Indonesia, Di Mana Alamatmu Sekarang ?

| dilihat 1566

Puisi N. Syamsuddin Ch. Haesy

 

Zaman berubah. Musim berubah.

Konstitusi berubah. Kekuasaan berubah.

Parlemen berubah. Partai Politik berubah.

Ormas berubah. Sejarah berubah.

Praktik demokrasi berubah-ubah. 

Dan kamu, Indonesia 

Kudengar juga sudah lama

berubah dan berubah-ubah.

Bahkan alamatmu pun berubah-ubah.

Indonesia, di mana alamatmu sekarang?

Kabarnya, hanya bedebah tak pernah berubah

Aku memburumu di Laweyan, sudut sunyi kota Solo

Tempat dulu KH Samanhudi

menghidupkan ghirah dan gairah kewirausahawan

Yang jelma menjadi gairah kebangsaan

Tak kutemukan kamu di sana..

Seorang nenek tua dengan canting

dalam genggaman jemari renta

gemetar menorehkan namamu

di atas lembaran kain produksi cina

tak ada lagi mori dan belacu

meski malam dari gondorukem

masih hasilkan batik sogan

kepalanya menggeleng ketika kutanyakan padanya

di mana alamatmu, Indonesia?

Di kampung Peneleh – Surabaya

Tempat dulu HOS Tjokroaminoto mendidik Soekarno

Tentang nasionalisme, tentang ghirah kebangsaan

Menggelorakan bara semangat kemerdekaan

Menanamkan cinta tanah air

Menghidupkan keberanian dan kecerdasan

Mewujudkan nasionalisme Indonesia

Di sudut-sudut negeri

Aku hanya bisa mendengar kisah heroik masa lampau

ketika Syarikat Islam, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Al Irsyad Al Islamiyah

Menjadi penghulu pergerakan

Menggelorakan semangat kebangsaan dan ke-Indonesia-an

Aku ngembara mencari alamatmu, Indonesia

Di Banda Aceh, Medan, Padang, Pekanbaru, Palembang, Banjarmasin,

Samarinda, Makassar, Palu, Gorontalo, Bolaang Mongondow, Banten,

Bogor, Garut, Bandung, Cirebon, Banjarnegara, Yogyakarta, dan Kalabahi

Orang-orang yang kutemui di sana

menggelengkan kepala dan sama berteriak:

Indonesia, di mana alamatmu sekarang?

Pada sunyi separuh malam

Selepas ruwet menyergap Jakarta

Kupandangi rumah tua tempat dulu

KH Agus Salim mengurai pikiran tentang jati diri Indonesia

Tapi aku tak berani mengetukkan jemari di pintunya

Untuk bertanya:

Indonesia, di mana alamatmu sekarang?

 

Seorang ibu dengan merah putih lusuh di tangannya

Bertanya:

Masih perlukah kau bertanya tentang alamat Indonesia sekarang?

Ketika yang akan kau temukan hanyalah

Jutaan orang Indonesia 

berayah ibu Indonesia 

mengaku bertanah air Indonesia, 

berbangsa Indonesia, 

berbahasa Indonesia

tapi mereka, tak lagi Indonesia

sejak sejarah terjarah

nasionalisme religius terkoyak mazhab dan sekte

nasionalisme kebangsaan terporak politik golongan dan etnosentrisme

nasionalisme kerakyatan terberai indivisualisme

kemandirian berubah menjadi ketergantungan

kekayaan pemberian Tuhan berubah menjadi kemiskinan 

akal budi berubah menjadi akal-akalan 

keadilan terampas para hakim belum akil balig

musyawarah berganti unjuk rasa

sumpah pemuda berganti sumpah serapah pemuda

proklamasi berganti komunike transaksi

penegakan hukum dan konstitusi terampas korupsi

di sebuah bangsa yang dipenuhi petinggi

kita tak lagi memiliki elite yang mencerahkan

kita hanya punya petinggi 

yang tak henti mengukir fantasi di asap setanggi

yang tak lagi mau mengisi saku dan kocek mereka

dengan Rupiah

tapi dari mulut mereka selalu saja 

ada sabda tanpa makna

“Kita sedang bergerak ke zaman baru...”

Jangan berputus asa !

Indonesia, di mana alamatmu sekarang?

Aku terhempas ke sini. Di sini

Aku masih mencari alamat Indonesiaku

Indonesia yang 108 tahun lalu

Dialirkan ke darah kita

Ke darah kaum yang sungguh mecintai Indonesia

Ke darah kaum yang pantang tercerai berai

Ke darah kaum yang dilatih untuk memberi

Ke darah kaum yang dilatih untuk mandiri

Ke darah kaum pergerakan yang harus dibangunkan keinsafannya

Yang memahami demokrasi sebagai cara mencapai harmoni..

Mungkinkah alamat Indonesia ada di dada mu?

 

Jakarta, 10 Oktober 2013

 

 

 

 

Editor : Web Administrator
 
Seni & Hiburan
04 Jul 19, 13:22 WIB | Dilihat : 672
Jakarta Melayu Festival 2019 Merengkuh Keadilan
19 Jun 19, 12:59 WIB | Dilihat : 946
Kejujuran
12 Jun 19, 14:16 WIB | Dilihat : 287
Hafez dalam Abadi Cinta
10 Jun 19, 10:45 WIB | Dilihat : 298
Perempuan di Makam Ibu
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
08 Jul 19, 16:21 WIB | Dilihat : 696
BNI Syariah Istiqamah di Jalan Hasanah
19 Jun 19, 10:46 WIB | Dilihat : 886
Harapan Wirausaha Kreatif Malaysia di Bahu Dzuleira
27 Mei 19, 13:43 WIB | Dilihat : 233
Sang Pemandu
16 Mei 19, 11:03 WIB | Dilihat : 377
Utang Negara dan Pembangunan Sosial
Selanjutnya