Taktik Gagal Van Gaal

| dilihat 1851

AKARPADINEWS.COM| Louis Van Gaal adalah orang pertama yang pantas menjawab pertanyaan seputar kegagalan Manchester United (MU). Van Gaal gagal mengembalikan kejayaan Setan Merah.

Baru-baru ini, MU menelan pil pahit untuk kesekian kalinya setelah dipermalukan di kandang sendiri oleh Arsenal, dengan skor tipis 1-2. Alhasil, MU harus tersingkir dan melupakan trofi FA Cup musim ini.

Sepeninggal Sir Alex Ferguson pada 2013 lalu, MU bagai kehilangan daya magisnya. Dimulai dari perekrutan The Choosen One, David Moyes, bekas pelatih Everton sebagai suksesor Ferguson. Namun, harapan besar yang disematkan pada Moyes berbuah kenyataan pahit.

Pada musim pertama dan terakhirnya melatih MU, Moyes hanya sanggup membawa MU finish di posisi ketujuh. MU pun gagal berlaga di UEFA Champions League musim ini (2014-2015). Moyes lalu diganti Van Gaal.

Kala itu, ekspektasi fans MU sangat luar biasa. Van Gaal diyakini mampu mengembalikan kejayaan MU lantaran sukses bersama Ajax Amsterdam dan AZ Alkmar. Ia berhasil meraih 3 trofi Liga Belanda bersama Ajax dan 2 trofi Liga Belanda bersama AZ Alkmar. Selain itu, ia berjaya bersama Barcelona dengan memberi 2 trofi La Liga dan 1 Copa Del Rey kepada klub Catalan tersebut.

Saat dipercaya melatih MU, Van Gaal pun dimanjakan oleh manajemen klub untuk belanja pemain bidikannya. Hasilnya, transfer gila-gilaan MU menghabiskan total 230 juta Euro pada musim 2014-2015 ini. MU mendatangkan Luke Shaw, Marcos Rojo, Daley Blind, Ander Herrera, Radamel Falcao, hingga paling fantastis Angel Di Maria yang memecahkan rekor transfer termahal Liga Primer Inggris senilai 63,9 juta pound atau setara 1,2 triliun rupiah. Racikan Van Gaal diharapkan mengembalikan kejayaan MU.

Namun, MU masih tertatih-tatih untuk berjuang merebut posisi tiga besar Liga Primer Inggris. Dengan kata lain, juara liga nyaris mustahil direbut. Piala Carling juga pupus karena kekalahan memalukan 0-4 dari klub divisi 3 Liga Inggris, MK Dons.

Kini, Piala FA pun sudah melayang. Apalagi, kekalahan dari Arsenal semalam diperparah oleh gol penentu kemenangan Danny Wellbeck, eks pemain MU yang dijual ke Arsenal, juga insiden kartu merah Angel Di Maria.

Melihat track record Van Gaal di klub sebelumnya yang cukup cemerlang, publik pantas kecewa dengan performa buruk MU di bawah kepelatihan pria berusia 63 tahun itu. Pertanyaannya, kenapa Van Gaal tak sanggup membawa MU bangkit dari keterpurukan?

Di bawah kepemimpinan Van Gaal yang serba disorot media, tentu tekanan dan determinasi dari beberapa pihak terus menyerang. Van Gaal dikritik keras soal penggunaan formasi, posisi Rooney, umpan panjang, perseteruan dengan Giggs, dan paling terbaru hubungan kurang baik dengan Di Maria. Semua itu makin membuat posisi Van Gaal semakin terancam, dan dominasi MU sebagai klub paling berjaya di Inggris berada di ambang keruntuhan.

Minim Akselerasi dan Inefisiensi

Kalangan praktisi sepak bola hingga pengamat menilai, Van Gaal tidak memainkan permainan sepakbola efektif. MU menjadi tim dengan penguasaan bola terbanyak, namun minim konversi gol. Van Gaal juga gagal memaksimalkan peran pemain termahal Liga Primer Inggris, Angel Di Maria.

Dia lebih mengutamakan filosofi bermain dengan taktik penguasaan bola secara mutlak. Dampaknya, setiap Di Maria menguasai bola, ia dipaksa harus mengumpan bola ke rekannya, ketimbang melakukan akselerasi.

Taktik ini bertolak belakang terhadap permainan Di Maria. Ketika di Real Madrid, pesebakbola asal Argentina itu diberi ruang gerak yang amat bebas dalam mengolah bola, termasuk melakukan penetrasi ke pertahanan lawan, lalu dengan bebas menembak ke arah gawang lawan.

Memang, Setan Merah sukses memimpin presentase penguasaan bola hingga 60%, namun untuk apa jika tidak membuahkan gol?

Kemunduran MU juga diperparah dengan data yang dilansir Daily Star bahwa Setan Merah adalah tim dengan backpass (umpan ke kiper) paling banyak di Liga Primer dengan total 442 kali.

Artinya, pemain MU yang frustasi karena kesulitan menyerang, memilih mengumpan ke kiper setelah lama bermain di daerah sendiri. Data Daily Star tersebut seolah menjadi kutukan bagi Setan Merah.

Dalam laga melawan Arsenal, Selasa (10/3) lalu, gol penentu kemenangan The Gunners tercipta akibat umpan pendek Valencia ke arah De Gea yang sukses direbut Wellbeck hingga menghasilkan gol.

Tentu, harus ada evaluasi terhadapĀ  Van Gaal dalam menyusun taktik penguasaan bola. Selain itu, formasi 3-5-2 yang diterapkan Van Gaal terbukti tidak efektif. Selain mengunci kreativitas Di Maria, formasi yang menempatkan Rooney sebagai gelandang, berlawanan dengan peran yang biasa dilakoni Rooney sebagai penyerang.

Van Gaal harus putar utak. Reputasinya bakal anjlok jika terus-terusan gagal melatih MU. Bahkan, rumor beredar, dia akan dipecat di akhir musim. Bisa saja, dia angkat kaki dari Old Trafford, jika gagal membawa MU, minimal berada di posisi tiga besar kelasemen akhir Liga Primer Inggris musim ini.

Van Gaal diharapkan dapat meningkatkan daya serang MU agar lebih garang, menyelaraskan hubungan personal dengan pemain dan stafnya, melepas bayang-bayang Ferguson, hingga mengembalikan kejayaan MU.

Adhimas Faisal

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Seni & Hiburan
31 Jul 21, 04:03 WIB | Dilihat : 179
Mata Maut
03 Mar 21, 06:38 WIB | Dilihat : 418
Industri Game Naik Saat Pandemi
Selanjutnya
Lingkungan
27 Sep 21, 12:15 WIB | Dilihat : 354
Selamatkan Kebun Raya Bogor
10 Sep 21, 14:55 WIB | Dilihat : 199
Ida Mengamuk Sejumlah Kota Amerika Serikat Berantakan
01 Agt 21, 09:31 WIB | Dilihat : 192
Membaca Sinyal Presiden Joe Biden tentang Jakarta
Selanjutnya