Timnas Islandia

Rahasia Kemenangan Si Kuda Hitam

| dilihat 2189

AKARPADINEWS.COM | MEMILIKI banyak pemain bintang, tidak menjamin sebuah tim sepakbola dapat memenangi pertandingan. Hal itu dibuktikan oleh Islandia pada perhelatan Euro 2016. Meski tak memiliki banyak bintang di dalam skuatnya, Islandia mampu tampil mengejutkan.

Pemain Islandia jarang yang mengisi posisi di klub-klub elit Eropa. Mungkin, hanya Eidur Gudjohnsen, yang cukup dikenal oleh pecinta sepakbola dunia. Pemain tengah Islandia itu pernah membela beberapa klub elit Eropa, seperti Chelsea, Barcelona, dan AS Monaco. Selebihnya, dia hanya mengisi klub-klub papan menengah dan klub lokal di Islandia.

Walau jarang ada nama beken dalam timnya, Islandia mampu menggebrak kompetisi di benua biru itu. Jauh sebelum Euro 2016, pada babak kualifikasi yang berjalan dari tahun 2014, Islandia sudah menunjukkan kerja kerasnya. Tergabung di grup A bersama Turki, Belanda, Latvia, Republik Ceko, dan Kazakhstan, tak membuat nyali Islandia meredup.

Dengan mengantongi enam kemenangan, dua seri, dan dua kekalahan, Islandia berhasil lolos ke babak grup Euro 2016. Lolosnya Islandia itu menjadi pil pahit untuk Belanda yang akhirnya harus rela menjadi penonton pada Euro tahun ini.

Sebagai tim debutan, Islandia tidak diperhitungkan sama sekali oleh tim-tim besar langganan Euro. Hanya Wales, debutan yang menjadi gunjingan tim-tim besar lantaran ada Gareth Bale, yang makin bersinar di kancah sepakbola dunia. Lantaran merasa tidak diperhitungkan, tim berjuluk Strakarnir Okkar itu pun bermain tanpa beban.

Di laga pembuka Grup F Euro 2016, Islandia berhadapan dengan salah satu tim unggulan, yakni Portugal. Banyak pecinta sepakbola berspekulasi, Portugal dapat menang dengan mudah melawan Islandia.

Prediksi itu didasari oleh kualitas Selecao di atas kertas, jauh lebih bagus ketimbang Islandia. Apalagi, Portugal dibela oleh salah satu pemain bintangnya Cristiano Ronaldo. Nyatanya, prediksi itu meleset. Islandia dengan kekuatan timnya berhasil menahan imbang Portugal dengan skor 1-1.

Pada laga 15 Juni itu, Islandia berhasil mengurung Ronaldo sehingga tak berkutik. Hasilnya, pemain Real Madrid itu harus bersusah payah untuk menembus pertahanan Islandia. Meski sempat memimpin laga dengan gol dari kaki Nani, Portugal lengah. Di akhir laga, Islandia berhasil menyamakan kedudukan dari tendangan voli pemain tengah Birkir Bjarnason.

Hasil seri itu menjadi kejutan yang menyesakkan bagi Ronaldo. Sebab, dia sudah yakin timnya akan menang melawan tim sekelas Islandia. Keberhasilan menahan laju Portugal rupanya mematik semangat skuat pimpinan dua manajer Islandia, Lars Lagerback dan Heimir Hallgrimsson.

Pada laga selanjutnya, 18 Juni melawan Hungaria, Islandia bermain cukup rapi, walau permainan didominasi Hungaria. Permainan timnya tak kalah solid seperti saat melawan Portugal. Namun, permainan kolektif membuat pertahanan Hungaria, frustasi menghadapi serangan balik Islandia.

Hasilnya, terjadi pelanggaran di kotak penalti setelah Kadar, pemain bertahan Hungaria, menyikat Aron Gunnarsson di menit 40. Kesempatan tendangan penalti tak disia-siakan oleh Gylfi Sigurdsson yang melesakkan bola ke sisi kiri gawang Hungaria. Atas gol tersebut, Islandia menutup babak pertama dengan memimpin 1-0.

Pada babak kedua, Hungaria menaikan tempo serangan. Meski sedikit keteteran, Islandia mampu bertahan dengan apik. Sayangnya, di menit 88 terjadi petaka untuk Islandia. Birkir Saevarsson, pemain belakang Islandia, gagal menghadang umpan silang Nikolic ke kotak penalti sehingga berbuah gol bunuh diri. Akhirnya, Islandia harus puas dengan hasil seri melawan Hungaria.

Kegagalan memperoleh nilai penuh pada laga melawan Hungaria tidak menurunkan semangat juang pasukan Normandik tersebut. Islandia, tetap menunjukkan daya tarung Viking dalam laganya melawan Austria pada 22 Juni lalu.

Sama pada kedua laga sebelumnya, Islandia tidak terlalu menunjukkan dominasi permainan. Bahkan, selama 90 menit laga berlangsung, permainan didominasi oleh Austria. Total penguasaan bola Austria pada laga itu mencapai 69 persen. Sedangkan Islandia hanya meraih 31 persen.

Meski begitu, Islandia lebih dulu berhasil merebut angka. Pada menit 18, Jon Dadi Bodvarsson melesakkan tendangan keras ke sisi kiri gawang Austria setelah mendapat umpan sundulan dari Kari Arnason. Atas gol itu, Islandia memimpin 1-0 atas Austria hingga babak pertama usai.

Pada babak kedua, Austria tidak mengendurkan serangannya. Islandia terus dibombardir serangan dari berbagai sisi. Namun, perlawanan Islandia tidak mengendur sedikitpun. Aksi jual beli serangan sering terjadi di babak kedua.

Sayangnya, pada menit 60, Austria berhasil menyamakan kedudukan. Gol itu dihasilkan dari tendangan kaki kiri Alessandro Schopf setelah menerima umpan korner cukup matang dari David Alaba dari sisi kanan. Walau telah berposisi seri, Islandia tidak mengendurkan permainannya.

Punggawa Islandia pun berupaya keras untuk meraih kemenangan. Berbagai serangan dilancarkan untuk mengalahkan Austria. Dengan semangat berkobar seperti Viking dalam menghadapi perang, Islandia mendapat kesempatan mencetak angka pada menit 90.

Gol kemenangan itu dicetak Arnor Ingvi Traustason dari kaki kirinya setelah mendapat umpan dari Teddy Bjarnason. Dengan gol menit terakhir itu, Islandia menang dan menjadi runner up Grup F. Sebagai runner up, Islandia berhak melaju ke babak 16 besar Euro 2016.

Tantangan berat Islandia di babak 16 besar ialah melawan Inggris. Sama seperti saat melawan Portugal, banyak yang berspekulasi Inggris akan memenangi laga dengan mudah. Apalagi, Inggris diisi pemain bintang yang pastinya berkualitas.

Laga yang berlangsung pada Minggu lalu (27/6), Roy Hodgson memasang pemain terbaiknya sebagai starter. Nama-nama pemain andalan Hodgson itu di antaranya Wayne Rooney, Hary Kane, Raheem Sterling, Delle Ali, hingga Joe Hart. Dengan susunan pemain bintang itu, Hodgson percaya diri dapat memenangi laga.

Saat laga dimulai, Inggris sebenarnya telah tampil menyerang dan menekan pertahanan Islandia dengan baik. Penyerangan itu cukup merepotkan lini pertahanan Islandia. Hingga pada menit ke empat, Hannes Thor Halldorsson, kiper Islandia, menyergap Sterling di kotak penalti.

Wasit menilai sergapan itu sebagai pelanggaran dan memberikan hadiah penalti kepada Inggris. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Rooney selaku eksekutor tendangan pinalti berhasil menyelesaikan tugasnya dengan memasukkan bola ke arah sisi kanan Halldorsson.

Akan tetapi, Inggris hanya memimpin laga sepanjang dua menit. Karena, pada menit keenam, Islandia berhasil menyamakan angka. Kali ini, gol tercipta dari kaki Ragnar Sigurdsson setelah memanfaatkan lemparan ke dalam dari jarak jauh. Tendangan kaki kanannya itu melesak melewati bawah kaki Hart yang sudah bersusah payah untuk menghentikannya.

Dengan skor imbang, Inggris dan Islandia kembali mempertontonkan keahlian mereka di lapangan. Bermain lebih agresif dari Islandia, skuad The Three Lion berhasil menekan Islandia dan melancarkan beberapa serangan ke arah gawang lawannya. Sayangnya, serangan-serangan itu tidak dapat berbuah angka.

Naasnya, pada menit 18, Islandia justru menambah angka dari permainan kerja sama yang apik. Ialah Kolbeinn Sigthorsson yang berhasil mengoyak jala Hart kala itu. Gol yang dihasilkan Sigthorsson itu berasal dari permainan umpan kombinasi yang cukup baik antar pemain Islandia.

Selain karena permainan Islandia yang apik, terjadinya gol kedua itu juga ada andil permainan buruk Hart. Seakan tak belajar dari gol sebelumnya, Hart lengah menjaga gawangnya dari aksi para pemain Islandia.

Ketinggalan angka, Inggris sebenarnya telah menaikkan level permainannya. Sayangnya, segala usaha penyerangan ke gawang Islandia selalu menemukan titik buntu. Skor itu pun bertahan hingga laga usai. Inggris pun harus pulang dengan kepala tertunduk malu karena kekalahannya terhadap Islandia.

Pada laga itu, sebenarnya Inggris telah menorehkan statistik yang cukup baik. Rooney dan kawan-kawan berhasil menguasai bola dengan baik. Berdasarkan statistiknya, Inggris menguasai bola sebanyak 68 persen sepanjang laga. Angka itu jauh lebih besar dari Islandia yang hanya mampu menguasai laju bola sebanyak 32 persen.

Selain itu, statistik jumlah tendangan ke arah gawang, Inggris membubuhkan total 18 tendangan, sedangkan Islandia hanya delapan tendangan. Namun, soal ketepatan akurasinya, Islandia lebih unggul, yakni total lima tendangan tepat ke arah gawang sedangkan Inggris hanya empat tendangan. Atas kekalahan yang memalukan tersebut, Hodgson langsung mengundurkan diri dari kursi kepelatihannya.

Solid dan Disiplin

Dari berbagai laga yang telah dilalui Islandia, sebenarnya perolehan statistiknya selalu berada di bawah lawan-lawannya. Namun, hal yang membuat Islandia dapat menundukkan lawan-lawannya ada pada permainan tim mereka yang amat solid.

Mereka bermain sangat rapi dan disiplin. Meski, ada kalanya terjadi miskomunikasi, namun tidak terlalu berdampak besar pada jalannya permainan apik mereka. Kehadiran sang kapten, Gunnarsson, cukup sempurna.

Dia bisa memotivasi teman-temannya untuk terus bermain konsisten dalam tiap laga yang dimainkan Islandia. Sosok pemain Cardiff City itu cukup berarti di antara punggawa lainnya.

Selain itu, mereka yang selalu dianggap tim tidak diperhitungkan, memberikan keuntungan tersendiri. Sebab, mereka bermain tanpa beban. Di Euro 2016, Islandia sepertinya tak bermimpi untuk menjuarai turnamen akbar benua Eropa tersebut. Namun, di tiap pertandingan, terlihat Gunnarsson dan kawan-kawannya bermain sebaik mungkin, dengan semangat Viking yang selalu diusungnya.

Hal itu tentunya berbeda dengan tim-tim besar yang telah menjadi lawannya. Contoh saja Portugal dan Inggris. Kedua tim itu memiliki pemain andalan yang kiranya dapat menorehkan gol kemenangan. Portugal terlalu mengandalkan Ronaldo untuk mencetak angka dan Inggris berharap banyak pada Rooney ataupun Kane.

Sedangkan Islandia tidak mematok siapa yang harus mengatur serangan ataupun mencetak angka. Siapapun bisa berkontribusi sama baiknya. Hal itu terlihat dari pencetak angka untuk Islandia sepanjang Euro 2016 dihasilkan dari semua lini pemain, baik penyerang, gelandang, ataupun bek.

Pada posisi penyerang, terdapat dua nama pemain yang menorehkan angka di papan skor, yakni Bodvarsson dan Sigthorsson. Pada posisi pemain tengah, ada Sigurdsson dan Bjarnason. Dan, pada posisi bek, terdapat nama Traustason dan Sigurdsson. Hal itu menunjukkan Islandia tidak bergantung pada permainan satu atau dua orang saja.

Tak hanya itu, pilihan pemain yang dilakukan Lagerback dan Hallgrimsson untuk mengisi timnya cukup terbilang imbang. Karena, tim ini dihiasi oleh pemain yang usianya sudah senior dan juga diisi darah-darah muda. Pemain tertua dalam skuad Islandia ialah Gudjohnsen dengan usia 37 tahun sedangkan termuda ialah Hjortur Hermannsson yang berusia 21 tahun.

Kombinasi pemain tua dan muda dalam satu tim itu menjadikan Viking Eropa ini lebih proposional. Sebab, perpaduan pengalaman yang matang dengan daya tenaga muda mengisi keperluan bermain dengan kedewasaan pemain tua dengan semangat gedor khas anak muda.

Selain itu, kelebihan lainnya yang luput dari perhatian lawan-lawannya ialah kemampuan Islandia pada pelemparan jauh bola ke dalam. Kemampuan ini memang jarang dimiliki banyak tim di dunia. Karena, selama ini banyak yang beranggapan bahwa pelemparan jauh untuk dapat dikonversi sebagai gol hanya berupa spekulasi semata.

Nyatanya, kelebihan pemain Islandia untuk melempar jauh bola itu berbuah beberapa gol selama perhelatan Euro kali ini. Hal itu menunjukkan bahwa setiap trik dan teknik dalam sepakbola dapat diaplikasikan dengan baik untuk menciptakan gol.

Pada laga melawan Perancis yang akan dilaksanakan 3 Juli nanti, pastinya Islandia akan berupaya lebih maksimal. Sebab, pada babak delapan besar ini, Islandia harus lebih berhati-hati dan harus mampu bermain lebih disiplin. Karena, Perancis memiliki segudang motivasi untuk memenangi Euro 2016.

Seandainya Islandia mampu menaklukkan Perancis, maka itu akan menjadi catatan sejarah baru untuk sepakbola Islandia. Dan, menang atau kalah pun, saat berhadapan dengan Perancis nanti, pemain-pemain Islandia akan menjadi incaran klub-klub elit di Eropa. Ini akan menjadi keuntungan bagi Islandia mempromosikan talenta-talenta sepakbolanya yang selama ini kurang mendapat perhatian publik Eropa.

Bila berhasil menjuarai Euro 2016, kisah Islandia ini akan seperti Leicester City, yang meraih juara Liga Premier Inggris pada musim 2015-2016. Leicester yang dipandang sebelah mata, ternyata berhasil membelalakan mata.

Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : BBC/UEFA/Daily Mail/New York Time/Reuters
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1936
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 2299
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
Selanjutnya
Humaniora
13 Okt 21, 09:25 WIB | Dilihat : 136
Pendekar Mabuk di Tengah Coronastrope
05 Okt 21, 16:00 WIB | Dilihat : 266
Penista Nabi Muhammad Mati Dilahap Truk
03 Sep 21, 12:31 WIB | Dilihat : 210
Membaca Tantangan Abad 21 dan Hegemoni Pendidikan Global
20 Agt 21, 09:28 WIB | Dilihat : 574
Politik Kematian Simbol Kediktatoran
Selanjutnya