Debut Indah The Foxes

| dilihat 1230

AKARPADINEWS.COM| LIGA Champions musim 2016-2017 telah dimulai. Tiap klub yang menjadi peserta laga bergengsi itu tentu siap bertarung memperebutkan gelar jawara di benua Eropa. Di Liga Champions musim ini, masih nampak wajah-wajah lama, seperti Barcelona, Real Madrid, Paris Saint-Germain (PSG), Bayern Munich, Juventus, dan Arsenal.

Selain tim langganan tersebut, terdapat klub yang kali pertama mengikuti kompetisi itu. Tim tersebut ialah Leicester City. The Foxes dapat mengikuti kompetisi paling bergengsi di benua biru itu karena telah menjadi kampiun Liga Premier Inggris musim 2015-2016 (Baca: The Foxes Berpesta).

Musim lalu, Leicester sejatinya tidak dijagokan menjadi juara liga domestik di Inggris. Sepanjang sejarahnya, prestasi tertinggi hanya menjadi runner up Liga Premier Inggris musim 1928-1929. Kemenangan mereka itu pun bak cerita Cinderella yang berhasil bangkit dari keterpurukan.

Rabu (14/9), Leicester menjalani laga perdananya melawan klub asal Belgia, Club Brugge. Tim asuhan Claudio Ranieri itu tampil impresif. Leceister mampu membekuk Brugge dengan skor 3-0.

Kemenangan telak itu tentu makin membangkitkan semangat pasukan Leicester. Lawan-lawannya pun akan segan, tidak meremehkan mereka. Sebab, sebagai pendatang baru, Si Rubah bukanlah tim yang diperkirakan akan mampu melaju ke babak selanjutnya.

Pada laga itu, Riyad Mahrez dan kawan-kawannya menunjukkan kesolidan dalam melakukan penyerangan maupun bertahan saat menghadapi gempuran tuan rumah. Gol tercipta pada menit kelima. Lemparan ke dalam untuk Leicester menjadi pintu awal terjadinya gol yang dilesakkan Marc Albrighton. Gol itu tercipta karena ketidakmampuan kiper Brugge, Ludovic Butelle, menghalau bola yang kemudian bergerak menuju Albrighton.

Tuan rumah terkejut atas gol tersebut. Tak mau kehilangan muka di depan publiknya sendiri, Brugge terus melakukan penekanan. Penyerangan dilakukan dari sisi kiri dengan memanfaatkan kecepatan Jose Izquierdo. Sayangnya, pemain asal Kolombia itu tidak mampu bermain cantik. Penetrasinya selalu berhasil dihentikan barisan pertahanan Leicester.

Seringnya melakukan penyerangan, pertahanan Brugge pun sedikit longgar. Keadaan itu dimanfaatkan Jamie Vardy dan kawan-kawannya dengan melakukan serangan balik cepat yang merepotkan kubu Brugge.

Saking kewalahannya, pemain bertahan Brugge, Timmy Simons, terpaksa menjatuhkan Vardy dekat dengan kotak penalti. Simons pun diganjar kartu kuning oleh wasit Anastasios Sidiropoulos. Hadiah tendangan bebas diberikan pada Leicester. Dan, Mahrez menjadi eksekutor. Dia tak menyia-nyiakan kesempatan. Mahrez berhasil menggandakan keunggulan Leicester pada menit 29 dengan tendangan lengkung ke arah kiri atas gawang Brugge.

Kondisi tertinggal dua angka membuat pemain Brugge frustasi. Serangan-serangan yang dibangun selalu kandas karena blunder para pemainnya. Tak hanya itu, upaya pertahanan pun cenderung sedikit lebih keras. Hingga babak pertama berakhir, tidak ada gol tambahan dari kedua belah pihak.

Gol baru tercipta kembali pada menit 61 melalui titik putih. Hadiah penalti itu diberikan oleh wasit setelah Butelle menyeruduk Vardy di dalam kotak penalti. Mahrez sebagai eksekutor tendangan penalti kembali berhasil menunaikan tugasnya. Keunggulan tiga angka itu bertahan hingga akhir laga.

Laga debut Leicester di Liga Champions Eropa tersebut, membubuhkan beberapa rekor, baik pada kompetisinya ataupun rekor di catatan sejarah Leicester. Pertama, Leicester menjadi klub Inggris ketiga yang berhasil membubuhkan kemenangan pada debutnya di kompetisi bergengsi tersebut. Dua klub pendahulu Leicester ialah Manchester United (MU) pada tahun 1994 dan Newcastle United pada tahun 1997.

Laga itu menorehkan catatan jika tidak ada klub Belgia yang mampu mengalahkan klub asal Inggris sejak tahun 2000. Anderlecht adalah klub Belgia terakhir yang berhasil mengalahkan klub asal Inggris di Liga Champions Eropa pada pertandingan melawan MU di Oktober tahun 2000. Kala itu, Anderlecht mengalahkan MU dengan skor 2-1.

Leicester juga masuk ke dalam jajaran klub yang mampu menorehkan perbedaan angka cukup jauh pada laga kali ini. Hingga kini, hanya tercatat dua klub yang mampu menorehkan perbedaan angka tinggi hingga 4-0. Dua klub tersebut ialah AC Milan pada tahun 1992 dan Atletico Madrid pada tahun 1996.

Sedangkan untuk rekor klub ditorehkan oleh Albrighton. Pemain berusia 26 tahun itu menjadi pemain Leicester pertama yang membubuhkan namanya dalam papan skor di Liga Champions Eropa. Atas rekor tersebut, Albrighton mengungkapkan kegembiraannya. Dia mengatakan, gol atas Brugge merupakan hal terindah dan tak terprediksi olehnya.

Sebab, kala menciptakan gol tersebut, pemain bernomor punggung 11 itu hanya mengandalkan instingnya sebagai pemain. “Itu (gol atas Brugge) tak pernah terbayangkan akan aku raih. Aku sangat bahagia. Ini seperti mimpi menjadi kenyataan (bermain dan mencetak gol di Liga Champions Eropa),” ungkapnya setelah pertandingan.

Selain Albrighton, rekor untuk klub dipecahkan oleh Mahrez sebagai pemain pertama yang menjadi man of the match pada laga itu. Pemain asal Algeria tersebut memang bermain gemilang.

Tendangan bebas yang dilesakkannya menuai pujian dari sang pelatih dan sesama pemain Leicester. Ranieri mengatakan, Mahrez selalu menyempatkan diri melatih kemampuan tendangan bebasnya selama latihan. “Dia selalu melakukan latihan (tendangan bebas) selama latihan. Itu (latihan tendangan bebas) penting baginya untuk membangun kepercayaan diri dan mengembangkan diri lebih baik dari musim kemarin,” ungkap Ranieri.

Senada dengan Ranieri, Albrighton menilai, Mahrez memang memiliki kemampuan yang apik dalam hal mencetak angka dari tendangan bebas. “Kami tahu betul dia mampu melakukannya. Karena, dia selalu melatih (kemampuan tendangan bebasnya) setiap hari dan keberhasilannya itu sesuatu yang baik untuknya,” ujar pemain kelahiran 18 November 1989 tersebut.

Meski menuai pujian dari berbagai pihak atas laga debutnya, tentunya Leicester masih jauh dari harapan untuk menjuarai Liga Champions Eropa. Masih ada dua klub lagi, yakni FC Porto dan FC Copenhagen, yang harus mereka taklukkan bila ingin lolos ke fase selanjutnya.

Dari laga lawan Brugge itu, ada beberapa catatan penting yang harus diperhatikan oleh Vardy dan koleganya. Di laga tersebut, Leicester masih kalah dalam beberapa hal. Brugge unggul dalam hal penguasaan bola, duel perebutan bola, dan duel udara. Brugge menorehkan statistik penguasaan bola sebesar 62 persen, sedangkan Leicester hanya 38 persen. Hal itu menunjukkan, Leicester hanya mengandalkan serangan balik untuk membubuhkan angka.

Kadang, serangan balik itu tak maksimal sebab alur bola kerap berhenti di tengah lapangan. Karenanya, untuk laga selanjutnya, Leicester harus lebih mampu menguasai bola agar dapat menguasai tempo permainan.

Untuk statistik duel perebutan bola dan duel udara, Brugge dan Leicester memiliki catatan persentase cukup tipis. Brugge membubuhkan persentase keberhasilan duel perebutan bola sebesar 52,5 persen dan duel udara sebesar 52,9 persen. Sedangkan, Leicester hanya membubuhkan 47,5 persen untuk duel perebutan bola dan 47,1 persen untuk duel udara.

Catatan itu menunjukkan, Leicester masih lemah dalam hal merebut bola. Selain itu, dari laga tersebut, terlihat Leicester baru mampu merebut bola ketika pemain lawan melakukan blunder saat melakukan penyerangan.

Di laga debutnya itu, Leicester juga masih amat bergantung pada Vardy untuk mengacak-acak pertahanan lawan. Dua gol yang tercipta dari kaki kiri Mahrez berasal dari keputusasaan pemain belakang Brugge yang sulit menjegal Vardy secara aman.

Walau kalah, pada laga kemarin, Brugge bermain cukup apik. Hal itu diakui oleh Raineri yang sempat cemas atas serangan-serangan pemain Brugge. “Mereka (para pemain Brugge) melakukan penguasaan bola dengan sangat baik. Tapi, kemudian kami berhasil mengontrol permainan. Hal itu mungkin saja disebabkan keterkejutan mereka terhadap gol awal kami,” ungkap pelatih asal Italia tersebut.

Untuk itu, bila ingin melaju mulus melalui tiap babak Liga Champions Eropa, para punggawa Leicester harus mampu menguasai lapangan dan mengatur tempo permainan. Ranieri harus menyiasati lini tengahnya agar mampu mengalurkan bola lebih baik ke depan. Di laga melawan Brugge, terlihat jelas sisi tengah Leicester cukup lowong sehingga menyebabkan alur bola ke depan cukup tersendat.

Hal itu mungkin saja disebabkan kepergian N’Golo Kante ke Chelsea awal musim ini. Sebab, pada musim 2015-2016, The Foxes amat bergantung pada pemain asal Perancis itu dalam membangun serangan. Meski masih ada Danny Drinkwater, lini tengah Leicester masih sangat rapuh saat ini.

Oleh sebab itu, Ranieri harus bisa membuat timnya tidak jumawa atas kemenangan pertamanya di Liga Champions Eropa kali ini. Tetap fokus pada tujuan utama, meraih kemenangan di tiap laga dan mempertahankan kolektifitas tim. Bukan mustahil, Leicester dapat membuat kejutan selaiknya musim lalu di Liga Premier Inggris.

Bila sampai lolos dari fase grup Liga Champions Eropa, sudah menjadi prestasi yang cukup baik bagi Leicester. Dan, akan lebih baik bila mereka juga fokus mempertahankan gelar juara Liga Premier Inggris musim ini. Hal itu penting dilakukan agar mereka dapat kembali bermain di Liga Champions musim mendatang dan mematahkan anggapan jika keberuntungan yang menjadikan Leicester kampiun.

Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : Goal/Mirror/BBC/The Guardian/The New York Times
 
Sporta
12 Jul 21, 10:12 WIB | Dilihat : 181
Italia Boyong Piala Eropa via Penalti
23 Agt 20, 12:51 WIB | Dilihat : 671
Anggur Hijau Douro untuk Bayern Munchen
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1590
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
Selanjutnya
Humaniora
13 Okt 21, 09:25 WIB | Dilihat : 114
Pendekar Mabuk di Tengah Coronastrope
05 Okt 21, 16:00 WIB | Dilihat : 242
Penista Nabi Muhammad Mati Dilahap Truk
03 Sep 21, 12:31 WIB | Dilihat : 205
Membaca Tantangan Abad 21 dan Hegemoni Pendidikan Global
20 Agt 21, 09:28 WIB | Dilihat : 566
Politik Kematian Simbol Kediktatoran
Selanjutnya