Akhlak Kepada Alam [4]

Penyebab Utama Banjir : Ulah Manusia

| dilihat 2275

N. Syamsuddin Ch. Haesy

INDONESIA akan mengalami defisit air pada tahun 2015 sebesar 334.739,4 juta M³, bila dilihat ketersediaan air rata-rata per tahun sebesar 691.314,6 juta M³ dan kebutuhan rata-rata per tahun sebesar 356.572,2 juta M³. Namun, bila dilihat dari masing-masing pulau, tercatat Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Timur akan mengalami defisit.

Pulau Jawa akan mengalami defisit hingga -134.102,8 juta M³ per tahun, Bali defisit hingga – 27.651,7 juta M³ per tahun, dan Nusa Tenggara Timur hingga – 4.545,9 juta M³, Sulawesi hingga – 42.517,7 M³ per tahun.

Ironisnya, kita tidak pernah berhenti men­cemari air. Ketidak-mampuan kita mengelola hutan telah ber­akibat berubahnya air menjadi bencana. Pulau Jawa yang luasnya 13.405.500 Ha sedang menanti bencana di masa depan.

Kondisi lingkung­an dan hutan Jawa hanya tinggal 4% dari seluruh luas Pulau Jawa. Padahal titik keamanan minimum yang disyaratkan adalah 30%.  Kondisi ke­rusakan lingkungan di hampir semua puncak gunung di Jawa sangat mempri­hatinkan.  Semuanya nyaris tidak lagi memiliki tutupan vegetasi.

Yang dimaksud­kan titik aman adalah kondisi lingkungan dan hutan yang harus diper­tahankan di mana kawasan lindung terjaga dan ter­pelihara dengan baik, sehingga dapat melestarikan sumber-sumber air dan mencegah erosi.

Sejarah banjir di Jawa selalu sama penye­babnya, yaitu: terjadinya penggundulan hutan di daerah hulu dan pe­nyumbatan oleh kotorangan di sungai-sungai dan jaring­an saluran air, dari daerah tebing hingga ke muara. Peng­gundulan hutan, bahkan tidak hanya membawa banjir, karena meng­angkut juga lumpur, dan kemudian men­dangkalkan waduk-waduk yang dibangun untuk serapan air, dan kemudian limbah beracun dari aneka pabrik.

Banyaknya pabrik-pabrik dan permukiman kumuh yang pada umumnya terbangun di daerah aliran sungai (DAS), serta secara tidak ber­tanggung ­jawab membuang limbah­nya secara langsung ke sungai-sungai, telah me­nye­babkan terjadinya pen­cemaran di se­panjang pantai utara Jawa.

Kondisi itu bisa terjadi akibat pe­mikiran kita yang kumuh. Karena pikiran sudah kumuh, maka kita merasa tidak lagi memerlukan lingkungan hidup yang sehat. Prinsip-prinsip hidup sehat bisa dilihat dari ter­sedianya air bersih, pengelolaan persampahan dan pen­cemaran yang selama ini terabaikan.

Banyak dampak yang ditimbulkan oleh ke­kurangan air bersih. Hampir separuh penduduk dunia yang hidup di negara-negara berkembang, kekurangan air bersih me­nyebabkan penderitaan bagi penduduk. Pada daerah-daerah yang ke­kurangan air, wabah penyakit mudah me­nyerang. Sebagiannya merupakan penyebab kematian yang tidak kalah ganasnya dengan penyakit lain.

World Health Organization mencatat, lebih dari 2 miliar orang di dunia saat ini mengalami penyakit diare dan muntaber yang disebabkan oleh air dan makanan. Penyakit ini merupakan penyebab utama kematian lebijh dari 5 juta anak-anak setiap tahunnya.

Banjir yang melandas ibu kota negara Jakarta, termasuk rob limpahan dari laut ketika pasang, meng­ingatkan kita tentang realitas buruk­nya akhlak terhadap sumber daya alam. Tidak hanya karena sungai-sungai dirampas fungsinya menjadi perkampungan kumuh. Lebih dari itu, inkonsistensi terhadap tata ruang kawasan utara Ibu Kota menunjukkan kenyataan pahit tahunan. Aneh­nya, meski siklus bencana itu selalu terjadi, tetap saja kita membiarkan perilaku tak berakhlak ter­hadap sumber daya alam.

Reklamasi pantai utara Jakarta, tak memper­timbangkan, kelak pada masanya, semua kemewah­an yang menjadi mimpi indah hari ini di pantai utara Jakarta, akan berubah menjadi mimpi buruk. Terutama, ketika perubahan iklim terjadi, dan gunung - gunung es di kutub utara mencair. Lantas gelombang pasang, dengan ketinggian di atas rata-rata lima meter menerjang.

Kita mencatat lebih dari 5 (lima) juta penduduk miskin di kawasan pantura Jawa Barat. Padahal mereka hidup di daerah lumbung padi dan pantai. Mereka juga mengalami persoalan ketersediaan air bersih. |

 

Editor : Web Administrator | Sumber : Cawandatu - N. Syamsuddin Ch. Haesy
 
Lingkungan
03 Okt 19, 22:48 WIB | Dilihat : 183
Dengan Glamping Membaca Tapak Kekuasaan Ilahi
13 Sep 19, 23:21 WIB | Dilihat : 1299
Yeo dan Siti Segeralah Bertemu, Halau Asap
13 Sep 19, 21:15 WIB | Dilihat : 1308
Asap Menyergap Udara Pengap Petinggi Bersilang Cakap
Selanjutnya
Energi & Tambang