Diskriminasi Gender di Lapangan Hijau

| dilihat 2231

AKARPADINEWS.COM | MAHKOTA juara dunia kembali disandang tim sepakbola perempuan Amerika Serikat (AS). 6 Juli 2015 lalu, di laga final, para srikandi Negeri Paman Sam itu berhasil menaklukan tim Jepang, dengan skor 5-2. Abby Wambach dan kawan-kawan, mengukuhkan negaranya sebagai kampiun untuk ketiga kalinya. Namun, kesuksesan tim AS di lapangan hijau itu hanya disambut eforia sementara.

Bagaimana tidak? Meski mereka piawai mengocek bola dan menyuguhkan permainan yang cantik, tetap saja, pertandingan sepakbola, apalagi kompetisi sejagat, masih identik dengan laki-laki. Pesepakbola perempuan kalah pamor dibandingkan laki-laki. Simak saja, jarang terdengar para pencinta bola membicarakan kehebatan tim sepakbola perempuan. Mereka lebih mengidolakan pesepakbola laki-laki seperti Leonel Messi, Neymar Junior, Cristiano Ronaldo, Gareth Bale, maupun nama-nama yang melegenda seperti Diego Maradona, Pele, dan sebagainya.

Di telinga para pencinta bola pun asing dengan liga, nilai transfer, hingga dunia showbiz yang berdiri di balik industri sepakbola kaum hawa ini. Wajar jika kemudian muncul tudingan terjadi diskriminasi di kompetisi sepakbola. Tak bisa dipungkiri, diskriminasi itu muncul lantaran kurangnya perhatian terhadap pesepakbola perempuan. Di Olimpiade London, Inggris tahun 2012 misalnya, atlet dan official kesebelasan sepakbola perempuan, tidak mendapat fasilitas utama seperti yang didapatkan kesebelasan sepakbola laki-laki.

Menurut Homare Sawa, kapten Jepang dan Pemain Terbaik Dunia Sepakbola Perempuan 2011, kesebelasan perempuan Jepang hanya mendapatkan penerbangan kelas ekonomi dengan 13 jam perjalanan. Itu pun menuju Paris terlebih dahulu, sebelum bertolak ke London. Berbeda dengan kesebelasan pria Jepang yang mendapatkan penerbangan kelas bisnis. “Seharusnya, kami mendapatkan yang lebih baik, bahkan secara umur, kami semua lebih senior,” pungkas Sawa seperti dilansir The Guardian.

Diskriminasi lebih terasa mencolok pada gelaran Piala Dunia Perempuan 2015 yang dihelat di Kanada baru-baru ini. Pasalnya, rumput yang digunakan untuk pertandingan sebesar piala dunia bukanlah rumput asli, melainkan rumput buatan. Ironis, sepanjang sejarah sepakbola, tidak ada satupun tim senior, baik pria maupun perempuan, yang bermain di atas rumput buatan di ajang Piala Dunia. Ada enam stadion tempat dilangsungkannya Piala Dunia Perempuan di Kanada itu yang menggunakan rumput buatan.

Terkait tudingan diskriminasi itu, Federasi Sepakbola Internasional (FIFA) mengklaim, penggunaan rumput sintetis untuk Piala Dunia Perempuan karena alasan gender semata. Sontak, setengah tahun sebelum gelaran di Kanada itu dimulai, Asosiasi Pemain Sepakbola Perempuan Internasional mengecam keputusan FIFA terkait rumput sintetis itu. Kelompok ini digagas oleh dua pemain terbaik FIFA, Abby Wambach dan Nadine Angerer. Kelompok ini juga didukung oleh 40 pemain nasional dari seluruh dunia.

Para penasehat hukum kelompok menuding penggunaan rumput kelas dua adalah diskriminasi gender yang melanggar karakter Eropa dan melanggar ketentuan hukum yang ada di Kanada. Bahkan, mereka menganggap, FIFA melanggar hak asasi manusia (HAM) serta Piagam Hak Asasi dan Kebebasan Manusia Kanada. Atas tudingan itu, FIFA bergeming. Tetap saja, pergelaran Piala Dunia Perempuan di Kanada Juni-Juli 2015 yang digelar FIFA tetap menggunakan rumput buatan.

Amby Wambach yang menjadi ikon Tim Nasional AS kepada The Equalizer, mengatakan penggunaan rumput buatan adalah sebuah langkah mundur. “Kami telah bekerja begitu keras sebagai atlet perempuan. Tidak hanya di Amerika Serikat, tapi juga internasional. Untuk mengembangkan permainan, ini merupakan langkah mundur. Semua pesepakbola laki-laki di seluruh dunia akan berargumen sama. Mereka tak ingin bermain di rumput buatan karena kemungkinan terjadicedera lebih besar,” ungkap Wambach.

Namun, Sepp Blatter, saat masih menjabat sebagai Presiden FIFA, bersikukuh, rumput buatan yang digunakan di ajang Piala Dunia Perempuan 2015 sangat berkualitas. “Ada saatnya ketika bermain di atas rumput buatan adalah mimpi buruk karena rumput yang tidak berkualitas. Namun kini, kualitas rumput buatan telah berkembang begitu pesat, dan ini adalah masa depan.”Blatter yang sepanjang karirnya dicap sebagai momok negatif bagi FIFA itu pun berdalih jika jarak dan iklim menjadi alasan penggunaan rumput buatan. Ia menambahkan, generasi muda telah terbiasa dengan rumput buatan, dan membuat mereka lebih mudah untuk menerima.

Penggunaan rumput sintetis lebih akrab digunakan pada olahraga futsal, bukan sepakbola. Apalagi, stadion-stadion futsal bertaraf internasional justru menyediakan pilihan dua lapangan: karet dan rumput buatan. Karena, dari segi kenyamanan bermain, rumput buatan tidak mendukung fleksibilitas permainan futsal. Bermain di atas rumput buatan biasanya jauh lebih licin dan pergerakan seperti berlari menjadi tidak maksimal. Inilah yang dijadikan alasan para pemain futsal memilih lapangan karet ketimbang rumput buatan.

Idealnya, pemilihan rumput buatan memang menjadi opsi lain jika rumput benar-benar tidak dapat tumbuh di daerah dengan iklim yang ekstrim. Tapi, jika rumput biasa masih bisa tumbuh, rumput buatan bukanlah sebuah pilihan. Ironisnya, jika FIFA kala itu mengatakan jika penggunaan rumput buatan untuk masa depan, mengapa tidak diterapkan pada Piala Dunia Brasil? Terutama di Stadion Amazonia yang rumputnya kering dan hampir gundul pada dua bulan jelang Piala Dunia. Ini adalah bukti diskriminasi gender terhadap persepakbolaan kaum hawa.

Sepakbola, sejatinya adalah olahraga untuk semua kalangan, tidak terbatas ras, agama, suku, maupun jenis kelamin. Karenanya, segala bentuk diskriminasi harus disepak dari laga sepakbola. Nyatanya, olahraga yang paling digemari manusia sejagat itu tidak bisa dipisahkan dari praktik diskriminasi. Padahal, sepakbola yang sudah mengglobal, membuka ruang yang setara antara perempuan dengan laki-laki.

FIFA juga melabrak kampanyenya yang menolak rasis di setiap kompetisi. Bukitnya, FIFA melarang pesepakbola perempuan yang menggunakan hijab. Di Iran, kaum hawa dilarang menonton sepakbola di stadion berdampingan dengan kaum adam. Alasannya, perempuan dikhawatirkan terpengaruh sikap dan perilaku kaum pria yang sering melontarkan sumpah serapah, cacian, dan makian ketika menyaksikan pertandingan sepakbola.

Meski demikian, kaum hawa di Iran lebih militan dan fanatis terhadap sepakbola. Gadis-gadis muda, umumnya fanatik dan mengikuti berita sepakbola. Bahkan, mereka kerap melakukan aksi-aksi nekat. Mereka tak ragu untuk mengempiskan payudara, memotong rambut, atau menyamar jadi pria agar bisa masuk ke stadion. Bahkan, tak jarang tindakan nekat seperti itu dilakukan keturunan para penguasa dan ulama ternama.

Iran memang dikenal sebagai negara Islam konservatif. Namun, di sana tidak ada peraturan resmi dari pemerintah yang melarang perempuan bermain dan menonton sepakbola. Alhasil, sejak tahun 2009, di Teheran, ibukota Iran, ada stadion khusus berkapasitas 40.000 kursi untuk menggelar pertandingan sepakbola perempuan. Orang-orang yang boleh masuk di stadion itu hanya wanita, baik itu pemain, official tim, atau supporter. Alhasil, ketika pertandingan digelar, di luar stadion terlihat beberapa pria yang mondar-mandir kebingungan sembari sesekali berusaha mengintip jalannya pertandingan. Pria tersebut biasanya pelatih tim sepakbola wanita yang bertanding.

Namun, keharuan itu sempat terganjal oleh masalah yang prinsip. Pada tahun 2011, kesebelasan perempuan Iran didiskualifikasi ketika melawan Jordania lantaran memakai hijab. Kesebelasan Iran dikeluarkan dari putaran babak penyisihan untuk Olimpiade 2012. Namun, tak berlangsung lama, berkat Iran pula, akhirnya Dewan Sepakbola Internasional (IFAB), pada Juli 2012 lalu, memutuskan untuk mencabut larangan itu. Walau sebelumnya sempat muncul penilaian jika hijab dianggap tidak aman dan meningkatkan risiko cedera leher.

Kini, spirit dan kecintaan perempuan terhadap sepakbola di Iran juga muncul di negara Timur Tengah lain, yakni  Uni Emirat Arab. Klub yang berbasis di Abu Dhabi, Al Ain, meluncurkan tiket musiman untuk menyaksikan seluruh pertandingan mereka di Stadion Hazza bin Zayed. Hal yang menariknya, Al Ain juga mengajak kaum hawa serta penonton dari kelas keluarga untuk berpartisipasi memenuhi stadion.

Padahal, mayoritas negara-negara di Timur Tengah memiliki aturan ketat terkait aktivitas perempuan di luar rumah. Hal ini yang mengakibatkan perempuan dilarang menyaksikan pertandingan sepakbola di kafe, atau tempat terbuka lainnya, apalagi di stadion. Namun, Al Ain seolah membukakan pintu bagi kehadiran perempuan untuk menyaksikan secara langsung pertandingan sepakbola. Al Ain memberikan promo bagi kaum hawa dengan mempersilakan mereka memilih kursi di manapun mereka mau. Harga tiket dibanderol mulai dari US$55.

Jika berkaca pada kondisi yang terjadi di Iran dan Uni Emirat Arab, tentu diskriminasi seharusnya bisa dihiliangkan dengan sebersih-bersihnya. Semestinya, sportivitas dalam olahraga mengajarkan semua pihak untuk tetap netral dan tidak bertindak berat sebelah kepada yang minoritas. Terlebih, sepakbola adalah permainan yang syarat dengan keindahan teknik dan taktik. Bukankah sesuatu yang menarik jika keindahan olah bola dan strategi yang bisa dilihat dari lapangan, justru terpancar dari aura kecantikan para pemain sepakbola perempuan? Daya tarik ini tentu adalah sisi lain yang pasti tidak akan kita lihat pada sepakbola laki-laki pada umumnya.

Selain itu, permainan yang lebih sportif kerap ditunjukkan para atlet sepakbola perempuan ketimbang laki-laki. Hal ini terekam pada pertandingan sepakbola perempuan antara Inggris melawan Jerman di Stadion Wembley. Dalam pertandingan yang disaksikan hampir 46.000 penonton itu, ada seorang pemain perempuan dijatuhkan oleh lawannya. Tapi, ia langsung berdiri dan bermain kembali. Tidak ada ekspresi untuk mengerang kesakitan dan tak ada niatan untuk melakukan diving untuk mengelabui wasit. Mereka pun tidak melakukan protes-protes yang tidak perlu terhadap wasit bila ada keputusan-keputusan yang merugikan timnya masing-masing.

Berbeda dengan perilaku para pesepakbola laki-laki. Contoh, drama sundulan Zinadine Zidane ke dada Marco Materazzi pada World Cup Germany 2006 silam. Ketika itu, Materazzi memprovokasi Zidane secara personal yang akhirnya membuat Zidane emosi dan melakukan tindakan memalukan itu. Keduanya sama-sama mencerminkan hal yang jauh dari sportivitas sepakbola yang selalu dijunjung tinggi FIFA, yakni: “My Game Is Fair Play.”

Selanjutnya, ada “Gol Tangan Tuhan” yang dicetak legenda sepakbola Argentina, Diego Maradona. Dengan tricky, wasit ketika itu tidak melihat dengan jernih aksi Maradona yang menghalalkan segala cara untuk mencetak gol, dengan menggunakan tangan yang jelas-jelas dilarang dalam olahraga sepakbola. Kala itu, Gol Tangan Tuhan Maradona itu memenangkan Argentina atas Inggris pada perempat final Piala Dunia Mexico 1986.

Hal itu seperti menjadi sebuah satire tersendiri jika sepakbola yang diperlihatkan oleh perempuan jauh lebih sportif ketimbang sepakbola para laki-laki. Seperti yang terjadi pada sepakbola modern saat ini—permainan atlet sepakbola laki-laki kerap memperagakan sebuah drama. Hal itu sudah sedemikian lazimnya ketika penonton melihat seringnya atlet sepakbola laki-laki yang beraksi sedikit berlebihan. Jika disentuh sedikit, kebanyakan dari mereka akan jatuh bahkan berteriak kesakitan. Apalagi, jika diberi peringatan oleh wasit, mereka melakukan protes-protes yang berlebihan.

Memang, hal di atas tidak menutup kemungkinan akan hadir dalam sepakbola perempuan nantinya. Tapi setidaknya, sepakbola yang ditunjukkan oleh para pria mulai sudah kehilangan jati dirinya. Sepak bola pria yang penuh trik licik, diving, dan hal-hal lainnya yang berpotensi menjadi sebuah kewajaran kerap terjadi pada pertandingan sepakbola laki-laki.

Tenggelamnya pamor sepakbola perempuan juga tidak terlepas dari minimnya dukungan media. Hanya ada satu official media broadcaster internasional, yakni BBC yang menayangkan Piala Dunia Perempuan 2015 di Kanada. Padahal, piala dunia khusus perempuan baru sudah digelar sejak tahun 1991, setelah sebelumnya diawali Piala Eropa khusus perempuan pada 1984.

Peta kekuatan sepakbola perempuan juga agak berbeda dengan sepakbola laki-laki. Meski ada Jerman dan Brasil yang tampil dominan, tetapi AS, Jepang, Norwegia, Cina, dan Swedia, menjelma menjadi kekuatan yang tidak bisa dianggap remeh. Padahal, tim sepakbola laki-laki negara-negara tersebut bisa dibilang tidak cemerlang.

Di Indonesia, banyak orang yang tidak mengetahui kalau Indonesia punya kesebelasan perempuan. Padahal, kesebelasan perempuan Indonesia sudah bertanding sejak tahun 1977. PSSI era itu memang punya konsentrasi lebih pada sepakbola perempuan. Setelah berpuluh-puluh tahun mengandalkan kompetisi “perserikatan,” di penghujung dekade 1970-an,PSSI meluncurkan proyek Gala: Liga Sepakbola.

Selain Galatama untuk pemain-pemain semi-pro, pemerintah kemudian merilis Galakarya (kompetisi untuk para karyawan), Galasiswa (untuk para pelajar), dan tak ketinggalan Galanita (Liga Sepakbola Wanita). Alhasil, Kesebelasan nasional perempuan Indonesia sempat menempati peringkat keempat Piala Asia Sepakbola Perempuan pada 1977 dan 1986.

Namun, saat ini kesebelasan nasional perempuan Indonesia seolah hilang ditelan bumi. Hanya memori kelam beberapa tahun silam yang dapat terekam. Pada pertandingan terakhir 2013 lalu, tim sepakbola perempuan dilumat Myanmar dengan skor 4-0. Sebelumnya, pada AFF 2011, Indonesia dibantai 0-11 dan 0-14 oleh kesebelasan perempuan Laos dan Vietnam.

Memang, realita menunjukan jika pamor sepakbola perempuan tidak bisa melebihi gemerlapnya hegemoni sepakbola laki-laki. Tapi, sepakbola perempuan laksana air segar di tengah gurun pasir. Banyak hal positif yang bisa direfleksikan sepakbola perempuan terhadap citra sepakbola laki-laki. Sportivitas dan spirit perempuan lewat permainan sepakbola yang cantik diharapkan dapat dicontoh pesepakbola laki-laki sehingga pertandingan lebih menarik untuk ditonton.

Adhimas Faisal 

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Energi & Tambang
27 Sep 22, 12:58 WIB | Dilihat : 170
Rachmat Gobel : Indonesia Mesti Bisa Swasembada Aspal
29 Mar 21, 20:15 WIB | Dilihat : 761
Pertamina Jamin Pasokan BBM Aman
28 Jan 20, 13:31 WIB | Dilihat : 1614
Komitmen Budaya pada Reklamasi Pertambangan
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 1815
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
Selanjutnya
Budaya
28 Okt 22, 07:08 WIB | Dilihat : 186
Demokrasi, Musyawarah dan Mufakat
02 Agt 22, 10:32 WIB | Dilihat : 282
Merawat Negeri Terindah di Dunia
07 Jul 22, 22:03 WIB | Dilihat : 359
Anies Bicara tentang Perpustakaan dan Pustakawan
Selanjutnya