FIFA Dalam Pusaran Korupsi Berjamaah

| dilihat 1899

AKARPADINEWS.COM | FEDERASI Sepak Bola Internasional (Federation Internationale de Football Association/FIFA) resmi dinyatakan sebagai organisasi korup oleh Federal Bureau Investigation (FBI). Kasus itu yang kemudian memaksa Sepp Blatter, yang belum sepekan terpilih kembali sebagai presiden FIFA, resmi menyatakan mundur pada selasa lalu (2/6). Lantas, bagaimana nasib persepakbolaan dunia ketika induk organisasinya dilanda skandal korupsi?

Seperti dikutip The New York Times, 27 Mei lalu, FBI dan otoritas pajak Amerika Serikat bekerjasama dengan Kepolisian Swiss, melakukan investigasi besar-besaran untuk mengungkap dugaan kasus korupsi yang menyeret petinggi FIFA. Investigasi itu dilatar belakangi dugaan praktik penyuapan dan penggelapan pajak yang dilakukan segelintir pejabat FIFA. Hasilnya, tujuh pejabat FIFA dituduh menerima suap yang diperkirakan nilainya mencapai lebih dari US$150 juta (Rp1,9 triliun) dalam rentang 24 tahun semenjak tahun 1991.

FBI telah membongkar puluhan rencana pejabat ‘”kotor” itu, termasuk upaya merancang Afrika Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010. Sejauh ini, 14 orang telah dijaring dari operasi, termasuk tujuh orang yang ditahan di Zurich. Tuduhan korupsi itu sebenarnya telah berembus sejak dua dekade belakangan ini. Salah satu yang sering terdengar adalah kasus tawar menawar pihak yang ingin menjadi tuan rumah piala dunia, kasus pemasaran, dan hak siaran.

Dikutip dari BBC, salah satu dari tujuh orang yang ditangkap di Zurich adalah Jeffrey Webb yang menjabat posisi wakil presiden FIFA sekaligus ketua federasi Concacaf yang menaungi persepakbolaan Amerika Utara dan Tengah. Sedangkan pejabat lainnya yang ditangkap adalah Eduardo Li, Julio Rocha, Costas Takkas, Eugenio Figuerido seorang wakil presiden Commebol (perserikatan sepakbola Amerika Latin), Rafael Esquivel, dan Jose Maria Marin.

Indikasi “ketidakberesan” lainnya yang paling mendasar dan gampang terlihat adalah bagaimana seorang Sepp Blatter sukses menguasai FIFA selama 17 tahun? Dan, bagaimana proses demokrasi yang ada di sana? Melihat kekuasaan Blatter seperti itu, wajar-wajar saja jika korupsi bisa terjadi. Sebelum ia, presiden FIFA pernah diduduki pria asal Brazil, Joao Havelange yang berkuasa selama 24 tahun sebelum digantikan Blatter.

Sepak terjang Blatter dalam memimpin FIFA menyimpan tabir kegelapan. Masa kepemimpinannya ditandai dengan maraknya investigasi internal maupun eksternal terhadap penggelapan dan penyuapan. Belum lagi banyak dugaan pembelian hak suara dalam pemilihan Rusia dan Qatar sebagai tuan rumah pada dua Piala Dunia mendatang. Dari voting 22 anggota komite eksekutif FIFA dalam pemilihan Rusia dan Qatar, paling tidak setengahnya dituduh menerima suap terkait proses tersebut.

Tabir gelap Blatter pernah disuarakan dua media internasional seperti Daily Mail dan The Guardian. Mereka menggambarkan sosok Blatter sebagai “Si Cebol Arogan” dan “Diktaktor paling sukses seabad ini.” Namun, momentum korupsi FIFA yang merebak belakangan ini tak lantas membuat Blatter memperbaiki namanya. Sebenarnya,  ia bisa saja menuntaskan masalah korupsi di jajarannya untuk membangun citra baik. Tapi, apa daya, ia justru mengundurkan diri. Apakah yang sebenarnya terjadi? Mungkinkah pengunduran diri Blatter akan meletuskan borok lain? Atau, ia sedang “mencuci tangan” atas apa yang terjadi di FIFA?

Selain Blatter, FBI mulai membidik Sekretaris Jenderal FIFA, Jerome Valcke. Ia sosok yang akrab dengan publik sepakbola di Indonesia. Lewat keputusan dan tanda-tangannya, nasib sepakbola Indonesia ditentukan. Menurut FBI seperti dilansir The New York Times, Valcke terlibat dalam transaksi $10 juta. Nominal itu adalah pemicu awal penyelidikan suap di tubuh FIFA oleh FBI.

Dalam surat dakwaan yang diajukan di pengadilan federal, Brooklyn, New York, Valcke disebut-sebut sebagai “pejabat tinggi FIFA” yang telah melakukan sejumlah trasnfer “gelap.” Valcke pada tahun 2008 dianggap telah melakukan sejumlah transfer kepada petinggi FIFA periode 2011-2015 yang sempat ditangkap FBI, yakni Jack Warner.

Saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari Valcke. Ia pun belum disebut sebagai tergugat dan belum dituduh melakukan kesalahan. Valcke hanya sempat mengirim email kepada The New York Times berisi bantahan atas tuduhan tersebut. Dia mengklaim tak berwenang melakukan transaksi atau memiliki kekuatan untuk melakukan hal itu. Kasus lainnya dari Valcke atau contoh kebobrokan FIFA yang dapat dirasakan publik sepakbola Indonesia adalah kejanggalan surat FIFA kepada PSSI.

Kejanggalan tersebut terletak pada paragraf pertama yang bertuliskan surat tertanggal 18 Februari 2015. Isinya, PSSI telah memberitahukan FIFA bahwa Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) telah melarang kesebelasan Arema dan Persebaya untuk tidak turut bertanding dalam kompetisi ISL 2015. Sedangkan surat PSSI tertanggal 18 Februari 2015 perihal “Uncertainty of Indonesia Super Legue 2015 Kick Off” hanya menyebutkan keluhan tentang ketatnya verifikasi BOPI dan akibatnya kick-off Indonesia Super League  (ISL) tertunda.

PSSI menyebut BOPI dan pemerintah tidak berhak melakukan verifikasi klub sebab termasuk delik intervensi yang dilarang. FIFA merespons surat PSSI tersebut pada 19 Februari 2015 yang menekankan kick-off ISL 2015 tidak perlu ditunda. Dengan demikian tidak ada penyebutan tentang dilarangnya Arema dan Persebaya dalam surat PSSI tersebut. Pasalnya, BOPI baru memberikan pernyataan tidak merekomendasi Arema dan Persebaya pada 1 April 2015. 

Permasalahannya, apakah FIFA benar-benar mengetahui kondisi yang sebenarnya terjadi di persepakbolaan Indonesia? Jika benar-benar paham, bagaimana bisa kesimpangsiuran itu terjadi? Jadi, surat itu adalah bukti tidak kredibelnya FIFA. Selain itu, pada sisi teks dan gramatikal di surat sanksi tersebut terlihat paragraf yang tidak proporsional. Entah juru ketik sekelas organisasi internasional FIFA salah mengetik atau memang tidak tahu bagaimana seharusnya pengetikan paragraf yang benar.

Kini, FIFA bagai pohon besar yang menunggu tumbangnya saja. Valcke dan Blatter seolah menjadi ranting dan akarnya yang rapuh. Mereka merupakan pejabat tertinggi di tubuh FIFA. Wajar, jika mereka menjadi magnet dan pusat perhatian terbesar dunia. Agak mustahil jika mereka tidak mengetahui korupsi dengan nilai yang fantastis.

Bahkan, setelah kabar yang mengaitkan Valcke ini berembus, FIFA mengumumkan bahwa Valcke tidak akan menghadiri pembukaan Piala Dunia Perempuan di Kanada pada 6 Juni mendatang. Kabar itu makin menjelaskan, jika kemunduran Blatter sebagai Presiden FIFA dan absennya Valcke pada seremoni Piala Dunia Sepakbola Wanita merupakan indikasi ada borok yang membusuk di FIFA yang selama ini disembunyikan.

Apalagi, dalam pidatonya, Blatter menyiratkan pesan untuk membersihkan FIFA pasca kelengserannya. “Saya mencintai FIFA lebih dari apapun dan saya hanya ingin yang terbaik bagi FIFA dan olah raga ini. Saya merasa perlu untuk mengikuti pemilihan ulang kemarin karena saya percaya bahwa ini adalah hal terbaik bagi organisasi. Pemilihan itu telah usai tapi tantangan FIFA belum. FIFA perlu pembongkaran masif,” ungkap Blatter saat pidato pengunduran dirinya.

Apa yang dikatakan Blatter sebagai pidato kemundurannya bisa saja dianggap sebagai langkah terbaik bagi nasib olahraga sepakbola dunia ke depan. Jika demikian, era sebelum ini jelas menjadi era gelap yang tercipta dari rezim Blatter di FIFA. Kini, timbul pertanyaan, setelah rezim Blatter atau kasus korupsi selesai, apakah FIFA akan benar-benar bersih dan sehat? Nampaknya, hal ini yang perlu menjadi perhatian.

Mengingat, dalam pidato kemunduran Blatter, ia menyebut akan mengadakan sebuah upaya fundamental untuk mereformasi FIFA, meski tidak lagi berada di tubuh organisasi itu. Dengan kata lain, ia akan merancang sebuah skenario agar campur tangannya tetap ada ketika menjadi panitia eksekutif FIFA dalam proses pemilihan presiden baru Desember mendatang. Takutnya, campur tangan itu akan membuat “dosa” FIFA terus berembus kencang.

Seharusnya, peran otoritas Swiss atau FBI perlu diintensifkan untuk membongkar kepentingan terselubung Blatter jika nantinya akan membentuk sebuah koloni baru di tubuh FIFA. Blatter yang dianggap sosok arogan yang telah lama bercokol, perlu dijauhkan dari FIFA. Jika tetap dibiarkan, bisa saja Blatter akan merancang sosok Presiden FIFA "boneka" untuk menjaga kepentingan dan ambisi pribadinya. Itulah hipotesa yang bisa dipakai ketika menanggapi kemunduran Blatter secara tiba-tiba. Dan, bisa jadi, hal itu juga sebuah exit plan sempurna bagi Blatter untuk “mencuci tangan” atas tindakan “gelapnya” selama ini.

Upaya FIFA selama ini mengecam politisasi yang terjadi di persepakbolaan Indonesia kini menjadi sebuah hal yang sangat ironis dan memalukan. Karena, apa yang harus dibanggakan ketika organisasi induk itu justru memperagakan aksi yang sama atau bahkan lebih parah: politisasi, manipulasi, hingga korupsi. Jadi, slogan yang sering didengungkan FIFA: “Kicks politics out of football” kini  menjadi omong kosong belaka.

Sekarang, statuta FIFA yang selama ini menjadi momok insan persepakbolaan Indonesia hanya sekadar fatwa di atas kertas saja. Tidak bergigi bahkan bertaring. Toh, semalam Timnas U-23 Indonesia tetap berlaga di ajang Sea Games 2015 Singapura. Tidak ada yang tidak bersih, ketika publik sepakbola dunia kini menyangsikan kapabilitas induk olahraga tertinggi dalam menjaga dan mengatur sportivitas olahraga sepakbola seluruh dunia.

Berkaca pada fakta “gelap” di atas, ternyata terdapat kemiripan antara FIFA dengan PSSI. PSSI selama ini juga memiliki track record yang tidak baik. Hal itu terlihat pada laporan keuangan yang tidak transparan. Bahkan, beberapa bulan lalu terkuak utang PSSI sebesar Rp10 miliar terhadap Nirwan Bakrie dan Rp3 Miliar terhadap La Nyalla, Ketua Umum PSSI. Aroma tak sedap itu perlu diungkap guna memulihkan citra PSSI yang terpuruk di mata pencinta bola Indonesia. Karenanya, Langkah FBI yang membongkar skandal korupsi di FIFA, perlu juga dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengungkap dugaan suap dan korupsi di tubuh PSSI.

Adhimas Faisal

 

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Budaya
28 Okt 22, 07:08 WIB | Dilihat : 186
Demokrasi, Musyawarah dan Mufakat
02 Agt 22, 10:32 WIB | Dilihat : 282
Merawat Negeri Terindah di Dunia
07 Jul 22, 22:03 WIB | Dilihat : 359
Anies Bicara tentang Perpustakaan dan Pustakawan
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
03 Des 22, 15:17 WIB | Dilihat : 39
Ginanjar Nilai Semua Investasi Jepang Lancar
15 Jun 22, 09:26 WIB | Dilihat : 360
Gobel : PMK Hewan Memukul Kedaulatan Pangan
Selanjutnya