK Membentang Masa Depan di Sumatera
04 Okt 19, 22:49 WIB | Dilihat : 183
Suap Menyuap Direksi BUMN
10 Sep 19, 14:32 WIB | Dilihat : 373
Atmosfir Pelayanan di Hutama Karya
08 Sep 19, 20:57 WIB | Dilihat : 225
Perkuat Nilai Tukar Rupiah, BI Akselerasi Pasar Keuangan
Selanjutnya