Kurikulum Pendidikan Sepakbola

Menyemai Bibit Menuai Prestasi

| dilihat 1885

AKARPADINEWS.COM | PERINGKAT sepakbola Indonesia makin memprihatinkan. Dari rilis yang diumumkan Federasi Sepak bola Internasional (FIFA) per Oktober ini, Indonesia berada diperingkat 171 di dunia. Sementara puncak prestasi sepakbola diukir Argentina.

Peringkat tersebut makin mengukuhkan Indonesia sebagai negara yang minim prestasi. Sebelumnya, periode Oktober 2012 hingga September 2013, Indonesia berada di posisi 170 dunia. Buruknya rangking sepakbola itu tidak terlepas dari sanksi larangan Tim Nasional (Timnas) Indonesia yang minim bertanding di laga internasional.

Sejak diberlakukannya sanksi FIFA, kesempatan Indonesia berlaga di kompetisi internasional tertutup. Alhasil, Indonesia sulit mendongkrak rangkingnya. Wajar, jika Indonesia selalu berada di barisan buncit dibandingkan negara-negara lain. Dengan makin buruknya prestasi sepakbola, maka jangan terlalu berharap Indonesia dapat berlaga di Piala Dunia.

Mengingat, laga internasional yang absen dilakoni Timnas itu adalah pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2018 di Rusia. Jika Indonesia ingin bermimpi lagi untuk berlaga di Piala Dunia, maka kesempatan itu ada pada World Cup 2022 di Qatar.

Mimpi bisa berlaga di Piala Dunia Qatar 2022 itu tersemat pada talenta Garuda-Garuda Muda Indonesia. Bagaimana kemampuan mereka mengolah si kulit bundar dari Evan Dimas dan kawan-kawan menjadi faktor penting Indonesia berlaga di Qatar. Selain itu, konflik sepakbola domestik juga perlu dibenahi guna memuluskan angan-angan itu.

Tentu, itu menjadi misi jangka pendek jika hanya berpikir peluang lolos ke Qatar. Bagaimana dengan piala-piala dunia setelahnya? Apakah Indonesia akan meneruskan tradisi panjangnya absen di perhelatan pesta sepakbola tertinggi dunia? Dengan kata lain, bagaimana nasib sepakbola Indonesia di masa mendatang?

Jangankan di Piala Dunia, sepakbola Indonesia sampai sekarang masih terkeok di level Asia. Tidak pernah lagi juara di lingkup Asia Tenggara bahkan Asia. Tentu Indonesia harus keluar dari keterpurukan tersebut. Karennya, pembinaan, kepelatihan, hingga kepengurusan sepakbola di Indonesia perlu dibenahi secara fundamental.

Artinya, upaya itu perlu diawali dari keseriusan pembinaan yang mengoptimalisasikan pendidikan khusus bagi sepakbola. Dengan kata lain, dalam menghasilkan bibit-bibit potensial, bukan hal yang berlebihan jika sepakbola menjadi bagian dari pendidikan formal. Meskipun berbeda dimensi, sepakbola dan pendidikan bersifat sama, yaitu berorientasi pada prestasi. 

Olahraga sepakbola di Indonesia atau sebagian besar di dunia memang hanya bersifat hiburan olah kaki semata—meski ada industri dan fanatisme di dalamnya. Sepakbola memang tidak masuk dalam kurikulum pendidikan formal di sekolah. Penerapan pendidikan dalam sepakbola hanya sebatas diterapkan pada Sekolah Sepakbola (SSB). Pun jika diterapkan di sekolah, sepakbola hanya sebatas kegiatan ekstrakulikuler.

Namun, perlu dipahami jika sepakbola ditempatkan berdampingan dengan pendidikan formal, tentu prestasi sepakbola akan tercipta seiring raihan prestasi akademik. Keseriusan berlatih dan ambisi meraih prestasi sepakbola akan membentuk mental juara, baik juara di lapangan maupun di kelas.

Karenanya, pembinaan yang serius untuk mencetak bibit-bibit potensial harus diawali dengan pendidikan formal tentang sepakbola. Mengingat, bakat atau ketrampilan fisik saja tidak akan menjadikan seorang menjadi atlet berprestasi jika tidak ada pengarahan, pembinaan, dan kepelatihan yang serius.

Artinya, pola pembinaan pemain muda yang menggabungkan sepakbola dengan pendidikan, perlu dilakukan. Hal itu juga sudah dikembangkan negara-negara maju sepakbola seperti Tiongkok. Negara itu akhirnya memasukkan sepakbola ke dalam kurikulum pendidikan formal. Tiongkok pun hanya pernah satu kali berpartisipasi pada Piala Dunia tahun 2002. Selain itu, tidak sekalipun mereka mampu lolos ke kompetisi sepakbola paling bergengsi di dunia seperti Piala Dunia.

Negara ini juga tidak melahirkan pemain hebat apalagi terkenal. Hanya ada satu nama, Dong Fangzhuo yang pernah bermain di Liga Inggris. Pemain kelahiran tahun 1985 ini sempat dikontrak oleh Manchester United (MU) pada tahun 2004. Meskipun, kontrak itu dinilai banyak kalangan sebagai kepentingan bisnis semata.

Selain Dong, mungkin tidak ada lagi pemain asal Tiongkok yang terdengar. Karenanya, dengan penduduk mayoritas terbesar di dunia, mengapa Tiongkok sulit menghasilkan satu atau dua saja atlet sepakbola mumpuni? Tiongkok hanya mampu menyumbangkan prestasi di cabang olimpiade, selain sepakbola.

Melihat kondisi ini, pemerintah Tiongkok mulai bergerak lebih serius mengurus sepakbola. Hal itu pun ditopang iklim sepakbola yang subur di negara itu. Sepakbola di sana telah menjadi olahraga populer di Tiongkok. Liga domestik di Tiongkok dua tahun belakangan ini bergairah ketika satu per satu pesepakbola uzur Eropa bergabung dengan klub lokal.

Bahkan, pelatih sekaliber Marcello Lippi yang membawa Italia juara Piala Dunia 2006 juga berkarir di negeri ini. Lippi melatih Guangzhou Evergrande yang akhirnya membawa klub itu menjuarai Liga Champhions Asia pada 2013 silam. Hal ini adalah wujud komitmen Tiongkok yang ingin mendongkrak prestasi mereka di lingkup sepakbola.

Wujud lain adalah langkah Tiongkok yang telah membangun salah satu sekolah sepakbola terbesar di dunia. Lebih dari 50 lapangan sepakbola dibangun dalam satu lokasi untuk menampung lebih dari 2.400 siswa. Tidak kurang dari 4,6 Milyar Poundsterling dikeluarkan pemerintah Tiongkok untuk membangun fasilitas yang spektakuler ini.

Upaya yang tak kalah penting adalah komitmen Tiongkok untuk memasukkan sepakbola pada kurikulum sekolah. Sepakbola akan menjadi salah satu materi wajib seluruh sekolah di Tiongkok. Pada November tahun lalu, salah satu staf dari Kementerian PendidikanTiongkok, Wang Dengfeng, mengatakan untuk meningkatkan standar sepakbola Tiongkok harus dimulai dari anak-anak.

Seperti dikutip Reuters, tahun 2017 nanti, akan dibangun lapangan sepakbola baru di sekitar 20.000 sekolah di Tiongkok. Dari situ, menurut Deng Feng, diharapkan akan lahir 100.000 bibit-bibit atau pemain sepakbola baru yang bisa menjadi pemain masa depan berkualitas Tiongkok.

Tahun 2016 Tiongkok juga merencanakan sebuah tes kemampuan untuk masuk ke perguruan tinggi dengan melewati serangkaian ketangkasan bermain sepakbola. Hal ini dilakukan untuk membuat para orang tua tidak terlalu khawatir ketika melihat anaknya banyak menghabiskan waktu berlatih sepakbola saat mereka sekolah dasar maupun sekolah menengah.

Komitmen Tiongkok itu diawali dengan mendatangkan salah satu pelatih usia muda kelas dunia, Tom Byer. Pelatih berkebangsaan Amerika Serikat (AS) ini menjadi salah satu konsultan yang ditunjuk pemerintah Tiongkok untuk mengembangkan pembinaan sepakbola di Negara Tirai Bambu itu. Jika konsisten, bukan mustahil Tiongkok akan menjadi kekuatan besar di kancah persepakbolaan dunia.

Lebih jauh, upaya Tiongkok juga sudah dilakukan oleh Inggris. Bahkan, jauh lebih dulu dibandingkan Tiongkok. Inggris memasukkan pendidikan sepakbola pada kurikulum sekolah pada awal 1.900-an. Departemen Pendidikan Inggris, menyetujui untuk secara formal memasukkan sepakbola dalam kurikulum sekolah dasar negeri. Maka tak heran mengapa Inggris menjadi kekuatan besar sepakbola.

Alasannya, cukup fundamental dan sederhana: sepakbola memberikan banyak hal positif pada perkembangan peserta didik. Hal inilah mungkin yang luput pada pembinaan pendidikan sepakbola di Indonesia. Karena, dari upaya Tiongkok dan Inggris, bisa dipahami, prestasi sepakbola dapat disemai melalui mutu pembinaan sepakbola di sekolah.

Meskipun sebenarnya Indonesia pernah mengaplikasikan hal tersebut yang terwujud pada Diklat Salatiga. Diklat ini, sempat menelurkan nama beken seperti Anjas Asmara, Kurniawan Dwi Yulianto, hingga Bambang Pamungkas. Kini, diklat itu berganti nama menjadi Pusat Pembinaan dan Latihan Pelajar (PPLP) Salatiga. Awalnya, pada tahun 1963, diklat ini adalah pusat pelatihan untuk para pemain muda hasil kerjasama antara PSSI dengan Departemen Olahraga.

Namun, setelah sekian lama Diklat Salatiga berdiri, kini seolah tidak ada lagi atlet yang bersinar dari tempat ini. Permasalahannya, pada fokus pembinaan yang terpecah. Kini, diklat itu sudah tidak menempatkan cabang olahraga sepakbola semata. Namun, juga cabang-cabang olahraga lain.

Pembinaan sepakbola yang serius sejak dini diperlukan untuk membentuk prestasi pada masa mendatang. Tentunya, jika Indonesia berharap menjadi kontestan Piala Dunia, maka perlu memerhatikan pembinaan serius seperti yang diterapkan di Belanda. Pembinaan itu mengadopsi kepelatihan ala Wiel Coerver dan Rinus Michel.

Berdasarkan ulasan The Guardian, di negara itu, pesepakbola muda diwajibkan untuk berlatih dan menguasai teknik dasar mengolah bola. Hal paling penting adalah melakukan 10 ribu sentuhan dengan bola setiap hari. Setiap pemain, mendapatkan bola dan berkumpul dalam sebuah grup berisi enam orang. Setelah mendengar instruksi, peluit pun dibunyikan.

Para pemain memulai sesi sentuhan bola dalam serempak, sembari tim pelatih menekan click counter. Pemain-pemain ini berlatih berulang kali memainkan bola dalam 100-200 kali pengulangan. Skema pelatihan semacam ini diterapkan kepada pemain berusia delapan hingga sembilan tahun. Semua yang dilakukan ini adalah gerakan dasar di sepakbola.

Jika gerakan dasar ini akhirnya dikuasai oleh anak-anak di Indonesia, tentu akan terbayangkan pada masa mendatang Indonesia akan menahan imbang atau bahkan mengalahkan Timnas Belanda sekalipun. Metode pembinaan itu mengisyaratkan, ketangkasan dasar mengolah si kulit bundar harus dimiliki pemain muda sebagai syarat untuk meraih prestasi.

Di samping itu, pembinaan dan pendidikan serius terhadap sepakbola penting dalam membina bakat atau ketangkasan tersebut. Karena, apalah artinya bakat jika tidak dibina dan diarahkan? Bakat akan menjadi sia-sia jika tidak ada upaya pembinaan. Lionel Messi tidak akan menjadi pemain terbaik dunia jika tidak ditemukan oleh pencari bakat Barcelona dan disekolahkan di Akademi La Masia.

Demikian pula Ronaldhinho. Di negara asalnya, Brasil, sepakbola seperti agama yang harus dipelajari dan diamalkan. Sepakbola, di Brasil menyatu ke dalam sendi kehidupan, mulai dari urusan politik, sosial, dan budaya. Karenanya, bakat “jalanan” yang dimiliki Ronaldhinho akan percuma jika tidak dilatih di sebuah klub.

Perjalanan panjangnya menjadi satu dari sekian banyak pemain tengah berbahaya yang dimiliki Brasil, tentu tidak terlepas dari pelajaran formal bermain sepakbola. Di klub yang dibelanya, bakat Ronaldhinho diolah sedemikian rupa oleh sistem persepakbolaan formal dan berkelas. Salah satunya ketika mengalami puncak karir di Barcelona, salah satu klub dengan pembinaan sepakbola usia dini paling maju di Eropa.

Jadi, untuk meraih mimpi berlaga di perhelatan sebesar Piala Dunia, maka harus diterapkan pola pembinaan sepakbola secara serius dan konsisten dengan memerhatikan pendidikan sepakbola sejak dini. Dengan demikian, pemain-pemain muda di Indonesia tidak hanya melihat sepakbola sebagai hobi semata. Namun, mengubah hobi menjadi prestasi.

Adhimas Faisal

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Seni & Hiburan
31 Jul 21, 04:03 WIB | Dilihat : 155
Mata Maut
03 Mar 21, 06:38 WIB | Dilihat : 390
Industri Game Naik Saat Pandemi
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
31 Agt 21, 19:09 WIB | Dilihat : 348
Pandemi dan Pemulihan Ekonomi Lokal
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 421
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 596
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
Selanjutnya