Jakarta Melayu Festival 2022 Pesona Estetika Melayu dan Adab Kebangsaan

| dilihat 484

Nota Bang Sèm

Geisz Chalifah tak pernah lelah memfasilitasi, mengkatalisasi, merawat, serta mengembangkan musik dan budaya Melayu di Jakarta.

Perhelatan Jakarta Melayu Festival (JMF) 2022, akan kembali digelar -- dengan format yang disesuaikan keadaan -- pada 17 Agustus 2022, di Taman Impian Jaya Ancol. Menghadirkan sejumlah penyanyi dan musisi Melayu.

Antara lain para biduan dengan kemampuan khas, masing-masing: Erie Suzan, Nong Niken, Alfin Habib, Darmansyah Ismail, Mustafa Abdullah, Takaeda, Sulis, Shena Malsiana, Kiki Ameera, dan Maya. Mereka akan diiringi Butonk , Henri Lamiry, Tom Salmin, Ade, Farid, Arif, Aries, dan Budi Raharjo, dalam koordinasi dan konduksi komposer - musisi Anwar Fauzi. Perhelatan ini akan dihantar Olvah Alhamid, 'kejora dari Timur' - Papua.

 JMF sudah berlangsung sejak 2012 secara tematik. Mulanya dipergelarkan sebagai ensemble in door di kafe hotel City dan Hilton, function hall Bidakara, dan Teater Djakarta - Taman Ismail Marzuki. Lalu sejak 2015 sampai 2019 dikembangkan dan digelar menjadi konser panggung terbuka (open air) di pantai Ancol Big City, untuk ribuan penggemar dan penikmat musik Melayu yang lebih beragam.

Geiz menjelaskan, tahun ini JMF ke X -- setelah dua tahun tak hadir karena pandemi nanomonster Covid-19 - akan menjadi ajang silaturahim kemanusiaan. "InsyaAllah, Gubernur Anies Baswedan akan hadir dan menyampaikan Pidato Kebangsaan lagi," kata Geisz.

Dikemukakannya, pergelaran JMF tahun ini, bertema Teurimong Gheunaseh, yang secara khas dipersembahkan kepada seluruh tenaga kesehatan Indonesia, yang selama pandemi - hingga kini, berjibaku -- hingga mengorbankan nyawa mereka sendiri -- menjadi avant garde melawan serangan virus Covid-19.

"Kita berterima kasih kepada mereka, selain tak melupakan duka mendalam atas berjuta rakyat Indonesia yang menjadi korban pandemi, yang datang tetiba bak gelombang besar yang menghempas kemanusiaan," ungkap Geisz.

Masa dua tahun (2020-2021) itu, tak hanya JMF yang "off." Berjuta keluarga kehilangan sanak saudara. Ibu kehilangan anak,  istri kehilangan suami sebaliknya. Ribuan anak berubah status menjadi yatim dan yatim piatu kehilangan ayah bundanya.

"Para dokter, perawat dan seluruh tenaga kesehatan berjibaku siang malam. Melakukan segala yang mampu dilakukan tak peduli virus itu akan menghampiri dirinya," ujar Geisz.

Sopir Ambulance dengan sirene meraung, mengubah kota jadi mencekam. Mereka antri di pemakaman, mengantar jenazah yang pulang ke alam baka, tanpa didampingi keluarga saat menuju liang lahat. Pun demikianm halnya dengan para penggali kubur menyiapkan ratusan makam dalam sehari, mereka menggali dari pagi hingga pagi lagi.

Lewat bimbit, setiap kali membuka aplikasi WA (whatsapp) horor menghadirkan horor, karena kabar kematian menjadi kabar berita yang pilu.

Di tengah suasana demikian, ungkap Geisz, para tenaga kesehatan (nakes) kita tak mundur satu senti pun. Mereka selalu siaga dan siap berada di garda terdepan menyelamatkan nyawa mangsa virus.

Para nakes menghadirkan cermin kemanusiaan yang tragis: menyelamatkan sesama insan, tanpa kenal siapa namanya, apa etnis dan agamanya, beragam usinya, apa pilihan politiknya, bagaimana status sosialnya, bahkan tak sedikit yang tak kuasa menyelamatkan diri dan nyawanya sendiri.  

"Kini, ketika pandemi berangsur berubah menjadi endemi, dan kehidupan baru bersama virus yang perlahan dapat ditaklukan, kami ingin berterima kasih kepada mereka," ujar Geisz.

Pada malam pergelaran itu, "Gubernur Anies Rasyid Baswedan akan mewakili kita, menyampaikan apresiasi kepada mereka yang berjuang di saat jalan tak berujung, dan  tanah air berubah menjadi tanah air mata."

Menurut Geisz, "Jakarta Melayu Festival tak sekedar perhelatan budaya, tapi juga ajang untuk menghidupkan kefahaman tentang hakekat terima kasih, sebagai adab dan keadaban insaniah."

Prof. Dr. Tatiana Denisova -- guru besar Historiografi dan Budaya Melayu di Pusat Kajian Tinggi Islam, Sains dan Peradaban Universiti Teknologi Malaysia (UTM) - Johor -- berkebangsaan Rusia, menekankan, bahwa adab merupakan ruh atau jiwa budaya Melayu. Adab itu tercermin, tak hanya dalam filosofi dan realitas interaksi sosial sehari-hari.

Syed Muhammad Naguib al-Attas (1972) -- seperti dikutip Lim Kimhui dalam disertasi PhD-nya tentang adab Melayu yang dimaknainya sebagai budi, di Universitas Hamburg -- bahwa masyarakat Melayu (terutama di Indonesia dan Malaysia) mengubah falsafah menjadi seni.  Cenderung lebih artistik daripada filosofis.

Menelusuri syair lagu-lagu Melayu, saya sependapat dengan al-Attas dalam konteks penyederhanaan filosofi dan konsepsi logika yang menjelma, sebagaimana tercermin dalam pantun, gurindam, dan talibun. Keluar dari struktur logika akademis dan menguatkan sikap hidup yang lebih populis modes. Lebih mengeksplorasi human sense yang menjelma dalam romantisma.

Geisz benar. Di balik kata "terimong gheunaseh," ada rangkaian tatakrama dan perilaku berdimensi nilai adab, keadaban dan cermin peradaban berdimensi kemanusiaan.

Rentang kesadaran insaniah yang mesti dilakukan secara antusias untuk menghidupkan simpati, empati, apresiasi, dan respek sebagai ungkapan cinta insaniah kepada insan sesama. Sekaligus menyadarkan insan yang berakalbudi memahami hakekat hubungan insaniah dengan semesta dan Tuhan Pencipta.

Budaya Melayu yang tercermin dalam karya seni (baik seni pertunjukan maupun seni rupa) dengan trilogi artistik - estetik - etik, tak bisa dilepaskan dengan adab (dalam makna yang luas dan harafiah). Itulah yang disebut sebagai budi.

Terutama, karena adab dalam konteks "terimong gheunaseh" tak bisa dilepaskan dari prinsip adat sebagai sistem budaya, sebagaimana tercermin dalam pesan indatu Aceh, khasnya Sultan Iskandar Muda, "Matee aneuk meupat jeurat, matee adeut pat tamita." ( mati anak dapat diketahui makamnya, mati adat - termasuk adab di dalamnya - ke mana hendak mencari ganti ). Adab merupakan ruh adat.

Adab yang kemudian lebih dipahami dan dikenal sebagai budi, menurut Lim (2003), merupakan pemandu kesopanan, akal dan hikmah. Tentu, bagi saya, tak hanya terkait dengan tindakan komunikasi, melainkan dalam keseluruhan proses interaksi sosial. Budi sendiri -- yang berasal dari kata Sanskerta, "Buddhi" - mengandung kearifan, kecerdasan, dan kefahaman.

Monier - William (1956) memaknainya sebagai daya yang membentuk, mempertahankan dan mengembangkan konsepsi - gagasan luas, kecerdasan, akal, intelektualitas, pikiran, ketajaman memahami, sekaligus penilaian atas dinamika (fenomena dan paradigma) kehidupan.

Adab yang ditopang, antara lain oleh anasir budi, tercermin, misalnya dalam pantun empat kerat : "Pisang emas bawa belayar/masak sebiji di atas peti/ hutang emas dapat dibayar/ hutang budi dibawa mati"

Beranjak dari sini, pergelaran JMF 2022 bertema "Terimong Gheunasih," sebenarnya merupakan pentas seni musik, syair, dan lagu yang meluahkan kesadaran tentang perilaku moral atau budi pekerti, sekaligus meluahkan kebijaksanaan atau pertimbangan baik dalam memahami realitas, dengan keluwesan sesuai dengan penggunaan akal (pikiran) dan hati (perasaan) dan sebagai tercermin dari budi bicara dan akal budi.

 Maknanya, pergelaran JMF 2022, juga merupakan ekspresi pikiran Melayu yang menurut Lim, berkembang melalui spektrum akal budi, dan hati-budi yang mencakup "pikiran-emosi-moral-kebaikan-praktisitas."

Berbasis adab yang ditopang budi, budaya Melayu yang disajikan melalui musik, lagu, dan tari dalam JMF 2022, selain menjadi ajang penghiburan, pun dapat dijadikan sebagai titik berangkat mengubah pikiran dan hati untuk mencapai kecerdasan budaya.

Terutama, karena di balik syair, nada, dan komposisi musikal, setiap sajian dalam perhelatan yang tertunda, ini kita dapat belajar memahami tujuan argumentasi dalam budaya Melayu, yang mengalir dalam ikhtiar mencari kebenaran, keadilan, dan kebaikan dalam keindahan kesadaran kemanusiaan.

Dalam konteks kebangsaan, dapat dipahami dari dua penggal pantun empat kerat allahyarham buya Hamka (1983) - isyarat adab kebangsaan - yang diubah suai dan digubah oleh Hussein Bawafie, menjadi lagu bertajuk Budi (belakangan didendangkan dengan asyik oleh Darmansyah Ismail), seperti ini:

Diribut runduklah padi / Dicupak Datuk Temenggung / Hidup kalau tidak berbudi / Duduk tegak kemari canggung // Tegak rumah karena sendi / Runtuh sendi rumah binasa / Sendi bangsa ialah budi / Runtuh budi runtuhlah bangsa // ***

Editor : delanova
 
Humaniora
10 Sep 22, 12:45 WIB | Dilihat : 160
WSI Bergerak Tanpa Lelah Menjawab Tantangan Zaman
09 Sep 22, 08:23 WIB | Dilihat : 77
Pemimpin versus Penguasa
Selanjutnya
Sporta