The Foxes Berpesta

| dilihat 2551

LONDON, AKARPADINEWS.COM | SORAK sorai membahana di dalam dan luar Stadion King Power, Kota Leicester, Inggris. Para pemain bersama ribuan fans Leicester City meluapkan kegembiraan ketika kapten bersama pelatihnya, Wes Morgan dan Claudio Ranieri, bersama-sama mengangkat trofi Liga Premier Inggris, Sabtu (7/5).

Ranieri tak mampu menahan haru. "Saya (seperti) pria yang aneh," katanya. Dan, dengan mata yang rada berkaca-kaca, dia berujar, "Ada banyak kamera yang menyoroti saya untuk melihat apakah saya menangis. Saya katakan hari ini, tidak (menangis)," ujar pelatih asal Italia itu. "Ini saat yang terbaik dalam hidup saya. Saya harus menahan air mata," kata pelatih berjuluk The Tinkerman itu.

Laskar The Foxes beserta ribuan fansnya, layak berpesta. Karena, inilah momentum yang tepat merayakan pesta setelah penantian selama 132 tahun. Fans Leicester City memang ingin tim kesayangannya menang di laga tersebut. Dan, itu dibuktikan. Para pemain Leicester City menunjukan sebagai tim sepakbola terbaik dunia. Mereka memukul Everton dengan skor 3-1.

Kemenangan itu sekaligus menunjukan komitmen para pemain untuk menyuguhkan prestasi yang terbaik bagi kepada para fans dan pihak manajemen. Mereka tidak terjebak dalam kepuasan setelah Tottenham dengan Chelsea bermain imbang dengan skor 2-2. Hasil imbang itu mengukuhkan The Foxes sebagai juara Liga Premier Inggris.

Kemenangan atas Everton menunjukan kekuatan, komitmen dan kualitas permainan punggawa Leicester City. Dan, laga itu tak tidak sekadar menyaksikan pertandingan sepakbola. Namun, laksana menyaksikan karnaval yang diselumuti emosi dan air mata kebahagiaan. "Menakjubkan. Saya mencoba untuk kuat, tanpa emosi karena hidup saya saat ini menjadi lebih baik," kata Ranieri, yang timnya akan menggelar parade kemenangan di Kota Leicester pada Senin, 16 Mei nanti.

Bagi Ranieri, memontum itu merupakan kali pertama dirasakannya. Inilah gelar liga utama pertamanya yang diraihnya setelah tiga dekade menjadi pelatih. Sebelumnya, dia hanya bisa mengantarkan Roma, Juventus, dan Monaco, menjadi runner-up liga.

Bahkan, Ranieri pernah menerima pengalaman pahit saat menangani klub amatir Vigor Lamezia di Calabria pada tahun 1986 dan Puteolana. Kala awal di Puteolana dan Lamezia, dia sempat berada di puncak liga, tanpa sekali pun kalah.

Namun, saat menukangi Puteolana di Serie C, pihak manajemen memecatnya. Bahkan, ketika mengawali karir Leicester City pada Juli 2015 lalu, dia dinggap sebelah mata. Khalayak memperkirakannya karirnya akan berakhir di Leicester City setelah sebelumnya gagal menukangi Tim Nasional Yunani.

Ranieri mengakui karirnya pernah terjungkal saat menangani Valencia pada 2005. Menjalani musim bersama Valencia dikenangnya sebagai pengalaman terburuk. Tim tersebut sempat menjuarai liga Spanyol, juara UEFA saat diasuh Rafael Benítez. Dan, kini mengalami masa-masa sulit. "Mereka bilang, Kami kini membawamu kembali ke Valencia karena semua orang mencintai kamu."

Luapan kegembiraan tak mampu disembunyikan bintang Leicester City, Jamie Vardy. Dia mengaku seakan "diguna-guna" saat mengangkat trofi itu. Vardy tampil memukau dengan menorehkan dua gol ke gawang Everton, meski sekali gagal mengeksekusi finalti. Gol ketiga Leicester City disumbangkan Andy King setelah menerima umpan silang dari Riyad Mahrez. "Sepertinya ada orang yang mengguna-gunai saya," ucapnya.

Morgan juga mengungkap pengalaman mengangkat trofi menjadi pengalaman terbaik selama hidupnya. "Tidak ada perasaan yang lebih baik bagi saya selain menjadi juara di Liga Inggris. Saya menikmati saat ini. Ini saat terbaik dalam hidup saya. Ini seperti mimpi." Sementara terkait Liga Champions yang akan dihadapi Leicester City, Morgan tak mampu berkata-kata, "Aku tidak tahu apa seperti apa rasanya," katanya.

Bagi para pemain dan fans Leicester City, memontum saat ini akan selalu diingat lantaran sudah sekian lama menantikan Wes Morgan dan rekan-rekannya mengangkat trofi Liga Inggris.

Wajar jika eforia menyambut kemenangan Leicester City. Ribuan pendukung memadati stadion hanya untuk ambil bagian dalam karnaval kemenangan Leicester. Di sisi lain, ribuan fans pun berkumpul di dekat sebuah layar besar sampai momen terbesar musim ini diraih tim kesayangannya. Mereka terpaksa merayakan eforia di luar stadion lantaran karcis habis terjual. Berbagai atribut yang mengukuhkan Leicester City sebagai juara baru di Liga Inggris, mereka bentangkan. Mereka pun bersorak sorai.

Bahkan, sebelum pertandingan, tim yang tengah melakukan pemanasan disambut sorak-sorai fans yang berkumpul di stadion. Mereka begitu mengapresiasi Ranieri dan timnya. Laskar Leicester City memang begitu bersemangat meraih kemenangan. Mereka tak ingin mengecewakan fansnya yang begitu antusias menyambut kemenangan.

Karena tak ingin mengecewakan fansnya, Ranieri mengerahkan kekuatan penuhnya. Para pemain telah berlatih sejak Kamis lalu, setelah diberikan satu hari libur. Ranieri mengatakan, telah istirahat dalam waktu lama dan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan di musim ini.

Karenanya, sejak awal laga berlangsung, Leicester City bermain agresif, menyerang dengan taktik cerdas, bersemangat dan apik melakukan penetrasi. Mereka seolah-olah bermain lepas dan menikmatinya. Dan, gol pertama pun dilesakkan Vardy setelah lima menit permainan berlangsung. Menerima umpan silang Andy King, Vardy langsung melesakkan tendangan jarak jauh yang sukses menggetarkan gawang Everton.

Enam menit kemudian, King nyaris menggandakan skor lewat sundulannya, setelah menerima umpan cantik dari Riyad Mahrez. Sayang, bola mengarah ke arah kiper Everton, Joel Robles. Gol kedua ditorehkan Andy King pada menit ke-33 setelah memanfaatkan umpan terobosan Mahrez dan memperdaya penjaga gawang.

Di babak kedua, Everton berupaya memperkecil ketertinggalan. Sayang, serangan yang dilancarkan Oumar Niasse dan Romelu Lukaku, mampu ditangkal kiper Leicester City, Kasper Schmeichel. Dan, ironi bagi Everton, lantaran memasuki menit 65, Leicester City, menambah gol lewat penalti Vardy. Wasit memberikan hadiah penalti setelah Vardy dijatuhkan Pennington di kotak finalti.

Memasuki menit 70, pertandingan memanas. Keberuntungan nyaris diraih Leicester kala Jeff Schlupp dilanggar Darron Gibson hingga berbuah finalti. Sayang, eksekusi yang dilakukan Vardy kali ini gagal. Tendangannya melambung di atas gawang Everton. Di menit 88, Everton baru berhasil mencetak gol lewat Kevin Mirallas. Skor 3-1 bertahan sampai pertandingan berakhir.

Kemenangan Leicester City itu menyempurnakan perayaan gelar Liga Premier Inggris. Leicester City makin mengukuhkan posisinya di puncak klasemen dengan raihan 80 poin. Sementara Everton berada pada posisi 12 dengan 44 angka. Atas kemenangan itu, Ranieri memuji konsistensi tim asuhannya.

Sementara Morgan menegaskan, kemenangan Leicester City tidak terlepas dari rasa percaya diri tim yang tinggi dan bermain dengan kekompakan. "Kami adalah sebuah tim, tidak ada ego," ujarnya.

Vardy juga menegaskan, kemenangan itu diraih berkat kerja keras semua pemain dan dukungan para fans. "Semua bekerja keras. Kami seperti saudara dan itulah kami."

Secara pribadi, Vardy bangga dengan prestasinya. "Namun tanpa mereka di sekitar saya, tidak akan ada yang mungkin," katanya. Kemenangan atas Everton makin menyempurnakan torehan prestasinya Leicester City di Liga Inggris. Pejuangan The Foxes mencapai klimaks. Menjadi tim elit yang diseganai tim-tim sepakbola dunia.

Mantan penjaga gawang legendaris Tim Nasional Inggris yang juga pernah bermain di Leicester City dan Nottingham Forest, Peter Shilton mengatakan, Leicester City mampu menarik perhatian para pencinta bola dunia. Belum lama ini, dia pernah bertandang ke Barcelona, Spanyol. "Semua orang di sana membahas Leicester City. Mereka memuji apa yang sudah dicapai," kata Shilton. "Di Amerika Serikat, dan bahkan di Timur Jauh, Leicester berada di posisi paling tinggi," kata pria berusia 66 tahun itu.

Ya, itulah momentum bersejarah yang tidak akan terlupakan. Para pemain dan fans merindukan kemenangan setelah sekian lama dinantikan. Meski demikian, Ranieri mengingatkan jika tantangan ke depan masih menghadang.

Ranieri mengatakan, dirinya hanya memikirkan pertandingan berikutnya. "Kita restart musim depan dengan ambisi yang sama, kerendahan hati dan perasaan." ujarnya. Keberhasilan Leicester musim ini tidak terlepas dari peran seluruh elemen tim, mulai dari pemain, pelatih, hingga pemilik klub saat ini, Vichai Srivaddhanaprabha, taipan asal Thailand.

Namun, mempertahankan gelar juara lebih sulit daripada memperebutkan juara. Karenanya, The Foxes jangan sampai larut dalam eforia. Apalagi, musim depan, persaingan bakal berlangsung makin sengit. Beberapa pelatih top dunia seperti Josep “Pep” Guardiola dipastikan akan menukangi Manchester City dan Antonio Conte yang akan meracik Chelsea.

Kedatangan dua pelatih itu akan membuat Liga Premier Inggris semakin memanas. Selain kedua klub itu, Manchester United (MU) juga akan berbenah, menyongsong perhelatan Liga Premier Inggris musim depan.

Karenanya, Ranieri harus mempertahankan dan meningkatkan performa Leicester City. Dia harus mampu mempertahankan beberapa bintangnya, seperti Riyad Mahrez dan Jamie Vardy. Pasalnya, beberapa klub Inggris dan Eropa tengah melirik kualitas keduanya (Baca: Tantangan Leicester City di Musim Baru).

Terkait hal itu, Ranieri akan berupaya mempertahankannya karena merasa para pemain Leicester City seperti anaknya sendiri. Dia pun berharap bisa mempertahankan semua pemain utamanya saat ini.

Vardy mulai diincar Chelsea untuk menambah daya gedornya. Meski The Blues, julukan Chelsea, sudah memiliki beberapa striker bintang, seperti Diego Costa, Radamel Falcao, dan Pedro, kedatangan Vardy dianggap amat penting. Karena, Chelsea butuh striker yang mampu bermain konstan seperti Vardy. Selain Chelsea, Real Madrid mulai memantau striker berusia 29 tahun itu untuk menjadi pelapis Benzema. Vardy hanya menjadi opsi cadangan saja.

Sedangkan Mahrez, mulai dilirik MU dan Arsenal. Bahkan, Barcelona juga memantau pemain asal Aljazair tersebut sejak pertengahan musim ini. Bila harus meninggalkan King Power Stadium, Mahrez kemungkinan lebih memilih berlaga bersama Blaugrana.

Pasalnya, pemain berusia 25 tahun itu sudah sejak lama bermimpi untuk bermain satu tim dengan idolanya, yakni Lionel Messi. Tentu, akan merugi jika kedua pemain itu dilego Leicester, meski masih memiliki pemain-pemain berlian lainnya, seperti Daniel Drinkwater, N’Golo Kante, dan Christian Fuchs yang menjadi motor permainan Lecester musim ini. Meski demikian, Ranieri harus mampu menambal lini depan bila memang Vardy dan Mahrez hengkang.

Ranieri juga harus menjaga kekompakan tim. Tak bisa dipungkiri, Leicester mampu menaklukan dominasi klub-klub besar di Inggris lantaran kekompakan tim yang luar biasa. Para pemain Leicester City mampu mengembangkan permainan apik, semangat yang tinggi, untuk memporak-porandakan pertahanan lawan.

M. Yamin Panca Setia

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : The Mirror/The Guardian/Sky Sports/BBC/The Sun
 
Energi & Tambang
29 Mar 21, 20:15 WIB | Dilihat : 359
Pertamina Jamin Pasokan BBM Aman
28 Jan 20, 13:31 WIB | Dilihat : 1205
Komitmen Budaya pada Reklamasi Pertambangan
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 1458
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
31 Agt 21, 19:09 WIB | Dilihat : 335
Pandemi dan Pemulihan Ekonomi Lokal
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 419
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 591
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
Selanjutnya