Aksi Korporasi Sampai ke Iran

Pertamina Serius Investasi di Hulu

| dilihat 793

JAKARTA, AKARPADINEWS.COM | PT Pertamina (Persero) menggelar Pertamina Energy Forum 2016, mengusung tema “Current Trends: Investment and Financing in The Energy Industry” di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Rabu : 14 Desember 2016.

Pada sesi terakhir, Direktur Keuangan Pertamina, Arif Budiman mengemukakan, PT Pertamina (Persero) menyiapkan sejumlah strategi investasi dan pembiayaan di tengah turunnya harga migas dunia untuk menjaga ketahanan energi dalam negeri. Antara lain, melakukan efisiensi, menurunkan beban pinjaman dan memperluas basis investor.

 Menurut Arif, “Fokus utama adalah efisiensi yang mendorong pertumbuhan laba bersih kita, naik cukup tajam sekitar 100 persen dari tahun sebelumnya. Hingga kuartal ke-3 tahun ini Pertamina telah melakukan efisiensi US$ 1,6 miliar.”

Selain itu, katanya, Pertamina juga berhasil menurunkan posisi utang dari  US$ 17,4 miliar menjadi US$ 11,6 miliar dengan cara menukar utang lama dengan pinjaman baru yang memiliki bunga lebih rendah,” katanya.

Tahun 2017, Pertamina menyiapkan belanja modal US$ 3 miliar, yang rencananya akan didanai dari project financing, ECA (Export Credit Financing), reserve base lending untuk aset di luar negeri dan equity light instrument yang sudah ditawarkan ke investor yang mau repatriasi.

 “Terlepas dari sumber-sumber pembiayaan yang lebih tradisional seperti obligasi dan pinjaman korporasi, Pertamina saat sedang mengkaji bentuk pendanaan lain diluar pinjaman bank dan obligasi,” tambah Arif.

Akan halnya Kepala Pusat Kebijakan Pendapatan Negara, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Goro Ekanto, mengatakan, untuk mendukung peningkatan investasi di industri hulu migas, Pemerintah akan memberikan insentif fiskal. Di antaranya keringanan pajak pajak penghasilan (PPh), pajak pertambahan nilai (PPn) dan pajak bumi dan bangunan (PBB).

 “Untuk tahap eksplorasi, kementerian juga akan memberikan sejumlah insentif,”  tambah Goro.

Ikhtiar Pertamina itu relevan dengan kondisi obyektif realitas yang dihadapinya, khasnya terkait dengan capaian investasi hulu migas.

Managing Director, Head of Corporate and Investment Banking Citibank Indonesia, Gioshia Ralie, memaparkan pada semester I-2016 capaian investasi hulu migas hanya US$ 5,65 miliar, turun 27 persen dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$ 7,74 miliar.

Energi baru terbarukan mencapai US$ 0,87 miliar, terdiri dari US$ 0,56 miliar di sektor panas bumi, US$ 0,018 miliar di sektor aneka EBT, dan US$ 0,289 miliar di sektor bioenergi.

Menurut Ralie, sektor energi menjadi faktor penting pendorong pertumbuhan ekonomi karena itu perlu dikembangkan. Upaya peningkatan investasi di bidang migas hendaknya menjadi titik sentral dalam menjaga keberlanjutan produksi migas untuk mengoptimalkan penerimaan negara dan tingkat pengembalian investasi.

Apa yang mengemuka dalam diskusi tersebut menarik perhatian untuk melihat prospek dan dinamika bisnis migas tahun 2017. Apalagi, Pertamina mesti menghadapi berbagai realitas global yang sedemikian kompleks. Mulai dari tuntutan OPEC (organisasi pengekspor migas) yang menuntut penurunan produksi – dan kemudian membuat Indonesia keluar lagi dari OPEC, sampai ke kondisi harga migas di pasar global yang masih mengambang.

Strategi pembiayaan dan investasi Pertamina tersebut menjadi menarik, terutama karena sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) – Pertamina masih harus memikul beberapa tugas yang bersifat political appointee. Terutama dikaitkan dengan kontribusi Pertamina terhadap anggaran pendapatan dan belanja negara.

Serius Investasi di Hulu

LEPAS dari soal itu, sebagai entitas bisnis milik negara, Pertamina telah melakukan aksi korporasi  yang akan berdampak positif bagi upaya menjaga ketahanan energi, khasnya minyak dan gas bumi. Antara lain dengan melakukan kerjasama dengan mitra bisnisnya di Iran, yang dirintis sejak lama, dan dieksekusi Agustus 2016.

Pertamina (Persero) telah menanda-tangani nota kesepahaman (MoU – Memorandum of Understanding) dengan perusahaan minyak nasional Iran (NIOC) untuk melakukan eksploitasi atas dua ladang minyak utama (Mansouri dan Ab Teymour) di provinsi Khouzestan yang kaya minyak, itu.

Iran masih punya banyak cadangan minyak dan gas bumi lebih dari 5 miliar barel, seperti diklaporkan kantor berita IRNA. Selain dua blok yang sudah disepakati, Pertamina juga mengincar dua blok ladang minyak Iran lainnya.

Penandatanganan MoU tersebut merupakan langkah pertama rencana kerjasama investasi Pertamina di negeri para mullah itu.

Direktur Utama Pertamina Dwi Sutjipto mengemukakan, "Iran adalah salah satu prioritas Pertamina. Kami serius tentang investasi di hulu minyak dan gas Iran.” Kerjasama itu akan meningkatkan produksi minyak dan gas Iran.

Setarikan nafas, Pertamina juga mengimpor gas petroleum cair (LPG) dari Iran, yang pengiriman pertamanya dilakukan bulan September 2016 lalu. Pertamina, pada bulan Mei telah setuju membeli 600.000 ton LPG dari NIOC.

Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam beberapa waktu berselang, mengemukakan, "Ada dua sampai empat blok yang akan dievaluasi berdasarkan studi awal. Dari empat, ada dua blok yang akan menjadi prioritas kami."

Dengan kerjasama itu, kelak, Pertamina berharap dapat meningkatkan produksi dari setiap blok sekira 30.000 barel per hari sebagai bagian dari rencana pengembangan hulu. Untuk itu, Pertamina mempertimbangkan belanja modal sebesar 5.31 miliar Dolar tahun ini. 72 persen dari belanja modal itu diperuntukan untuk menjalankan aksi investasi di bisnis hulu.

Langkah Pertamina mendapat perhatian dari Presiden Jokowi. Dalam kunjungannya ke Teheran, Presiden Jokowi menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di bidang energi antara Menteri ESDM Ignasius Jonan dengan mitranya, Menteri ESDM Iran.

Kerjasama itu, menurut Jokowi, akan dimulai pada 2017. Indonesia akan mengimpor bahan bakar gas cair (LPG) dari Iran sebesar kurang lebih 500 ribu metrik ton dan Iran akan membangun mobile powerplant di Indonesia sekitar 5.000 megawatt (MW). Jokowi berharap kerja sama ini dapat menciptakan efisiensi harga gas.

"Dengan kerja sama energi ini maka efisiensi harga akan bisa dilakukan," kata Presiden Jokowi Kamis (15/12/2016).

Senada dengan Presiden Joko Widodo, Presiden Hassan Rouhani menyatakan komitmennya untuk bekerja sama dengan Indonesia. Rouhani menyambut baik usulan pemerintah Indonesia terkait pengelolaan ladang minyak di Iran.

"Kami siap berpartisipasi dalam pembangunan pembangkit listrik, bendungan, saluran air, serta berbagai bantuan teknis kepada Republik Indonesia. Tentu saja Republik Indonesia juga dapat aktif dan berpartisipasi dalam industri migas di Republik Islam Iran,” ungkap Hassan.

Pemerintah Iran juga menganggap kerja sama di sektor energi antara kedua negara merupakan suatu hubungan strategis. Pihaknya pun menyatakan kesiapan untuk memenuhi kebutuhan Indonesia dalam bidang tersebut.

Dalam konteks itulah strategi investasi dan tata kelola keuangan Pertamina menjadi penting. Khasnya dalam kerangka melakukan creating value terhadap fundamental bisnis Pertamina sebagai perusahaan energi  nasional yang sedang merambah dunia.

Apa yang dibahas di sesi terakhir Pertamina Energy Forum 2016, itu jelas menggambarkan gerak aksi korporasi Pertamina sebagai captain of industry di bidangnya.. | JM Fadhillah

Editor : sem haesy | Sumber : Pertamina, Setkab, dan berbagai sumber
 
Ekonomi & Bisnis
06 Okt 17, 14:55 WIB | Dilihat : 1095
Sistem dan Keunggulan
16 Jan 17, 22:32 WIB | Dilihat : 719
Samsung Dililit Krisis Lagi
08 Jan 17, 12:51 WIB | Dilihat : 370
Pramugari Vera dan Kemuliaan Melayani
06 Jan 17, 21:55 WIB | Dilihat : 294
Bandara Juanda Paling Tepat Waktu di Dunia
Selanjutnya
Polhukam
13 Okt 17, 10:11 WIB | Dilihat : 714
Parpol Wajib Mendidik Rakyat
13 Okt 17, 15:19 WIB | Dilihat : 1182
Generasi Milenial di Pusaran Politik
12 Okt 17, 21:48 WIB | Dilihat : 734
Analisis Media dan Pengelolaan Isu Kebijakan
12 Okt 17, 07:48 WIB | Dilihat : 202
Jangan Biarkan Iblis Merajalela
Selanjutnya