Menanti The Foxes Mengukir Sejarah

| dilihat 3345

AKARPADINEWS.COM | LEICESTER City kembali menang. Minggu, (6/3) Watford menjadi korbannya dengan kemanangan tipis 1-0. Jika Leicester konsisten menang hingga akhir musim, maka akan menciptakan sejarah baru. Tim yang tidak pernah juara, bahkan sama sekali tidak difavoritkan untuk juara, akan menemui ujung perjalanannya musim ini: merengkuh titel Liga Primer Inggris musim 2015-2016.

Siapa sangka, The Foxes, julukan Leicester City, adalah tim yang pada musim lalu justru sempat berada di zona degradasi. Tapi, kini sanggup meruntuhkan dominasi tim-tim tradisional Inggris yang selalu berada dalam jalur perebutan juara, yakni duo Manchester, Liverpool, hingga Chelsea. ”Sang Rubah” masih berdiri kokoh di puncak kelasemen sementara dengan raihan 60 poin dari 29 pertandingan Liga Primer Inggris musim ini.

Sejak gelaran Premier League dimulai pada 1992 hingga kini, tercatat hanya ada lima klub saja yang pernah merasakan mahkota juara, yaitu Arsenal, Manchester United, Blackburn, Chelsea, dan Manchester City. Jika dua bulan ke depan, tidak ada tim yang berhasil mengkudeta Leicester, maka sudah pasti akan tercipta sejarah dengan lahirnya sang juara baru.

Apa yang membuat The Foxes menjadi tangguh seperti ini? Sementara di awal musim, kalangan banyak menilai, Leicester tidak memiliki skuat yang dapat membawa klub ini bersaing di papan atas liga. Leicester hanya memiliki pemain termahal sepanjang sejarah klubnya, yakni Andrej Kramaric yang diboyong dari Rijeka dengan harga 9 juta poundsterling pada Januari 2015.

Dalam perjalanan waktu, nyatanya bukan Kramarij, melainkan Jamie Vardy yang kini menjadi top skor sementara Liga Inggris musim ini dengan torehan 19 gol. Vardy mengalahkan nama beken lainnya seperti Sergio Aguero atau Diego Costa. Satu nama lain yang menjadi pemain kunci The Foxes adalah Riyad Mahrez. Pria berkewanegaraan Aljazair ini mengoleksi 16 gol. Vardy dan Mahrez menjadi duet menakutkan Liga Inggris saat ini.

Tentu saja, kedua pemain ini tidak lepas dari kinerja tim secara keseluruhan, bukan hasil permainan individu semata. Ada nama Daniel Drinkwater, N’Golo Kante, dan Christian Fuchs sebagai pemain kunci Leicester selain Vardy dan Mahrez. Terutama Drinkwater dan Kante, mereka adalah mesin sesungguhnya yang bekerja efektif di lini tengah The Foxes.

Menurut data yang dilansir FourFourTwo, Drinkwater adalah pemain tengah yang cukup mencolok. Ia sudah meluncurkan 774 operan, 612 di antaranya adalah operan yang tepat sasaran. Ini memang bukan angka statistik yang fenomenal di Liga Inggris. Tetapi, bagi Leicester, dialah pemain yang paling banyak mencetak angka operan tersukses.

Dari seluruh operan Drinkwater itu, operan terbanyak selalu meluncur kepada Vardy. Inilah kenapa kenapa tiga assist yang berhasil dia cetak selalu diawali dari operan di lini tengah. Sementara, operan terbanyak Leicester terjadi ketika operan panjang (long ball), tepatnya 71 operan panjang per pertandingan. Angka ini adalah operan long ball terbanyak keempat di Liga Primer.

Hal yang patut disorot adalah beberapa long ball tersukses Leicester tercipta ketika Kante berhasil memotong operan lawan dan menciptakan ruang kosong untuk Drinkwater dan rekan-rekan lainnya. Kante sendiri menjadi pemain yang paling banyak melakukan potongan bola (intersep) di Liga Primer dengan 64 total intersep.

Karenanya, keajaiban Leicester menduduki puncak kelasemen sementara Liga Primer berkat permainan kolektif tim yang mumpuni. Apalagi dengan skuat sederhana yang dimiliki The Foxes. Faktor lain yang paling elementer adalah sosok pelatih yang sempat dianggap “sudah habis.” Dia adalah Claudio Ranieri. Pria Italia ini sejatinya telah gagal di klub-klub sebelum ia akhirnya menangani Leicester.

The Tinkerman,” julukan Ranieri, adalah pelatih yang telah banyak dipecat klub. Tercatat, ia telah dipecat sebagai pelatih ketika menangani Chelsea, Juventus, AS Roma, Inter Milan, dan AS Monaco. Terkahir, ia dipecat dari kursi kepelatihan ketika menangani Tim Nasional Yunani. Awal kepelatihan dengan Leicester menjadi pertaruhan yang luar biasa baginya, memulai kompetisi dengan skuat biasa-biasa saja dan hampir terdegradasi pada musim lalu.

Sosok Ranieri memang fenomenal. Secara harfiah, tinker bisa diartikan senang mengubah-ubah sesuatu. Karenanya, ia sempat mendapat julukan dari media-media Inggris karena kegemarannya menggonta-ganti formasi. Panggilan ini muncul pertama kali ketika ia menukangi Chelsea. Ketika itu, Chelsea disingkirkan AS Monaco di semifinal Liga Champions. Ranieri pun dikecam karena keputusannya menempatkan Hernan Crespo—seorang penyerang—di posisi gelandang kanan.

Namun, kebiasaan itu mulai ia tinggalkan ketika menukangi Leicester. Perlahan, media Inggris tidak lagi menyebut The Tinkerman, melainkan Mr Nice Man. Ia dinilai terlalu baik hati dan tidak memiliki karakter tegas dan galak kepada skuatnya. Ranieri adalah pelatih yang rajin menjabat tangan para pemainnya setiap pagi dan menraktir mereka makan pizza ketika mendapatkan cleansheet pertama di Liga Inggris.

Berkat Ranieri, Leicester punya karakter permainan kolektif yang cenderung menyerang. Kebersamaan tim yang dijalin di luar lapangan juga memengaruhi faktor ini. Dikutip dari situr resmi klub, Ranieri mengungkap bahwa Leicester memiliki semangat yang membedakan mereka dari kesebelasan-kesebelasan lain di Liga Primer.

“Para pemain ramah. Ada semangat yang sangat baik dan mereka menikmati kehadiran satu sama lain. Juga, setelah pertandingan atau latihan, beberapa pemain berkumpul bersama. Itu semangat yang baik dan Anda melihatnya ketika mereka bermain, bahkan ketika ada bola panjang, pemain lain berusaha membantu memenangi bola. Itu bagus,” ungkap Ranieri.

The Foxes telah mengumpulkan 17 kemenangan dan menyarangkan gol ke gawang lawan sebanyak 52 gol. Ini adalah angka fantastis mengingat target yang dibebankan Ranieri oleh klub jauh di bawah angka ini. Ranieri hanya ditarget meraih 40 poin untuk mengamankan Leicester tetap berada di Liga Primer. Kini, sisa pertandingan yang akan dilakoni Leicester hanya tersisa 2 bulan lagi hingga pertengahan Mei 2016.

Melihat jalan menuju akhir musim pada Mei nanti, Leicester nampaknya akan berada di jalur yang aman-aman saja. The Foxes diuntungkan kondisi tim saat ini, karena Leicester adalah satu-satunya klub yang fokus memerebutkan troifi Liga Inggris. Mengingat, tim lainnya seperti Arsenal dan Manchester City masih terbagi fokusnya pada pertaruhan di fase gugur UEFA Championsip.

Selain fokus, tentu rotasi pemain dan faktor kebugaran yang terjaga adalah poin lebih yang dimiliki Leicester City. The Foxes hanya tinggal menjaga konsistensi permainan kolektif-menyerang di lapangan. Leicester akan sedikit diuntungkan setelah jeda internasional pada 19 Maret nanti, ada waktu untuk rehat sejenak sebelum jor-joran hingga akhir musim.

Leicester City, tim yang mungkin tidak bermimpi untuk menjuarai Liga Primer tahun ini justru dipaksa untuk menjalani kenyataan bahwa mereka sedikit lagi akan menjadi juara. Tim yang biasa-biasa saja dan juga dengan pelatih biasa itu kini menjelma menjadi kesebelasan paling banyak menyedot perhatian dunia.

Hal yang menarik lainnya adalah, berkat catatan gemilang nan impresif The Foxes di Liga Primer, klub ini dapat meningkatkan pamor hingga akhirnya mendapatkan keuntungan finansial yang berlebih. Sportal melaporkan, klub berbasis di Kota Leicester itu, mengalami surplus keuangan lebih dari 200 persen.

Jika Leicester benar-benar juara, maka klub ini akan berlaga di UEFA Championsip musim mendatang. Sangat layak dinantikan kiprah The Foxes melawan klub elite Eropa. Juga, akan adanya transfer besar dan pemain baru yang dimiliki Leicester, karena modal uang yang didapatkan dari hasil juara Liga Primer tentu bisa dimanfaatkan untuk melengkapi materi skuat.

The Foxes Menginspirasi Dunia

Hegemoni The Foxes menjadi klub fenomenal Liga Inggris telah menginspirasi banyak orang. Seperti yang terjadi pada salah satu penulis naskah film Hollywood, Adrian Butchart. Dia berencana untuk membuat film perjalanan karir Jamie Vardy. Bahkan, salah satu fans Leicester City membuat sebuah petisi untuk menamai anaknya dengan nama Vardy.

Fans Leicester City tersebut bernama Ashley Marriot. Dia sangat terpukau dengan aksi Vardy pada musim ini. Aishley harus mengumpulkan tanda tangan sebanyak 5.000 orang agar dia bisa menyisipkan nama Vardy di tengah nama anaknya. Bagaimana dengan Asia? Thailand adalah negara yang sedang “demam” Leicester.

Mengingat, pemilik klub ini adalah pria yang berasal dari Thailand, Vichai Srivaddhanaprabha. Dia adalah pengusaha kaya asal Thailand yang punya 100% saham kepemilikan klub sejak 2011. Sebelumnya, saham ini dimiliki berdua oleh pengusaha asal Indonesia, yakni Iman Arif.

Berdasarkan kepemilikan oleh Vichai, kini masyarakat Thailand—lebih tepatnya penggemar sepakbola—di negara Gajah Putih telah menganggap Leicester City sebagai kesebelasan Thailand. Rasa bangga dan fanatisme seperti ini telah menimbulkan fenomena baru di negara itu.

Seperti dikutip ESPN FC, umumnya, para fans dan pencinta sepakbola di Thailand selalu menyuarakan nama Manchester United, Liverpool, Chelsea, atau Arsenal jika mereka mengadakan nonton bareng. Seperti yang diungkapkan oleh Edward Khancanawat, penjaga bar Thai-English di Thailand. “Kini semua orang justru mendadak menjadi fans Leicester City. Mereka datang ke bar dengan jersey Leicester.”

Sementara itu, Dean Wilkins, fans Leicester City yang bekerja selama enam tahun di Bangkok sebagai seorang guru mengungkapkan kepada ESPN FC, “Sekarang orang-orang mulai menyadari keberadaan Leicester City. Ketika saya pertama kali datang ke sini, mungkin hanya beberapa orang saja yang tahu Leicester. Sekarang, semua orang mengenal Leicester.”

Orang-orang Thailand pun mulai mengasosiasikan Leicester dengan sebutan “Srigala dari Siam.” Mereka berduyun-duyun menonton pertandingan Leicester City melawan Arsenal. Bahkan, seorang fans yang bernama Korn Santawisuk mengatakan, “Saya mendukung Leicester saat melawan Arsenal karena saya menganggap mereka sebagai tim dari Thailand.”

Aroma Thailand terhadap Leicester City semakin sedap menguap ketika terdengar kabar bahwa Vichai mendatangkan para pendeta Buddha langsung dari Thailand untuk memberikan doa di dalam stadion. Hasilnya? Leicester City mengalahkan Manchester United 5-3, meskipun sempat tertinggal 2-0.

Percaya atau tidak, inilah Leicester City, tim yang tidak pernah juara Liga Primer kini telah mengejutkan dunia. Tim-tim raksasa dari dataran Inggris seperti tidak berdaya menghadapi atau mengkudeta The Foxes. Kini, hanya tinggal dua bulan bagi publik sepakbola Inggris bahkan dunia untuk menunggu dan menyadari akan lahirnya juara baru Liga Inggris: Leicester City.

Adhimas Faisal

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Budaya
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 284
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
05 Okt 21, 15:01 WIB | Dilihat : 232
Mengingat Siti Quburi di Tengah Arus Deformasi
30 Sep 21, 11:10 WIB | Dilihat : 175
Alih Rupa Sejarah
15 Sep 21, 11:09 WIB | Dilihat : 249
Prespektif Transformasi Budaya Betawi dari Setu Babakan
Selanjutnya
Energi & Tambang
29 Mar 21, 20:15 WIB | Dilihat : 367
Pertamina Jamin Pasokan BBM Aman
28 Jan 20, 13:31 WIB | Dilihat : 1210
Komitmen Budaya pada Reklamasi Pertambangan
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 1464
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
Selanjutnya