Semesta dari Perspektif Ibnu Khaldun

Anggur yang Terapung

| dilihat 2698

KHUTBAH Jum’at yang berlangsung di masjid, kompleks site penambangan itu menarik perhatian Daeng Rasyid. Karyawan pertambangan itu, mendengarkan dengan khusyu’. Lalu mencatat di benaknya. Bahkan, kemudian, memengaruhi jalan pikirannya sepanjang hari.

Anak muda, itu merasa mendapatkan energi baru untuk melakukan permenungan tentang korelasi Tuhan, Manusia, dan Alam.

Daeng Rasyid, akhirnya sampai kepada kesimpulan, “Tuhan menciptakan alam semesta, sebagai alat kelengkapan hidup bagi manusia, dengan sistem tata hubungan yang sangat harmonis satu dengan lainnya. Se­bagaimana Ia menciptakan beragam bangsa dan suku bangsa, Tuhan juga menciptakan alam dengan berbagai karakter, dengan potensi sumberdaya alam yang berbeda-beda antara satu wilayah dengan lainnya”.

Di belahan dunia tertentu Ia hamparkan gurun pasir sedemikian luas, di belahan lainnya ia hamparkan kawasan es beku, di belahan lainnya lagi ia hamparkan ka­wasan pe­gunung­an, lembah, dilengkapi sungai dan danau dengan ke­suburan yang berbeda.

Pada setiap kawasan itu, Tuhan me­nyimpan aneka material alam, yang me­mungkinkan manusia memenuhi kehidupan, mem­bangun, dan mengembangkan peradabannya.

Untuk itu pula, Tuhan memberikan kelebihan akal dan fikiran bagi manusia untuk berproses, dipandu oleh para insan pilihan yang diutusnya sebagai nabi, rasul, yang ke­mudian di­lanjutkan dengan para ulama (intelek­tual), kaum ulul albab, yang berkewajiban me­ngembangan sains dan tek­nologi.

Me­ngembangkan ke­mampuan me­nata dan mengelola alam se­mesta, seraya memberi makna atas setiap jengkal alam yang di­cipta-Nya. Mulai dari tahap peradaban paling seder­hana, sampai yang paling kompleks.

Semua itu, merupakan fasilitas Tuhan bagi manusia, mengekspresikan kewajib­an utama­nya: ibadah. Mengabdi kepada Tuhan. Dan peng­abdian yang paling utama adalah memberi me­ngembangkan dayacipta, se­hingga berkemampuan me­ngelola sumberdaya alam bagi ke­maslahatan umat manusia secara harmonis.

Para hukama’ (failasuf) yang diberikan keunggul­an se­bagai para pemikir, mencatatkan dalam karya-karya besar mereka, keadaan dunia dengan segenap fe­nomena dan para­digma peradaban yang terbangun di atasnya.

Bahkan, tak jarang dengan memakan korban, sebagai martir peradaban, untuk menegaskan pemaham­an dan pengetahuannya tentang bumi yang bulat, se­bagai salah satu planet di antara gugusan tatasurya di alam semesta yang fana ini.

Anggur Terapung

Para hukama’ juga mendeskripsikan, bumi diselubungi ele­men air. “Laksana anggur yang terapung di atas air”, ungkap Ibnu Khaldun.

Dalam kitabnya yang sohor, Mu­qaddimah, Ibnu Khaldun melukiskan: “Air keluar me­narik dari bagian-bagi­an bumi, sebab Allah hendak men­ciptakan makhluk-makhluk hidup di atas­nya, lalu me­makmurkannya, dengan menetapkan fungsi manusia se­bagai khalifah. Berkedudukan di separuh daratan bumi, tidak tergenang air, melainkan dikelilingi, berupa hampar­an laut luas terbentang. Al bahru al muhiith”.

Di sebagian bumi yang tidak tertutup air itulah, Allah menyediakan ruang bagi manusia menemukan, me­numbuh­kan, dan mengembangkan peradabannya. Dan dengan per­adaban­nya itu, manusia menemukan se­demiki­an banyak ke­kayaan alam yang ditebarkan Allah di se­luruh penjuru bumi. Baik di darat, di laut,  maupun di udara.

Ibnu Khaldun melukiskan secara deskriptif, bahwa di bagian bumi sebelah selatan, dihamparkan padang pasir dan tanah kosong, dengan sedikit dihuni manusia. Lebih luas di­bandingkan dengan kawasan di sebelah utara dan tengah, yang banyak dihuni manusia.

Kawasan ini terdiri dari daratan yang cembung, terletak di antara khatulistiwa dan lingkaran bumi, berbatas dengan gugusan gunung yang memisahkan kawasan itu dengan samudera yang mengelilinginya, karena gunung-gunung itu condong ke arah Timur. Meski gugusan gunung melingkar jauh hingga ke Barat, dari titik di mana kita memulai arah dan pandangan.

Di sepanjang gugusan gunung-gunung, sungai, laut, danau, dan samudera lepas, Tuhan menyimpan se­demikian banyak kekayaan berupa gas dan minyak bumi yang terbentuk dari batuan fosil makhluk berper­adaban amat purba.

Kemudi­an, Tuhan menghamparkan potensi bebatuan mineral dengan ribuan jenis dan ragam, yang terbentuk ribuan tahun. Lalu, se­suai dengan hukum alam yang mengaturnya, manusia hidup di berbagai daerah alir­an sungai, dan memulai peradab­annya di masa lalu. Seperti daerah aliran sungai Nil, Euphrat, Tigris, dan Balkh yang disebut Oksus atau Jayhun.

Sungai Nil, misalnya, berhulu di Gunung Qumr, yang diyakini di masa lalu, sebagai gunung tertinggi di atas per­muka­an bumi. Bahkan diyakini melebihi ketinggi­an Himalaya dengan mount everest-nya di Nepal.

Dari gunung itulah, me­mancar mata air, lalu mem­bentuk tiga danau yang satu dengan lainnya dihubung­kan oleh sungai dan anak sungai atau khalij, yang terus mengalir ke muaranya.

Di sepanjang aliran sungai itulah manusia menge­jawantahkan sains, teknologi, pengalaman, dan budaya­nya se­bagai satu kesatuan peradaban, dengan be­ragam bentuk pe­mahaman mereka tentang Tuhan, Alam, dan Manusia sebagai satu ke­satuan triangle of life.

Daeng Rasyid terasuki pemikiran ini. Semangatnya untuk menguntit lebih jauh korelasi manusia dengan alam kian menjadi. Ia seolah sedang melayang di cakrawala pengetahuan tentang alam. Tentang sesuatu yang karib dengannya, sejak ia bekerja di lingkungan penambangan. | Bang Sem

Editor : sem haesy
 
Humaniora
06 Des 18, 12:07 WIB | Dilihat : 295
Reuni Mujahid 212 Referensi Relasi Rakyat dengan Media
05 Des 18, 00:03 WIB | Dilihat : 285
Seonggok Batik Berwiru
04 Des 18, 10:28 WIB | Dilihat : 305
Gairah dan Ghirah Mujahid Mujahidah 212
Selanjutnya
Energi & Tambang
14 Des 18, 10:48 WIB | Dilihat : 88
Surya Darma Sahabat Terbarukan
25 Nov 18, 12:33 WIB | Dilihat : 329
Nicke Widyawati di Tengah Arus Transformasi Pertamina
24 Nov 18, 08:44 WIB | Dilihat : 151
Menjaga Marwah Jurnalis Via AJP2018
01 Agt 18, 13:45 WIB | Dilihat : 2763
Mendulang Kemandirian di Blok Rokan
Selanjutnya